Archive for the ‘iNVESTASI’ Category

MENGAPA PERLU ANALISIS RISIKO & PORTOFOLIO

Saturday, May 19th, 2012

Keadaan perekonomian Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir yang tidak stabil disebabkan oleh beberapa hal yaitu krisis ekonomi, naik turunnya harga minyak dunia, bencana alam besar, dan kondisi makroekonomi yang belum pulih. Hal ini diikuiti oleh terjadinya resesi ekonomi yaitu krisis finansial global yang membuat keadaan ekonomi negara-negara di dunia menjadi tidak stabil. Krisis finansial ini menyebabkan suku bunga tinggi, meningkatnya angka inflasi, dan dampak paling berat yaitu merosotnya perekonomian Indonesia. Melihat kondisi tersebut, pemerintah Indonesia selalu berupaya mendorong tingkat pertumbuhan perekonomian dengan membuat berbagai kebijakan diantaranya kebijakan moneter dengan cara menurunkan suku bunga di Bank Indonesia agar pelaku bisnis bisa leluasa melakukan usahanya.

Upaya yang dilakukan pemerintah ini membutuhkan dana dalam jumlah besar sehingga sangat diperlukan keikutsertaan seluruh lapisan masyarakat dalam bentuk pengerahan dana investasi. Pengerahan dana investasi masyarakat ini dapat melalui lembaga perbankan dan lembaga keuangan non-bank. Salah satu lembaga sumber pendanaan pembangunan di luar sektor perbankan yang memegang peranan penting dalam sistem perekonomian yang bekerja melalui mekanisme pasar adalah melalui pasar modal. Pasar modal merupakan salah satu alternatif penginvestasian dana yang dimiliki masyarakat di samping sektor perbankan dan jenis investasi lainnya. Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal mendefinisikan pasar modal sebagai “ Kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”. Keberadaan pasar modal membuat para investor dapat mengambil keputusan investasi dengan lebih rasional dan masyarakat memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan diversifikasi investasi yang dianggap paling menguntungkan.

Investasi di pasar modal memiliki dua potensi, yaitu deviden yang diharapkan oleh para pemodal dan capital gain. Selain return, kegiatan investasi juga dapat menimbulkan resiko bagi para investor. Semakin besar potensi return yang akan diterima maka semakin besar pula potensi risiko. Jogiyanto (2000) menekankan bahwa risiko investasi ini dibedakan menjadi dua yaitu risiko sistematis (systematic risk) dan risiko non sistematis (unsystematic risk).

Sebagai upaya untuk meningkatkan return atas investasi, investor melakukan tindakan memaksimumkan expected return pada berbagai tingkat resiko. Salah satu cara untuk mengurangi tingkat risiko yang ada yaitu dengan melakukan investasi dalam bentuk portofolio. Portofolio didefinisikan sebagai sekumpulan investasi dimana pemodal dapat berinvestasi pada macam-macam saham dengan maksud untuk mengurangi risiko. Sebelum mengambil keputusan berinvestasi investor rasional akan memilih untuk berinvestasi pada portofolio yang paling efisien di antara kumpulan portofolio yang ada. Portofolio yang efisien menurut Jogiyanto (2000) adalah:

  1. Portofolio yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan risiko tertentu.
  2. Portofolio yang memberikan risiko terkecil dengan return ekspektasi tertentu.

Guna mengetahui bagaimana portofolio yang efisien, maka  para investor masih perlu melakukan analisis risiko dan return portofolio sehingga mereka dapat memilih jenis saham yang memberikan return yang diharapkan dengan tingkat risiko tertentu.

REFERENSI:

Abdurah Rahman. (2005). Analisis Portofolio Optimal Pada Saham LQ45 dengan Pemrograman Non Linear. Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol.12 No.2 Juni 2005, hal.185.

Halim, A., (2003), Analisis Investasi, Salemba Empat, Jakarta.

Husnan, S. (1998), Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi Ketiga, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Jogiyanto. (2000), Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kedua, BPFE, Yogyakarta.

Sharpe, W.F and G.J. Alexander, (1995), Investasi, Jilid 1, Terjemahan Henry Njooliangtik, Agustiono, Prenhallindo, Jakarta.

Siamat, D. (1999), Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Kedua, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Tandelilin, E., (2001), Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

INVESTASI: PROSES, TINGKAT KEUNTUNGAN & TINGKAT RISIKO

Saturday, May 19th, 2012

Proses Investasi

Husnan (1998) menjelaskan bahwa proses investasi menunjukkan bagaimana pemodal seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas yaitu menyangkut sekuritas yang akan dipilih, seberapa banyak investasi tersebut, dan kapan investasi tersebut akan dilakukan. Oleh karena itu, untuk mengambil keputusan tersebut maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menentukan kebijakan investasi
  2. Analisis sekuritas
  3. Pembentukan portofolio
  4. Melakukan revisi portofolio
  5. Evaluasi kinerja portofolio

Tingkat Keuntungan

Halim (2002) menjelaskan tingkat keuntungan atau return sebagai imbalan yang diperoleh dari investasi. Return ini dibedakan menjadi dua, pertama return yang telah terjadi (actual return) yang dihitung berdasarkan data historis, dan kedua return yang diharapkan (expected return) akan diperoleh investor di masa mendatang. Komponen return meliputi :

1.      Capital gain

Merupakan keuntungan (kerugian) bagi investor yang diperoleh dari kelebihan harga jual (harga beli) di atas harga beli (harga jual) yang keduanya terjadi di pasar sekunder.

2.      Yield

Merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara periodik, misalnya berupa dividen/bunga.

Karena return saham merupakan suatu pengharapan atau ekspektasi, maka keputusan yang akan diambil oleh para investor lebih banyak didasarkan pada perkiraan tingkat return yang diharapkan (expected return). Faktor utama yang mempengaruhi besarnya expected return adalah tingkat risikonya (degree of risk)

Tingkat Risiko

Risiko yaitu besarnya penyimpangan antara tingkat pengembalian yang diharapkan (ER) dengan tingkat pengembalian yang dicapai secara nyata (actual return). Semakin besar penyimpangannya berarti semakin besar tingkat risikonya (Halim, 2002).

Apabila dikaitkan dengan preferensi investor terhadap risiko, maka risiko dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Investor yang suka terhadap risiko (risk seeker)

Merupakan investor yang apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang sama dengan risiko yang berbeda, maka ia akan lebih suka mengambil investasi dengan risiko yang lebih besar.

2. Investor yang netral terhadap risiko (risk neutrality)

Merupakan investor yang akan meminta kenaikan tingkat pengembalian yang sama untuk setiap kenaikan risiko.

3. Investor yang tidak suka terhadap risiko (risk averter)

Merupakan investor yang apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang sama dengan risiko yang berbeda, maka ia akan lebih suka mengambil investasi dengan risiko lebih kecil.

Menurut Siamat (1999) menjelaskan bahwa risiko investasi di pasar modal pada prinsipnya semata-mata berkaitan dengan kemungkinan terjadinya fluktuasi harga (price volatility). Halim (2002) menjabarkan bahwa risiko-risiko yang mungkin dapat dihadapi investor tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Risiko bisnis (business risk)

Yaitu risiko yang timbul akibat menurunnya profitabilitas perusahaan emiten.

2. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Risiko ini berkaitaan dengan kemampuan saham yang bersangkutan untuk dapat segera diperjual-belikan tanpa mengalami kerugian yang berarti.

3. Risiko tingkat bunga (interest rate risk)

Yaitu risiko yang timbul akibat perubahan tingkat bunga yang berlaku di pasar.

4. Risiko pasar (market risk)

Yaitu risiko yang timbul akibat kondisi perekonomian negara yang berubah-ubah dipengaruhi oleh resesi dan kondisi perekonomian lain.

5. Risiko daya beli (purchasing power-risk)

Yaitu risiko yang timbul akibat pengaruh perubahan tingkat inflasi, dimana perubahan ini akan menyebabkan berkurangnya daya beli uang yang diinvestasikan maupun bunga yang diperoleh dari investasi.

6. Risiko mata uang (currency risk)

Yaitu risiko yang timbul akibat pengaruh perubahan nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang negara lain.

Referensi:

Halim, A., (2003), Analisis Investasi, Salemba Empat, Jakarta.

Husnan, S. (1998), Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi Ketiga, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Jogiyanto. (2000), Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kedua, BPFE, Yogyakarta.

Siamat, D. (1999), Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Kedua, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Tandelilin, E., (2001), Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Indeks Harga Saham

Tuesday, December 27th, 2011

Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks berfungsi sebagai indikator trend pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah pasar sedang aktif atau lesu.

Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui trend pergerakan harga saham saat ini; apakah sedang naik, stabil atau turun. Misal, jika di awal bulan nilai indeks 300 dan saat ini di akhir bulan menjadi 360, maka kita dapat mengatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 20%.

Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham. Karena harga-harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit, maka nilai indeks pun bergerak turun naik dalam hitungan waktu yang cepat pula.

Di Bursa Efek Indonesia terdapat 6 (enam) jenis indeks, antara lain:

  1. Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang tercatat di BEI.
  2. Indeks Harga Saham Sektoral, menggunakan semua saham yang termasuk dalam masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan, pertambangan, dan lain-lain. Di BEI indeks sektoral terbagi atas sembilan sektor yaitu: pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan jasa, dan manufaktur.
  3. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (Composite Stock Price Index), menggunakan semua saham yang tercatat sebagai komponen penghitungan indeks.
  4. Indeks LQ 45, yaitu indeks yang terdiri 45 saham pilihan dengan mengacu kepada 2 variabel yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang masuk kedalam LQ 45 tersebut.
  5. Indeks Syariah atau JII (Jakarta Islamic Index). JII merupakan indeks yang terdiri 30 saham mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau Indeks yang berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam Indeks ini dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam syariat Islam. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti:
  1. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
  2. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
  3. Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram.
  4. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
  5. Telah tercatat di BEJ minimal 3 bulan.
  6. Saham tersebut masuk dalam perhitungan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).
  7. Berdasarkan pertimbangan faktor fundamental perusahaan dan pola perdagangan di bursa, BEI dapat menetapkan untuk mengeluarkan saham tersebut dalam proses perhitungan indeks harga 100 saham.
  8. Masuk dalam 150 saham dengan nilai transaksi dan frekwensi transaksi serta kapitalisasi pasar terbesar di Pasar Reguler, selama 12 bulan terakhir.
  9. Dari sebanyak 150 saham tersebut, kemudian diperkecil jumlahnya menjadi 60 saham dengan mempertimbangkan nilai transaksi terbesar.
  10. Dari sebanyak 90 saham yang tersisa, kemudian dipilih sebnyak 40 saham dengan mempertimbangkan kinerja: hari transaksi dan frekwensi transaksi serta nilai kapitalisasi pasar di pasar reguler, dengan proses sebagai berikut:

6. Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan. Yaitu indeks harga saham yang secara khusus didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.

7. Indeks KOMPAS 100. merupakan Indeks Harga Saham hasil kerjasama Bursa Efek Indonesia dengan harian KOMPAS. Indeks ini meliputi 100 saham dengan proses penentuan sebagai berikut :

1)    Dari 90 sisanya, akan dipilih 75 saham berdasarkan hari transaksi di pasar reguler.

2)    Dari 75 saham tersebut akan dipilih 60 saham berdasarkan frekuensi transaksi di pasar reguler.

3)    Dari 60 saham tersebut akan dipilih 40 saham berdasarkan Kapitalisasi Pasar.

  1. Daftar 100 saham diperoleh dengan menambahkan daftar saham dari hasil perhitungan butir (e) ditambah dengan daftar saham hasil perhitungan butir.
  2. Daftar saham yang masuk dalam KOMPAS 100 akan diperbaharui sekali dalam 6 bulan, atau tepatnya pada bulan Februari dan pada bulan Agustus.

Referensi:

Bagaimana sistem perdagangan atau transaksi saham di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) dilakukan? http://databaseartikel.com/ekonomi/20114021-bursa-efek-indonesia.html

Ahmad Munadi, 2011. Mengenal Short Selling dari Sisi Syariah. http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/06/07/mengenal-short-selling-dari-sisi-syariah/

Scriptless Trading. 2010. http://pasarmodal.blog.gunadarma.ac.id/2010/05/12/scripless-trading-2/

www.idx.co.id

Segmen Pasar Bursa Efek

Tuesday, December 27th, 2011

Segmen pasar di bursa efek ada tiga, yakni pasar reguler, pasar negosiasi, dan pasar tunai. Penjelasan masing-masing pasar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pasar reguler

Yakni segmen pasar di bursa efek yang pembentukan harganya dilakukan dengan cara tawar menawar secara lelang dan terus menerus (continue auction market) berdasarkan kekuatan pasar. Perdagangan efek atau transaksi di pasar reguler harus menggunakan satuan perdagangan (round lot) efek atau kelipatannya atau ada batas minimal saham yang diperdagangkan, yakni 500 efek atau saham.

2. Pasar negosiasi

Yakni segmen pasar di bursa efek yang pembentukan harganya dilakukan dengan cara negosiasi langsung (negotiated market) antara perusahaan pialang atau AB jual dan perusahaan pialang atau AB bell. Perdagangan saham di pasar ini tidak menggunakan satuan perdagangan (non-round lot).

3. Pasar tunai

Yakni segmen pasar di bursa efek yang pembentukan harganya sama dengan pasar reguler, demikian juga proses transaksinya menggunakan satuan perdagangan. Pasar tunai biasanya digunakan oleh perusahaan pialang yang tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam penyelesaian transaksi di pasar reguler dan negosiasi pada hari bursa yang ditetapkan. Pada pasar tunai digunakan sistem pembayaran uang dan penyerahan uang seketika (cash and carry). Bagi investor pemula, pada prinsipnya bisa bertransaksi di semua segmen pasar. Namun, disarankan bagi investor pemula untuk masuk ke pasar reguler.

Satuan Perdagangan

Perdagangan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai harus dalam satuan perdagangan (round lot) Efek atau kelipatannya, yaitu 500 (lima ratus) Efek. Perdagangan di Pasar Negosiasi tidak menggunakan satuan perdagangan (tidak round lot).

Satuan perubahan harga (fraksi)

Catatan
* Jenjang maksimum perubahan harga adalah 10x fraksi harga, masih berada di bawah batas auto rejection dan tidak berlaku pada pre-opening.

Fraksi dan jenjang maksimum perubahan harga di atas berlaku untuk satu Hari Bursa penuh dan disesuaikan pada Hari Bursa berikutnya jika Harga Penutupan berada pada rentang harga yang berbeda. Jenjang maksimum perubahan harga dapat dilakukan sepanjang tidak melampaui batasan persentase Auto Rejection.

Auto Rejection

Harga penawaran jual dan atau permintaan beli yang dimasukkan ke dalam JATS adalah harga penawaran yang masih berada di dalam rentang harga tertentu. Bila Anggota Bursa memasukkan harga diluar rentang harga tersebut maka secara otomatis akan ditolak oleh JATS (auto rejection).

Batasan auto rejction yang berlaku saat ini:

Kelompok Harga Batasan Auto Rejection
< Rp 100 50%
Rp 100 > s/d < Rp 500 35%
Rp 500 > s/d < Rp 2.500 30%
Rp 2.500 > s/d Rp 5.000 25%
> Rp 5.000 20%

Tawar menawar patokan harga Auto Rejection berpedoman pada:

  • Harga Previous untuk saham yang sudah diperdagangkan di Bursa;
  • Harga Pra-Pembukaan bila terbentuk harga pembukaan di Pra-Pembukaan.
  • Harga Teoritis untuk saham yang sudah diperdagangkan di Bursa yang  melakukan tindakan korporasi (Corporate Action);
  • Harga perdana untuk saham Emiten yang pertama kali diperdagangkan di Bursa;
  • Harga wajar yang ditetapkan oleh pihak independen untuk saham yang berasal dari Perusahaan Publik atau saham dari Bursa lain.
  • Auto rejection saham yang baru tercatat di bursa (hari pertama) adalah 2x parameter di atas.

Referensi:

Bagaimana sistem perdagangan atau transaksi saham di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) dilakukan? http://databaseartikel.com/ekonomi/20114021-bursa-efek-indonesia.html

Ahmad Munadi, 2011. Mengenal Short Selling dari Sisi Syariah. http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/06/07/mengenal-short-selling-dari-sisi-syariah/

Scriptless Trading. 2010. http://pasarmodal.blog.gunadarma.ac.id/2010/05/12/scripless-trading-2/

www.idx.co.id


Mengenal Pasar Saham

Sunday, December 18th, 2011

Penggunaan dari Ukuran Pasar

Ukuran pasar menginformasikan investor bagaimana kinerja saham secara umum pada waktu tertentu atau informasi tertentu akan reaksi pasar. Catatan historis dari ukuran pasar berguna untuk menaksir dimana pasar berada dalam siklus tertentu dan mungkin untuk menjelaskan apa yang akan terjadi.

Ukuran pasar berguna bagi investor dalam menilai dengan cepat performa portofolio keseluruhan mereka. Karena saham cenderung untuk bergerak keatas dan kebawah secara bersamaan, kenaikan atau penurunan dari pasar secara umum akan mengindikasikan bagi investor apa yang kemungkinan akan dilakukannya. Analis teknis harus mengetahui catatan historis dari pasar saat mereka mencari pola dari masa lalu yang mungkin berulang di masa depan.

P0 = P0/E1 x E1

dimana :

E1          = perkiraan pendapatan pada indeks S&P 500.

P0/E1 = Rasio harga-pendapatan atau pengganda.

Aliran Pendapatan

Memperkirakan pendapatan untuk tujuan menilai pasar tidaklah mudah. Bagian dari tingkat suku bunga adalah pendapatan per saham untuk sebuah indeks pasar, atau, secara umum, keuntungan perusahaan setelah pajak. Keuntungan perusahaan diturunkan dari penjualan perusahaan, yang pada akhirnya terkait dengan GDP.

Pengganda atau Rasio P/E

Pengganda yang akan diaplikasikan pada perkiraan pendapatan adalah sama pentingnya seperti perkiraan pendapatan dan seringnya lebih dari itu. Investor kadang secara ceroboh mengacuhkan pengganda dan mengkonsentrasikan hanya pada perkiraan pendapatan. Tetapi pertumbuhan pendapatan tidak selalu merupakan faktor pengacu dalam perubahan harga signifikan dalam pasar. Sebaliknya, tingkat suku bunga yang rendah dapat mengarah pada rasio P/E yang tinggi, yang pada akhirnya dapat mencakup mayoritas dari perubahan harga.

Fokus pada Variabel Penting

Dua  variabel ekonomi yang penting yaitu:

  1. Tingkat suku bunga
  2. Keuntungan perusahaan yang diharapkan.

Investor harus memperhatikan pendapatan dan tingkat suku bunga saat mereka mempertimbangkan pandangan akan saham. Investor harus memperhitungkan peran dari perubahan dalam tingkat suku bunga dalam mempengaruhi ekspektasi investor.

Analisis Teknik – Pendekatan Alternatif

Secara tradisional, saham telah dipilih menggunakan dua pendekatan:

  • § Analisis fundamental.
  • § Analisis teknis.

Analisis teknis bisa didefinisikan sebagai penggunakan dari data yang dihasilkan dari pasar spesifik untuk analisis dari baik harga saham agregat (indeks pasar atau rata-rata industri) dan saham individual. Analisis teknis kadang disebut analisis pasar atau internal, karena analisis itu menggunakan catatan dari pasar itu sendiri untuk mencoba mempertimbangkan permintaan, dan persediaan untuk, bagian dari saham atau keseluruhan pasar. Analisis teknis didasarkan pada data pasar yang dipublikasikan yang berlawanan dnegan data fundamental, seperti pendapatan, penjualan, tingkat pertumbuhan, atau regulasi pemerintahan. Data pasar utamanya mencakup harga dari saham atau sebauh indeks pasar dan data volume (jumlah dari saham yang diperdagangkan). Jika disimpulkan maka analisis teknis:

  1. Analisis teknis didasarkan pada data pasar yang dipublikasikan dan memfokuskan pada faktor internal dengan menganalisis pergerakan dalam pasar agregat, rata-rataan industri, atau saham. Sebaliknya, analisis fundamental memfokuskan pada faktor ekonomi dan politik, yang eksternal pada pasarnya itu sendiri.
  2. Fokus dari analisis teknis adalah mengidentifikasi perubahan dalam arah dari harga saham yang cenderung untuk bergerak dalam trend seiring harga saham menyesuaikan pada tingkatan ekuilibrium baru. Trend ini bisa dianalisis, dan perubahan dalam trend dideteksi, dengan mempelajari aksi dari pergerakan harga dan volume perdagangan sepanjang waktu. Penekanannya adalah pada kemungkinan perubahan harga.
  3. Teknisi mencoba untuk mempertimbangkan situasi keseluruhan mengenai saham dengan menganalisis indikator teknis, seperti data luas pasar, sentimen pasar, momentum dan indikator lainnya.

Harga Saham dan Teknik Volume

Teori Dow

Teori yang tertua dan yang terkenal dengan baik dari analisis teknis adalah teori Dow. Teori itu didasarkan pada keberadaan dari tiga tipe pergerakan harga:

  • Pergerakan primer, sebuah pergerakan pasar luas yang bertahan selama beberapa tahun.
  • Pergerakan sekunder (perantara), terjadi didalam pergerakan primer, yang mewakili interupsi yang bertahan beberapa minggu atau bulan.
  • Pergerakan hari ke hari, muncul secara acak disekitar pergerakan primer dan sekunder.

Teori Dow ditujukan untuk meramalkan permulaan dari pergerakan primer, tetapi teori itu tidak memberitahukan kita berapa lama pergerakan itu akan bertahan. Pertimbangan penting lainnya adalah bahwa konfirmasi yang diacu diatas tergantung pada tiap pengguna dari teori Dow. Teori Dow merupakan subjek bagi sejumlah kritisisme, dan investor terus hingga saat ini memperdebatkan kepantasannya.

Indikator Teknis

Indikator Keluasan

Garis Kemajuan- Penurunan (luas dari pasar)

Garis kemajuan-penurunan mengukur, pada basis harian kumulatif, perbedaan bersih antara jumlah saham yang naik dalam harga dan saham yang menurun dalam harga untuk sekelompok saham seperti yang berada pada NYSE (bursa saham New York).

Tinggi Rendahnya Harga Saham Baru

Bagian dari informasi yang dilaporkan untuk NYSE dan saham lainnya adalah harga tinggi dan rendah 52 minggu untuk tiap saham. Teknisi menganggap pasar sebagai bullish (sapi/naik) saat sejumlah signifikan dari saham tiap harinya menyentuh ketinggian 52 minggi.

Volume

Volume adalah sebuah bagian yang diterima dari analisis teknis. Volume perdagangan yang tinggi, dengan yang lainnya tetap, secara umum dianggap sebagai tanda bullish (kenaikan). Volume yang berat disertai dengan kenaikan harga adalah bahkan lebih bullish (naik).

Indikator Sentimen

Rasio Tingkat Suku Bunga Pendek à adalah tingkat suku bunga pendek untuk sebuah sekuritas adalah jumah dari saham yang telah dijual tetapi tidak dibeli kembali.

Rasio tingkat suku bunga pendek = saham total yang dijual / volume perdagangan harian rata-rata.

Likuiditas Dana Bersama

Beberapa indikator didasarkan pada teori dari investasi berlawanan. Likuiditas dana bersama bisa digunakan sebagai sebuah teknik pendapat berlawanan. Dalam skenario ini, dana bersama dipandang dalam sebuah cara yang serupa dengan odd-lotter (investor yang membeli saham atau sekuritas dalam kuantitas yang kecil dan tidak biasa): yaitu, mereka diasumsikan untuk bertindak tidak benar sebelum titik balik pasar.

Rasio put/call CBOE

Spekulator membeli call saat mereka mengharapkan harga saham untuk naik, dan mereka membeli put saat mereka mengharapkan harga untuk jatuh. Rasio put dan call berada jauh dibawah 1.0. Rasio put/call (rasio P/C) dikembangkan sebagai indikator sentimen antara jumlah dari pelepasan dengan penarikan pada Chicago Board Options Exchange.

Referensi:

Ross, Westerfield, Jaffe, and Jordan. 2008. Modern Financial Management, 8th Edition. McGraw-Hill

Jones, C. P. 2007. Investments: Analysis and Manahgement, 10th Edition, John Wiley and Sons

Memahami Struktur Modal

Sunday, December 18th, 2011

Komponen struktur modal dapat dilihat di sisi kanan laporan neraca perusahaan, dimana yang merupakan pembiayaan pembelanjaan permanen bagi perusahaan adalah hutang jangka panjang, saham preferen dan modal biasa. Berbagai teori struktur modal telah dikembangkan para pakar untuk menentukan struktur modal yang optimal dengan menganalisis komposisi dari hutang dan modal.

Tujuan manajemen struktur modal adalah memadukan sumber-sumber dana permanen yang digunakan perusahaan untuk operasionalnya yang akan memaksimumkan nilai perusahaan itu sendiri. Pencarian struktur modal yang optimal merupakan pekerjaan yang sangat sulit, karena adanya konflik yang mengarah kepada biaya agensi. Konflik lama terjadi antara pemegang saham dan pemegang obligasi dalam penetapan struktur modal optimal suatu perusahaan. Maka untuk mengurangi kemungkinan manajemen menanggung resiko berlebihan atas nama pemegang saham, perlu memasukkan beberapa batasan protektif.

PENGARUH UTANG TERHADAP RETURN DAN RISIKO

Utang yang lebih besar menimbulkan resiko yang lebih besar bagi pemberi hutang, sehingga biaya hutang menjadi lebih besar juga. Biaya utang yang besar tersebut merupakan monitoring cost bagi manajemen. Karena biaya bunga sifatnya tetap, biaya yang tinggi tersebut memuat para manager akan berusaha untuk menggunakan dana tersebut untuk investasi yang benar. Teori Asymmetric Information menerangkan bahwa di dalam pasar selalu ditemukan informasi yang tidak sama bagi pihak-pihak yang berbeda, sehingga dikatakan informasi yang didapat tidak sempurna. Penambahan

utang baru misalnya, memberikan informasi bahwa perusahaan dapat dipercaya oleh pihak peminjam, sedangkan penerbitan saham baru dapat dianggap bahwa perusahaan sedang dalam kesulitan dalam pandanaannya.

STATIC TRADE OFF

Teori struktur modal modern dikenal semenjak Modigliani dan Miller memperkenalkan

teori yang dikenal dengan teori MM. Asumsi yang digunakan dalam model ini adalah:

  1. Bunga pinjaman dan simpanan sama bagi perorangan maupun perusahaan.
  2. Tidak ada biaya kebangkrutan.
  3. Tidak ada biaya transaksi, karena diasumsikan pasar modal sempurna dan investor bertindak rasional.

Pada awalnya model ini didasarkan pada tidak adanya pajak perusahaan, kemudian dikembangkan pula pada kondisi adanya pajak perusahaan. Banyak sanggahan atau kritik yang ditujukan pada teori MM ini, sehingga muncullah pendekatan-pendekatan baru dengan pelonggaran asumsi terhadap model MM ini.

Beberapa teori berikutnya dikenal dengan teori Trade off Model, Brealey and Myer (1991). Struktur modal optimal dapat diperoleh dengan adanya keseimbangan antara keuntungan tax shield dengan financial distress dan agency cost, karena penggunaan leverage, atau terjadi trade-off antara benefit dengan biaya. Financial distress terjadi jika perusahaan mengalami kesulitan dalam melunasi kewajiban hutangnya sehingga perusahaan terancam kebangkrutan. Oleh karena itu financial distress perlu diperhitungkan karena mengurangi nilai perusahaan. Model ini juga menarik, karena adanya pendapat bahwa perusahaan yang tidak menggunakan leverage dengan perusahaan yang menggunakan leverage 100% (extrim) adalah buruk, sedangkan keputusan yang terbaik adalah diantaranya.

Seiring dengan perkembangan waktu, para ahli membuktikan bahwa trade off model bukanlah semata-mata teori struktur modal yang paling sempurna, karena dalam keputusan struktur modal perlu juga dipertimbangkan perilaku pembelanjaan perusahaan.

Agency Cost Theory

Agency theory menyatakan bahwa dalam menentukan struktur modal perlu pula dipertimbangkan biaya yang ditimbulkan dengan adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dengan pihak manajemen perusahaan. Berdasarkan teori ini struktur modal berpengaruh positif terhadap kemungkinan kebangkrutan, nilai lebih arus kas, nilai likuidasi, target take over, dan reputasi manager. Struktur modal berpengaruh yang lebih besar bagi pemberi hutang, sehingga biaya hutang menjadi lebih besar juga. Biaya hutang yang besar tersebut merupakan monitoring cost bagi manajemen. Karena biaya bunga sifatnya tetap, biaya yang tinggi tersebut memuat para manager akan berusaha untuk menggunakan dana tersebut untuk investasi yang benar.

Teori tersebut menegaskan bahwa struktur keuangan dipengaruhi oleh insentif dan perilaku dari pembuat keputusan (pihak manajemen). Jensen dan Meckling mengemukakan adanya dua potensi konflik, yaitu konflik antara pemegang saham dengan kreditur, dan konflik antara pemegang saham dengan pihak manajemen.

  1. Konflik antara Pemegang Saham dengan Kreditur Kreditur menerima uang dalam jumlah tetap dari perusahaan (bunga hutang), sedangkan pendapatan pemegang saham bergantung pada besaran laba perusahaan. Dalam situasi ini, kreditur lebih memperhatikan kemampuan perusahaan untuk membayar kembali hutangnya, dan pemegang saham lebih memperhatikan kemampuan perusahaan dalam meraih laba yang banyak. Cara perusahaan untuk memperoleh kembalian yang besar adalah melakukan investasi pada proyek-proyek yang berisiko. Apabila pelaksanaan proyek yang berisiko itu berhasil, kreditur tidak dapat menikmati keberhasilan tersebut, tetapi bila proyek mengalami kegagalan, kreditur mungkin akan menderita kerugian akibat dari ketidak-mampuan pemegang saham memenuhi kewajibannya. Untuk mengantisipasi kemungkinan rugi, kreditur mengenakan biaya keagenan hutang (debt agency cost), dalam bentuk pembatasan penggunaan hutang oleh manajer. Salah satu pembatasan adalah membatasi jumlah penggunaan hutang untuk investasi dalam proyek baru (seperti capital rationing).
  2. Konflik antara Pemegang Saham dengan Pihak Manajemen Pihak manajemen tidak selalu bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemegang saham, tetapi agak mengarah kepada kepentingan dirinya sendiri. Akibatnya, pemegang saham menanggung biaya keagenan ekuitas (equity agency cost) untuk memantau kegiatan pihak manajemen. Salah satu biaya keagenan adalah kompensasi bagi akuntan publik untuk mengaudit perusahaan.

TEORI PECKING ORDER

Perusahaan itu lebih cenderung menggunakan preferensi dana (pecking order) dalam keputusan investasinya dengan urutan prioritas yaitu  penambahan modal internal (laba ditahan), penambahan hutang dan terakhir penambhan modal dengan menerbitkan saham baru. Beberapa pengujian membuktikan bahwa harga saham berpengaruh positif terhadap penambahan hutang dan berpengaruh negatif terhadap penerbitan saham baru.

PENERBITAN SEKURITAS EKUITAS

  1. Initial Public Offering (IPO)

Adalah pasar penawaran perdana dimana harga saham tetap tidak dikenakan komisi, hanya untuk pembelian saham, pemesanan dilakukan melalui Agen Penjual dan jangka waktu terbatas

2. Secondary Public Offering (SPO)

Adalah pasar sekunder dimana harga berfluktuasi sesuai kekuatan pasar, dibebankan komisi untuk pembelian maupun penjualan, pemesanan dilakukan melalui Anggota Burs,  dan jangka waktu tidak terbatas

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

Salah satu sumber modal jangka panjang adalah obligasi merupakan salah satu sumber modal jangka panjang. Obligasi diterbitkan oleh perusahaan, disebarluaskan, ditawarkan kepada publik dan dibeli oleh beragam investor. Dengan membeli obligasi artinya antara perusahaan dan investor yang membeli obligasi terdapat perjanjian bahwa perusahaan akan melakukan pembayaran atas pokok pinjaman beserta bunganya (bisa berbentuk fixed rate atau floated rate), pada tanggal tertentu kepada pemegang obligasi. Perjanjian inilah yang disebut indenture, yang didalamnya memuat hak dan kewajiban baik pemegang saham atau perusahaan. Tebal indenture bisa beratus halaman, memuat berbagai hal seperti mengatur kemungkinan pelunasan obligasi sebelum jatuh tempo, tingkat rasio kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dalam tiap tahunnya (Times Interest Earned/TIE ratio) yang harus dipertahankan jika perusahaan menjual obligasi tambahan, dan pembatasan pembayaran deviden jika laba tidak mencapai jumlah tertentu.

  1. Sinking Fund

Pasar Modal kita umumnya menawarkan obligasi dengan tingkat bunga tertentu yang nilainya sedikit lebih besar dari tingkat bunga yang ditetapkan Bank Indonesia atau yang berlaku umum tergantung perjanjian perwaliamanatan. Adanya kecenderungan gagal bayar pada saat jatuh tempo oleh Emiten penerbit obligasi kepada Pemegang Obligasi, umumnya terjadi karena belum adanya ketentuan yang mewajibkan pembentukan dana cadangan dalam rangka memenuhi kewajiban pokok pinjaman dan pembayaran bunga yang dikelola tersendiri dalam akun khusus pada sisi aktiva. Pembentukan dana cadangan dalam upaya menanggulangi kesulitan likuiditas Perusahaan saat jatuh tempo obligasi kita kenal sebagai sinking fund. Pencadangan dana tersebut dapat digunakan pada saat pelunasan pokok pinjaman dan bunga pada saat jatuh tempo obligasi maupun pada saat penarikan kembali obligasi yang beredar dengan cara membeli kembali obligasi yang beredar di Bursa. Sinking fund umumnya diawasi pengelolaannya oleh Wali Amanat.

2. Call Provision

Salah satu hal yang termuat dalam perjanjian obligasi tersebut adalah ada tidaknya ketentuan penarikan (call provision/call feature), yaitu hak perusahaan sebagai penerbit untuk menebus obligasinya sebelum waktu jatuh temponya. Ketentuan penarikan tersebut biasanya menetapkan bahwa penerbit harus membayar kepada investor/pemegang obligasi suatu jumlah yang lebi besar dari pada nilai pari (nominal) obligasi jika obligasi tersebut ditarik. Jumlah tambahan tersebut disebut sebagai premi penarikan/call premium.

3.  Bond Refunding

Jika manajemen memprediksi bahwa tingkat suku bunga di pasar modal (market rate) obligasi sejenis di masa mendatang akan turun, maka perusahaan akan mempertimbangkan untuk membeli kembali obligasi (buy back) yang tingkat bunganya tinggi, dan menerbitkan obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Dalam hal ini disebut bahwa obligasi didanai ulang (refunded). Jadi, kapan perusahaan perlu melakukan pendanaan ulang obligasinya tergantung dari ekspektasi tingkat suku bunga di masa mendatang.

Keputusan pendanaan ulang menyangkut dua pertanyaan yang berbeda, yaitu (1) apakah menguntungkan untuk menarik obligasi yang sedang beredar pada periode berjalan dan menggantinya dengan obligasi baru? dan (2) jika bond refunding saat ini menguntungkan, apakah tidak lebih baik/menguntungkan lagi jika pendanaan ulang ditangguhkan dulu untuk sementara? Pada prinsipnya perusahaan menganalisis sama halnya pada saat mengkaji tentang penganggaran barang modal (capital budgeting). Dengan melakukan bond refunding artinya terdapat arus kas keluar. Biaya atas pendanaan ulang (sama halnya dengan pengeluaran investasi, karena perusahaan mengeluarkan dana untuk membeli kembali obligasi) terdiri atas:

  1. Premi penarikan (call premium) yang dibayarkan pada pemegang obligasi yang ditarik
  2. Biaya penjualan obligasi baru
  3. Bunga (coupon rate) yang harus dibayar ketika kedua obligasi sedang sama-sama beredar (disebut sebagai overlap interest). Ada kalanya obligasi baru dijual lebih dahulu sebelum dilakukan penarikan obligasi lama, ini untuk memastikan ada/tersedia dana bagi membayar pokok pinjaman dari obligasi lama

Referensi:

Ross, Westerfield, Jaffe, and Jordan. 2008. Modern Financial Management, 8th Edition. McGraw-Hill

The Capital Asset Pricing Model (CAPM)

Sunday, December 18th, 2011

TEORI PASAR MODAL DAN MODEL PENETAPAN HARGA AKTIVA MODAL

  • Investor bergantung pada dua faktor dalam pembuatan keputusannya pengembalian dan varians,
  • Investor berpikiran rasional, cenderung menghindari risiko dan memilih metode diversifikasi portofolio,
  • Investor melakukan investasi pada periode yang sama,
  • Investor memiliki pengharapan yang sama terhadap aktiva,
  • Ada investasi bebas risiko dan investor dapat meminjam dan memberikan pinjaman pada tingkat suku bungan bebas risiko, dan
  • Pasar modal memiliki persaingan sempurna dan tidak ada biaya transaksi maupun pungutan lain (frictionless).

Asumsi Teori Pasar Modal

Teori pasar modal melibatkan satu set dari prediksi yang terkait dengan ekuilibrium laba yang diharapkan pada aset beresiko. Teori itu secara khas diturunkan dengan membuat beberapa asumsi penyederhanaan untuk memfasilitasi analisis dan membantu kita untuk memahami argumen tanpa merubah secara mendasar prediksi dari teori penetapan harga aset. Teori pasar modal dibangun berdasarkan teori portofolio Markowitz. Tiap investor diasumsikan untuk mendiversifikasi portofolionya menurut model Markowitz, memilih sebuah lokasi pada batasan yang efisien yang cocok dengan referensi laba-resikonya.

Pengenalan dari Aset Bebas Resiko

Asumsi pertama dari teori pasar modal yang disebutkan sebelumnya adalahbahwa investor bisa meminjam dan meminjamkan pada tingkat bebas resiko. Meskipun pengenalan dari aset bebas resiko tampak menjadi sebuah langkah sederhana untuk diambil dalam evolusi dari portofolio dan teori pasar modal, langkah itu adalah sebuah langkah yang sangat signifikan. Kenyataannya, adalah pengenalan dari aset bebas resiko yang memungkinkan kita untuk mengembangkan teori pasar modal dari teori portofolio.

Dengan pengenalan dari aset bebas resiko, investor sekarang bisa menghitung sbegain dari kekayaan mereka dalam aset ini dan sisanya dalam portofolio beresiko apapun dalam set efisien Markowitz. Hal ini memungkinkan teori portofolio markowitz untuk diperluas dalam cara yang sedemikian rupa sehingga batasan yang efisien sepenuhnya berubah, yang pada akhirnya mengarah pada sebuah teori umum untuk penetapan harga aset dalam ketidakpastian.

Menentukan Aset Bebas Resiko

Aset bebas resiko bisa didefinisikan sebagai aset dengan perkiraan laba yang akan didapatkan tertentu dan varian laba sebesar nol. (perhatikan, bahwa hal ini adalah sebuah laba nominal dan bukan laba riil, yang tidak pasti karena inflasi tidaklah pasti). Karena varian = 0, maka tingkat bebas resiko nominal dalam tiap periode akan sebanding dengan nilai yang diharapkannya. Selain itu, kovarian antara aset bebas resiko dan aset beresiko apapun i akan menjadi nol. Aset bebas resilo yang nyata secara terbaik dianggap sebagai sebuah Treasury Security, yang tidak memiliki resiko default, dengan maturitas yang sesuai dengan periode penahanan dari investor.

Ekuilibrium Trade- Off (pilihan) Laba- Resiko

Dengan analisis sebelumnya, kita sekarang bisa menurunkan beberapa prediksi mengenai ekuilibrium laba dan resiko yang diharapkan. CAPM adalah sebuah model ekuilibrium yang mencakup dua hubungan yang penting.

  • Garis pasar modal menentukan hubungan ekuilibrium antara laba yang diharapkan dan resiko bagi portofolio efisien.
  • Garis pasar sekuritas menentukan hubungan ekuilibrium antara laba yang diharapkan dan resiko sistematis. Hal itu berlaku bagi sekuritas individual dan juga portofolio.

Menentukan Garis Pasar Modal

Garis lurus ini, biasanya mengacu pada capital market line (CML), menggambarkan kondisi ekuilibrium yang berlaku dalam pasar untuk portofolio efisien yang mengandung portofolio optimal dari aset beresiko dan aset bebas resiko. Semua kombinasi dari aset bebas resiko dan portofolio beresiko M berada pada CML., dan, dalam ekuilibrium, semua investor akan berakhir dengan portofolio pada satu tempat pada CML berdasarkan pada toleransi resiko mereka.

Poin Penting Mengenai CML

Poin berikut harus dicatat mengenai CML:

  1. Hanya portofolio yang efisien yang menganding aset bebas resiko dan portofolio M yang berada pada CML. Portofolio M, portofolio pasar dari sekuritas yang beresiko, mengandung semua sekuritas dibobotkan oleh nilai pasar mereka masing-masing – hal itu adalah kombinasi optimum dari sekuritas beresiko, dan dengan definisi, sebuah portofolio efisien. Aset bebas resiko tidak memiliki resiko.
  2. Sebagai pernyataan dari ekuilibrium, CML harus selalu miring kearah atas karena harga dari resiko harus selalu positif. CML diformulasi dalam dunia dari laba yang diharapkan, dan investor penghindar resiko tidak akan berinvestasi kecuali mereka berharap untuk dikompensasi atas resiko itu. Semakin besar resiko, maka semakin besar laba yang diharapkan.
  3. Pada basis historis, bagi beberapa periode waktu tertentu seperti satu atau dua tahun, atau empat kuartal berurutan, CML bisa menjadi slope yang berarah kebawah; yaitu, laba pada RF melebihi laba pada portofolio pasar. Hal ini tidak mengurangi validitas dari CML; hal itu hanya mengindikasikan bahwa laba sebenarnya direalisasikan berbeda dari laba yang diharapkan. Jelasnya, ekspektasi investor tidak selalu direalisasikan.
  4. CML bisa digunakan untuk menentukan laba optimal yang diharapkan yang berasosiasi dengan tingkatan resiko portofolio yang berbeda. Dengan demikian, CML mengindikasikan laba yang dibutuhkan untuk tiap tingkatan resiko portofolio.

Garis Pasar Sekuritas

Garis pasar modal menggambarkan trade-off resik laba dalam pasar finansial dalam ekuilibrium. Namun, hal itu hanya berlaku bagi portofolio efisien dan tidak bisa digunakan untuk mempertimbangkan ekuilibrium laba yang diharapkan untuk satu negara. Dalam CAPM semua investor akan memegang portofolio pasar, yang merupakan portofolio pembanding terhadap portofolio lainnya yang diukur. Investor akan mengharapkan premium resiko untuk membeli sebuah aset beresiko seperti saham. Semakin besar resiko dari saham itu, maka seharusnya semakin tinggi premium resiko. Jika investor memegang portofolio yang didiversifikasi dengan baik, mereka harus tertarik dalam resiko portofolio daripada resiko sekuritas individual. Saham yang berbeda akan mempengaruhi sebuah portofolio yang didiversifikasi dengan baik secara berbeda. Resiko relevan bagi sebuah saham individual adalah kontribusinya pada resiko dari sebuah portofolio yang didiversifikasi dengan baik.

BETA

Beta menghubungkan kovarian dari sebuah aset dengan portofolio pasar dengan varian dari portofolio pasar, dan didefinisikasi sebagai Laba yang diharapkan CAPM – hubungan BETA. Garis pasar sekuritas (SML) adalah sebuah spesifikasi CAPM akan bagaimana resiko dan tingkat laba yang dibutuhkan untuk aset, sekuritas atau portofolio apapun adalah terkait. Teori ini mengajukan sebuah hubungan linier antara resiko aset dan tingkat laba yang dibutuhkannya.

Capital  Asset Pricing Model (CAPM)

  1. Investor bergantung pada dua faktor dalam pembuatan keputusannya pengembalian dan varians,
  2. Investor berpikiran rasional, cenderung menghindari risiko dan memilih metode diversifikasi portofolio,
  3. Investor melakukan investasi pada periode yang sama,
  4. Investor memiliki pengharapan yang sama terhadap aktiva,
  5. Ada investasi bebas risiko dan investor dapat meminjam dan memberikan pinjaman pada tingkat suku bungan bebas risiko, dan
  6. Pasar modal memiliki persaingan sempurna dan tidak ada biaya transaksi maupun pungutan lain (frictionless).

Hasil umum dari pengujian empiris CAPM adalah sebagai berikut:

  • Hubungan antara beta dan pengembalian bersifat linier
  • Perkiraan persimpangan, b0, jauh berbeda dari nol, berarti berbeda dari hipotesa nilai ini
  • Perkiraan koofisien beta, b1, lebih kecil dari premi risiko.
  • Beta bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang memperoleh penetapan harga dari pasar.
  • Dalam jangka panjang (biasanya 20 hingga 30 tahun), pengembalian portofolio pasar lebih besar daripada pengembalian aktiva bebas risiko.

Beta Saham dan Beta Portfolio

Dapat dilihat bahwa tidak berisikonya suatu portfolio tidak memiliki hubungan sederhana dengan risiko asset dalam portfolio tersebut. namun, portfolio beta dapat dihitung seperti juga taksirasn pengembalian portfolio. Beta merupakan pengukur risiko yang relevan daned terdapat hubungan linier dan positif antara tingkat keuntungan yang diharapkan dengan beta

Secara umum, jika kita memiliki beberapa asset dalam portfolio, kita akan mengalikan beta setiap asset dengan bobotnya dalan portfolio, lalu menjumlahkan hasilnya untuk memperoleh beta portfolio.

Risiko sistematis dan Nonsistematis

Bagian yang tidak diantisipasi dari return adalah kenyataan risiko dari setiap investasi. Setelah itu, jika kita mendapat apa yang diekspektasikan, tidak ada risiko dan tidak ada ketidakjelasan. Terdapat perbedaan penting, antara berbagai macam sumber risiko. Akan dibagi ke dalam 2 tipe yaitu systematic portion yang disebut systematic risk dan specific atau unsystematic risk.

Systematic risk adalah risiko yang mempengaruhi sejumlah besar asset. Keragaman total return sekuritas secara langsung bergabung dengan keseluruhan pergerakan pada pasar umum dan pasar ekonomi yang disebut systematic risk atau risiko pasar (market risk) atau nondifersiable risk. Pada dasarnya, semua sekuritas memiliki beberapa systematic risk baik obligasi ataupun saham karena systematic risk langsung mencakup interest rate risk., recession, inflasi dan lain-lain. Kebanyakan saham memiliki negative impact oleh beberapa factor, sehingga diversifikasi tidak dapat mengeliminasi risiko pasar (market risk).

Dan unsiystematic risk adalah risiko yang mempengaruhi hanya satu asset atau sebagian kecil asset. Risiko portofolio pada umumnya menurunkan banyak saham karena eliminasi nonsystematic risiko. Risiko ini unik, berhubungan dengan particular company.  Bagaimanapun, jumlah reduksi risiko bergantung pada derajat korelasi saham-saham. Setidaknya saham domestic dan khususnya banyak saham domestic positif meskipun kurang dari1. Penambahan lebih banyak lagi saham akan mengurangi risiko tetapi tidak peduli berapa banyak bagian saham yang terkorelasi ditambahkan ke dalam portofolio, tidak dapat mengeliminasi semua risiko.

Investor dapat menciptakan diversifikasi portofolio dan mengeliminasi bagian dari total risiko, diversifiable atau nonmarket. Seiring dengan bertambahnya sekuritas, nonsystematic risk menjadi kecil dan semakin kecil dan total risiko untuk portofolio risk dapat dikurangi tidak lebih kecil dari total risiko dari pasar portofolio.

Factor Tunggal dan Banyak Faktor

Factor tunggal  memberikan alternative bagi variance portofolio , yang lebih mudah untuk menghitung. Alternative ini dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah portofolio. faltor tunggal adalah model yang berkaitan dengan return pada setiap sekuritas atas return pada indeks pasar. Factor tunggal membagi dua return sekuritas ke dalam komponen yaitu unik part dan market related part.

Unik part sebagai mikro event, mempengaruhi perusahaan secara khusus tetapi tidak secara umum. Di lain sisi, market related part adalah macro event, yang mempengaruhi keseluruhan perusahaan. Sebagai contoh: BI mengumumkan discount rate, perubahan pada prime rate atau mengenai supply money. Jadi factor tunggal diasumsikan bahwa harga saham hanya karena perubahan umum denganssatu index khususnya pasar. Beberapa peneliti mencoba untuk mengambil beberapa pengaruh nonmarket dengan menciptakan banyak factor.

Terlihat logis bahwa banyak factor harus mencerminkan sesuatu yang lebih baik dari satu factor karena menggunakan lebih banyak informasi mengenai interrelationship anatar return saham. Pengaruhnya, banyak factor menjadi turun antara metode varian-covarian dan satu factor. Banyak factor telah dicoba, sebenarnya menghasilkan historical korelasi yang lebih baik dari pada satu factor. Meskipun hal ini tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena portofolio dibuat untuk periode masa mendatang.

Referensi:

Ross, Westerfield, Jaffe, and Jordan. 2008. Modern Financial Management, 8th Edition. McGraw-Hill

Jones, C. P. 2007. Investments: Analysis and Manahgement, 10th Edition, John Wiley and Sons

Manajemen Risiko – Part I

Thursday, December 15th, 2011

Risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:

  1. Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).

Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.

  1. Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).

Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.

  1. Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).

Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.

  1. Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan).

Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

  1. Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan). Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilita dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilita dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan.

Dari berbagai definisi diatas, risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian.

Risiko dapat terjadi pada pelayanan, kinerja, dan reputasi dari institusi yang bersangkutan. Risiko yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kejadian alam, operasional, manusia, politik, teknologi, pegawai, keuangan, hukum, dan manajemen dari organisasi.

Suatu risiko yang terjadi dapat berasal dari risiko lainnya, dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Risiko rendahnya kinerja suatu instansi berasal dari risiko rendahnya mutu pelayanan kepada publik. Risiko terakhir disebabkan oleh faktor-faktor sumber daya manusia yang dimiliki organisasi dan operasional seperti keterbatan fasilitas kantor. Risiko yang terjadi akan berdampak pada tidak tercapainya misi dan tujuan dari instansi tersebut, dan timbulnya ketidakpercayaan dari publik.

Risiko diyakini tidak dapat dihindari. Berkenaan dengan sektor publik yang menuntut transparansi dan peningkatan kinerja dengan dana yang terbatas, risiko yang dihadapi instansi Pemerintah akan semakin bertambah dan meningkat. Oleh karenanya, pemahaman terhadap risiko menjadi keniscayaan untuk dapat menentukan prioritas strategi dan program dalam pencapaian tujuan organisasi.

Risiko dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan melalui manajemen risiko. Peran dari manajemen risiko diharapkan dapat mengantisipasi lingkungan cepat berubah, mengembangkan corporate governance, mengoptimalkan penyusunan strategic management, mengamankan sumber daya dan asset yang dimiliki organisasi, dan mengurangi reactive decision making dari manajemen puncak.

Menurut COSO, risk management (manajemen resiko) dapat diartikan sebagai ‘a process, effected by an entity’s board of directors, management and other personnel, applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that may affect the entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide reasonable assurance regarding the achievement of entity objectives.’ [4] Definisi risk management di atas dapat dijabarkan lebih lanjut berdasarkan kata-kata kunci sebagai berikut:

- On going process

Risk management dilaksanakan secara terus menerus dan dimonitor secara berkala. Risk management bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sesekali (one time event).

- Effected by people

Risk management ditentukan oleh pihak-pihak yang berada di lingkungan organisasi. Untuk lingkungan institusi Pemerintah, risk management dirumuskan oleh pimpinan dan pegawai institusi/departemen yang bersangkutan.

- Applied in strategy setting

Risk management telah disusun sejak dari perumusan strategi organisasi oleh manajemen puncak organisasi. Dengan penggunaan risk management, strategi yang disiapkan disesuaikan dengan risiko yang dihadapi oleh masing-masing bagian/unit dari organisasi.

- Applied across the enterprise

Strategi yang telah dipilih berdasarkan risk management diaplikasikan dalam kegiatan operasional, dan mencakup seluruh bagian/unit pada organisasi. Mengingat risiko masing-masing bagian berbeda, maka penerapan risk management berdasarkan penentuan risiko oleh masing-masing bagian.

- Designed to identify potential events

Risk management dirancang untuk mengidentifikasi kejadian atau keadaan yang secara potensial menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan organisasi.

- Provide reasonable assurance

Risiko yang dikelola dengan tepat dan wajar akan menyediakan jaminan bahwa kegiatan dan pelayanan oleh organisasi dapat berlangsung secara optimal.

- Geared to achieve objectives

Risk management diharapkan dapat menjadi pedoman bagi organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Referensi:

Chance, D.M. 2004. An Introduction to Derivatives and Risk Management. Sixth Edition. Thomson South-Western.USA.

Junarsin, J.E. 2011. Manajemen Risiko dan Nilai Perusahaan.

http://cwma.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=66

Derivatif & Hedging – Part I

Thursday, December 15th, 2011

Derivatif

  • Adalah kontrak yang nilainya diturunkan dari nilai aset lain atau item ekonomi tertentu  saham/stock, bond, commodity price, interest rate, or currency exchange rate.
  • Instrumen keuangan atau kontrak lain dengan karakteristik:
    • Nilainya berubah akibat dari perubahan variabel yg mendasari (spt suku bunga, harga, nilai tukar, dll).
    • Tanpa investasi awal neto atau nilainya lebih kecil dari nilai kontrak sejenis yang memberi pengaruh yang sama terhadap perubahan faktor pasar.
    • Diselesaikan pd tgl tertentu di masa mendatang

Klasifikasi Derivatif

  • Freestanding derivatif  antara lain yaitu option, forward contract, swap, future contract
  • Embedded derivatif

Kontrak Futures dan Forward

Kontrak futures adalah sebuah perjanjian atau komitmen dua pihak, untuk mengirimkan atau menerima instrumen finansial atau komoditas pada tanggal tertentu di masa datang, dengan harga yang telah ditentukan pada waktu dinamakan pihak yang menjual kontrak atau “go short”. Sedangkan pihak lain yang setuju untuk menerima dinamakan pihak yang membeli kontrak atau “go long”. Berbeda dengan kontrak opsi dimana individu yang terlibat pada kontrak mempunyai hak, bukan kewajiban, untuk membeli dan menjual aktiva finansial, kontrak futures mengatur bahwa individu yang terlibat kontrak berkewajiban melakukan pengiriman dan penerimaan. Transaksi futures atau forwards juga berbeda dari transaksi “spot” yang mana mewajibkan pihak bertransaksi untuk melakukan pengiriman segera atau delivery “on the spot” pada harga spot.

Kontrak futures diperdagangkan pada bursa yang telah terorganisasi, sedangkan kontrak forward dilakukan secara langsung antar dua pihak atau menggunakan jasa pihak bank. Selain itu terdapat empat perbedaan pokok antara kontrak futures dan forwards, yaitu:

  1. Kontrak futures sudah sangat standardized, artinya bahwa bursa tempat perdagangan futures telah menentukan tanggal jatuh temponya kontrak, lokasi pengiriman, kualitas dan kuantitas yang jelas dari barang yang akan dikirimkan pada setiap kontrak. Jadi para individu atau pihak yang terlibat tidak perlu negosiasi lagi mengenai hal-hal ketentuan seperti diatas. Standardisasi di bursa inilah yang juga menyebabkan pasar untuk futures sangat likuid.
  2. Bursa futures menjamin kinerja masing-masing lembaga kliring yang terlibat di perdagangan futures. Setiap lembaga kliring juga menjamin kinerja dari masingmasing pedagang (traders). Jaminan ini meningkatkan likuiditas bursa futures.
  3. Untuk membatalkan atau keluar dari sebuah kontrak yang telah dibeli (dijual), satu pihak dapat menjual (membeli) kontrak yang identik. Bursa dapat membatalkan posisi long (short) pertama dengan posisi short (long) kedua, sehingga posisi bersih adalah nol.
  4. Setiap akhir hari perdagangan, keuntungan dan kerugian pada setiap transaksi dapat dihitung. Jika terjadi keuntungan pada posisi tertentu, maka bursa akan membayar cash kepada lembaga kliring yang menjamin seorang pedagang. Sebaliknya, jika terjadi kerugian pada suatu posisi, maka lembaga kliring yang memberi penjaminan seorang pedagang akan membayar kerugian tersebut secara cash kepada bursa.

Tujuan dari kontrak futures pada instrumen keuangan adalah untuk mengalihkan risiko perubahan pada harga sekuritas di masa datang dari satu pihak ke pihak lain dalam kontrak tersebut. Karena itu instrumen futures ini menawarkan suatu cara untuk mangatur tingkat risiko yang ada di pasar finansial. kontrak, artinya bahwa keuntungan satu pihak merupakan kerugian pihak lain. Pihak yang berpartisipasi di pasar futures dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Hedgers, yaitu pihak yang memasuki sebuah kontrak untuk mencari perlindungan dari risiko perubahan harga.
  2. Spekulator, yaitu pihak yang memasuki kontrak dengan harapan bahwa risiko perubahan harga dapat mendatangkan keuntungan baginya. Jadi seorang “hedger” menghindari risiko dan melindungi dirinya dari adanya perubahan harga, sedangkan seorang spekulator bersedia menampung risiko dan berani bertaruh guna mendapatkan keuntungan yang tinggi

Prinsip Dasar Hedging (Lindung Nilai) Menggunakan Futures

Fungsi utama dari pasar futures adalah untuk mengalihkan atau mentransfer risiko harga dari pihak hedger ke pihak spekulator. Atau, bahwa risiko tersebut dialihkan dari orang yang bersedia membayar untuk menghindari risiko kepada orang yang berani menanggung risiko dengan harapan memperoleh keuntungan. Aktivitas lindung nilai dalam hal ini adalah penggunaan transaksi futures sebagai pengganti atau substitusi sementara dari transaksi di pasar spot.

Sepanjang harga spot dan harga futures bergerak bersama-sama, adanya kerugian pada satu posisi (spot atau futures) akan dihapuskan (offset) dengan adanya keuntungan atau profit di posisi lainnya. Ketika jumlah kerugian dan keuntungan sama besar, maka lindung nilai ini dinamakan lindung nilai sempurna (perfect hedge). Pada sebuah pasar dimana kontrak futures dinilai dengan benar, lindung nilai sempurna seharusnya akan menghasilkan tingkat pengembalian sebesar tingkat bunga pada sekuritas tak berisiko.

Pada prakteknya aktivitas lindung nilai tidaklah semudah ini. Jumlah kerugian dan keuntungan pada sebuah transaksi lindung nilai akan ditentukan oleh hubungan antara harga spot dan harga futures ketika sebuah transaksi lindung nilai itu dimulai dan diselesaikan. Selisih dari harga spot dan harga futures dinamakan basis.

Basis = Harga Spot – Harga Futures

Jika harga kontrak futures dinilai berdasarkan nilai teoritisnya, maka selisih antara harga spot dan harga futures adalah cost of carry, yaitu biaya-biaya transaksi, pembiayaan, atau penyimpanan yang timbul. Risiko yang ditanggung oleh hedger adalah risiko basis, risiko perubahan basis karena kontrak futures dihargai secara salah dibandingkan dengan harga spot-nya. Maka dari itu, aktivitas lindung nilai berkenaan dengan substitusi risiko harga oleh risiko basis atau digantikannya risiko bahwa harga futures akan berubah oleh risiko basis futures (selisih harga spot dan futures) akan berubah.

Macam-Macam Hedging dengan Futures
a. Cross Hedging

Kontrak futures yang digunakan untuk melindungi nilai suatu posisi dimana sebuah portofolio atau satu instrumen tidak identik dengan underlying instrument-nya dinamakan cross hedging (hedging silang). Cross hedging sangat umum dilakukan pada manajemen portofolio atau manajemen aktiva/kewajiban karena tidak adanya kontrak futures untuk spesifik saham atau obligasi. Disini cross hedgingmenimbulkan satu risiko lagi – risiko bahwa pergerakan harga sebuah underlying instrument tidak dapat secara persis mengikuti pergerakan harga portofolio atau instrumen yang dilindungi nilainya. Karena itu efektivitas dari sebuah cross hedge ditentukan oleh:

  1. Hubungan antara harga spot dari underlying instrument dan harga futures-nya
  2. Hubungan antara nilai pasar portofolio dan harga spot dari underlying instrument kontrak futures


b. Short Hedging

Short hedge digunakan untuk perlindungan terhadap penurunan pada harga spot dari instrumen finansial atau portofolio di masa datang atau perlindungan terhadap kenaikan tak terduga dari tingkat suku bunga. Dalam melaksanakan short hedge, pihak hedger akan menjual kontrak futures (dimana dia berjanji untuk melakukan pengiriman). Dengan adanya short hedge, maka pihak hedger telah menetapkan harga masa datang saat itu, dan mengalihkan risiko perubahan harga kepada pihak pembeli kontrak.

c. Long Hedging

Long hedge digunakan untuk perlindungan terhadap kenaikan pada harga spot dari instrumen finansial atau portofolio di masa datang atau perlindungan terhadap penurunan yang tak terduga pada tingkat suku bunga. Dalam melaksanakan long hedge, pihak hedger membeli kontrak futures (dimana dia berjanji untuk menerima pengiriman).

Referensi:

Chance, D.M. 2004. An Introduction to Derivatives and Risk Management. Sixth Edition. Thomson South-Western.USA.

OPSI-SALAH SATU ALTERNATIF INVESTASI

Thursday, October 27th, 2011

Option atau opsi adalah suatu kontrak antara dua pihak dimana salah satu pihak (sebagai pembeli) mempunyai hak tetapi bukan kewajiban, untuk membeli atau menjual suatu asset atau efek tertentu dengan harga yang telah ditentukan, pada atau sebelum waktu yang ditentukan, dari atau ke pihak lain (sebagai penjual). Pemegang option tidak diwajibkan untuk melaksanakan haknya atau akan melaksanakan haknya jika perubahan dari harga underlying assetnya akan menghasilkan keuntungan baik dengan menjual atau membeli underlying asset tersebut.

Ada dua jenis sekuritas derivatif yaitu kontrak berjangka dan kontrak opsi.

  1. Kontrak berjangka (Future contract)

a). Kontrak berjangka komoditas : yang umumnya menggunakan under laying asset merupakan aset riil berupa barang barang sebagai patokan harga (contoh : emas, minyak, kopi, gula, dan kentang).

b). Kontrak berjangka finansial : yang umumnya menggunakan under laying asset dari sebuah efek sebagai patokan harga, seperti saham atau indek saham.

2. Kontrak Opsi (Option Contract)

Kontrak Opsi adalah suatu perjanjian yang memberikan hak, tetapi bukan kewajiban untuk membeli atau menjual suatu aset tertentu pada harga dan lama waktu tertentu.

Ada dua jenis kontrak opsi :

  1. Call Option

Pemilik call option memiliki hak, tetapi bukan kewajiban untuk membeli aset induk atau aset acuan (under laying asset), pada harga tetap selama waktu tertentu.

2. Put Option

Pemilik put option memiliki hak, tetapi bukan kewajiban untuk menjual aset induk atau aset acuan (under laying asset), pada harga tetap selama waktu tertentu.

Dalam kontrak opsi dikenal premi opsi (option premium) yang merupakan uang jaminan di awal kontrak dan harga pelaksanaan (Strie price atau exercise price).  Harga pelaksanaan ada dua macam :

  1. Gaya Amerika, dimana harga pelaksanaannya dilakukan kapan saja sampai dengan dan termasuk tanggal berakhirnya kontrak,
  2. Gaya Eropa, dimana harga pelaksanaan hanya dapat dilakukan pada tanggal berakhir saja.

Di Indonesia kontrak opsi ditujukan pada opsi saham.  Opsi saham yang diperdagangkan di BEI adalah Kontrak Opsi Saham (KOS) dan pertama kali deperdagangkan pada 6 Oktober 2004.  KOS hanya bisa diperdagangkan pada saat jatuh tempo atau hari berakhirnya setiap seri KOS pada setiap bulannya.

Di BEI tidak semua saham menjadi acuan KOS, tetapi saham yang memiliki tingkat frekwensi perdagangan dan volatilitas harga yang tinggi serta mempunyai nilai kapitalitas pasar yang cukup besar.  Hingga tahun 2006 terdapat lima saham acuan :

  1. PT Astra International Tbk
  2. PT Bank Central Asia Tbk
  3. PT Indofood Sukses Makmur Tbk
  4. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
  5. PT H.M Sampurna Tbk.

MEKANISME PERDAGANGAN OPSI

Untuk melakukan perdagangan opsi ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu:

Persyaratan Saham Induk

  • Tercatat di Bursa sekurang-kurangnya 12 bulan
  • Transaksi dalam 12  bulan terakhir menunjukkan:
    • Frekuensi transaksi  per bulan >= 2.000
    • intraday volatility > 0,5%
    • Harga saham > Rp 500,-
    • kapitalisasi pasar > Rp 500 miliar

Hal-hal Umum

  • Pelaksanaan perdagangan menggunakan fasilitas JOTS.
  • Hanya dapat dilakukan oleh AB yang sudah menjadi AK Opsi Saham KPEI
  • AB wajib terlebih dahulu menyetor agunan (Peraturan KPEI)
  • AB wajib membuka rekening Opsi Saham untuk setiap nasabah
  • AB dikenakan sanksi suspensi wajib:
    • melakukan Transaksi Saling Hapus
    • mengalihkan posisi terbuka tersebut kepada AB lain sesuai dengan peraturan KPEI
    • AB suspended dapat melakukan Exercise pada Hari Bursa yang sama dengan dikenakannya suspensi

Jam Perdagangan

Senin s.d  Kamis : – Sesi I 09:30 – 12:00 Waktu JOTS
– Sesi II 13:30 – 16:00 Waktu JOTS
Jumat : – Sesi I 09:30 – 11:30 Waktu JOTS
– Sesi II 14:00 – 16:00 Waktu JOTS
Exercise dan Automatic Exercise setiap Hari Bursa pukul 10:00 – 16:15 WIB

Weighted Moving Average Price (WMA)

  • WMA terbit setiap 15 menit dengan menggunakan data transaksi 30 menit sebelumnya
  • Jadwal penerbitan WMA:
Senin s.d  Kamis : - Sesi I 10:00 – 12:00 Waktu JOTS
- Sesi II 13:45 – 16:00 Waktu JOTS
Jumat : - Sesi I 10:00 – 11:30 Waktu JOTS
- Sesi II 14:15 – 16:00 Waktu JOTS

Pesanan Nasabah

  • Setiap pesanan wajib tercatat di bagian pemasaran termasuk jenis transaksi (Short/Long), dan status posisi pesanan (open/close)
  • Bentuk order: Open Short, Open Long, Close Short, Close Long
  • Satuan Perdagangan & Fraksi Premium
  • Satuan Perdagangan  1 KOS = 10.000 Opsi  Saham
  • Fraksi Premium Rp 1,-

Penetapan Seri KOS

  • Awal periode perdagangan ditetapkan 7 seri call dan 7 seri put option atas 1 Underlying Stock
  • 7 seri terdiri dari 3 seri Out The Money, 3 seri In The Money, dan 1 At The Money
  • Bursa dapat menetapkan suatu seri KOS baru sebelum berakhirnya periode perdagangan KOS, apabila:
    • dilakukan Automatic Exercise atas suatu seri KOS;
    • adanya Tindakan Korporasi dari Perusahaan Tercatat

Pengakhiran seri KOS

  • Apabila WMA > Batas WMA; atau
  • Berakhirnya masa berlaku; atau
  • Adanya tindakan korporasi (posisi Opsi Saham akan dilikuidasi)

Interval (Rentang Strike Price)

Closing Price *) Interval
<= Rp 1.000,- Rp 50,-
> Rp 1.000,- s.d Rp 5.000,- Rp 100,-
> Rp 5.000,- s.d Rp 10.000,- Rp 200,-
> Rp 10.000,- Rp 500,-
*) Closing Price 1 Hari Bursa sebelum dimulainya periode perdagangan

Tawar Menawar dan Transaksi Bursa

  • Setiap order terlebih dahulu divalidasi oleh KPEI
  • Teknis perdagangan KOS sama dengan teknis perdagangan ekuitas di Pasar Reguler

Exercise, Automatic Exercise & Likuidasi

  • Penyelesaian transaksi Exercise  & Automatic Exercise dilakukan oleh KPEI pada Hari Bursa berikutnya setelah transaksi Exercise (T+1) sesuai dengan Peraturan KPEI
  • Transaksi Automatic Exercise dilakukan oleh KPEI untuk kepentingan Taker
  • KPEI melakukan likuidasi semua posisi seri KOS apabila masa berlaku seri KOS berakhir

Penyelesaian Transaksi Opsi Saham

  • Penyelesaian Transaksi Opsi Saham dilaksanakan oleh KPEI pada Hari Bursa berikutnya setelah terjadinya Transaksi Opsi Saham (T+1)

Penghentian Perdagangan Opsi Saham

  • Bursa dapat melakukan penghentian perdagangan Opsi Saham, dalam hal:
    • JATS dan atau JOTS tidak berfungsi sebagaimana mestinya
    • adanya permintaan tertulis dari KPEI sehubungan dengan tidak berfungsinya sistem pengendalian risiko (Risk Management System) dan atau sistem kliring KPEI
    • terjadinya Force Majeure
  • Bursa dapat melakukan penghentian perdagangan atas seri KOS tertentu, karena:
    • Suspensi atas perdagangan Underlying Stock yang bersangkutan
    • Automatic Exercise atas seri KOS tersebut
  • Apabila terjadi penghentian perdagangan seri KOS karena penghentian perdagangan Underlying Stock, AB tetap dapat melakukan Exercise dengan mengacu pada WMA yang berlaku
  • Apabila terjadi penghentian karena JOTS tidak berfungsi, namun Underlying Stock tetap diperdagangkan, maka:
    • Bursa tetap menerbitkan WMA sampai dengan akhir periode perdagangan seri KOS
    • AB tetap dapat melakukan Exercise

Biaya Transaksi

  • AB yang melakukan Transaksi wajib membayar biaya transaksi, kliring dan penyelesaian sebesar Rp 2.000,- per KOS
  • Transaksi Opsi Saham untuk Exercise atau Automatic Exercise hanya dikenakan biaya transaksi kepada Taker sebesar Rp 2.000,- per KOS
  • Biaya Transaksi Opsi Saham per bulan minimum sebesar Rp 2.000.000,-
  • AB  wajib menyetor dana jaminan Transaksi Opsi Saham sebesar 0,01% (nol koma nol satu perseratus) dari nilai Transaksi Opsi Saham, untuk transaksi yang dijamin oleh KPEI
  • Kewajiban pembayaran biaya transaksi, dana  jaminan dan pajak sesuai aturan perdagangan ekuitas

KEUNTUNGAN OPSI

Manfaat yang diperoleh dengan perdagangan option, antara lain:

  • Manajemen resiko; pemodal yang memiliki put option atas suatu underlying asset dapat melakukan hedging melalui penundaan penjualan saham yang dimilikinya bila harga underlying assetnya turun dratis secara tiba-tiba, sehingga dapat menghindari resiko kerugian.
  • Memberikan waktu yang fleksibel; untuk option tipe amerika, maka pemegang call maupun put option dapat menetukan apakah akan melaksanakan haknya atau tidak hingga masa jatuh tempo berakhir
  • Menyediakan sarana spekulasi; para pemodal dapat memperoleh keuntungan jika dapat memperkirakan harga naik dengan mempertimbangkan membeli call option, dan sebaliknya bila memperkirakan harga cenderung turun dapat mempertimbangkan untuk membeli put option.
  • Leverage; secara potensial, leverage memberikan hasil investasi yang lebih besar dibandingkan dengan bila menanam dananya pada saham misalnya, walaupun resikonya cenderung lebih besar pula dibandingkan bila melakukan investasi secara langsung.
  • Diversifikasi; dengan melakukan perdagangan option dapat memberikan kesempatan kepada pemodal untuk melakukan diversifikasi portofolio untuk tujuan memperkecil resiko investasi portofolio.
  • Penambahan pendapatan; pemodal yang memiliki saham dapat memperoleh tambahan pemasukan selain dari deviden, yaitu dengan menerbitkan call option atas saham mereka. Dengan menerbitkan opsi, mereka akan menerima premi dari option tersebut.

STRATEGI OPTION

Dalam perdagangan option terdapat beberapa strategi yang dapat dikelompokan sebagai berikut:

  1. Strategi terbuka

Strategi terbuka (naked strategies) melibatkan penggunaan terpisah dari setiap posisi option yaitu: strategi pembelian call (long position), strategi penjualan call option (short/writing position), strategi penjualan put dan strategi pembelian put. Posisi-posisi tersebut disebut strategi terbuka, karena tidak melibatkan posisi pemyeimbangan (off-setting) atau posisi cegah resiko pada option atau saham yang mendasari yang lain. Laba rugi yang dihasilkan dari masing-masing strategi tergantung dari harga saham yang mendasari pada tanggal kadaluarsa (dengan asumsi option tidak dilaksanakan atau dijual sebelum tanggal kadaluarsa). Kerugian maksimal yang ditanggung oleh pembeli option adalah sebesar harga option. Pada saat yang bersamaan, pembeli option dapat memperoleh keuntungan dari pergerakan harga saham yang baik (peningkatan harga bagi call option dan penurunan harga bagi put option) dikurangi dengan harga option. Sebaliknya, laba maksimal yang dapat diperoleh oleh penjual option adalah sebesar harga option. Sementara itu, penjual option tetap menghadapi seluruh resiko yang berhubungan dengan pergerakan harga yang tidak baik.

Strategi pembelian call merupakan strategi option yang paling langsung dalam memperoleh keuntungan dari peningkatan harga saham, dan pada saat yang bersamaan, membatasi kerugian maksimal terhadap harga option. Daya tarik spekulatif dari call option adalah option ini memberikan kesempatan bagi investor untuk menangkap pergerakan harga dari lebih banyak saham dalam nilai tertentu. Investor yang merasa harga saham akan mengalami penurunan atau perubahan yang sangat kecil, dapat memperoleh pendapatan dengan jalan menjual call option. Laba rugi yang diterima penjual option merupakan refleksi dari laba rugi pembeli option.

  1. Strategi tertutup/cegah resiko

Berlawanan dengan strategi terbuka, strategi tertutup (covered or hedge strategies) melibatkan posisi dalam option dan juga posisi dalam saham yang mendasari. Tujuan strategi ini adalah mengimbangi setiap pergerakan harga yang tidak diinginkan melalui perolehan keuntungan dari posisi lainnya. Dua strategi tertutup yang paling sering digunakan adalah strategi penjualan call tertutup (covered call writing strategy) dan strategi pembelian put terlindungi (protective put buying strategy). Strategi penjualan call tertutup melibatkan posisi penjualan call option atas saham yang dimiliki investor dalam portofoilionya. Yaitu investor mengambil posisi jual pada call option atas saham dengan posisi beli. Jika harga saham menurun, akan timbul kerugian akibat posisi beli saham. Namun pendapatan yang diperoleh dari penjualan call option akan mengagnti seluruh kerugian, sebagian kerugian, atau lebih besar dari kerugian yang diderita sehingga memberikan laba bagi investor.

  1. Strategi kombinasi

Dalam strategi kombinasi, call option dan put option dari saham mendasari yang sama dengan harga pelaksanaan tanggal kadaluarsa yang sama dijual atau dibeli. Jika posisi dan jumlah put option sama dengan call option, maka strategi ini disebut “straddle” yang merupakan jenis strategi gabungan yang paling terkenal.

2. Strategi selisih hasil (spread strategy)

Dalam strategi ini melibatkan posisi pada satu atau lebih option sehingga biaya pembelian option didanai sepenuhnya atau sebagian dari hasil penjualan option lain dengan aktiva mendasari (underlying asset) yang sama. Strategi spread memiliki beberapa bentuk seperti bull spread, bear spread, vertical spread, horizontal spread, diagonal spread, dan butterfly spread. Sebagai contoh dalam bull spread, investor membeli put option “out of the money” yang dananya berasal dari penjualan call option “out of money” dengan underlying asset yang sama.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA OPSI

  1. Harga underlying asset dan exercise price (harga pelaksanaan)

Jika suatu call option dilaksanakan pada suatu waktu di masa yang akan datang, pembayarannya sebesar selisih lebih dari harga underlying asset yang melebihi dari exercise price. Suatu call option akan menjadi lebih bernilai jika harga underlying asset meningkat dan kurang bernilai jika exercise price meningkat.

2. Tanggal Jatuh Tempo

Untuk tipe Amerika, dari kedua macam option baik call option maupun put option menjadi lebih berharga jika jatuh temponya semakin meningkat. Sementara untuk tipe eropa nilai terhadap option baik call mupun put option tidak terpengaruh dengan jatuh tempo, hal ini berkenaan dengan waktu pelaksanaan hak. Berikut ilustrasi ketergantungan call dan put option terhadap lamanya waktu jatuh tempo.

3. Volatility Volatility atas underlying asset

Adalah sebagai ukuran tingkat ketidakpastian mengenai pergerakan underlying tersebut dimasa datang. Jika volatility semakin meningkat maka akan semakin meningkat pula peluang underlying asset mengalami peningkatan atau malah m