Produktifitas  yang  dilakukan  perusahaan  sebagai  kemampuan  perusahaan untuk  memberikan nilai  terhadap  perusahaan  adalah  kinerja  perusahaan.  Penilaian kinerja merupakan sangat penting bagi perusahaan yang telah go public. Perusahaan go  public adalah  perusahaan  yang  dimiliki oleh  masyarakat  sehingga dituntut untuk meningkatkan kinerjanya. Penilaian kinerja ini sangat penting sebagai proses merger perusahaan   sehingga   diketahui   nilai   perusahaan.   Penilaian   kinerja   juga   sangat dibutuhkan oleh perusahaan yang mengalami kesulitan, penilaian kinerja juga sangat berguna  untuk  restrukturisasi  pengimplementasian  program  pemulihan  usaha,  bagi perusahaan  yang  go  public  penilaian  kinerja  sangat  penting  jika  perusahaan  akan menjual  perusahaannya  dibursa  harus  melakukan  penilaian  untuk  menentukan  nilai wajar  saham  yang  akan  ditawarkan  kepada  masyarakat.  “Tujuan  dari  pengukuran kinerja keuangan perusahaan adalah untuk mengetahui tingkat likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan tingkat stabilitas suatu perusahaan” (Munawir, 1999).

Pendekatan yang populer untuk menilai kondisi keuangan perusahaan adalah dengan  mengevaluasi  data  akuntansi  berupa  laporan  keuangan,  hal  itu  disebabkan karena laporan keuangan disusun berdasarkan standar penyusunan laporan keuangan dan diterapkan secara meluas oleh perusahaan-perusahaan. Untuk mengevaluasi data akuntansi kita dapat gunakan rasio-rasio finansial yang dibagi dalam empat kategori utama,   yaitu   rasio   keuntungan   (laba),   rasio   aktivitas,   rasio   leverage,   dan   rasio likuiditas. Penilaian   kinerja   dengan   mengevaluasi   laporan   keuangan   yaitu   dengan penggunaan  rasio-rasio  keuangan  seperti  Return  on  Investment  (ROI),  Return  on Equity  (ROE),  Return  on  Asset  (ROA),  Net  Profit  Margin  (NPM),  sebagian  besar masih    menggunakan    data    finansial    yang    tidak    lagi    memadai    dan    model pengukurannya pun harus disesuaikan dengan lingkungan bisnis. Kelemahan penting dalam   penggunaan  rasio   keuangan   adalah   karena   laba   yang   dilaporkan   tidak memasukan unsur biaya modal.

Penilaian terhadap kinerja perusahaan memiliki banyak metode. Seperti yang diungkapkan  oleh    Widayant (1993),  “Ukuran  yang  dipakai  dalam  penilaian  kinerja suatu  perusahaan  selama  ini  sangat  beragam  dan  kadang  berbeda  dari  industri  yang satu dengan lainnya”. Ukuran yang sangat lazim dipakai  dalam  penelitian  kinerja  perusahaan  dinyatakan  dalam  rasio  finansial  yang dibagi dalam empat kategori utama:

a. Rasio Keuntungan (laba):

Rasio  ini  ditujukan  untuk  menilai  seberapa  bagus  tingkat  laba  suatu perusahaan. Termasuk dalam kelompok ini adalah:

  1. Net Profit Margin (NPM), yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap penjualan bersih
  2. Return  on  Assets  (ROA),  yaitu  rasio  antara  keuntungan  bersih  setelah  pajak setelah terhadap jumlah asset keseluruhan yang juga berarti merupakan suatu ukuran  untuk  menilai  seberapa  besar tingkat  pengembalian  dalam  bentuk persentase dari asset yang dimiliki.
  3. Return on Equity (ROE), yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap penyertaan  modal  saham  sendiri  yang  berarti  juga  merupakan  ukuran  untuk menilai  seberapa  besar  tingkat  pengembalian  dalam  bentuk  persentase  dari saham sendiri yang ditanamkan dalam bisnis yang bersangkutan

b. Rasio Aktivitas

Rasio    ini    mencoba    mengukur    efisiensi    dari    kegiatan    operasional perusahaan  dan  mencoba mengungkapkan  masalah-masalah  yang  selama  ini tersembunyi. Termasuk dalam kategori ini adalah:

  1. Total   Assets   Turnover   (ATO),   yaitu   rasio   antara  penjualan   terhadap jumlah harta keseluruhan.
  2. Collection  Period,  yaitu  mengukur  jangka  waktu  pembayaran  piutang oleh pembeli
  3. Inventory Turnover (ITO), yaitu mengukur tingkat perputaran barang dari persediaan ke penjualan dan dinyatakan dengan rasio antara harga pokok penjualan terhadap tingkat persediaan.
  4. Fixed  Asset  Turnover  yaitu  mengukur  tingkat  penggunaan  harta  tetap dinyatakan dalam rasio antara penjualan bersih terhadap harta tetap bersih (setelah dikurangi akumulasi penyusutan)
  5. Rasio Leverage, Rasio ini ditujukan untuk mengukur seberapa bagus struktur permodalan perusahaan. Termasuk dalam rasio leverage adalah:

1)      Debt Ratio, yaitu perbandingan jumlah hutang terhadap jumlah modal

2)      Debt   Equity   Ratio   (DER),   yaitu   perbandingan   jumlah   modal   saham terhadap jumlah modal keseluruhan.

3)      Time  Interest  Earned  (TIE),  mengukur  tingkat  kemampuan  perusahaan dalam membayar kewajiban bunga kepada kreditur.

c. Rasio Likuiditas

Rasio ini  mengukur   seberapa   likuid   perusahaan   dalam   memenuhi kewajiban-kewajibannya jangka pendek. Termasuk dalam kategori ini adalah:

  1. Current Ratio,  yaitu  rasio  antara harta lancar terhadap  kewajiban  jangka pendek
  2. Quick  Ratio,  yaitu  rasio  antara  harta  lancar  tanpa  persediaan  terhadap kewajiban jangka pendek

Sumber:

Widayanto, G., 1993.  EVA/NITAMI: Suatu  Terobosan  Baru  dalam Pengukuran  Kinerja Perusahaan, No.12, Desember1993, Manajemen Usahawan Indonesia.

Munawir, S., 1999, Analisis Laporan Keuangan, Edisi Keempat, Yogyakarta: Liberty.

Keown, Arthur J., Martin, John D., Petty, J. William, Scott, Jr., David F., 2008, Jilid 1, Manajemen Keuangan: Prinsip dan Penerapan edisi kesepuluh, Jakarta: Salemba Empat.

PENILAIAN KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN ANALISIS RASIO

One thought on “PENILAIAN KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN ANALISIS RASIO

  • May 13, 2013 at 8:17 am
    Permalink

    Tulisannya sangat membantu saya sbg referensi TA saya.. Namun, saya ditugaskan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja finansial perusahaan.. Saya sudah mencari2 referensi,,tp belum jumpa.. Bskah ibu membantu saya??thx before 🙂

Comments are closed.