Pekerjaan manajer investasi tidak selesai setelah mengemas sebuah paket portofolio. Sebaliknya mereka terus mengelola portofolio tersebut. Dalam hal ini mereka bisa menggunakan strategi pengelolaan pasif atau aktif. Penggunaan strategi ini tergantung pada asumsi yang mendasar atas pasar.

Strategi pasif. Dengan asumsi bahwa pasar untuk asset tertentu efisien, maka harga sudah terbentuk secara fair. Dengan demikian, upaya mencari diskrepansi harga tidak berguna. Penyusunan portofolio bisa menirukan pasar. Misalnya membeli saham penyusun indeks tertentu. Manajemen portofolio pasif menawarkan berbagai kelebihan. Antara lain, pengelolaannya lebih sederhana dan biaya transaksi jual/beli rendah.

Mengelola secara aktif. Jika berdasar asumsi bahwa harga di pasar ada diskrepansi, maka para fund manager akan secara aktif mengevaluasi nilai asset yang berubah nilai instrinsiknya akibat perubahan pasar. Misalnya saja, dengan perubahan tingkat suku bunga, atau perubahan kebijakan pemerintah, maka nilai instrinsik suatu asset akan berubah juga. Karena faktor yang mempengaruhi nilai instrinsik suatu saham sangat banyak dan berubah dari waktu ke waktu, maka upaya pencairan yang dilakukan juga akan terus berlangsung.

Perubahan kebijakan pemerintah misalnya menjadi perhatian mereka. Sebab perubahan kebijakan tersebut akan mempengaruhi secara positif industri tertentu dan secara negatif atas industri yang lain. Sehingga, perubahan kebijakan akan mendorong PMI untuk mengubah pembobotan atas portofolio mereka.

Portofolio saham yang dikelola dengan aktif mampu memberikan hasil investasi yang lebih baik dari indeks pasar secara keseluruhan.

Pengelolaan portofolio saham adalah penting terutama bagi yang berinvestasi jangka panjang (tahunan) karena investasi saham tidak hanya sekedar membeli saham dan kemudian membiarkannya berkembang sendiri. Pengelolaan portofolio saham haruslah bersifat aktif dalam artian setelah memilih saham dan membelinya harus diikuti dengan memantau dengan seksama perkembangan saham dan kemudian melakukan evaluasi dan ini hendaknya dilakukan secara periodik, seberapa sering itu tergantung batas waktu (time horizon) investasi anda, semakin pendek batas waktunya semakin pendek periode evaluasinya.

Oleh karena setiap evaluasi membutuhkan waktu yang cukup agar proses evaluasi berjalan benar maka semakin banyak saham yang ada dalam portofolio kita semakin banyak waktu yang harus kita sediakan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi, dengan demikian banyaknya saham yang ada dalam portofolio kita juga harus kita sesuaikan dengan ketersediaan waktu yang kita punya.

Seorang yang berinvestasi saham sambil tetap bekerja tentu mempunyai waktu yang lebih sedikit dari orang berinvestasi saham secara penuh. Berapa banyak saham yang boleh ada dalam portofolio dalam setiap waktu, relatif tergantung dari waktu yang kita punya sehingga bisa dengan inten mengikuti perkembangannya. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan kita dalam menampung berbagai macam informasi serta mengolahnya dengan bijak, meskipun ada cukup waktu sekalipun, karena semakin banyak saham yang ada dalam portofolio semakin banyak informasi yang harus kita olah dan ini sering menjadikan kerancuan dan saling overlapping. Lebih jauh ini bisa menyebabkan kita kehilangan gairah dalam mengikuti pergerakan saham bahkan frustasi. Jadi pintar-pintarlah mengelola portofolio anda dan pilihlah saham secukupnya sesuai waktu yang kita punya dan kemampuan analisa anda. Seorang investor SA Nelson memberi nasehat “Lebih baik mengikuti beberapa saham dengan baik dari pada mengikuti banyak saham.”

 

Referensi:

Douglas Hearth. 2004. Contemporary Investments: Security and Portfolio Analysis.

Fabozzi. 1999. Investment Management

Hebert B. Mayo. 2006. Investment: An Introduction

ZVI Bodie, Alex Kane, Alan J. Marcus. 2009. Investments

 

————Knowledge for Better Future—————–

MENGELOLA PORTOFOLIO