Nggak masuk akal memang! Tapi demikianlah Nyonya Tedy. Padahal belum pernah kenal akrab, tiba-tiba saja sudah memamerkan segala miliknya demi keakuannya. Agar dilihat dan diakui sebagai orang yang serba wah! Tujuannya hanya satu, ia ingin mengambil Nisa sebagai menantunya. Ia ingin memperoleh cucu yang cantik seperti Nisa. Tidak peduli anaknya nanti suka atau tidak kepada Nisa, tidak peduli Nisa mau atau tidak, bahkan tidak peduli Bu Sadiq tersinggung atau tidak dengan kedatangannya. Yang penting apa yang diinginkannya harus segera tercapai.
Bu Tedy mengetahui dari para tetangga di kampungnya, bahwa Nisa adalah gadis yang sangat ideal. Cantik, manis, baik hati, dan pintar mengaji. Sungguh sulit mencari menantu seperti dia, kata seorang tetangga kepada Bu Tedy. Betapa senang Bu Tedy mendengar informasi ini, sebab ia lagi mencari calon menantu yang cantik buat putranya. Saat-saat ini, Bu Tedy memang lagi bingung dan stres, sebab sampai dengan menjelang selesai anaknya kuliah, Rido belum punya pacar untuk mendampinginya apabila nanti wisuda. Padahal wisuda Rido tinggal enam bulan lagi. Dan Bu Tedy akan menghadiri putranya dengan segala kebanggaannya. Maka ‘syarat’ bagi Bu Tedy yang kaya ini, Rido harus sudah mempunyai pendamping yang cantik. Dan itu sangat cocok kalau Nisa yang mendampinginya. Bu tedy akan sangat kecewa, jika Rido sampai di hari wisuda nanti belum ada pendampingnya.
Padahal bagi Rido, ia lebih mementingkan kuliahnya. Rido adalah termasuk tipe mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan. Sehingga sampai di semester tujuh ini, tidak terlintas dalam pikirannya untuk berpacaran. Ia ingin sukses lebih dahulu, barulah memikirkan pendamping hidup. Begitulah Rido. Anak tunggal Pak Tedy yang dalam hal belajar, ia sangat tekun dan selalu bekerja keras sampai tercapai apa yang diinginkannya.

Bu Sadiq hanya terperangah, melihat dan mendengar apa yang disampaikan Bu Tedy di ruang tamunya ini, Bu Sadiq tidak bisa berkata apa-apa. Ada rasa senang, ada rasa bangga, tetapi juga heran. Perasaannya tak karuan rasanya. Yang jelas Bu Sadiq sangat senang. Maklum saat itu Bu Sadiq sedang dalam kesulitan ekonomi, apalagi ia adalah termasuk tipe orang yang sangat suka dengan perhiasan atau aksesoris mahal. Maka inilah saat yang ditunggu-tunggu Bu Sadiq. Sebuah kesempatan untuk bisa menjadi kaya. Seperti keinginannya ketika ia masih muda dahulu.
“Wah, terima kasih Bu Tedy, saya senang sekali, pasti Nisa juga sangat senang menerimanya.“ jawab Bu Sadiq agak gugup, tetapi dari pandangan matanya tampak sekali ia sangat tergiur dengan benda-benda yang cukup mewah itu.
Setelah bicara kesana-kemari sambil memperkenalkan sosok Rido yang gagah, pintar dan rajin kepada Bu Sadiq, akhirnya Bu Tedy pun mohon pamit untuk pulang. Tanpa sepengetahuan Bu Tedy, Bu Sadiq senyum-senyum sendiri. Hatinya betul-betul gembira dengan kedatangan Bu Tedy yang tidak disangka-sangkanya itu.

“…Nis, Nisa, ini lho Bu Tedy mau pamit…” agak sedikit teriak bercampur rasa gembira Bu Sadiq memanggil Nisa yang masih berada di dapur.
“…iya, iya Bi, “ jawab Nisa. Sambil keluar dari dapur.
“Nisa, ini ada sedikit oleh-oleh dari Rido, anak saya yang sekolah di Jakarta. Sebentar lagi ia sudah jadi sarjana lho. Besok pagi ia saya suruh ke sini ya, agar kalian bisa berkenalan.”
“Wah, kalian pasti serasi sekali. Cantik dan gagah.” lanjut Bu Tedy.
Bu Tedy tak ambil peduli betapa wajah Nisa menjadi memerah, mungkin malu, mungkin tersinggung, mungkin juga sedih, yang membuat Nisa menjadi salah tingkah.
Selanjutnya Bu Tedy pun keluar dari rumah sederhana itu sambil mengenakan kaca mata hitamnya. Ia memberi kode kepada sopirnya yang masih menunggu di dalam mobil untuk membukakan pintu. Sesaat kemudian mobil sedan warna hitam yang masih baru itu, bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah Nisa.
Duduk di jok belakang, Bu Tedy tersenyum bangga, karena ia merasa telah sukses memperkenalkan diri dan juga anaknya kepada Bu Sadiq dan kepada Nisa. Wajah Bu Tedy sangat ceria karena ia sudah membayangkan betapa ia nanti akan menghadiri wisuda anaknya, di mana ia akan bisa memperkenalkan Nisa yang cantik kepada siapa saja yang ditemuinya.

Tinggallah Nisa yang masih bengong dengan kejadian barusan. Ia duduk termangu di kursi rotan yang ada di dekat ranjangnya. Ia tidak habis pikir, mengapa tiba-tiba tak ada hujan tak ada angin, Bu Tedy datang dengan segala kehendaknya. Ia tadi sempat mendengar pembiraan mereka, bahwa Bu Tedy membawa macam-macam oleh-oleh dari anaknya yang namanya Rido. Bahkan ada oleh-oleh buat dirinya.
Nisa tidak kenal siapa itu Rido, bagaimana macam orangnya. Tentu saja Nisa agak tersinggung. Belum apa-apa anak yang namanya Rido itu sudah membelikan baju buat dirinya. Mahal lagi. …dan warnah merah ! sebuah warna yang tidak disukainya. Tidak tahu kenapa sejak kecil Nisa paling tidak suka dengan baju warna merah.
Dan yang paling membingungkan hati Nisa adalah, ia melihat tanda-tanda bahwa Bibinya sangat senang dengan kedatangannya Bu Tedy tadi.
Nisa hanya bisa berdo’a dan berharap-harap cemas, mudah-mudahan Bu Tedy tidak datang lagi. Karena firasatnya mengatakan bahwa kedatangan Bu Tedy ini akan membawa masalah bagi dirinya.

Tiba-tiba Nisa dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarnya. Meskipun ketukan perlahan, tetap saja mengejutkan Nisa yang lagi cemas memikirkan kehadiran Bu Tedy barusan.
“Nis, buka Nis…Bibi mau ngomong sebentar.”
“Ada apa Bi?” jawab Nisa sambil membukakan pintu kamarnya…

——————————————— bersambung (Bulir-Bulir Kasih 11)

BULIR-BULIR KASIH (10)