Hari pertama meninggalkan ramadhan, sungguh membuat hati menjadi gembira, lantaran telah sampai pada 1 syawal sebagai tanda bahwa perjalanan telah memasuki ‘periode kemenangan’. Inilah sebuah periode indah yang pada umumnya ditunggu-tunggu oleh setiap insan yang menjalankan ibadah puasa ramadhan. Datangnya bulan syawal disambut dengan penuh kegembiraan di mana-mana, dengan ditandai lantunan kalimat agung ‘Allahu Akbar’ yang berkumandang menggetarkan langit dunia, sekaligus menggetarkan hati setiap hamba Allah. Terlihat di setiap pelosok kota dan desa, baik orang kaya maupun mereka yang tak punya apa-apa, baik orangtua maupun anak-anak kecil, wajahnya nampak gembira menandakan bersuka cita tiada terkira…Allahu akbar walillahil hamd.
Di sisi lain, bulan ini menjadi ‘moment yudicium’ apakah seseorang berhasil dengan nilai baik atau tidak setelah mengikuti pelajaran pada mata kuliah ‘Manajemen diri’ selama satu bulan. Setiap orang diberi pelajaran bagaimana ia harus ‘memanage’ hawa nafsunya selama ‘periode kuliah’ di bulan ramadhan. Apakah ia menjadi lebih sabar, apakah ia menjadi lebih pandai bersyukur, apakah ia menjadi lebih tawadhu’, apakah ia menjadi lebih peduli terhadap orang lain, dan apakah ia semakin merasa bahwa sang Pencipta selalu menyaksikan perbuatannya setiap saat dan waktu yang dilewatinya.
Secara garis besar ada tiga pelajaran yang dapat kita ambil dari mata kuliah Manajemen Diri di bulan Ramadhan kemarin. Yaitu: Pelajaran tentang Kesaksian, Pelajaran I’tikaf, dan Pelajaran tentang Bahagia.
1. Pelajaran tentang Kesaksian
Dalam melakukan ibadah puasa, hal yang paling membedakan dengan ibadah lainnya, adalah bahwa seseorang tidak mau melakukan perbuatan yang dilarang agama walaupun tersembunyi, misal makan dan minum di siang hari (sebelum waktu berbuka). Alasan utama yang mendasari mengapa mereka takut melakukan, karena mereka merasa bahwa Allah selalu menyaksikan perbuatannya dimana saja dan kapan saja. Sehingga meskipun kondisi tersembunyi atau tidak kelihatan oleh orang lain, seseorang yang sedang berpuasa, meskipun lagi haus, ia tidak berani minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Meskipun hanya setetes air. Ia merasa Allah begitu dekat dengan dirinya, dan selalu menyaksikan apa saja yang akan dan sedang diperbuatnya. Selanjutnya, mari kita urai pelajaran tentang kesaksian ini, bagaimana Allah sang Pencipta ‘menaruh’ para makhluk ciptaan-Nya sedemikian rupa untuk menjadi saksi atas perbuatan manusia.
QS. Al-Israa’ (17): 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan (semua) bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

QS. An-Nuur (24): 41
Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Allah sang Maha Pencipta alam raya ini, melalui dua ayat tersebut memberi informasi yang sangat penting bagi manusia. Ternyata setiap ‘apa saja’ (bahkan alam benda yang sementara ini oleh ilmu pengetahuan dikatakan sebagai benda mati), ternyata semuanya hidup, setiap saat dan waktu bertasbih memuji kebesaran Allah Swt. Yang lebih menarik adalah dalam surat An-Nuur (24): 41, dinyatakan bahwa setiap benda selain bertasbih, ternyata juga sembahyang (shalat). Karena mereka dikatakan melakukan sembahyang seperti halnya manusia, berarti selain bergerak sesuai sunatullahnya mereka juga ‘berbisik’ atau mengeluarkan suara. Hanya saja manusia tidak bisa mendengar suara halus yang mereka keluarkan lantaran pendengaran manusia dibatasi pada range tertentu (20 Hz – 20.000 Hz).
Dikarenakan mereka (alam benda) itu ternyata hidup, maka mereka pun bisa menyaksikan alam sekitarnya, termasuk apa yang dilakukan oleh manusia. Mereka merekam seluruh aktivitas alam sekelilingnya, kemudian catatan itu akan dibuka ketika waktunya telah tiba, yaitu saat Pengadilan Maha Tinggi digelar oleh sang Maha Kuasa… (bersambung ke Pelajaran Ramadhan 2).

PELAJARAN RAMADHAN (I)