Suku bunga akan cenderung mengalami peningkatan ketika kondisi ekonomi mengalami peningkatan inflasi. Tingkat inflasi nantinya akan mempengaruhi tingkat bunga pasar dan selanjutnya tingkat bunga tersebut akan mempengaruhi harga dan yield obligasi. Pasar obligasi lebih menguntungkan ketika kondisi ekonomi sedang menurun, karena pasar obligasi tidak menyukai adanya peningkatan inflasi yang dapat memberikan dampak negative terhadap nilai rill dari pendapatan tetap yang diperoleh dari obligasi.

Menurut Tendelilin (2010) pasar obligasi umumnya akan menarik bila kondisi ekonomi cenderung menurun. Dalam pertumbuhan ekonomi yang lambat, tingkat bunga akan cenderung turun dan harga obligasi akan naik. Struktur tingkat bunga adalah hubungan antara waktu jatuh tempo dengan yield untuk suatu kategori obligasi tertentu pada waktu tertentu. Semakin lama jangka waktu obligsi, maka resiko ketidakpastian juga akan semakin tinggi, sehingga tingkat bunga yang diharapkan juga akan samakin tinggi.

Terdapat tiga teori struktur tingkat bunga yaitu :

1. Teori harapan

Dalam teori ini tingkat bunga obligasi jangka panjang selama periode akan sama dengan nilai rata-rata bunga jangka pendek dari obligasi tersebut periode yang sama. Misalnya jika seorang investor memegang obligasi selama 5 tahun, maka tingkat bunga jangka panjang yang diharapkan akan sama dengan nilai rata-rata bunga tahunan obligasi tersebut selama 5 tahun. Dengan demikian struktur tingkat bunga akan melibatkan penentuan tingkat bunga yang akan diterima kemudian dan tingkat bunga sekarang.

2. Teori preferensi likuiditas

Teori ini menyatakan bahwa tingkat bunga akan mencerminkanjumlah tingkat bunga sekarang dan tingkat bunga jangka pendek yang diharapkan (sama dengan teori harapan) ditambah dengan premi likuiditas (resiko). Semakin lama waktu jatuh tempo suatu obligasi, semakin besar tingkat ketidakpastian yang harus dihadapi investor obligasi. Dengan demikian investor akan lebih menyukai investasi jangka pendek. Sebaliknya perusahaan yang memerlukan dana, lebih menyukai dana pinjaman jangka panjang. Perbedaan antara teori perferensi likuiditas dengan teori harapan adalah ketidakpastian tingkat bunga yang diharapkan dimasa yang akan datang, forward rate dan estimasi tingkat bunga adalah dua hal yang berbeda karena adanya perbedaan jumlah premi likuiditas yang diberikan.

3. Teori Preferensi habitat

Teori ini menyebutkan bahwa investor mempunyaipreferensi terhadap sektor maturitas tertentu dan mereka akan beralih ke maturitas lain jika terdapat imbalan yang memadai. Teori preferensi hampir sama dengan teori struktur bunga lainnya yaitu teori segmentasi pasar. Perbedaan teori segmentasi menganggap bahwa investor tidak akan beralih ke sektor maturitas lain meskipun return yang diperoleh relatif lebih besar. Sebagai contoh bank-bank komersial akan cenderung menyalurkan dana pinjaman dalam jangka pendek. Sedangkan perusahaan dan lembaga pengelolaan dana pensiun akan lebih menyukai invesasi surat-surat berharga dalam jangka panjang.

Yield dari obligasi

Yield (hasil serahan) dari invesasi dalam obligasi harus mencerminkan bunga kupon yang akan dihasilkan ditambah (dikurangi) capital gain (capital loss) yang akan direalisasikan dari kepemilikan obligasi hingga jatuh tempo (Fabozzi, 1999). Yield to maturity (hasil serahan pada saat jatuh tempo) adalah ukuran formal yang dipakai secara luas untuk mengukur tingkat pengembalian obligasi. Seperti yang didefinisikan yield to maturity dari obligasi memasukkan bunga kupon dan capital gain atau capital loss, jika obligasi dipegang hingga jatuh tempo.  Yield to maturity didefinisikan sebagai suku bunga yang membuat present value dari arus kas suatu obligsasi sama dengan harga obligasi.

Struktur resiko tingkat bunga

Struktur resiko tingkat bunga biasanya disebut dengan yield spread, yang diartikan sebagai hubungan antara yield obligasi dengan karakteristik tetentu yang dimiliki obligasi, seperti kualitas, callability, kupon dan mudah tidaknya obligasi diperjualbelikan (marketability). Dengan demikian, adanya struktur risiko tingkat bunga akan menjelaskan mengapa ada perbedaan tingkat yield obligasi dari emiten yang berbeda-beda (Tendelilin, 2010).

Besarnya yield spread dipengaruhi faktor-faktor berikut ini :

  1. Perbedaan kualitas. Untuk mengetahui  kualitas obligasi, kita bisa melihat rating kualitas obligasi yang disusun berdasarkan besarnya resiko kegagalan pembayaran (risk of default).
  2. Perbedaan dalam bentuk call provision. Obligasi yang callable akan memberikan YTM yang lebih tinggi dari obligasi moncallable.
  3. Perbedaan tingkat kupon yang diberikan. Obligasi yang memberikan kupon yang relatif  lebih kecil akan cenderung memberikan return berbentuk capital gain yang lebih besar.
  4. Perbedaan kemudahan diperdagangkan. Ada beberapa obligasiyang dianggap lebih mudah diperdagangkan dibandingkan dengan obligasi lain sehingga obligasi tersebut mempunyai likuiditas yang relatif lebih baik.

Referensi:

Fabozzi, F. J.1999. Manajemen Investasi.Jakarta: Salemba Empat.

Tandelilin, E. 2010. Portofolio Dan Investasi, Teori dan Aplikasi. Edisi Pertama. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

MEMAHAMI PORTOFOLIO OBLIGASI