Begitu indahnya mata itu bagi Abdi.
Serasa tidak asing Abdi dengan mata itu. Tetapi Abdi lupa di mana ia pernah melihat mata semacam itu. Mata yang indah, bening, dengan bentuk alis yang khas. Apakah ia pernah melihat di dalam mimpi, Abdi tidak ingat lagi. Maka semakin bertambah-tambahlah kekaguman Abdi pada Nisa.
Abdi seperti terkena hipnotis, ia tidak bisa berkata-kata, sebab pikirannya masih melayang-layang mencari siapa gerangan pemilik mata yang indah itu. Benar-benar ia penasaran. Sampai akhirnya ketika Nisa mengakhiri bacaannya, Abdi masih tetap saja bengong di tempatnya.

Ketika Nisa mengakhirinya dengan mengucapkan salam, dan kemudian ia bergerak balik untuk duduk kembali ke tempatnya, barulah Abdi sadar. Pingin sekali rasanya Abdi mengejar Nisa ke dalam rumah. Pingin sekali rasanya ia berkenalan dengan gadis itu. Tetapi diurungkannya niatnya itu, sebab pikiran sadarnya berkata, tak mungkin ia akan berkenalan dengan gadis yang katanya berasal dari Surabaya itu. Apalagi kondisi dan situasinya ramai seperti itu. Ah, biarlah…pikir Abdi. Paling sebentar lagi Nisa juga akan pulang ke Surabaya, sebab ia hadir di sini juga hanya karena undangan tuan rumah, seperti dirinya yang juga datang ke acara ini karena ajakan Ira. Tetapi sungguh sayang jika aku tidak sempat berkenalan dengannya…kata Abdi pada diri sendiri.

Sementara itu, begitu selesai membaca al-Qur’an Nisa langsung kembali ke tempat duduknya semula. Berbagai pujian datang dari para tamu wanita yang duduk bersebelahan dengan Nisa. Dan yang paling senang tentu saja adalah Syntya. Syntya langsung memeluk Nisa dengan senang dan bangga atas keberhasilan itu. Begitu senangnya ia, karena acara di rumahnya bisa berjalan dengan lancar sesuai seperti yang direncanakan. Bahkan suara Nisa ini jauh lebih bagus dibanding suara bu Hasan yang berhalangan hadir.

“Nis, tidak aku sangka sama sekali kalau suaramu begitu merdunya, sampai bulu kudukku menjadi merinding dibuatnya…” kata Syntya.
“Ah, jangan terlalu memujilah, aku kebetulan saja bisa tenang tadi ketika berdiri di atas mimbar. Sungguh akupun sangat bersyukur kepada Allah yang telah membimbingku tadi…, karena aku tadi kan sangat terkejut Syn, ketika kamu tiba-tiba meminta aku menjadi pengganti bu Hasan.” jawab Nisa sederhana.
Pembicaraan keduanya terhenti, ketika pembawa acara menyampaikan, bahwa sebentar lagi acara inti, yaitu hikmah aqiqah akan disampaikan oleh ustadz Haji Sukri yang terkenal itu.
Selanjutnya dengan gayanya yang khas sang Ustadz menyampaikan poin-poin penting hikmah aqiqah kepada para undangan semuanya. Dengan penyampaian yang sederhana, bahasa yang ringkas, serta dengan diselingi joke-joke yang segar, pak Ustadz memberikan ceramahnya lebih kurang satu setengah jam. Cukup lama, tetapi terasa sebentar sebab semua undangan bisa memahami dengan baik apa-apa yang disampaikannya.
Pak Haji Sukri mengambil poin-poin ayat yang dibaca Nisa sebelumnya. Bahwa manusia dalam mendidik anak-anaknya haruslah mengambil contoh seperti Lukman yang oleh Allah diberi pengetahuan dan hikmah.
Pertama, bahwa manusia harus pandai bersyukur. Kedua ketika mendidik anak, hal yang harus diutamakan adalah:
• JANGAN MENYEKUTUKAN ALLAH, karena mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.
• BERBAKTILAH kepada ORANGTUA, karena kedua orang tua pengorbanannya sangat besar, terutama ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.
• TANAMKAN kepada anak-anak kita, bahwa perbuatan apapun akan dibalas oleh Allah, karena Allah Maha Halus dan Maha Mengetahui
• AJARKAN SHALAT, dan PERBUATAN BAIK lainnya.
• Berlaku SABARLAH terhadap segala sesuatu yang menimpa,
• JANGAN berlaku SOMBONG dan ANGKUH, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Mendengar hikmah-hikmah yang disampaikan oleh ustadz Haji Sukri ini, terutama ketika sang ustadz mengupas masalah peranan orang tua terhadap keberhasilan anaknya, Abdi kembali tenggelam dalam lamunannya.
“Bapak, ibu, saudara kaum muslimin dan muslimat yang saya hormati…”Kata Haji Sukri
“Janganlah kita menjadi lupa, ketika kita sering dipanggil oleh anak-anak kita dengan sebutan ayah, atau dengan sebutan ibu, ataupun dengan sebutan lainnya. Sungguh kita sering kali terperangkap oleh status kita sebagai orang tua.
Kita sering lupa, kita sering beranggapan bahwa dalam hidup ini seolah-olah kita hanya berperan sebagai orangtua saja. Padahal sebenarnya kita tidak akan pernah hadir di bumi Allah ini dengan kesuksesan kita masing-masing tanpa peran orangtua kita. Artinya selain posisi kita sebagi orangtua bagi anak-anak kita, ingatlah bahwa kita juga berperan sebagai seorang anak yang wajib untuk selalu berbakti kepada orangtua kita masing-masing. Do’a kita dan amal kebajikan kita selalu ditunggu-tunggu orangtua kita. Tak ada mutiara yang paling berharga bagi orangtua kita kecuali do’a yang tulus serta amal yang ikhlas dari anak-anaknya buat mereka.
“Bapak, Ibu, hadirin yang saya hormati…, Mungkin saja orangtua kita hari ini masih ada yang hidup bersama kita, mungkin kita masih satu rumah, atau mungkin orangtua kita jauh dari tempat kita, atau bahkan mungkin saja orangtua kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, karena sudah dipanggil oleh Allah Swt. Di manapun mereka berada, tetap do’a kita adalah merupakan mutiara yang didambakan oleh ayah bunda kita…Kita sukses karena usaha mereka, kita bisa sekolah karena upaya mereka, kita insya Allah akan menjadi orangtua yang bahagia juga karena do’a mereka….Kita adalah buah hati mereka. Kalaulah hari ini orangtua kita masih ada, meskipun mereka sudah tua, tetap do’a mereka tak pernah berhenti buat kita…”

Seluruh yang hadir, terdiam mendengar kata-kata ustadz Haji Sukri yang sangat mengena itu. Masing-masing orang saling instrokpeksi diri, demikian pula dengan Abdi yang duduknya berdekatan dengan mimbar tempat sang Ustadz berdiri.
Kembali kerinduan yang sangat dalam menerpa hatinya. ingin sekali rasanya, ia bertemu dengan orangtuanya yang sangat dicintainya itu.

Abdi sangat mengetahui bahwa orangtuanya begitu susah payahnya mencari biaya untuk kuliahnya. Tetapi di hadapan Abdi, orang tuanya tidak pernah mengeluh, karena mereka tidak menginginkan Abdi juga ikut merasakan kesulitan mereka….Ah, sungguh benar kata Pak Ustadz tadi. Kecintaaan orang tua kita sungguh tiada batasnya…yang tak mungkin kita akan sanggup membalasnya.
Dan ketika lamunan Abdi menyentuh kampung halamannya, tanpa sadar ia teringat kembali akan gadis kecil yang sering memberi kue kepadanya. Ama.

Setiap ia rindu akan kampung halamannya, selalu yang terbayang adalah orang tuanya, dan gadis kecil itu…ah, kenapa aku selalu ingat kepada Ama? Setiap ia membayangkan senyuman gadis kecil itu, Abdi selalu merasa hatinya damai dan bahagia…entah di mana gadis kecil itu kini berada…
Abdi sempat berandai-andai, apabila Ama ada di sini, dan ia berdiri berdampingan dengan Nisa, tentu sangat menarik sekali. Sama-sama manis, sama-sama cantik, sama-sama pandai baca al-Qur’an, sama-sama agak pemalu, dan…keduanya sama-sama membuat hati Abdi menjadi ingin bertemu. Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Abdi, ataukah…keduanya masih bersaudara? …Ah, tidak mungkin..! Jawab Abdi kepada dirinya sendiri. Karena seingatnya, Ama tidak punya saudara…

———————————————— bersambung (Bulir-Bulir Kasih 8)

BULIR-BULIR KASIH (7)