*) Serial Cerita Hikmah

”Syntya, pernahkah kamu makan bersama dengan ibumu?”

”Pernah pak guru, sering sekali…”Jawab Syntya.

”Pernahkah, suatu saat ketika makanan tinggal satu, kemudian ibumu tidak jadi makan, dan beliau mengatakan sudah kenyang?”

Ketika Syntya kesulitan dan belum juga menjawab, sang Guru memberikan pertanyaan-pertanyaannya lagi.

”Pernahkah pada suatu malam yang dingin ketika di rumahmu tidak ada selimut kecuali hanya satu, kemudian beliau memberikan selimut itu kepadamu, dan ibumu mengatakan ia tidak kedinginan?”

”Pernahkah suatu saat ketika ibumu seharian bekerja begitu lelahnya, ketika itu kamu mau membantu, dan ibumu mengatakan ia tidak lelah dan tidak perlu dibantu?”

”Pernahkah suatu saat ketika ibumu kelelahan dan kelihatan sakit, tetapi di hadapanmu ia mengatakan tidak sakit..?”

”Dan pernahkah suatu saat ketika kalian minta uang untuk keperluan sekolah, ibu atau ayah kalian menyanggupi besok saja. Ketika besoknya uang itu sudah ada, dan kalian bertanya uang itu dari mana, orang tua kalian mengatakan bahwa uang itu hasil usahanya. Kalian tidak tahu mungkin saja uang itu hasil penjualan barang kesayangan orang tua kalian, yang itu dilakukan demi kesuksesan kalian. Tapi mereka tidak memberitahukan dari mana asal uang itu, yang penting kalian bisa sekolah demi masa depan kalian…?”

”Syntya, dan Anak-anakku lainnya, perhatikanlah, begitu sayangnya orang tua kita khususnya ibu kepada kita, sampai ia berbohong demi ingin melihat anaknya bahagia. Beliau berbohong demi orang lain, demi kita. Sebaliknya kita sebagai anak kadang kita berbohong kepadanya, tetapi bukan demi ibu kita, kita berbohong demi keperluan kita sendiri…”

”…Anak-anakku, sudah mengertikah kalian, kasih sayang seorang ibu, tak dapat kita tebus dengan perbuatan apapun…hanya do’a dan bakti kita yang ditunggu oleh mereka…”

”…Sudah,…sudah…pak Guru,…” kata Syntya sambil mengusap air matanya. Demikian pula dengan anak-anak lainnya. Setelah mendengarkan cerita itu,  banyak di antara meraka yang berkaca-kaca. Mereka baru mengerti jika sang ibu begitu cintanya kepada mereka semua. Apa yang mereka rasakan selama ini, barulah nampak jelas bahwa kasih ibu tak ada batasnya…

Sungguh pantas, jika rasulullah memberi jaminan surga buat seorang ibu yang demikian tinggi kasih sayangnya. Demikian kata Syntya dalam hati.

Seseorang yang melakukan perbuatan dengan ikhlas, sepenuh hati, penuh cinta, karena Allah semata, bahkan tanpa mengharapkan imbalan atas perbuatannya, insya Allah, Allah akan memberikan balasannya. Apakah itu terjadi di zaman dahulu, atau terjadi di zaman modern ini, tak ada bedanya lagi.

Semoga di tanggal 21 April ini saat kita semua sedang mengenang dan memperingati hari Kartini, cerita di atas memiliki arti tersendiri bagi kaum ibu dan wanita pada umumnya, khususnya bagi kita semua (sebagai anak), agar lebih mengerti bagaimana sosok perjuangan ibu kita masing-masing.

Akhirnya, mari kita semua ikut andil dalam memajukan negeri tercinta ini khususnya melalui pendidikan anak bangsa, baik secara formal maupun melalui perilaku keseharian kita dalam memberi keteladanan pada buah hati kita masing-masing di rumah. Semoga Tuhan sang Pengasih senantiasa meridhai segala aktivitas hidup kita, mengampuni segala khilaf dan salah para orang tua kita, lebih khusus ibunda kita yang pernah menyabung nyawa ketika melahirkan kita….

”…Ya Allah, kasihilah orang tua kami, sebagaimana mereka mengasihi kami di waktu kami masih kecil. Ampuni dosa dan khilafnya, masukkanlah mereka ke dalam golongan hamba-Mu yang shalih dan shalihah, masukkanlah mereka ke dalam syurga indah yang penuh dengan kenikmatan, dan takdirkan mereka kembali kepada-Mu bernaung payung maghfirah-Mu…”

Amin ya rabbal ’alamin….

tdj

*) diambil dari buku best seller ’SURGA TAK LAGI INDAH’ penulis: Taufik Djafri.

Buah Kasih Sayang (3)