Ramadhan adalah suatu bulan yang jika dibanding dengan bulan lainnya, di dalamnya sangat banyak dilakukan shalat, baik secara berjamaah maupun secara individu, baik shalat wajib maupun shalat sunah. Hal ini menunjukkan betapa bulan ramadhan adalah bulan istimewa, bulan yang indah dan penuh berkah. Bulan di mana para hamba Allah saling berlomba untuk melakukan hal-hal positif, baik kaitannya dengan hubungan sosial, lebih-lebih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sang Pencipta.

Marilah sejenak kita lihat bagaimana suasana / keberadaan orang shalat di atas permukaan bumi kita ini.
Bumi kita yang berbentuk bulat dan sekaligus berputar pada porosnya ini menjadikan setiap jengkal daerah yang ada di permukaan bumi bergantian terkena sinar matahari pagi, bergantian terkena matahari siang, bergantian terkena matahari sore, bergantian terkena waktu petang, bergantian terkena waktu tengah malam, dan bergantian terkena waktu fajar.

Dikarenakan waktu shalat mengikuti posisi bumi terhadap matahari, dengan kata lain bergantung posisi matahari yang terus ’bergerak’ sepanjang hari, maka waktu shalat pun menjadi bergantian di setiap daerah. Karena ’perjalanan’ matahari adalah linier atau tidak melompat dari satu titik ke titik lain, maka daerah yang terkena sinar matahari pun bergerak secara smooth dan continue dari satu daerah (timur) bergeser menuju ke daerah lainnya (barat).

Jika kita gunakan hitungan waktu misalnya dengan satuan terkecil DETIK, maka setiap detik perjalanan matahari dari timur ke barat, akan diikuti waktu shalat di setiap daerah berikutnya searah ’gerak’ matahari tsb. Akibatnya di bumi ini tak ada satu daerah pun yang tidak terkena waktu shalat (kecuali daerah kutub, yang perlu pemahaman tersendiri).
Maka setiap saat dan waktu, selalu saja terdapat orang-orang yang sedang shalat secara BERSAMAAN, dan BERGANTIAN sepanjang waktu.
Ketika di suatu daerah orang-orang sedang memulai shalat dhuhur, di detik berikutnya disambung orang lain memulai shalat dhuhur. Kemudian detik berikutnya orang-orang di daerah lain (yang posisinya lebih arah barat) memulai shalat dhuhur pula. Belum selesai seseorang mengucap salam, ribuan orang lain telah ’MENYAMBUNG’nya. Demikian seterusnya berlaku sepanjang waktu yang ada, selama 24 jam penuh.
Jika satuan detik dianggap sebagai waktu terkecil, maka 24 jam waktu kita dalam sehari semalam equivalent dengan : 24 (jam) X 60 (menit) X 60 (detik) = 86. 400 detik.

ANDAI SAJA kita mempunyai ’delapan puluh enam ribu empat ratus’ buah pesawat televisi, dan mampu kita taruh di hadapan kita semua sekaligus, kemudian kita putar semua televisi pada ’chanel detik’ berbeda yang bisa membuat laporan khusus kegiatan shalat di seluruh permukaan bumi, maka akan kita lihat suatu PEMANDANGAN MENAKJUBKAN, yang tentu akan membuat berdiri bulu roma kita. Mengapa?
Sebab tidak satu pesawat televisi pun yang kosong dari orang shalat. Semua monitor televisi akan menunjukkan gambar orang sedang shalat secara bersamaan dan sambung menyambung di berbagai daerah, sepanjang hari, sepanjang malam, dan sepanjang waktu…

…atau…andai saja, manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa mempunyai penglihatan SUPER TAJAM yang bisa MENEMBUS seluruh permukaan bumi secara BERSAMAAN, maka kita akan melihat di atas permukaan bumi ini suatu ’gelombang’ indah luar biasa yang diakibatkan oleh gerakan orang shalat yang tak kan pernah berhenti sepanjang waktu.

Satu daerah memulai takbiratul ihram, detik berikutnya (daerah di sebelah baratnya) akan menyusul takbiratul ihram. Pada suatu daerah sedang melakukan rukuk, daerah berikutnya memulai rukuk. Daerah lain melakukan i’tidal, detik berikutnya daerah lain juga i’tidal. Demikian pula ketika sujud, duduk, berdiri, di seluruh permukaan bumi terdapat orang sedang shalat secara bersamaan dan bergantian sambung menyambung tak pernah henti, subhaanallaah…, indah sekali…

Apalagi di bulan ramadhan semacam sekarang ini, di mana setiap malam dilakukan shalat tarawih berjamaah di seluruh wilayah bumi…luar biasa indahnya. Kita semua seolah sedang shalat berjamah dengan saudara seiman sedunia. Sambung menyambung tak pernah henti sepanjang usia bumi kita ini.

Gelombang shalat itu tak pernah berhenti sedetikpun. Mengapa? Sebab selain orang-orang yang melakukan shalat di titik awal waktu shalat, juga banyak orang shalat yang berada di interval waktu shalat. Sangat banyak jumlah orang-orang yang mengerjakan shalat dhuhur bukan di awal waktu dhuhur, tetapi melakukan shalat di sepanjang waktu yang masih diperbolehkan, sampai dengan habisnya waktu dhuhur menjelang ashar (meskipun yang terbaik adalah melakukannya di awal waktu).
Demikian juga terjadi pada shalat-shalat fardhu lainnya. Artinya gelombang shalat di permukaan bumi ini, akan terus-menerus terjadi sepanjang waktu yang ada. Maka BUMI pun TAK PERNAH KOSONG dari orang-orang yang bermunajat kepada Allah Sang Maha Pencipta.

…dan hal tersebut, masih bicara tentang gerakan shalat saja.!
Belum bicara tentang DZIKIR yang diucapkan oleh setiap orang shalat, baik di dalam shalat maupun setelah selesai shalat. Maka bumi ini selain terdapat pemandangan indah gelombang gerakan shalat, juga terdapat GELOMBANG SUARA DZIKIR yang tak pernah putus, sambung menyambung selamanya sampai hari akhir nanti. …subhaanallah…

Manusia (bumi) tak pernah berhenti sedetikpun mengagungkan Tuhannya yaitu Allah Swt. Dan hebatnya manusia tidak pernah sendirian melakukan ’ibadah akbar’ yang terus menerus sepanjang waktu ini, sebab hal ini juga dilakukan oleh para MALAIKAT yang tiada putus-putusnya bertasbih di sekeliling Arasy yang maha tinggi. Mereka TERUS-MENERUS bertasbih sepanjang waktu, karena takut dan tawadhu’nya kepada Allah Swt.

”(Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan MALAIKAT yang berada di sekelilingnya BERTASBIH memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka BERILAH AMPUNAN kepada orang-orang yang BERTAUBAT dan MENGIKUTI jalan Engkau, dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala” (QS. Al-Mukmin (40): 7)

Karenanya, mari kita tingkatkan terus kwalitas dan kwantitas shalat kita, mumpung bulan indah penuh berkah ini masih bersama kita….
Semoga selembar renungan tentang gelombang shalat ini menambah rasa syukur dan tawadhu’ kita kepada Allah rabbul ’alamin….insya Allah…

———————–

ANDAI KITA PUNYA 86.400 TELEVISI