Raut mukanya begitu bersihnya, dan saat itu masih ada beberapa butiran air bekas wudhunya. Dengan perlahan gadis itu menuju mimbar yang terletak di depan serambi rumah, di hadapan para tamu laki-laki dan juga sebagian tamu wanita. Gadis itu ketika berjalan ke depan menuju mimbar, seringkali menunduk agak kemalu-maluan, tetapi meskipun sering menunduk ia tidak bisa menyembunyikan paras wajahnya yang cantik menawan.
Abdi yang kebetulan kebagian duduk di dekat serambi rumah, begitu jelasnya memandang sang pembaca al-Qur’an pengganti ini. Wajahnya begitu anggun menawan. Butiran-butiran bekas air wudhu itu sesekali mencahaya ketika sekilas tertimpa sinar matahari pagi yang saat itu memang sedang terang-terangnya. Bagi Abdi butiran-butiran air itu seolah menjadikan lapisan bedak istimewa bak mutiara yang menambah anggunnya wajah sang gadis.
Abdi terkesima memandang Nisa. Hatinya tiba-tiba berdegup kencang. Lebih kencang lagi deguban jantung Abdi, ketika Nisa sudah akan memulai membaca. Diam-diam di dalam hatinya Abdi berdo’a dengan khusyu’. Di dalam do’anya ia berharap mudah-mudahan suara gadis tersebut bagus. Sebagus dan secantik orangnya. Sungguh sayang apabila ternyata suaranya sumbang, sungguh kasihan. Demikian harapan Abdi. Abdi sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba saja hatinya ‘membela’ gadis itu. Padahal belum kenal, juga tidak tahu siapa dia, tetapi hatinya seolah sudah begitu dekatnya dengan gadis itu. Apakah lantaran ia sebagai qari’ pengganti, sehingga atas kesediaannya itu ia menjadi simpati ataukah apa, Abdi tidak tahu jawabnya. Yang jelas ia terus berdo’a mudah-mudahan Nisa sukses dalam membaca al-Qur’an di depan umum ini.

Ketika Nisa sudah sampai di atas mimbar, ia membetulkan letak microphone yang memang agak sedikit tinggi bagi dirinya, karena bekas dipakai si Pembawa Acara. Begitu tenang Nisa membuka lembaran al-Qur’an, untuk mencari halaman surat yang akan dibacanya. Ketenangannya Nisa menambah rasa penasaran para tamu yang ingin mendengarkan suaranya.
Satu-persatu, dengan perlahan Nisa membuka lembaran-lembaran al-Qur’an. Seolah ia sedang mencari suatu surat dan ayat-ayat yang tepat untuk acara aqiqah pada hari itu. Dan mata Abdi pun, terus mengikuti jari tangan mungil yang dengan tenang membuka lembar halaman al-Qur’an yang ada di atas mimbar itu.

Beberapa saat kemudian, tangan Nisa berhenti pada suatu halaman surat. Selanjutnya setelah ia mengucap salam dengan tenang, dan mengawali dengan membaca ta’awudj sebagai pembuka. Nisa memulai membaca.
Pertama mendengar suara Nisa, jantung Abdi berdegub tak karuan. Abdi tidak berani memandang ke arah Nisa, ia hanya menunduk saja, bahkan matanya pun dipejamkannya. Meskipun dalam kondisi menunduk, tetapi Abdi betul-betul memasang telinga untuk mendengarkan suara Nisa sambil tak henti-hentinya ia berdo’a.

Perasaan Abdi serasa melayang jauh, seolah dibuai oleh angin yang terbang perlahan menuju awan. Alunan suara Nisa betul-betul diluar dugaannya. Bagi Abdi suara Nisa sungguh sangat luar biasa. Merdu dan indah sekali.
Ternyata Nisa membaca surat Lukman, ayat 12-18 yang memang sering dibaca oleh para qari’ ketika acara aqiqah.
Dan yang membuat para tamu berdecak lebih kagum, adalah ketika Nisa sekalian membaca terjemahannya. Ia mampu membaca dengan bacaan yang menggetarkan qalbu. Intonasi dan artikulasinya, nyaris sempurna, seperti layaknya juara tingkat nasional.

Aku berlindung kepada Allah, dari godaan syeitan yang terkutuk,
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyanyang
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar”.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya…

Subhaanallaah…begitu merdunya, begitu beningnya suara itu, dan…begitu menggetar perasaan Abdi. Ketika Abdi mendongak-kan kepala untuk sedikit mencuri pandang ke wajah Nisa, secara kebetulan saat itu pula pandangan Nisa juga sedang memandang kearah sebelah kanan, yaitu tepat ke arah tempat Abdi di mana ia sedang duduk.
“Ya Allaah…”
Tanpa terasa Abdi berbisik menyebut nama Allah. Abdi terbelalak memandang mata itu. “Subhaanallaah…” kembali Abdi berbisik.

————————————————————– bersambung (7)

BULIR-BULIR KASIH (6)