Kota Malang!
Sebuah kota yang sangat nyaman, indah dan ideal untuk dipakai aktivitas belajar. Kotanya tidak terlalu sibuk dibanding kota besar lainnya. Udaranya relatif masih sejuk dan segar. Karena kota ini dikelilingi oleh gunung dan bukit yang mengitarinya. Sebut saja di sebelah baratnya ada sebuah gunung yang membentang indah dari arah selatan ke utara yaitu gunung Kawi. Gunung ini merupakan rangkaian beberapa bukit yang membentuk sebuah lukisan alam yang sangat indah jika dilihat dari kota Malang. Gunung dan bukit ini mirip seperti layaknya seorang putri yang sedang tidur, sehingga beberapa wisatawan menyebutnya sebagai Gunung ‘Putri Tidur’. Di kaki bukit gunung ini terdapat kota Batu, sebagai kota yang menyimpan tempat-tempat pariwisata yang terkenal sampai ke pelosok nusantara.
Di sebelah barat laut kota Malang, berdiri dengan megahnya sebuah gunung yang cukup tinggi dengan berbagai pesona alamnya. Gunung Arjuna.
Di sebelah Utara agak ke arah timur terdapat rangkaian bukit yang memadu dengan sebuah gunung aktif yang sering di kunjungi oleh para wisatawan mancanegara, yang terkenal dengan lautan pasirnya. Yaitu gunung Bromo.
Di sebelah Timur agak ke arah selatan kota Malang, berdiri menjulang tinggi, sebuah gunung tertinggi di pulau Jawa. Yaitu gunung Semeru.
Selain dilingkung oleh beberapa gunung, kota Malang juga tidak pernah sepi dengan berbagai kegiatan industrinya. Sehingga kota yang mempunyai ketinggian sekitar 444 meter di atas permukaan air laut ini, benar-benar sebagai kota yang ideal untuk tempat belajar.
Belum lagi keberadaan sungai Brantas yang meliuk berliku di tengah kota, sungguh menambah cantiknya wajah kota Malang.

Dengan konsep Malang Kota Bunga, serta dengan digalakkannya oleh Pemerintah Daerah bahwa Malang sebagai kota yang Ijo Royo-Royo, menambah hijaunya wajah kota yang subur ini. Sebab konsep Malang Ijo Royo-Royo, adalah perwujudan dari satu program yang diarahkan agar kota Malang menjadi kota yang asri, teduh, rindang, hijau dan sejuk.
Karenanya sangat wajar jika banyak sekali para mahasiswa dan pelajar yang memilih belajar di kota ini. Ada yang berasal dari kota-kota lebih kecil yang ada di sekitarnya, sebut saja, Blitar, Kediri, Tulungagung, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Banyuwangi, Jember, Bali, dsb…
Atau bahkan banyak pula pelajar dan mahasiswa yang berasal dari kota yang lebih besar. Misalnya dari Surabaya dan atau Jakarta. Tidak sedikit pula mereka yang datang dari luar pulau. Dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, ataupun dari Papua. Artinya bahwa kota Malang ini cukup terkenal sebagai kota yang memiliki daya tarik tersendiri sebagai kota yang nyaman untuk tempat belajar. Sehingga kota Malang yang indah ini tentu sangat layak disebut sebagai kota pendidikan.

Tidak berbeda pula halnya dengan Abdi dan Syarif, yang juga tertarik untuk memutuskan tinggal di kota ini sebagai tempat yang ideal untuk mencari ilmu.
Ketika Abdi dan Syarif memutuskan untuk tinggal di kota Malang, saat keduanya datang pertama kali di kota ini, mereka sangat terkesan dengan lingkungan yang bersih, tertata apik dan mempunyai udara yang sejuk. Apalagi ketika mereka pernah suatu saat lewat di jalan Besar Ijen sebagai ikonnya kota Malang.
Mereka sangat terkesan sekali. Bahkan pernah Syarif menghitung jumlah pohon Palem Raja (Roystonea regia) atau King of Plam, yang ditanam secara berjajar di sepanjang jalan kembar tersebut. Yang jumlahnya tidak kurang dari tiga ratus buah pohon, sungguh indah dan menawan. Sepanjang lebih kurang satu kilometer, jalan besar itu terhiasi oleh pohon Palem Raja, dan berbagai macam tanaman berbunga yang indah…
Sungguh layak sebagai kota pariwisata. Pikir Abdi.
* * *
Rumah itu cukup sederhana, dan cukup bersih, bagi sekadar dua orang mahasiswa yang tinggal di rumah itu. Pintu dan jendelanya bercat putih meskipun sudah agak kabur warnanya. Halamannya tidak begitu luas, hanya ada sebatang pohon jambu di samping rumah. dan beberapa pohon perdu yang cukup terawat dengan baik. Di belakang rumah ada sebidang tanah yang tidak begitu luas dengan ditumbuhi rumput-rumput liar. Tapi masih cukup nyaman dipakai untuk keperluan menjemur pakaian atau cucian lainnya. Lantai rumah juga bukan terbuat dari lantai keramik yang mengkilat, tetapi sekedar lantai teraso warna abu-abu yang menunjukkan bahwa rumah tersebut sudah lama dibangun dan belum direhap kembali. Sehingga nampak sekali perbedaannya dengan sederetan rumah-rumah di sebelahnya yang cenderung sudah direhap menjadi sedikit modern. Memang rumah tersebut adalah rumah yang paling sederhana di antara sederetan rumah-rumah yang ada di kawasan itu. Abdi dan Syarif lebih memilih rumah tersebut, karena harga sewanya jauh lebih murah dibanding rumah-rumah yang lain. Sebab dana untuk sewa rumah dari orang tua mereka hanya cukup untuk rumah seharga itu. Itupun sudah menjadikan mereka sangat bersyukur bisa mendapatkan rumah seperti itu.

Pagi itu hari Minggu yang sangat cerah. Sudah kurang lebih tiga bulan Abdi dan Syarif menempati rumah itu. Pagi itu mereka sudah nampak rapi. Tidak seperti biasanya di mana setiap hari libur, mereka malas-malasan di rumah. Rupanya hari itu ada sesuatu yang cukup istimewa bagi mereka berdua. Sudah cukup lama mereka berdua menunggu kedatangan seseorang. Beberapa kali Syarif melihat ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu mereka. Ketika tepat jam menunjukkan pukul 08.30. dari arah pintu depan ada suara menyapa mereka, dengan nada yang cukup riang membuat yang mendengarnya menjadi ikut gembira.
“Assalaamu’alaikum…”
“Wa alaikum salaam, warahmatullaah…”
Jawab Syarif dengan nada yang menunjukkan bahwa ia sangat gembira menyambut kedatangan seseorang yang memang sedang ditunggunya itu.
Di luar rumah tampak seorang remaja putri berjalan dengan muka ceria menuju pintu rumah tersebut. Senyum manis tersungging di bibirnya. Rambut yang ikal dengan bando warna merah di atas rambutnya menambah cerah wajah pemiliknya. Tambahan lagi baju kaos warna merah dengan celana jeans warna biru tua, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa ikut gembira dibuatnya. Wajahnya yang agak bulat, kulit halus, dengan mata yang sedikit lebar, serta bentuk hidung yang mungil, menambah manisnya wajah itu. Sehingga membuat siapa saja yang memandangnya hampir bisa dipastikan akan menjadi terpesona.

——————————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 5)

BULIR-BULIR KASIH (4)