Abdi menerima segelas teh hangat itu dari tangan Ama. Tapi tangan Ama tidak mau melepaskan pegangannya pada gelas tersebut. Dan kembali tangan Ama bersama tangan Abdi memegangi gelas teh itu. Ama mendorongkan gelas itu ke mulut Abdi menyuruh untuk cepat-cepat meminumnya. Layaknya seorang ibu yang dengan penuh kasih sayang memberi minum anaknya.

“Ayo, cepat minum Di, supaya nggak batuk lagi…”

Kata Ama sambil mendorongkan gelas yang mereka pegang itu ke mulut Abdi.

“Hm,Hm..!” Abdi berusaha menghilangkan rasa tersendat di mulutnya.

“Bagaimana Di, sudah agak enak?”

“Iya, iya..sudah” jawab Abdi

Alhamdulillaah…” jawab Ama dengan mata berbinar.

Mereka lupa kalau kedua tangan mereka masih menyatu memegangi gelas itu. Akhirnya dengan agak tersipu malu Ama melepaskan tangannya dari gelas yang masih dipegang Abdi itu…

Ah, indah sekali masa kecilku bersama Ama saat itu. Lucu, penuh canda tawa, dan sangat menyenangkan hati ! kenang Abdi. Walaupun sudah sepuluh tahun lebih  kejadian itu berlalu, rasanya masih sangat terasa oleh Abdi, ketika saat itu ‘Ama kecil’ dan ‘Abdi kecil’ dua kali berpegangan tangan tanpa mereka sengaja. Pertama ketika tangan keduanya menyatu pada sepotong pisang goreng kecil, dan yang ke dua ketika tangan mereka menyatu memegang gelas yang berisi teh hangat, untuk ‘mengobati’ Abdi yang lagi tersengal akibat pisang goreng.

Abdipun tersenyum mengenang peristiwa masa kecil yang sangat indah itu.

Malam semakin larut. Angin semilir bertiup perlahan. Semakin perlahan.., dan akhirnya suasana menjadi sunyi dan sepi. Daun-daun pepohonan tidak nampak bergerak lagi. Bulan yang asalnya nampak terang dan bulat penuh, ikut pula menyembunyikan diri. Langit pun tampak menjadi semakin gelap dan pekat. Seluruh alam seolah ikut tertidur mengiringi tubuh Abdi yang rebah terlentang di ranjang sederhana di rumah kontrakannya.

Ketika jam dinding di ruang tamu itu, menunjukkan pukul 01.15 cahaya lampu di kamar Abdi sudah mulai redup. Radio kecil sebagai satu-satunya teman tidur Abdi yang ada di dalam kamarnya itu, juga sudah ia matikan, tanda bahwa ia sudah bersiap-siap untuk istirahat. Rupanya Abdi sudah bisa menenangkan pikirannya. Dan sesaat kemudian rasa kantuk yang sudah tidak bisa ditahan lagi, membuat Abdi terlelap dalam tidurnya.

 

‘GADIS CANTIK BERJILBAB PUTIH’

Sekitar pukul 05.00 pagi, dengan agak tergopoh-gopoh Abdi dan Syarif keluar dari kamarnya. Mereka bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah melakukan shalat subuh yang sudah agak kesiangan, mereka berdua pergi untuk menunaikan shalat Idul Adha di sebuah lapangan di dekat kampus mereka. Tak ada sesuatu yang istimewa dalam pelaksanaan shalat Id yang mereka ikuti. Hanya saja ketika Khatib menyampaikan khutbahnya, yang mengambil hikmah dari perjalanan nabi Ibrahim dan keluarganya, berulang kali Abdi yang kebetulan juga duduk berdampingan dengan Syarif, mengusap air matanya. Contoh nabi Ibrahim sebagai sosok seorang ayah yang tahan uji, dan sosok Ismail sebagai anak yang sabar, serta sosok ibunda Siti Hajar sebagai sosok Ibu yang tegar, menjadikan Abdi terpaku. Tak terasa ia kembali teringat kepada orang tuanya yang ada di desanya. Dan kembali ia teringat kehidupan di kampungnya di mana setiap selesai sholat Id, ia bisa berkumpul dengan seluruh keluarganya, adik-adiknya, dan kedua orang tuanya yang sangat dicintainya itu. Kini ia hanya berdua dengan Syarif saja. Tentu sangat terasa perbedaan suasana itu.

Perasaan Abdi masih terus terpengaruhi oleh suasana Idul Adha. Bahkan sampai mereka di jalan menuju rumah pun Abdi dan Syarif masih terdiam. Masing-masing berusaha mencoba untuk melupakan kesedihan mereka. Maklumlah mereka baru saja jauh dari orang tuanya. Sambil berjalan pulang sesekali Abdi masih mengusap air matanya.

“Udahlah Di,…akupun juga sangat kangen dengan keluargaku, orang tuaku, adikku, juga teman-temanku yang ada di kampung…” kata Syarif mencoba menghibur Abdi.

“Iya, Rif, semoga dengan perjalanan waktu yang akan kita lalui nanti, kita akan sedikit bisa melupakan orang-orang yang kita cintai itu…agar kita bisa belajar dengan baik, seperti pesan mereka.” tukas Abdi.

“…tapi Rif, “ lanjut Abdi,

“…aku tetap saja merasa sedih, di samping aku kangen kepada mereka, ada sesuatu yang membuat aku menjadi lebih sedih. Aku masih teringat akan upaya orang tuaku, ketika mereka memutuskan akan menyekolahkanku di luarkota ini. Banyak barang-barang orang tuaku yang dijual untuk biayaku. Tetapi mereka menutupi keadaan itu. Secara tidak sengaja, aku sempat mendengar pembicaraan kedua orang tuaku, kalau mereka kesulitan membiayaiku. Tetapi mereka tetap mengharapkan aku bisa sekolah dengan baik. Harapan mereka aku kelak bisa menjadi sukses, dan bisa membiayai adik-adikku. Aku bisa membayangkan Rif, bagaimana sulitnya kedua orang tuaku yang setiap bulan harus memberi uang untukku….aku tidak tahu sampai kapan mereka mampu membiayaiku. Bisakah aku sampai selesai studi…?, ah, kasihan sekali kedua orang tuaku…”

Syarif, tidak menjawab sepatah pun, mereka berjalan pulang dengan tanpa berkata-kata.

——————————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 4)

BULIR-BULIR KASIH (3)