(Sebuah Novel Islami Yang Penuh Dengan Pelajaran Kehidupan)

Penulis: Taufik Djafri / Penerbit: Padma Press / Jumlah: 306 halaman.

 

 Salam dari Penulis:

 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

 “Aku persembahkan kisah indah ini,

buat saudaraku seluruh kaum muslimin dan muslimat.

Semoga perjalanan cinta dari hamba Allah yang tertulis dalam cerita ini,

bisa memberi pelajaran dan sentuhan nilai hikmah kepada kita semua.

Insya Allah.”

Pembaca yang saya hormati,

Untuk pertama kalinya saya menulis buku serial novel ini,

Sebuah buku yang mempunyai pendekatan agak beda

dengan tulisan saya sebelumnya.

Tetapi secara substansial, keduanya adalah sama.

Yaitu merupakan pelajaran yang mengandung nilai hikmah.

Dengan terbitnya buku perdana serial novel islami ini

saya berharap para pembaca akan menjadi lebih mudah

dalam mengambil pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Buku ini bercerita tentang  kisah cinta kehidupan

yang diperankan oleh dua hamba Allah,

yang saling mencintai, saling menyayangi,

saling menghormati, dan saling mengasihi.

Sosok remaja dari desa,

yang mampu mengubah hati manusia sekitarnya

sehingga menjadi mengerti tentang arti sebuah cinta sesungguhnya.

Sosok  remaja kampung,

yang mampu menyadarkan orang-orang angkuh, berubah menjadi tawadhu’,

yang mampu meluluhkan hati yang keras, berubah menjadi welas.

Yang mampu mengubah perasaan buruk sangka, menjadi lapang dada.

Cintanya karena Allah, kasihnya juga karena Allah.

Sungguh saya sangat bersyukur, jika dengan menghayati cerita ini,

kemudian kita mampu mengambil manfaat positif darinya.

Semoga perjalanan mereka berdua, akan menjadikan sebuah media dakwah dan pelajaran berharga bagi kita semua. Insya Allah…

amien.

Selamat menikmati,

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Malang, 1 Muharram 1429 H

Penulis,

(Taufik Djafri)

 

‘KENANGAN TERINDAH’

“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,

 Laa ilaaha illallaahu allaahu akbar, allaahu akbar walillaahil hamd….”

Berulang kali kalimat takbir ini menggema. Entah sudah berapa ratus atau bahkan sudah berapa ribu kali suara itu mengalun bersahutan. Dari masjid, dari surau, dari radio, bahkan juga dari televisi. Suara-suara itu terus terdengar sambung-menyambung tak ada putus-putusnya. Seluruh angkasa raya penuh dengan gemuruh suara takbir dan tahmid.  Masjid-masjid besar di tengahkota, surau-surau kecil di pinggiran desa, juga dinding-dinding rumah mewah ataupun sekedar rumah sederhana di pinggir sawah, semua ikut menjadi saksi bahwa hari raya kurban telah tiba. Itulah hari Idul Adha sebagai hari bersejarah yang banyak menyimpan nilai-nilai hikmah.

Abdi yang tinggal di rumah kontrakan yang belum lama ini ditinggalinya bersama teman sekotanya Syarifuddin atau yang akrab dipanggil Syarif, mereka lelap dalam tidurnya. Maklum mereka terlalu malam memulai tidurnya. Apalagi Abdi. Sampai jam dinding hampir menunjukkan pukul 12.00, tetap belum bisa memejamkan mata.

Kalimat yang sudah sering didengar oleh telinga Abdi ini, malam itu begitu istimewa bagi dirinya. Sampai jauh malam ia menikmati kalimat yang kadang hanya lamat-lamat terdengar itu. Syarif sudah setengah jam yang lalu masuk  ke kamar tidurnya. Sementara meskipun Abdi juga sudah terbaring di ranjangnya, tetapi kalimat takbir yang menggema itu terus memenuhi rongga dadanya. Suara itu memenuhi seluruh ruang tubuhnya, bahkan menggetar sampai ke pori-pori kulitnya. Abdi terpaku dibuatnya. Entah apa yang menyebabkannya, tiba-tiba ia melelehkan air mata sambil terbaring di tempat tidurnya. Pikirannya melayang jauh ke suatu saat di mana ia sering melantunkan kalimat takbir dan tahmid itu di masjid dekat rumahnya di sebuah kota kecil tempat kelahirannya. Bangil. Kota yang terkenal sebagai kota santri. Setiap hari ia bersama orang tuanya, dan juga dua orang adiknya hidup dalam kederhanaan dengan suasana rukun dan saling menyayangi.Yang menyebabkan Abdi sampai meneteskan air mata adalah ia teringat bahwa setiap Idul Adha, di rumahnya, Abdi sekeluarga selalu merayakan dengan suasana yang begitu indah dan mesra. Ibunya yang ahli masak itu, membuat gule dan sate kesukaannya dengan rasa yang sangat nyaman, dengan penyajian sederhana yang menggairahkan….dan mereka menikmatinya dengan penuh canda ria. Senang sekali rasanya saat itu. Dan kini ia sendirian saja. Tak ada apa-apa di mejanya, bahkan jauh dari mereka yang ia sayangi. Abdi bangga terhadap kotanya. Apalagi terhadap desanya. Karena tanah kelahiranya itu begitu menyenangkan dengan berbagai karakter masyarakatnya yang saling peduli satu sama lain. Sangat jauh berbeda dengan suasana di tempat kontrakkannya sekarang ini.

Bangil adalah salah satu kota di Jawa Timur, sebuah kota kecamatan yang berjarak sekitar 50 km dari Surabaya, dan sekitar 45 km dari kota Malang. Sebuah kota kecil yang masih termasuk Kabupaten Pasuruan. Kotanya cukup ramai dengan karakteristik penduduknya yang terkenal bernuansa religius. Selain itu kota kecil ini terkenal pula dengan kerajinan bordir baju muslim. Sehingga meskipun sekadar kota kecamatan, tetapi merupakan kota yang cukup ramai dengan aktivitas penduduknya yang cukup padat.

Di pinggiran kota ini, agak sebelah selatan, terdapat sebuah kampung yang tidak terlalu besar, dan tidak terlalu padat penduduknya. Desa Rembang.

Desa ini terbagi menjadi empat dusun kecil-kecil, di mana mayoritas masyarakatnya  kecenderungan bermata pencarian sebagai petani. Hasil utama dari desa ini adalah bunga sedap malam, yang hasil panennya sebagian besar dikirim ke Pulau Bali danSurabaya.

Di desa inilah Abdi dilahirkan sekitar dua puluh tahun yang lalu. Ia dibesarkan dalam kehidupan agama yang begitu kental. Di kampung ini mulai dari anak-anak, remaja, sampai dengan ibu-ibu rumah tangga, mereka selalu nampak asyik dan rajin sekali dalam menjalankan ibadatnya. Apalagi bila waktu maghrib telah tiba di mana matahari sudah masuk ke tempat peraduannya, nampaklah kesibukan yang luar biasa di kampung itu. Mereka berbondong-bondong pergi ke masjid, ke surau atau pun ke musholla. Apalagi mereka yang berada di lingkungan Pondok-pondok Pesantren. Sungguh sebuah kehidupan yang penuh dengan nuansa religius. Tidak kurang dari empat Pondok Pesantren yang ada di desa ini. Desa ini memiliki masyarakat yang sangat rukun, saling membantu dan saling memberi, sehingga nampak sekali kehidupan sosialnya yang begitu harmonis.

Sambil berbaring, Abdi masih teringat ketika seorang gadis kecil berebut sepotong kue dengan dirinya. Ama nama gadis kecil itu… Seorang gadis kecil, mungil, yang sangat manis, sangat manja, dan selalu ceria. Apalagi jika sedang berbincang-bincang dengannya, sungguh membuat hatinya menjadi senang dan bahagia.

Di sela-sela kesedihan Abdi yang ingat pada orang tuanya, ia masih mampu tersenyum mengingat kehidupannya yang begitu indah waktu itu. Tanpa disadari Abdi diam-diam merenung, di manakah sekarang ini Ama berada? Mungkinkah masih di kampungnya, atau sudah pergi keluarkota? Tentu sekarang ini ia sudah berubah menjadi seorang remaja yang cantik., pikirnya.

“Ah, ada-ada saja aku, kenapa kok tiba-tiba memikir Ama…” bisik Abdi seperti menyalahkan diri sendiri.

————————————————— bersambung (Bulir-bulir Kasih 2)

BULIR-BULIR KASIH