Ketika birunya langit membuat mata terpesona
bibir pun berdecak kagum mengiringinya
ketika telinga terpana oleh riangnya kicau kenari
hati gembira menyambut indahnya pagi
ketika bintang berkelip menghiasi malam tiba
betapa tentram hati memandangnya

Ketika pandangan terhenti pada sebuah lukisan
betapa kagum hati ini pada pembuatnya
ketika kutanya siapa gerangan yang mengajarinya
sang pelukis menjawab tak ada yang mampu selain Tuhan
ketika kubaca puisi indah dari penulisnya
kembali hati terpesona
ketika kutanya lagi siapa gerangan yang mengajarinya
kembali aku mendapat jawaban sama
tak ada yang mampu selain Dia

Ah, betapa indahnya Engkau
seribu pelukis Engkaulah yang menggerakkan tangannya
sejuta sasterawan Engkaulah yang menggerakkan penanya

Manakah yang lebih indah?
lukisan mati di atas kanvas ataukah pelukisnya
Manakah yang lebih indah?
puisi mati di atas kertas ataukah saterawannya
Jika sang pelukis dan saterawan ternyata tidak mampu berkarya kecuali diajari oleh Dzat Yang Maha Pencipta
kalau begitu siapakah yang lebih indah?

Kalau sudah tak ada lagi yang di atas Dia,
siapakah yang paling terindah?
Kalaulah surga yang sangat indah, juga ciptaan-Nya
siapa Yang Maha Terindah?

Adakah selain Allah yang bisa memesona hati
Adakah selain Allah yang keindahannya sangat hakiki
Wahai Maha Segala Maha, sungguh air mata menjadi saksi
selain Engkau, sudah tak ada lagi… *)

___________

Dari buku ”Surga Tak Lagi Indah” penulis: Taufik Djafri (2009:13)

‘TAK ADA YANG LEBIH INDAH’