2. Pelajaran tentang I’TIKAF
Rasulullah SAW diangkat menjadi utusan Allah di usia 40 tahun, tentu bukan sekadar kebetulan. Tentu ada ’sesuatu’ yang perlu diperhatikan. Nabi Muhammad menjalani masa kerasulannya sekitar 23 tahun yang equivalent dengan sepertiga usia beliau. Kalau kita kaitkan dengan kehidupan manusia pada umumnya, maka di sepertiga akhir usia itulah seyogyanya manusia wawas diri. Di sepertiga akhir usia itulah manusia harus terus meningkatkan kualitas ibadahnya, layaknya seorang nabi. Baik secara vertikal maupun horisontal.
Renungkanlah, mengapa di bulan ramadhan kita disuruh agar memerhatikan sepuluh hari terakhir. Di sepertiga akhir bulan ramadhan itu perilaku kita disuruh lebih istimewa dibanding hari-hari sebelumnya. Kita disuruh rasul untuk i’tikaf di dalam masjid, untuk mengurung diri dari perbuatan dosa. Kita disuruh rasul agar senantiasa lidah kita basah dengan tasbih dan dzikir, agar hati dan pikiran kita tak pernah lalai dari mengingati Allah.
Demikianlah seharusnya dalam hidup ini. Sepertiga waktu di akhir usia kita harus kita gunakan untuk selalu i’tikaf mengurung diri dari dosa dan selalu introspeksi dari khilaf dan salah. Memelihara panca indera dan hati dari perbuatan tercela. Tetapi adakah manusia yang mengerti kapan habis umurnya? Adakah manusia yang tahu kapan ia akan menghadap Allah Azza wa Jalla? Tinggal berapakah sisa umur kita? sepuluh tahun? setahun? sebulan? atau bahkan tinggal sehari lagi?
Karena kita semua tak diberi pengetahuan tentang itu, maka mulailah i’tikaf sejak hari ini. Mari kita Introspeksi, berbenah diri, dan selalu berbuat kebajikan. Mengapa mulai sekarang ini juga? Karena kita tidak tahu kapan kita masuk di ’wilayah’ sepertiga akhir umur kita. Jangan-jangan hari ini kita sudah memasukinya. Atau bahkan usia kita tinggal seperempat, atau sepersepuluh, atau tinggal seperseratus atau lebih pendek dari itu.
Di mana kita melakukan i’tikaf? apakah kita setiap saat terus berada di dalam masjid saja? berdo’a tak kenal lelah, tidak bekerja dan tidak mengurusi keluarga dan masyarakat kita? Tentu bukan demikian maksudnya!
Kita melakukan i’tikaf dalam ’masjid kehidupan’ kita masing-masing. Jika kita berperilaku baik sesuai perintah Allah, hati selalu berdzikir tertuju kepada Allah, sebenarnya kita sedang membangun sebuah masjid yang sangat indah. Masjid ruhani yang tak akan roboh, masjid dalam diri kita yang adzannya setiap saat berkumandang di seluruh sel kehidupan kita, yang setiap waktu suara takbir, tahlil dan seruan kemenangan selalu bergema memenuhi rongga dada. Masjid adalah tempat sujud. Maka di dalam perilaku keseharian itulah kita senantiasa bersujud untuk memuji kebesaran dan keagungan-Nya.
3. Pelajaran tentang KEDERMAWANAN
Ramadhan mencetak manusia menjadi lebih dermawan dari sebelumnya. Rasulullah SAW memberi contoh, betapa apabila masuk bulan ramadhan beliau berderma luar biasa untuk memberi contoh kepada umatnya. Beliau bersabda bahwa di surga, Allah menyediakan sebuah istana indah khusus buat para dermawan (baitul askhiya’). Bahkan para malaikat pun senantiasa mendoakan keselamatan buat para dermawan
Apabila ada seorang dermawan meninggal dunia, malaikat penjaga bumi berdoa: “ya Rabbi berilah kemudahan kepada hamba-Mu ini karena kedermawanannya ketika hidup di dunia.”
Bahkan diceritakan dalam suatu riwayat bahwa setiap malam menjelang pagi, selalu turun dua malaikat yang keduanya berdo’a. Malaikat sebelah kanan berdo’a untuk kesejahteraan para dermawan, sedangkan malaikat sebelah kiri berdo’a untuk kebinasaan orang-orang yang kikir akan hartanya.
Ramadhan mendidik agar manusia menjadi lebih bertaqwa kepada Allah Swt. Salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah mereka senang berderma. Mereka selalu menafkakan hartanya di jalan Allah dengan senang hati, baik dalam keadaan sempit maupun lapang (Ali-‘Imran: 134).
(bersambung ke Pelajaran Ramadhan 4)

PELAJARAN RAMADHAN (3)