POTENSI USAHA SAPI POTONG

Usaha ternak sapi potong pada awalnya hanya dilakukan oleh peternak di beberapa daerah tertentu saja di Jawa seperti Bondowoso, Magetan, Wonogir dan Jember. Sekarang telah menyebar ke beberapa daerah diluar jawa juga.  Perkembangan usaha sapi potong dalam bentuk penggemukan sapi (Feedloot) didorong oleh permintaan daging yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Bentuk usaha ternak sapi potong ini bisa dilakukan secara perorangan maupun dalam bentuk perusahaan dalam skala besar, namun ada juga yang mengusahakan penggemukan sapi ini secara berkelompok (Siregar, 2008).

Salah satu daerah yang menjadi potensi utama menjadi pusat usaha ternak sapi dalam pengembangan sapi local adalah Pulau Madura. Pulau ini mampu menyediakan bibit sapi yang baik untuk dijadikan sapi potong. Akan tetapi sampai saat ini pengembangan dan pembinaan usaha ternak sapi Madura belum dilaksanakan secara optimal bila dibandingkan dengan sapi Bali. Jika dikelola dengan baik maka kualitas sapi Madura tidak kalah dengan jenis sapi local lainnya (Asmaki, MAsturi dan Asmaki, 2009).

MASALAH UTAMA DALAM USAHA SAPI POTONG

Boediyana  (2007) mengungkapkan beberapa permasalahan ataupun kendala  untuk membangun industri peternakan sapi potong yang tangguh di tanah air, antara lain :

  1. Terindikasi bahwa industri hulu yang ada di tanah air sama sekali sangat lemah. Besar dan kecenderungan meningkatnya jumlah sapi bakalan dan juga volume daging sapi yang diimpor merupakan indikasi bahwa sumber sapi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.
  2. Data riil tentang populasi sapi di tanah air belum tersedia secara akurat. Ada keraguan bahwa angka populasi yang ada saat ini lebih tinggi dari realitas. Ini yang sering menyebabkan bias dalam proses pengambilan kebijakan oleh berbagai pihak.
  3. Masih belum adanya persepsi yang sama dari para stakeholder dalam industri sapi potong. Hal ini berimplikasi tidak adanya derap langkah yang sama untuk membangun industri peternakan yang tangguh di tanah air.
  4. Terdapat implikasi kekeliruan menafsirkan otonomi daerah dari sementara pihak yang berakibat terjadinya ekonomi biaya tinggi dalam usaha sapi potong. Otonomi daerah yang seharusnya diartikan juga sebagai instrument untuk menggali potensi ekonomi menjadi kekuatan ekonomi riil  dalam prakteknya justru sebaliknya. Selain daripada itu terdapat beberapa hal lain yang menyebabkan terjadinya ekonomi biaya tinggi dalam pengembangan usaha sapi potong.
  5. Semakin melemahnya penegakan hukum, disinyalir telah mendorong keberanian beberapa pengusaha memasukkan daging secara illegal dari negara-negara yang secara perundangan tidak diijinkan karena belum bebas dari PMK(Penyakit Mulut dan Kuku). Hadirnya daging dengan harga yang sangat murah dibawah harga daging dari sapi lokal ataupun sapi hasil penggemukan usaha feedlot dalam waktu cepat atau lambat akan memukul industri sapi potong dalam negeri. Hal ini akan merupakan potensi ancaman hancurnya potensi produksi sapi lokal. Hancurnya usaha peternakan sapi di dalam negeri akan menyebabkan kerugian yang sangat mahal karena membutuhkan waktu dan biaya yang sangat tinggi untuk recovery. Belum terhitung kerugian ekonomi dan sosial bagi sebagian masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Seperti dinyatakan oleh OIE (Organization of International des Epizootica) bahwa PMK (Foot and Mouth Desease) merupakan penyakit hewan yang paling menular dan sangat berbahaya serta dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi negara yang mengalami endemi.
  6. Belum maksimalnya usaha untuk mengambil kesempatan mengambil peluang memperoleh nilai tambah dari rantai peternakan sapi potong khususnya dalam memproduksi berbagai produk daging baik untuk keperluan dalam negeri ataupun ekspor.
  7. Jaringan pemasaran produk sapi potong yang belum mantap menyebabkan antara lain belum optimalnya konsumsi daging di masyarakat.

REFERENSI:

Asmaki, A. P., Hasnawi Masturi, dan Tidi Dhalika Asmaki. 2009. Agribisnis Ternak Sapi. CV. Pustaka Grafika. Bandung.

Boediyana, T. 2007. Sekilas Tentang Peternakan Sapi Potong di Indonesia. http://www.agribisnews.com/tentang-kami/29.html. Date Accessed 25 May 2013.

Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.

TINJAUAN POTENSI DAN MASALAH USAHA SAPI POTONG DI INDONESIA