Tanda negatif ( – ) adalah memberi pengertian adanya kekurangan, sedang tanda positif ( + ) memberi pengertian adanya kelebihan.
Seseorang yang berpikiran negatif, ia cenderung merasa kekurangan. Melihat diri sendiri yang nampak adalah kekurangannya, melihat orang lain pun yang dilihat atau yang nampak baginya adalah juga kekurangannya. Sehingga orang yang berpikiran negatif sering mendapat kekecewaan dalam hidupnya. Berbeda dengan orang-orang yang berpikiran positif. ia cenderung merasa kelebihan. Melihat diri sendiri yang nampak adalah kelebihannya, melihat orang lain pun yang dilihat atau yang nampak baginya adalah juga kelebihannya. Sehingga orang yang berpikiran positif hidupnya selalu bahagia, karena sering bersyukur atas apapun yang ia miliki.
Berkaitan dengan kaidah sederhana tentang penjumlahan yang dibahas sebelumnya (pada episode 1), dapat ditarik nilai-nilai soft skills yang menyertai kaidah tersebut. Sebagai berikut:
• Nilai negatif, jika digabung (dijumlahkan) dengan nilai positif, akan menghasilkan nilai negatif. Jika dan hanya jika nilai bilangan negatif lebih besar dibanding nilai bilangan positifnya. Sebaliknya nilai negatif, jika digabung (dijumlahkan) dengan nilai positif, akan menghasilkan nilai positif. Jika dan hanya jika nilai bilangan positif lebih besar dibanding nilai bilangan negatifnya. Artinya, seseorang yang (terlanjur) berbuat negatif, janganlah putus asa jika ia ingin memperbaiki kesalahannya. Kesalahan memang tidak bisa dihapus, tetapi ‘nilai akhir’ dapat diperbaiki dengan cara berbuat kebajikan (berbuat positif) lebih banyak dibanding perbuatan negatif yang sudah terlanjur dikerjakan.
• Nilai positif, jika digabung (dijumlahkan) dengan nilai positif, akan menghasilkan nilai positif. Berapa pun nilai bilangan tersebut. Sebaliknya nilai negatif, jika digabung (dijumlahkan) dengan nilai negatif, akan menghasilkan nilai negatif pula, berapa pun nilai bilangan tersebut. Artinya, jika seseorang selalu berbuat kebajikan (positif), maka tak ada nilai lain kecuali nilai akhir menjadi positif baginya. Baik dalam pandangan manusia, lebih-lebih dalam pandangan Tuhan. Karena Tuhan selalu menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan, yang kemudian Dia akan memberi reward tiada terkira atas prestasi manusia yang selalu menuruti perintah-Nya (selalu berbuat kebajikan/positif). Sebaliknya manusia yang selalu berbuat negatif (kejahatan), tak ada predikat lain kecuali nilai akhir juga menjadi negatif, jika sampai dengan akhir hayatnya ia tak mau berubah menjadi lebih baik. Baik dalam pandangan manusia (kehidupan horisontal), maupun bagi Tuhan (hubungan vertikal).
• Nilai negatif, jika digabung (dijumlahkan) dengan nilai positif, akan menghasilkan nilai nol. Jika dan hanya jika nilai bilangan positif sama besar dengan nilai bilangan negatifnya. Secara matematis memang akan terjadi impas (Nol), jika perbuatan baik manusia sama besar dengan perbuatan jahatnya. Tetapi dalam hal sikap hidup (attitude), besaran nilainya sulit dikwantitatifkan, sehingga peran hati (niat, keikhlasan, ketulusan dan kesungguhan) dalam melakukan suatu perbuatan, nilainya sulit diukur dengan besaran angka. Bisa jadi kesalahan yang sudah terlanjur banyak, tetapi kemudian diikuti oleh rasa penyesalan mendalam, serta permohonan maaf kepada manusia, dan mohon ampunan secara tulus kepada sang Pembuat hidup, bisa jadi akan mempunyai nilai akhir positif, bahkan memiliki skala nilai yang tinggi. Wallahu a’lam bishshawab.
• Maka sebagai manusia yang tentu ingin ending kehidupan kita memiliki nilai tinggi, baik dalam dimensi horizontal, lebih-lebih dalam dimensi vertical, mari berlomba-lomba berbuat amal kebajikan (nilai positif). Kapan saja dan di mana saja, bahkan dalam kesempatan sekecil apapun, kita gunakan untuk berbuat positif, agar sukses universal di alam kini, dan di kehidupan nanti insya Allah akan kita temui…
…Lanjut bagian (3)

tdj

MATEMATIKA SOFT SKILLS (2)