BULIR-BULIR KASIH (35)

‘RAHASIA WAKTU DHUHA’ Masa Kuliah sudah berjalan lagi, karena waktu liburan semester sudah habis. Abdi dan Syarif sudah kembali ke kampusnya. Demikian pula Ira. Saat-saat kuliah sudah kembali seperti sedia kala. Abdi dengan nilainya yang bagus menyebabkan ia mengambil mata

BULIR-BULIR KASIH (34)

Pak Barta adalah orang yang sukses dalam kehidupan materi, maka yang dicarinya sekarang bukan sekedar materi lagi, tetapi Pak Barta ingin sekali mencari rasa bahagia yang hakiki. Ia mulai menfokuskan dirinya dalam kehidupan yang lebih dalam dari sekedar materi. Ia

BULIR-BULIR KASIH (33)

Tiba-tiba suara Ira memecah kesunyian. “Di,..itu tanaman apa?” “Yang mana?” “Itu, yang di tengah sawah itu, yang berwarna putih, seperti bunga tapi juga seperti kapas…” kata Ira. “Oh, itu…” kata Abdi tersenyum “Itu adalah tanaman khas daerah sini Ir. Itu

BULIR-BULIR KASIH (32)

Mobil yang biasa dipakai Ira untuk pergi kuliah itu, kini melaju keluar kota yang dikemudikan sendiri oleh Ira. Duduk di jok depan di samping Ira, adalah Abdi yang meskipun sudah sehat tetapi badannya masih lemas. Sedangkan di jok belakang, adalah

BULIR-BULIR KASIH (30)

Malam itu, Abdi mengambil amplop yang berada di saku celananya, yang tadi siang ia terima dari Rido. Ia berani mengambil amplop tersebut setelah ia bisa memastikan bahwa Syarif dan Ira sudah keluar dari rumah sakit untuk pulang mengambil pakaian buat

BULIR-BULIR KASIH (29)

Apakah Nisa mengerti kalau aku sudah mengetahui nama lengkapnya? Ah, tentu tidak mungkinlah jawab Abdi sendiri. Pikiran Abdi tidak karuan. Sampai agak lama ia tidak menjawab pertanyaan Nisa. “Apakah Mas Abdi melihat dompet warna coklat tua..?” Nisa mengulangi pertanyaannya. Dengan

BULIR-BULIR KASIH (28)

Apa yang dilihat oleh Abdi? Sehingga ia seperti itu? Ternyata nama yang tertera di dalam Kartu Tanda Pengenal itulah yang membuat Abdi bagaikan disambar petir. Ketika membaca identitas yang ada di KTP tersebut, betul-betul Abdi seperti tidak percaya pada pandangannya

BULIR-BULIR KASI (26)

Abdi yang posisinya masih terbaring, terasa nggak enak juga. Akhirnya dengan memberi sedikit kode kepada Syarif, kemudian Abdi duduk dengan dibantu oleh Syarif. “Abdi sakit apa,…?” Rido mulai membuka pembicaraan. “Ndak apa-apa koq Mas, Cuma kecapaian aja. Kemarin menghadapi ujian