Abdi masih teringat ketika saat itu ada sebuah pengajian yang digelar di masjid dekat rumah mereka. Sebuah pengajian yang digelar agak besar untuk memperingati hari besar islam. Abdi masih terbayang pada sebuah peristiwa kecil yang dialaminya bersama Ama setelah pengajian usai.  Ketika  itu ia dan teman-temannya disuruh oleh panitia untuk membantu kesibukan yang ada di sekitar kegiatan pengajian. Sudah beberapa hari Abdi dan teman-temannya seperti layaknya orang dewasa saja, mereka sibuk membantu bapak-bapak dan juga ibu-ibu yang sibuk dalam aktivitas masjid.

Abdi kembali tersenyum ketika ingatannya melayang dan terfokus pada sebuah peristiwa lucu bersama Ama.

Saat itu mulai dari mengedarkan undangan ke penduduk kampung, sampai ikut membantu panitia mengedarkan kue dan nasi bungkus, Abdi dan Ama  sering bersama-sama. Mereka juga aktif bersama-sama dengan teman sebaya lainnya. Kadang mereka membagi undangan sambil berlari-lari kecil, kadang berkejaran sambil tertawa riang. Bahagia dan indah sekali kehidupan sederhana di kampungnya saat itu.

Peristiwa yang tidak akan bisa dilupakan Abdi adalah, sebuah kejadian kecil yang ia alami bersama Ama. Ketika kue habis dibagikan oleh panitia kepada seluruh undangan, mereka lupa bahwa mereka berdua belum kebagian kue. Maklum keduanya juga ikut-ikutan aktif membagikan kue. Sampai-sampai mereka lupa bahwa mereka sendiri belum kebagian. Setelah mereka cukup kelelahan karena disibukkan membagi kue, begitu selesai membagi, mereka agak terkejut sebab sisa kue yang ada di tempatnya tinggal satu. Yaitu pisang goreng. Maka dengan canda tawa yang polos dan penuh dengan rasa ikhlas, mereka memenggal kue tersebut menjadi dua bagian, untuk mengisi perut mereka yang memang sedang lapar.

Abdi masih teringat betapa saat itu terjadi dialog kecil yang cukup indah dan lucu, antara dirinya dan Ama, ketika mereka membagi pisang goreng yang tinggal satu itu.

“Ama, untuk kamu ajalah kue itu. Aku nggak lapar kok…” kata Abdi.

Tetapi rupanya gadis kecil itu justru menolak mentah-mentah.

Nggak ah, kamu aja. Aku juga nggak lapar kok…” sahut Ama singkat.

“Tapi kamu tadi kanterus mengikuti kegiatan pengajian ini, dan aku lihat kamu belum makan? “Kata Abdi agak bingung karena Ama tidak mau mengambil pisang goreng tersebut.

“Kamu kan juga belum makan…?!” tangkis Ama.

“Kalau kamu tidak mau makan, aku juga nggak akan memakannya, aku juga nggak lapar kok..,” kembali Ama melontarkan pernyataannya dengan sedikit agak ngambek.

Mereka pun terdiam, tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.

Di tengah-tengah mereka bersitegang saling tidak mau mengambil kue tersebut, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara perut mereka yang berbunyi hampir bersamaan.

Kruuk, kruuk…Cukup terdengar jelas bunyi itu, karena mereka sedang dalam keadaan diam. Betapa terkejutnya mereka berdua, muka mereka agak kemerahan menahan rasa malu. Rupanya rasa lapar di perut mereka tidak bisa disembunyikan lagi… sehingga sampai terdengar cukup keras bunyinya. Ah, betapa malunya, saat itu. Mereka baru sadar bahwa mereka memang belum makan sejak pagi karena aktif  mengikuti kegiatan. Akhirnya sambil tertawa lebar untuk menutupi rasa malunya…tangan Abdi mengambil kue tersebut, dengan maksud untuk membagi dua, untuk Ama dan juga dirinya. Tetapi secara bersamaan pula Ama juga mengulurkan tangannya untuk mengambil pisang goreng itu dengan maksud yang sama. Tangan Abdi dan Ama yang mungil itu hampir bersamaan memegang pisang goreng kecil yang tinggal satu itu. Tangan mereka saling pegang menjadi satu. Mereka berpandangan sesaat, tak tahu bagaimana perasaan hati mereka saat itu.Ada rasa kikuk, malu, tapi juga gembira.

“Nih, untuk kamu ya…” kata Ama sambil memenggal pisang goreng kecil itu menjadi dua bagian dengan tangannya yang mungil.

“Dan.., yang ini untukku…” katanya pula.

“Tidak, tidak,…aku tidak mau.” kata Abdi ketika melihat bahwa penggalan yang agak lebih besar diberikan Ama untuk dirinya, sedangkan yang lebih kecil diambil Ama.

“Aku yang kecil saja.” kata Abdi.

Nggak bisa.” kata Ama pula

“Kanyang membagi aku, jadi aku yang menentukan.” lanjutnya pula.

“Kalau kamu nggak mau menerimanya, aku juga nggak mau makan ah.”

“Iya, iya,..terima kasih Am.”Jawab Abdi serba salah sambil menerima penggalan pisang goreng yang agak lebih besar dari tangan Ama.

Sambil tertawa lebar mereka makan penggalan pisang goreng yang tidak seberapa besar itu untuk dimasukkan ke perutnya yang memang sedang lapar-laparnya.

“Huk,huk,…huk..”

“Eh, kenapa Di?” tanya Ama

“Huk,Huk…” kembali Abdi terbatuk sambil memegangi dadanya

“Naah, iya kan? makanya jangan terburu-buru kalau makan…”

Sahut Ama sambil berlari-lari kecil menuju sebuah meja tempat beberapa gelas teh hangat diletakkan. Kemudian Ama kembali lagi membawa segelas teh hangat yang diberikan kepada Abdi agar diminumnya untuk menghilangkan batuk akibat pisang goreng kecil yang tersendat di tenggorokannya tadi.

—————————————————- bersambung (Bulir-bulir Kasih 3)

BULIR-BULIR KASIH (2)