Saham menurut Darmadji dan Fakhruddin (2001) merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.  Sedangkan Riyanto (2002) mendefinisikan saham sebagai tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu perusahaan terbatas (PT) bagi suatu perusahaan yang bersangkutan, yang diterima dari hasil penjualan sahamnya akan tetap tertanam di dalam perusahaan tersebut selama hidupnya.

Penerbitan saham hanya dapat dikeluarkan oleh suatu badan usaha yang berbentuk perseroan terbatas atau bentuk-bentuk perusahaan lain yang modalnya terdiri dari saham-saham. Pada pasar modal, saham merupakan obyek investasi yang paling utama, karena memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan investasi di bank misalnya dalam bentuk tabungan, giro dan sebagainya.

Tujuan investor melakukan investasi adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang, mengurangi tekanan inflasi, dan dorongan untuk menghemat pajak (Ahmad 2003; Subroto, 2005). Keuntungan yang diperoleh dalam investasi saham bisa dalam bentuk:

1. Dividen

Dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Pemodal baru bisa memperoleh dividen, jika memiliki saham perusahaan tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama sesuai dengan ketemtuan untuk mendapatkan dividen. Dividen adalah salah satu daya tarik bagi pemegang saham dengan orientasi jangka panjang.

2. Capital Gain

Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Umumya pemodal dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gain (Darmadji dan Fakhruddin, 2002; Subroto, 2005).

Selain dividen dan capital gain, manfaat kepemilikan saham menurut Anoraga dan Pakarti (2001) adanya manfaat non financial, yaitu timbulnya kebanggaan dan kekuasaan memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan. Sedangkan proses keputusan investasi merupakan proses yang berkesinambungan (on going process). Proses keputusan investasi terdiri dari enam tahap keputusan yang berjalan terus menerus sampai tercapai keputusan investasi yang tepat. Tahap-tahap keputusan investasi menurut Halim (2003:2) meliputi:

1. Penentuan Tujuan Investasi

Tujuan investasi harus dinyatakan baik dalam keuntungan maupun resiko, sehingga preferensi rasio perlu dipertimbangkan dalam proses investasi.

2. Penentuan Kebijakan Investasi

Merupakan tahap penentuan kebijakan untuk memenuhi tujuan investasi yang telah ditetapkan. Tahap ini dimulai dengan penentuan keputusan alokasi aset. Keputusan ini menyangkut pendistribusian dana yang dimiliki dan porsi pendistribusian dana tersebut serta beban pajak dan pelaporan yang harus ditanggung.

3. Melakukan Analisis

Investor melakukan analisis terhadap suatu efek atau sekelompok efek. Salah satu tujuan penilaian ini adalah untuk mengidentifikasi efek yang salah harga (mispriced), apakah harganya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan yaitu pendekatan fundamental dan pendekatan teknikal.

4. Pemilihan Strategi Portofolio

Pemilihan strategi portofolio harus konsisten dengan dua tahap sebelumnya. Dua tahap strategi portofolio yang dapat dipilih, yaitu. strategi portofolio aktif dan strategi portofolio pasif. Strategi portofolio aktif meliputi kegiatan pengguinaan investasi yang tersedia dan teknik-teknik peramalan secara aktif untuk mencari kombinasi portofolio yang terbaik. Strategi portofolio pasif meliputi aktifitas investasi pada portofolio yang seiring dengan kinerja indeks pasar. Asumsi strategi pasif ini adalah semua investasi yang tersedia akan diserap pasar dan direfleksikan pada harga saham.

5. Pemilihan Aset

Tahap ini memerlukan pengevaluasian setiap sekuritas yang ingin dimasukkan dalam portofolio. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kombinasi portofolio yang efisien, yaitu portofolio yang menawarkan return diharapkan yang lebih tinggi dengan tingkat resiko tertentu, atau sebaliknya menawarkan return diharapkan tertentu dengan tingkat resiko yang rendah.

6. Pengukuran evaluasi kinerja portofolio

Pada tahapan ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun resiko yang ditanggung. Tahap ini adalah tahap paling akhir dari proses keputusan investasi. Jika tahap ini telah dilewati dan ternyata hasilnya kurang baik, maka proses keputusan investasi harus dimulai lagi dari awal, demikian seterusnya sampai dicapai keputusan investasi yang paling optimal.

Akan tetapi investasi dalam bentuk saham mengandung risiko.  Risikonya antara lain adalah harga saham bisa naik tapi bisa juga turun bahkan bisa pula menjadi barang yang tidak ada harganya sama sekali apabila perusahaan emiten itu ternyata kemudian bangkrut. Subroto (2005) mengemukakan risiko investasi dalam saham antara lain:

1. Resiko Financial

Resiko yang diderita oleh pemodal sebagai akibat dari ketidakmampuan emiten dalam memenuhi kewajiban pembayaran deviden.

2. Resiko Pasar

Resiko akibat menurunnya harga pasar saham secara keseluruhan maupun saham tertentu akibat perubahan inflasi, tingkat bunga, kebijaksanaan pemerintah maupun manajemen perusahaan.

3. Resiko Psikologis

Resiko bagi investor yang bertindak secara emosional dalam menghadapi prubahan-perubahan pasar. Investor menanggapi perubahan harga pasar saham berdasarkan optimisme atau pesimisme yang dapat mengakibatkan kenaikan atau penurunan harga saham.

Model  Penilaian  Saham

Penilaian saham bertujuan sebagai alat untuk memberikan gambaran yang sebenarnya tentang kewajaran atas harga saham yang dinilai sehingga dapat membantu dalam keputusan untuk membeli atau menjual saham, menilai persentase kekuatan dari saham dalam kepemilikan terhadap perusahaan dan memperhitungkan tingkat resiko dan keuntungan (risk and return) atas saham yang dimiliki sehingga mempermudah dalam keputusan untuk membeli atau menjual saham.

Sjahrizal (2000) mengemukakan proses penilaian harga saham meliputi kegiatan antara lain:

  1. Menghimpun data yang berupa
    1. Laporan keuangan audited untuk tiga tahap terakhir.
    2. Proyeksi laporan keuangan untuk 5 tahun berikut asumsinya.
    3. Kontrak-kontrak maupun perjanjian-perjanjian yang akan mempengaruhi  keuangan perusahaan.
  2. Melaksanakan “due diligent meeting” pertemuan antara direksi komisaris dan staf perusahaan dengan para underwriter. Pertemuan ini dimaksudkan untuk menimba data atau informasi lain secara langsung dari management
  3. Melaksanakan kunjungan proyek atau perusahaan. Tahap ini diperlukan untuk memperoleh keyakinan terhadap informasi yang diperoleh secara tertulis
  4. Menghimpun informasi dari pihak ketiga seperti: bank, relasi usaha (supplier atau buyer), dan lain-lain.
  5. Dari informasi yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode diperhitungkan harga saham yang disebut di atas, disusun suatu laporan pembahasan dan usulan berharga yang akan digunakan sebagai bahan untuk negosiasi dari emiten.

 

Analisis Fundamental dengan Menggunakan Net Asset Per Share, Return on Equity dan Earning Per Share (NAPS, ROE dan EPS).

Analisis fundamental dilakukan untuk memperoleh nilai intrinsik (intrinsic value) sekuritas. Nilai intrinsik ini selanjutnya akan dibandingkan dengan nilai pasar saat itu. Apabila ternyata nilai intrinsik sekuritas lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar, maka sekuritas tersebut dapat dikatakan undervalued dan anda bisa memutuskan untuk membelinya. Dari hasil penghitungan nilai intrinsik ini kemudian anda bandingkan dengan harga pasar saat itu. Apabila ternyata hasil perhitungan lebih tinggi, artinya sekuritas yang anda hitung undervalued dan saatnya untuk membeli dengan harapan harga saham tersebut akan meningkat di kemudian hari. Sebaliknya apabila lebih rendah, disebut overvalued dan anda harus menghindari sekuritas jenis ini, dan apabila anda terlanjur memilikinya, saat yang tepat untuk menjualnya (Wisana dan Kirbrandoko, 2009). Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan fundamental lebih menitikberatkan pada tata indikator ekonomi perusahaan.

Tahapan dalam melakukan menganalisis data perusahaan secara fundamental adalah:

  1. Mengetahui harga saham dari setiap emiten atau perusahaan.
  2. Mengetahui volume transaksi saham yang dari setiap emiten atau perusahaan.
  3. Mengetahui jumlah saham yang beredar dari setiap emiten atau perusahaan.
  4. Mengetahui laporan keuangan, yaitu neraca dan rugi laba dari setiap emiten atau perusahaan (Warta Ekonomi, 2009).

Berdasarkan data tersebut diatas maka analisis fundamental dapat dilakukan dengan menghitung  antara lain NAPS, ROE dan EPS untuk menilai saham sebagai dasar keputusan investasi dari investor.

Teknik analisis fundamental yang popular digunakan oleh fundamentalis dalam mengambil keputusan investasi menurut Wisana dan Kirbrandoko (2009) adalah NAPS, ROE dan EPS. Penjelasan dari masing-masing teknik analisis fundamental adalah sebagai berikut:

  1. Analisis Net Asset Per Share (NAPS), bertujuan untuk mengetahui kekayaan bersih atau asset perusahaan yang terkandung dalam setiap lembar saham.
  2. Analisis Return on Equity (ROE), yaitu analisis untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba (profitabilitas).
  3. Analisis Earning Per Share (EPS), bertujuan untuk mengetahui potensi keuangan yang dapat diperoleh setiap lembar saham.

 

Hubungan  Analisis  Fundamental  NAPS, ROE dan EPS dengan Penilaian Saham          

Pendekatan analisis fundamental menitikberatkan pada hubungan harga saham dengan kondisi intern perusahaan seperti laporan keuangan dan pergantian pimpinan perusahaan. Asumsi yang digunakan pendekatan fundamental dalam penentuan harga saham didasarkan adalah saham perusahaan mempunyai nilai instrinsik yang ditentukan oleh unsur-unsur fundamental perusahaan, seperti laba per saham, deviden per saham, tingkat biaya modal, potensi pertumbuhan perusahaan dan lain sebagainya.

Setelah melakukan perhitungan secara keseluruhan dari analisis fundamental yang terdiri dari: NAPS, ROE dan EPS maka dapat diketahui kinerja suatu saham secara fundamental. Hasil analisis fundamental ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur pengambilan keputusan untuk melakukan investasi atau tidak. Akan tetapi analisis fundamental bisa efektif dalam kurun waktu jangka panjang, misalnya dalam tri wulan, per semester dan per tahun.

Referensi

Anoraga, P, dan C. Pakarti, (2001), Pasar Modal, Keberadaan dan Manfaatnya Bagi Pembangunan, Cetakan Pertama, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Anoraga, P. dan N. Widiyanti, (2000), Pasar Modal, Keberadaan dan Manfaatnya Bagi Pembangunan, Cetakan Pertama, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Arens dan Loebbecke (2001), Auditing Pendekatan Terpadu, Terjemahan: Amir Abadi Jusuf, Buku Satu, Edisi Revisi, Salemba Empat, Jakarta.

Bapepam (2009). http://www.bapepam.go.id.2009.

Darmadji dan Fakhruddin, (2001), Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Cetakan I, UUP dan AMP YKPN, Yogyakarta.

Dwitra (2009). http://www.dwitra.com.2009.

e-bursa (2009). http://www.e-bursa.com.2009.

e-samuel (2009). http://www.e-samuel.com.2009.

Hugh, E.F., (2000), Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Jilid I, Alih Bahasa Penerbit ErlanggaJakarta.

Husnan, S. (2005), Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi II, UPP AMP YKPN,Yogyakarta.

Husnan, S. (2005). Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang), Buku I Edisi 4, BPFE,Yogyakarta.

IDX, Informasi Umum Pasar Modal, PT. Bursa Efek Indonesia. www.idx.com.

IDX, Produk-Produk Yang Ada Di Pasar Modal, PT. Bursa Efek Indonesia. www.idx.com

Indo Exchanege (2009). http://www.indoexchange.com.2009.

Investor Indonesia (2009). http://www.investorindonesia.com.2009.

Koetin, E., A., (2000), Analisis Pasar Modal, Cetakan I dan IV, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Riyanto, B. (2005), Dasar-Dasar Pembelanjaan, Edisi Kedua, cetakan Kedua. Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sartono, A. (2005), Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi, Edisi III,BPFE, Yogyakarta.

Sereh (2001), Teknik Perdagangan Efek Di Bursa Efek Indonesia, Cetakan I, PT. Aksara Kencana, Jakarta.

Siamat (2001), Analisis Saham Indonesia, Economic Student’s Group, Jakarta.

Sjahrizal  (2000), Menilai Harga Saham Perusahaan Go Public, Majalah Usahawan Indonesia, No. 09, September.

Usman, M. (2000), Pendewasaan Pasar Modal, Cetakan Pertama, ISEI, Jakarta.

Warta Ekonomi (2009). http://www.wartaekonomi.com.2009.

Widada, A. (2001), Analisis Beberapa Variabel Fundamental Yang Menentukan PER dalam Penilaian Saham Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Mencatatkan Sahamnya Pada BEI.  Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Yulianti (2000), Analisis Variabel Fundamental Yang Berpengaruh Terhadap PER Sebagai Dasar Penilaian Saham. Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang.

INVESTASI SAHAM & PENILAIANNYA