*) Serial Cerita Hikmah

Syntya salah satu murid yang cerdas, begitu selesai sang Guru bercerita tentang kisah seorang ibu dan tiga butir kurma, ia langsung bertanya :

“Pak, sungguh menarik cerita tadi. Karena kasih sayang yang tulus, Allah menyediakan surga buat seorang ibu. Pertanyaan saya, adakah di zaman modern sekarang ini sebuah ketulusan hati seperti yang bapak ceritakan?”

”Anakku Syntya, sungguh jeli pertanyaanmu. Semoga jawaban ini akan menjadikan kalian semua menjadi lebih mengerti arti sebuah kasih sayang seorang ibu…”

Anak-anakku, kasih sayang seorang ibu tidak terbatas pada suatu zaman saja. Yang namanya ibu, selalu berusaha membuat agar anaknya bahagia. Seorang ibu bahkan sering tidak memperhatikan dirinya demi kasih sayangnya kepada sang buah hati. Tidak saja manusia, hewanpun memiliki kasih sayang yang luar biasa terhadap anak-anaknya. Anak-anakku, dengar dan perhatikan cerita ini…

Di pagi hari musim kemarau, di sebuah pohon yang dahan dan daunnya sudah mengering, tersebutlah seekor induk burung yang meninggalkan tiga ekor anaknya. Ia pergi jauh untuk mencari makanan demi anak-anaknya. Lama sekali induk burung terbang mencari makanan tak juga ditemukan apa yang dicari. Hutan demi hutan dilaluinya. Semua kering tak ada sebutir makanan pun yang ia temukan. Jauh dari tempat anak-anaknya, barulah ia dapatkan tiga biji makanan. Setelah diambilnya makanan itu dengan susah payah karena letihnya, induk burung dengan gembira terbang kembali untuk memberikan makanan kepada anak-anaknya. Sungguh jauh perjalanan itu, tetapi dengan semangatnya dan demi anak-anaknya induk burung terbang tak mengenal lelah. Setelah hari agak senja barulah ia sampai ketempat anak-anak yang ia tinggalkan. Maka bertanyalah anak-anak burung itu kepada sang ibu.

  • Anak burung        :”Ibu capek…?”
  • Induk burung        :”oh, tidak anakku, Ibu tidak capek.”
  • Anak burung        :”…tapi kenapa lama Bu, dan Ibu kelihatan letih sekali? Wajah Ibu berkeringat, bahkan sayap ibu ada yang hampir patah…? Apakah tempatnya jauh, Bu?”
  • Induk burung        :”…tidak, tidak, anakku, tempatnya dekat saja, Ibu tadi memilih-milih makanan yang paling enak buat kalian. Sehingga Ibu agak terlambat datang !
  • Anak burung        :”…Bu, makanannya hanya ada tiga, hanya cukup buat kami bertiga, apakah ibu sudah makan?..”
  • Induk burung        :”…sudah, sudah, anakku, jangan pikirkan ibu, ibu tidak lapar, makanlah, makanlah…”
  • Anak burung        :”Baik Bu, terima kasih…”
  • Anak burung        :”Wah, lezat sekali Bu makanannya…”

Anak-anak burung pun menikmati makanan dengan lahapnya. Induk burung memandang mereka dengan hati penuh bahagia…

Induk burung sangat letih, sayapnya terasa lunglai, karena perjalanan begitu jauhnya… puluhan kilometer telah dilaluinya. Sejak pagi hingga sore baru ditemui makanan untuk anaknya. Perutnya yang lapar ia tahan. Ia rela tak makan seharian asal anak-anaknya tidak kelaparan. Ketulusan dan kecintaannya kepada buah hatinya tak membolehkan ia berkata terus terang. Lebih baik ia berbohong. Tak sampai hati sang ibu ini menceritakan susah dan deritanya ketika mencari makanan. Tak sampai hati ia mengatakan hal itu pada anak-anaknya. Perutnya terasa lapar sekali, karena belum terisi sejak pagi…tetapi ia tetap menyembunyikan di hadapan anak-anaknya. ”…Biarlah aku saja yang menderita asal anak-anakku bahagia..” demikian kata induk burung dalam hati.

Sang Guru pun, mengakhiri ceritanya dengan berpesan kepada murid-muridnya. :”..anak-anakku, induk burung berbohong demi anak-anaknya…demi buah hatinya,…bukan demi dirinya.”

…lanjut ke bagian (3)

Buah Kasih Sayang (2)