Inginkah anda masuk surga?

Jika pertanyaan ini ditujukan kepada seseorang, siapapun ia. Tua, muda, kaya, miskin, ilmuwan, negarawan, atau siapa saja, dapat dipastikan bahwa jawabannya adalah: “Sudah tentu, saya ingin masuk surga.” Atau jawaban lain senada.

Meskipun perbuatan mereka tidak sesuai dengan syarat sebagai calon penghuni surga, tetap saja setiap manusia tidak ingin sengsara masuk neraka. Lihat saja T-shirt anak-anak muda yang di punggung atau di bagian depannya tertulis: “MUDA FOYA FOYA, TUA KAYA RAYA, MATI MASUK SURGA.”

Andai saja kita bisa berdialog dengan surga, apakah surga menghendaki mereka yang masa mudanya foya-foya, kemudian ketika tuanya kaya raya? Tentu tidak!

Artinya, rangkaian tulisan di atas hanyalah iseng belaka. Tidak terkait dengan perjalanan menuju surga. Karena surga hanya rindu dan ingin ditempati oleh orang-orang beriman, yang hidupnya bersih, taat dan tawadhdhu’, tujuan hidupnya bukan materi, selalu peduli kepada orang lain, tidak egois, selalu memberi dalam keadaan sempit maupun lapang. (QS. Ali-‘Imran: 134)

Apa syarat agar hidup sukses, dan dikehendaki Tuhan memasuki surga-Nya?

Jika dalam manajemen perusahaan kita mengenal analisis SWOT, maka untuk meraih sukses dunia akhirat, saya menawarkan analisis ’SWOT’ sebagai manajamen diri, yang terkait erat dengan manajemen perusahaan.

SWOT dalam manajemen perusahaan singkatan dari Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (kesempatan), dan Threat (ancaman).

Sedangkan dalam manajemen diri, agar manusia dapat meraih sukses universal sehingga bisa menggapai surga yang penuh kebahagiaan, perilakunya harus memenuhi unsur: Syukur, Wara’, Optimis, dan Takut (SWOT). Hanya orang-orang yang pandai bersyukur, yang selalu hati-hati dalam tindakan, kemudian selalu optimis karena dekat dengan sang Pencipta, serta mereka takut hanya kepada Tuhannya saja. Mereka itulah calon penghuni surga.

Yang menarik adalah:

1. Antara S (Strength) dan S (Syukur) mempunyai hubungan sangat erat.

  • Dikarenakan seseorang memiliki Strength atau kekuatan atau kelebihan yang diberi Allah berupa nikmat tak terhingga, maka ia wajib selalu bersyukur.

2. Antara W (weakness) dan W (wara’) juga mempunyai hubungan sangat  erat.

  • Dikarenakan seseorang selalu mempunyai kelemahan dan kekurangan di berbagai sisi kehidupan, ia seharusnya bersikap wara’ atau selalu hati-hati (dari syubhat).

3. Antara O (Opportunity) dan O (Optimis), juga mempunyai hubungan sangat erat.

  • Dikarenakan setiap orang punya peluang atau kesempatan sukses, maka ia harus optimis dalam menyikapi apa saja. Dengan optimis seseorang akan menjadi gembira, karena punya harapan ke depan lebih cerah, baik di dunia, lebih-lebih di hari akhirat.

4. Antara T (Threat) dan T (Takut), juga mempunyai hubungan sangat erat.

  • Dikarenakan setiap manusia sangat mungkin mendapat ancaman, maka ia harus memiliki rasa takut. Takut hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Takut akan siksa-Nya, takut jika tidak mendapat perhatian-Nya, takut jika tidak mendapat pertolongan-Nya, takut jika tidak mendapat cinta kasih-Nya, dan takut jika jauh dari-Nya.

Maka, seseorang yang mampu memanaj dirinya dengan ’SWOT’ ini, akan terjaga dari perbuatan tercela, sehingga dengan izin dan ridha Allah, di hari akhir nanti akan mendapatkan surga indah sebagai puncak kebahagiaan dalam ending kehidupannya… insya Allah…

Menggapai SURGA dengan ‘SWOT’

2 thoughts on “Menggapai SURGA dengan ‘SWOT’

  • April 25, 2011 at 9:07 am
    Permalink

    Ass Wr Wb Pak Taufik……

    Pak Bagus benar Tulisan ini Pak, kalao boleh saya bertanya Pak Wara itu tadi Bahasa Mana ya Pak??? terus saya masih kurang paham dengan arti sesunguhnya….. mohon maaf atas keterbatasan saya ini Pak, Mohon bantuan pencerahaannya…

    Salam
    Yudha

  • October 8, 2011 at 3:28 pm
    Permalink

    Subhaanallaah. Bisa dijadikan buku kecil sbg bekal calon pasutri muda lho dan pasti bermanfaat. Salam perkenalan. WWW

Comments are closed.