Studi yang dilakukan Altman (1968) dengan menggunakan Multivariate Discriminant Analysis untuk menentukan model yang disebut Z-Score, yaitu score dari kombinasi rasio-rasio keuangan untuk menentukan prediksi kesulitan keuangan perusahaan. Variabel yang digunakan dalam model meliputi: Working capital to total assets, Retained earning to total assets, EBIT to total assets, Market value of equity to book value of total liabilities, Sales to total assets. Kelima rasio yang digunakan tersebut ternyata bisa digunakan untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan. (Rame,2006).

Analisis Z-Score menurut Hanafi, Mamduh dan Halim (2003) adalah model prediksi kebangkrutan sudah dikembangkan ke beberapa Negara. Altman (1983,1984) melakukan survei model-model yang dikembangkan di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Swiss, Brasil, Australia, Inggris, Irlandia, Kanada, Belanda dan Perancis. Salah satu masalah yang bisa dibahas adalah apakah ada kesamaan rasio keuangan yang bisa dipakai untuk prediksi kebangkrutan untuk semua negara, ataukah mempunyai kekhususan.

Kebangkrutan  menurut  kamus  ekonomi  (2005)  adalah  kepailitan;  pernyataan tentang  ketidakmampuan  membayar  utang  –  utang,  sehingga  kepemilikan  aktiva perusahaan dipindahkan atau ditransfer dari pemegang saham kepada pemberi utang. Pendapat  yang  berbeda  diungkapkan  oleh  Hanafi, Mamduh dan Halim (2003) dimana  kebangkrutan  disebut  dengan  kesehatan  keuangan.  Kesehatan  keuangan  ini digambarkan  dengan  adanya  dua  titik  ekstrem  yaitu  kesulitan  likuiditas  jangka pendek   (yang   paling ringan)   sampai   insolvabel   (yang   paling   parah).   Kesulitan keuangan   jangka   pendek   biasanya   bersifat   sementara,   tetapi   bisa   berkembang menjadi  parah.  Kesulitan  keuangan  bisa  dilihat  sebagai  kontinum  yang  panjang,

Tujuan Analisis Z – Score

Tujuan   analisis   z-score adalah  untuk  mengingatkan  akan  masalah  keuangan  yang  mungkin  membutuhkan perhatian serius dan menyediakan petunjuk untuk bertindak. Hanafi, Mamduh dan Halim (2003) memberikan  beberapa  tujuan  dari  analisis  z-score dilihat dari manfaat informasi kebangkrutan pada beberapa pihak, yaitu :

  1. Pemberi pinjaman (seperti pihak bank). Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk   mengambil   keputusan   siapa   yang   akan   diberi   pinjaman,   dan   untuk kebijakan memonitor pinjaman yang ada.
  2. Investor.   Investor   saham   atau   obligasi   yang   dikeluarkan   oleh   perusahaan tentunya   akan   sangat   penting   untuk   meilhat   kemungkinan   bangkrut   atau tidaknya   perusahaan   yang   menjual   surat   berharga   tersebut   selain   itu   juga prediksi  kebangkrutan  ini  untuk  melihat  tanda  –  tanda  kebangkrutan  seawal mungkin dan kemudian mengantisipasi kemungkinan tersebut.
  3. Pihak   Pemerintah.   Pada   sektor   usaha,   lembaga   pemerintahan   mempunyai tanggung   jawab   untuk   mengawasi   jalannya   usaha   tersebut   (misal   sektor perbankan). Lembaga pemerintah mempunyai kepentingan untuk melihat tanda-tanda  kebangkrutan  lebih  awal  supaya  tindakan  –  tindakan  yang  perlu  bisa dilakukan lebih awal
  4. Akuntan.  Akuntan  mempunyai  kepentingan  terhadap  informasi  kelangsungan suatu  usaha  karena  akuntan  akan  menilai  kemampuan  going  concern  suatu perusahaan.
  5. Manajemen.  Kebangkrutan  berarti  munculnya  biaya  –  biaya  yang  berkaitan dengan   kebangkrutan   dan   biaya   ini   cukup   besar.   Apabila   manajemen   bisa mendeteksi kebangkrutan ini lebih awal, maka tindakan – tindakan penghematan bisa  dilakukan,  misal  dengan  merger  atau  restrukturisasi  keuangan  sehingga biaya kebangkrutan bisa dihindari.

 

Sumber:

Altman, E. I. (1968), Financial Ratios, Discriminant Analysis and The Predictionof Corporate Bankcuptcy, The journal of Finance, Sept.

Hanafi, Mamduh M dan Abdul Halim, (2003), Analisis Laporan Keuangan, Edisi Revisi, Cetakan Pertama, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

TINJAUAN ANALISIS Z-Score