*) Serial motivasi

1. Modal Keyakinan,

Yaitu beriman kepada Allah sebagai Tuhannya alam semesta, dan juga beriman atau meyakini para utusan-Nya yang ditugaskan untuk memperbaiki akhlak manusia.”

Inilah modal perdana dan modal paling utama dalam melakukan bisnis yang berbuah kebahagiaan selamanya.

Mengapa dengan modal ini manusia akan hidup bahagia?

Siapa sebenarnya Tuhan itu? Apakah benar-benar Dia ada? Bagaimana ‘reasoning’nya jika Dia ada?

Mari merenung sejenak…


Kita tentu sepakat bahwa yang dimaksud Tuhan adalah ‘sesuatu’ yang tak ada duanya dan paling berkuasa. Yang wajib disembah oleh seluruh makhluk ciptaan-Nya, yang mempunyai sifat-sifat luar biasa. Tuhan adalah sang Pencipta dunia seisinya. Dia-lah yang memelihara kelestarian alam raya, Dia disembah oleh seluruh makhluk-Nya. Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tetapi Dia juga akan meminta pertanggung-jawaban perbuatan manusia ketika telah tiba saatnya.

Sebagai sang Pencipta Dia lebih dahulu ada sebelum semuanya di adakan oleh-Nya. Artinya Dia-lah yang paling awal dari segalanya. Demikian pula Dia-lah yang paling akhir setelah semuanya tiada. Dia Raja di hari kemudian nanti. Ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu. (QS.(57): 3)

Bagaimana cara Tuhan melestarikan alam semesta?

Ataukah dunia ini lestari dengan sendirinya?

  • Pernahkah kita berpikir, ketika suatu saat di muka bumi ini masih tercipta satu orang saja?
  • Mengapa ’orang itu’ bisa bertahan hidup?
  • Siapa yang mengajari ia makan, minum, dan bisa bertahan hidup dari keganasan alam saat itu?
  • Mengapa tiba-tiba ada tanaman berbuah atau tumbuhan yang cocok untuk dimakan oleh manusia tersebut?
  • Mengapa nalurinya bisa membedakan mana makanan yang baik dan mana yang beracun?

  • Siapa yang memberi naluri pada dirinya?

  • Mengapa tiba-tiba ada sosok pasangan dari manusia itu? dan kemudian mereka bisa mengembangkan keturunan sehingga menjadi banyak seperti sekarang ini?

  • …secara kebetulan-kah, semua itu?

Kita tidak akan menemukan jawaban lain. Dan tak ada alternatif lain, kecuali bahwa itu semua dikarenakan adanya ’campur tangan’ sang Pencipta. Yaitu ’suatu Dzat’ yang memiliki kekuatan Maha Dahsyat, Maha Berilmu, Maha Besar, dan Maha Berkuasa. Dia berkehendak bahwa di planet bumi yang Ia ciptakan ini, nantinya ada kehidupan baru yang dihuni dan diatur oleh makhluk ciptaan-Nya yang bernama manusia.

Dan satu hal yang perlu kita pahami adalah, bahwa manusia (kita) adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling disayangi-Nya.

Perhatikan, ternyata segala sesuatu yang telah diciptakan (terlebih dahulu) dengan begitu rumit sejak 14,5 milyar tahun lalu, semua dipersiapkan untuk kepentingan makhluk-Nya yang bernama manusia.

Luar biasa memang!

Mulai dari penciptaan langit yang sulit dicari tepinya (saking luasnya), yang di dalamnya terdapat bertrilyun-trilyun bintang (matahari) yang menyebar di semua gugusan galaxy, sampai pada penciptaan planet mungil yang namanya Bumi yang di dalamnya diberi fasilitas istimewa untuk kehidupan, semua diperuntukkan hanya bagi manusia makhluk kesayangan-Nya.(QS.(2): 29)

Untuk apa Tuhan menciptakan itu semua?

Agar manusia mensyukuri berjuta nikmat yang telah diberikan kepadanya, kemudian menyembah dan mengabdi hanya kepada-Nya saja. Bukan kepada yang lain. (QS. (51): 56)

Adakah kehidupan (manusia) selain di bumi, mengingat jagad raya begitu luasnya?

Kemungkinan besar tidak ada! Karena tidak ada informasi baik dari sisi ilmu pengetahuan maupun dari kitab suci.

Lalu untuk apa Tuhan mencipta alam semesta sebesar itu?

Semua itu dicipta agar manusia semakin mengerti dan sadar betapa dirinya begitu kecilnya, sehingga tidak menjadi sombong dan angkuh, tidak merasa pandai, merasa kaya, merasa besar, merasa berkuasa dsb. Dengan kata lain agar manusia menjadi tunduk dan tahu diri.

Andai saja di muka bumi ini, ada seseorang yang mempunyai seribu gelar akademik, kemudian ia menjadi sombong dengan gelarnya, maka ketika ia merenungi akan hakikat dirinya, mengapa tiba-tiba ia hadir di dunia ini, dan kehendak siapa ia ada, kemudian andai saja ia mau merenungi hakikat alam semesta yang luasnya tiada terkira, dan terakhir mau merenungi hakikat Tuhan sang Pencipta…, tentu ia akan banyak menangis…ia akan menjadi sadar jika ilmunya tidak memiliki arti apa-apa. Ilmu yang dimilikinya ternyata jauh lebih kecil dari seper-trilyun debu. Apalah artinya ilmu yang ia kejar selama ini, jika ia tidak mampu bertemu dengan kasih sayang Allah sebagai Tuhannya alam semesta.

Selanjutnya ia akan semakin menyadari bahwa gelar tertinggi yang harus ia raih adalah gelar hamba Allah, sebagai gelar tertinggi bagi manusia. Yaitu menjadi orang yang selalu patuh dan taat akan perintah Allah, menebar kebenaran, dan melarang kemungkaran. Itulah puncak dan hakikat gelar manusia sebagai modal untuk mendapatkan kebahagiaannya…

…lanjut ke bagian (5)

BISNISNYA ORANG-ORANG PINTAR (4)