(lanjutan)
…mampukah kita menghitung? berapa ribu, berapa juta, atau bahkan berapa trilyun kali Kalimat Allah disebut dan dikumandangkan yang terus sambung-menyambung tak pernah henti itu…?
Demikian juga dengan nama nabi Muhammad SAW yang terus berkumandang sepanjang hari. Sebagai satu-satunya nama manusia yang terus melekat dengan nama Allah Swt. (Allahumma shalli ’ala Muhammad wa ’ala aali Muhammad…).

Pernakah kita membayangkan bahwa dengan adanya suara adzan yang terus berkumandang di bumi ini, maka jutaan manusia setiap saat juga membaca do’a setelah adzan untuk junjungan nabi Muhammad? Subhaanallaah…adakah manusia semulia itu, selain nabi terkasih akhir zaman rasulullah SAW…?
Renungkan.., betapa luar biasanya ! Setelah terdengar suara adzan, berjuta manusia (orang islam) menengadahkan tangan ke langit sambil menjawab dengan do’a indah:

”Allaahumma rabba haadzihid da’watit taammati washsha laatil qaaimati aati sayyidinaa muhammadanil wasiilata wal fadliilata, wasyarafa wad darajatal ’aaliyatar rafii’ata, wab’atshul waqaamal mahmuudanil ladzii wa ’adtahu, innaka laa tukhliful mii’aad.”

: Ya Allah Tuhan Yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan pemilik shalat yang didirikan, berilah junjungan kami Nabi Muhammad washila, keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi, dan angkatlah dia ke tempat yang terpuji sebagaimana Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau ya Allah, adalah Dzat yang tidak akan mengubah janji.

Do’a tersebut tidak diucapkan hanya sekali, dua kali, sepuluh atau seribu kali..tidak…! tetapi terucap sambung menyambung tak pernah berhenti BERGEMA SEPANJANG PERADABAN MANUSIA sampai yaumul kiyamah…! subhaanallaah… subhaanallaah…

Andai saja kita bisa ke luar angkasa / berada DI LUAR BUMI, kemudian kita di beri kemampuan untuk bisa mendengar suara adzan dari penduduk bumi, maka dari planet bumi yang besarnya lebih kecil dari SEBUTIR DEBU (jika dibanding dengan alam semesta) ini, akan kita dengar suara adzan yang tak pernah putus, yang terus mengalir dan menggema sepanjang waktu.
Sungguh, andai saja kita mampu mendengar suara adzan yang ada di seluruh pelosok bumi ini, niscaya kita akan banyak menangis untuk mohon ampun atas segala dosa dan salah kita…

Anda yang saat ini, sedang membaca RENUNGAN (20) ini, sebenarnya juga sedang di ”BACK SOUND” oleh suara adzan yang terus menggema sepanjang waktu. Mungkin dari masjid dekat rumah kita, mungkin dari masjid di kota lain, dari negara lain, atau dari benua lain.
Setiap kata dan kalimat yang sedang anda baca dan nikmati ini, TAK PERNAH GERSANG dari alunan SUARA ADZAN, yang terus ”melatar belakangi” bacaan anda. Melatar belakangi pandangan anda, melatar belakangi pemikiran anda, dan juga melatar belakangi setiap bisikan hati dan perilaku anda.

Andai saja, kita bisa mendengar seluruh kalimat dzikir yang disuarakan alam, kemudian terpadu dengan suara adzan yang terus bergema sambung-menyambung, kemudian terpadu dengan suara orang-orang yang sedang membaca al-qur’an, kemudian terpadu dengan do’a-do’a ikhlas dan sabar yang dipanjatkan oleh orang yang sedang terkena musibah, dan terpadu juga dengan do’a orang-orang yang sedang memanjatkan puji syukurnya karena mendapat karunia Allah, subhaanallaah…
Mungkin inilah sebuah PERPADUAN yang luar biasa, sebuah KONFIGURASI yang membentuk alunan nada dengan harmoni keindahan tiada tara, yang tak kan pernah terbayangkan oleh kita semua. Sebuah HARMONISASI DO’A dan DZIKIR pemujaan kepada sang Khaliq dari seluruh makhluk terkasih-Nya yang namanya manusia.

Demi Allah ! andai saja kita mampu mendengar itu semua, yaitu ’Ketika Bumi Sedang Menyuarakan Dzikirnya’, yang tak pernah berhenti sesaat pun, yang terus bergema nonstop sepanjang waktu, sungguh akan semakin deras air mata kita, akan semakin panjang sujud kita dalam menyesali dosa, khilaf dan salah yang pernah kita lakukan. (astaghfirullaahal adziim…)

Semoga dalam meniti hari-hari di akhir ramadhan ini kita semakin sadar akan segala khilaf dan salah kita, dan semakin tahu bahwa kita tak pernah sendirian, kita bersama seluruh makhluk yang ada di pelosok alam semesta menyembah kepada Dia Sang Maha Raja di Raja, yaitu Allah Azza Wa Jalla.
Dengan kesadaran itu, semoga kita semakin tunduk tawadhu’ dalam melakukan ibadah kepada Allah…dan semakin bersyukur bahwa kita ditakdirkan menjadi hamba terkasih-Nya…

“Langit yang tujuh, bumi dan SEMUA yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan TAK ADA SUATUPUN melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (Al-Isra’: 44)

”Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Hasyr: 1)

”Mereka selalu BERTASBIH malam dan siang TIADA HENTI-HENTINYA”. (Al-Anbiya’: 20)

————————–

ANDAI SAJA KITA BISA MENDENGAR (3)