….Apalagi Nisa ini berasal dari Surabaya. Mungkin aku terlalu menghubung-hubungkannya. Pikir Abdi lagi.

Tiba-tiba lamunan Abdi dibuyarkan oleh suara pembawa acara yang menyatakan bahwa acara selanjutnya adalah istirahat dan makan siang bersama.
“Ah, aku terkenang lagi kepada orang tuaku…, dan juga kepada gadis kecil itu. Mudah-mudahan Allah menjaga kesehatan beliau…dan juga menjaga anak itu..” gumam Abdi.
“Hei Di, jangan melamun aja-lah…!, ayo kita ke dalam mengambil makanan yang sudah disediakan di meja sana. Ayo Di ! ” kata Syarif sambil menggandeng tangan Abdi, untuk diajak mengambil makanan di bagian dalam rumah. Sebuah ruangan yang cukup besar, cukup representatif untuk menaruh beberapa meja makan dan meja minuman. Selanjutnya mereka tenggelam dalam suasana gembira, di sela-sela kerumunan para undangan yang masing-masing mengambil makanan sesuai selera.

Beberapa saat setelah mereka sudah selesai makan, para undangan pun masing-masing pamit untuk mohon diri kepada tuan rumah. Karena saat itu adzan dhuhur sudah terdengar dari masjid yang letaknya berada di ujung jalan itu. Demikian pula Abdi dan Syarif, mereka masuk ke tempat para undangan perempuan untuk mencari Ira. Untuk diajaknya pulang.
“Itu dia Ira,” kata Syarif kepada Abdi.
“Hei, Ir, ayo kita pulang “ kata Syarif.
“Entar dulu lah, kami masih merasa kangen.” jawab Ira
“Oh, iya, Syn ini teman-temanku, se kampus. Ini Abdi, yang sering aku ceritakan kepadamu itu, dan ini Syarif. Mereka satu rumah, dan berasal dari kota yang sama pula.” kata Ira kepada Syntya.
“Oh iya,? Perkenalkan namaku Syntya. Kami sekeluarga, merasa senang sekali kalian bisa datang di acara syukuran kakakku ini. Wah, kalian mahasiswa yang rajin-rajin ya.,..Ira sering cerita lho, ke aku, bagaimana ketika kalian kuliah. Rajiin, banget….” lanjut Syntya. Sambil ketawa lepas.
Abdi dan Syarif, saling lirik aja mendengar sapaan Syntya yang begitu akrab, seolah sudah kenal sebelumnya. Ira dan Syntya, keduanya sama-sama ceria, sama-sama centil dan sama-sama anak orang kaya. Kata Abdi dalam hati. Abdi hanya tersenyum saja disapa Syntya dengan cara semacam itu.

Ah, kehidupan mereka ini sungguh jauh beda dengan kehidupan keluargaku yang ada di kampung sana. kata Abdi dalam hati. Dan sekarang ini aku mau tidak mau ikut juga dengan kehidupan mereka, naik mobil bagus kemana-mana, seperti tak ada kekurangan suatu apapun….”ya Allaah…apakah mampu aku terus bersama-sama mereka, sementara untuk membayar kuliah saja orang tuaku begitu kesulitan…Sungguh sangat jauh berbeda, kehidupan mereka dengan kehidupanku” keluh Abdi.
“Tapi apakah mungkin aku menjauh dari mereka…? Ira sering menjemputku kuliah. Kalau makan kami sering makan bersama, celakanya Ira selalu memilih tempat makan yang cenderung mahal, sementara aku ? kalau perlu aku harus puasa untuk meminimumkan biaya sehari-hari. Atau paling tidak mencari makanan yang harganya paling murah….Ah, aku tak tahu bagaimana nantinya kehidupanku di kota ini. Pikiran Abdi melayang jauh tak tentu arahnya.

Di saat Abdi terperangkap dalam lamunannya itu, tiba-tiba datang rombongan beberapa orang dari dalam rumah. Rupanya mereka juga mau pamit untuk pulang.
Salah satu dari mereka, mendahului maju menuju ke arah Syntya.
“Syn, aku pulang dulu, ya.., karena ada yang harus aku kerjakan sore ini. Aku minta maaf ya, kalau ada sesuatu yang kurang berkenan, salam buat semuanya….”
“Hei ! Nis, kok ikut-ikutan pulang, nanti dulu dong, kalian kan bagian dari keluarga kami, nanti ajalah…kita santai-santai dulu…,” jawab Syntya.
“Aduh, maaf Syn, aku sore ini harus kembali, sebab ada sesuatu yang harus kukerjakan…udahlah, insya Allah nanti kita ketemu lagi..”
Jawab Gadis berjilbab putih itu, yang ternyata memang dia adalah Nisa. Sang pembaca al-Qur’an ‘dadakan’, tetapi yang sanggup membuat para undangan yang mendengarkan menjadi terkesima dibuatnya.

“..iya, iya, oke-lah,..aku mengerti. Oh iya Nis, aku sampai lupa, kenalkan ini teman-temanku… Ini Ira, ini Syarif, dan yang itu, Abdi…” sambung Syntya.
Nisa dengan akrab berjabat tangan dengan Ira, sementara kepada Syarif dan Abdi, Nisa hanya menyapa dengan senyuman :”…kenalkan nama saya Nisa…” katanya pendek.
“Saya Syarif, saya Abdi…” sahut Syarif dan Abdi hampir berbarengan.
Tatapan mata Nisa, agak terhenti di wajah Abdi. Tepat pada saat itu pula Abdi menatap ke mata Nisa dengan padangan kagumnya. Keduanya menatap dengan perasaannya masing-masing, tetapi hanya sebentar, karena kemudian Nisa mohon pamit pulang bersama keluarganya.
“…Assalamu’alaikum…”
Sambung Nisa kepada semuanya, sebagai tanda mohon diri untuk pulang.
“…Wa‘alaikum salaam…wa rahmatullaahi wabarakaatuh…”
Rasanya Abdi paling keras dan paling lengkap menjawabnya, disertai dengan pandangan yang terus lengket membuntuti kepergian mereka. Abdi tak habis mengerti kenapa tiba-tiba ia seperti merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga…

”Ah, biarlah..” gumamnya perlahan.
Sambil berjalan perlahan mengantar kepergian Nisa dan keluarganya ke mobil, Syntya memberi penjelasan kepada teman-temannya tentang diri Nisa.
”Nisa, adalah kemenakan dari saudara sepupu Mas Adi, suami kakakku. Tinggalnya di Surabaya. Ia sangat rajin, dan memang pandai mengaji. Setiap sore ia mengajar anak-anak mengaji di sebuah masjid di dekat rumah pamannya di Surabaya. Pamannya sangat sayang kepadanya. Tetapi tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkannya sampai di tingkat Perguruan Tinggi. Karenanya setelah tamat SMA tahun kemarin ini, Nisa hanya tinggal di rumah saja, membantu pekerjaan rumah tangga pamannya.” jelas Syntya sekedarnya kepada Ira, Abdi dan Syarif.
Bagi Syarif, penjelasan itu seperti angin lalu saja. Tetapi bagi Abdi sungguh sangat berharga penjelasan singkat itu. Paling tidak ia menjadi sedikit tahu siapa sosok Nisa yang dikaguminya itu. Maka bertambah kagumlah Abdi kepada sosok gadis sederhana yang sangat menawan hatinya itu…

——————————————— bersambung (Bulir-Bulir Kasih 9)

BULIR-BULIR KASIH (8)