“Terima Kasih Ya Allah, Engkau Beri Aku Sakit”
Seorang teman pernah bercerita kepada saya, bahwa begitu terima kasihnya ia kepada Allah, dikarenakan pernah menderita sakit yang berkepanjangan. Selama tiga minggu ia terbaring di rumah sakit.
Kelihatannya memang aneh. Diberi penyakit malah ia berterima kasih. Tetapi inilah sebuah kenyataan yang setiap orang tentu akan pernah merasakan walaupun dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

Pak Mansyur ketika itu sudah tiga tahun membina rumah tangga. Ia dikaruniai seorang putri yang berusia dua tahun. Ia bekerja cukup lama di sebuah instansi di kotanya. Dalam kesehariannya Pak Mansyur hidup dalam kesederhaan. Rezeki yang ada ia syukuri bersama keluarganya. Meskipun di tempat kerjanya ia termasuk orang yang cukup lama, dan mempunyai jabatan menengah, tetapi ia tidak menunjukkan bahwa ia seorang yang punya jabatan. Sikap dan perilakunya biasa-biasa saja. Sehingga banyak karyawan yang suka kepadanya. Selain Pak Mansyur, di instansi tersebut juga banyak karyawan yang setingkat dengan dia. Baik masa kerja maupun prestasi yang pernah dicapainya. Suatu saat di perusahaan tempat Pak Mansyur bekerja diadakan rekreasi bersama pergi ke luar kota. Mulai dari pucuk pimpinan sampai bawahan ikut semuanya. Pada hari ke dua dari empat hari yang direncanakan, entah apa penyebabnya ketika mereka sedang menikmati berbagai keindahan yang ada, tiba-tiba perut Pak Mansyur terasa sakit. Mungkin saja karena kelelahan atau ada penyebab lainnya. Bertambah lama kondisi pak Mansyur bertambah mengkhawatirkan. Pada hari ke tiga rombongan diputuskan pulang. Setelah sampai di rumah, kondisi pak Mansyur semakin parah saja. Istrinya sangat khawatir melihat raut muka yang pucat dan kondisi tubuh pak Mansyur yang lemah. Keesokan harinya istri pak Mansyur bergegas membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa beberapa saat, fihak rumah sakit mengharuskan Pak Mansyur rawat tinggal, karena kondisinya mengkhawatirkan. Maka sejak saat itu, Pak Mansyur terbaring di rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Sampai beberapa hari keluarga Pak Mansyur belum juga mengetahui penyakit apa gerangan yang diderita Pak Mansyur. Yang jelas kondisi pak Mansyur semakin lemah saja. Tetapi setelah mendapat perawatan medis, dengan berbagai do’a yang dipanjatkan oleh keluarga dan teman-temannya, kondisi pak Mansyur berangsur-angsur membaik. Sekitar tiga minggu pak Mansyur terbaring di rumah sakit. Sampai ia keluar dari rumah sakit, tetap saja pak mansyur dan keluarganya tidak mengetahui penyakit apa yang dideritanya. Seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh perusahaan. Setelah sembuh dan kembali bekerja, dan ketika teman-temannya menanya pak Mansyur sakit apa, pak Mansyur hanya menjawab: ”… sampai sekarang, saya tidak tahu, juga nggak mengerti saya sakit apa, kenapa sampai tiga minggu saya harus di rumah sakit. Yang jelas saat itu, badan saya, terutama di bagian perut betul-betul sakit tak tertahankan. Tetapi alhamdulillah yang penting saya sekarang bisa bekerja lagi…” katanya.

Suatu pagi, sekitar satu bulan dari kesembuhannya, tiba-tiba pimpinan perusahaan memanggil Pak Mansyur ke ruang kerjanya. Pak Mansyur dengan penuh tanda tanya bergegas menuju ruang kerja pimpinan. Tidak biasanya pimpinan memanggil saya sepagi ini. Ada apa gerangan? Pikir pak Mansyur.
”Pak Mansyur, bagaimana kondisi bapak, apakah sekarang sudah sehat seperti sedia kala?” tanya Pak Dawam yang saat itu menjabat sebagai pucuk pimpinan perusahaan.
”Alhamdulillah Pak, saya sudah sehat kembali, dan sudah bisa bekerja seperti biasanya.” jawab Pak Mansyur singkat sambil masih terus bertanya dalam hati ada apa gerangan ia dipanggil sepagi ini.
”Begini Pak Mansyur, saya memanggil bapak ke sini, ada keterkaitannya dengan manajemen perusahaan, yang sudah beberapa lama ini perlu adanya pergantian di beberapa tempat. Kami telah berunding dengan pimpinan lain, di mana hasil keputusan itu menyatakan bahwa mulai saat ini harus ada orang baru untuk mengisi satu tempat penting dalam perusahaan ini. Yang semula dirangkap oleh Pak Harja. Karena ini adalah kedudukan penting, yang membawai banyak Kepala Bagian, maka harus orang yang tepatlah yang mengisinya.” kata Pak Dawam.
”Pak Mansyur, kami cukup lama mengawasi para kandidat yang patut mengisi kursi yang saya maksud. Tetapi kami belum juga dapat menentukannya. Tetapi setelah kami menyaksikan sendiri betapa ketika pak Mansyur sakit, istri pak Mansyur begitu setia melayani pak Mansyur, tanpa mengeluh, bahkan dengan hati besar tetap berusaha, yang hal itu menunjukkan betapa keluarga pak Mansyur sebagai keluarga yang patut dicontoh, yang membuat kami bertambah kagum saja. Maka setelah beberapa kali kami melakukan musyawarah, dengan rasa syukur kami menjatuhkan pilihan kepada bapak. Pak Mansyur-lah orang yang kami cari selama ini untuk menjadi salah satu pimpinan di perusahaan ini. Kepemimpinan bapak di rumah tangga telah membuka mata hati kami. Ketika bapak sakit, kami beberapa kali menemui istri dan keluarga bapak, dan kami mendapat keterangan yang sangat berharga, bagaimana pak Mansyur membina rumah tangga, bagaimana pak Mansyur meletakkan dasar-dasar pendidikan di keluarga, bagaimana kasih sayang bapak kepada istri dan anak bapak, dan bagaimana kejujuran dan keterbukaan pak Mansyur tentang keuangan kepada keluarga. Sungguh pak Mansyur-lah orang yang paling tepat untuk mengisi jabatan tersebut. Meskipun di perusahaan ini juga ada beberapa orang yang memenuhi kriteria. Tetapi setelah pak Mansyur sakit selama tiga minggu dirawat, kami seperti disadarkan oleh Allah, bahwa bapaklah orang yang sedang kami cari itu. Kepemimpinan bapak di rumah tangga, kesetiaan istri bapak yang tak kenal putus asa, kepasrahan dan kesabaran keluarga yang luar biasa, menjadikan kami sepakat. Bahwa pak Mansyur adalah satu-satunya orang yang paling pantas dan paling tepat. Bersediakah bapak mengemban amanah menjadi salah satu pimpinan di perusahaan kita ini…?” lanjut pak Dawam sambil memandang wajah pak Mansyur secara mendalam.
Pak Mansyur seperti tak percaya pada pendengarannya. Begitu terkejutnya, sampai tak bisa berkata-kata. Wajahnya memucat, matanya berkaca, nafasnya agak memburu. Setelah beberapa saat barulah ia mampu menenangkan hatinya yang bergejolak tak karuan. Pak Mansyur akhirnya menjawab pertanyaan Pak Dawam yang sangat mengejutkan hatinya itu dengan sedikit menunduk untuk menyembunyikan setetes air mata yang jatuh ke pipinya.
”…Bersedia pak, alhamdulillaah…” Jawab Pak Mansyur singkat.
”Terima kasih Pak Mansyur atas kesediaan bapak.” Jawab Pak Dawam sambil menjabat erat tangan Pak Mansyur.
Tanpa sepengetahuan Pak Dawam, dengan masih tetap berkaca-kaca Pak Mansyur bergumam lirih: ”…terima kasih ya Allah, Engkau telah memberiku sakit,…sungguh semua rahasia adalah kepunyaan-Mu…” *)
——————-

*) Dari buku ”Langit Bertasbih Bumi Berdzikir” (2010) penulis: Taufik Djafri

RENUNGAN BUAT ORANG-ORANG YANG LUPA (3)