4. Pelajaran tentang KEBAHAGIAAN
Orang-orang yang sedang puasa, saat melihat makanan atau minuman kesukaannya, dalam hati sering berangan-angan, alangkah bahagianya apabila sudah tiba waktunya berbuka, kemudian ia bisa mendapatkan makanan atau minuman itu. Tetapi apa yang terjadi setelah benar-benar waktu berbuka itu telah tiba? Ketika ia sudah mendapatkan makanan atau minuman tersebut, kebahagiaan yang dibayangkan sebelumnya ternyata tidak terjadi. Rasa makanan/minuman itu biasa-biasa saja. tidak mampu membuat hatinya bahagia seperti bayangan sebelumnya. Demikianlah kebahagiaan. Bagi orang-orang yang berorientasi pada materi, kebahagiaan tak pernah didapatkannya. Kebahagiaan itu hanya ada di angan-angan saja. Bertambah di kejar bertambah menjauh. Apa yang ada padanya tidak nampak lagi, justru kebahagiaan itu nampak pada diri orang lain.
Sangat berbeda dengan orang-orang yang berorientasi bukan pada materi. Mereka berorientasi pada rasa syukur atas karunia Allah. Terhadap apa saja yang ia miliki, orang-orang ini mampu melihatnya. Inilah orang-orang bahagia. Mampu melihat ke dalam, dan selalu bersyukur atas.apa saja yang ia miliki. Tuhan pun sangat sayang kepada orang-orang ini. Sehingga apa yang mereka miliki mendapat berkah dari Allah. Mereka puas, dan rezeki pun semakin berkah baik secara kualitas maupun kuantitas.
QS. Ibrahim (14): 7
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Konsep kebahagiaan adalah konsep kenikmatan. Bukan konsep kesenangan (karena kesenangan cenderung bersifat materi). Konsep kenikmatan adalah konsep syukur. Orang-orang yang pandai bersyukur, merekalah yang sebenarnya dekat dengan kebahagiaan.
Siapa yang pandai bersyukur, dia adalah orang yang bahagia. Karena persoalan serumit dan seberat apapun, menjadi kecil dan menjadi ringan baginya. Mengapa bisa demikian? Karena ia mampu membandingkan antara persoalan berat dengan kelebihan yang ada pada dirinya. Sakit menjadi sehat, miskin menjadi kaya. Semua bukan diukur dengan sekedar materi, tetapi dengan ‘bagaimana mampu menikmati’ setiap persoalan dengan keimanan yang tinggi. Maka dunia menjadi nampak indah baginya. Lantaran rasa syukur yang tiada habis-habisnya.
Bagi laki-laki, perhiasan terindah di dunia ini adalah istri yang shalihah. Wanita yang shalihah bukan diukur oleh kecantikan rupa, tetapi oleh karakter dan pribadinya yang mempesona bagi suaminya, bagi anak-anaknya, dan bagi lingkungan sekitarnya.
Dua orang yang suasana hatinya berbeda, akan berbeda dalam menilai suatu keindahan. Orang yang hatinya sedang gelisah, gundah bahkan sakit, maka ia tak mampu menikmati keindahan lukisan. Sedangkan seorang lain yang hatinya bersih, sedang berbunga-bunga, dan sedang bahagia, ia begitu mudahnya bisa melihat dan menikmati keindahan lukisan itu.

“Nilai keindahan bukan terletak pada materinya,
tetapi bagaimana seseorang mampu menikmatinya.” (taufik djafri)

PELAJARAN RAMADHAN (4)