Economic  Value  Added  (EVA)  atau  nilai  tambah  ekonomis  pertama  kali diperkenalkan  oleh  Stern  Steward  Management  Service.   Perusahaan  konsultan  ini menganggap  bahwa  metode  ini  sangat  cocok  untuk  menilai  kinerja  perusahaan. Metode   ini   dapat   menyajikan   suatu   ukuran   kinerja   dengan   mempertimbangkan harapan kreditor dan pemegang saham.

Konsep   EVA   adalah   mengukur   nilai   tambah   yang   dihasilkan   suatu perusahaan  dengan  cara  mengurangi  laba  operasi  setelah  pajak  dengan  beban  biaya modal  (cost  of  capital),  dimana  beban  biaya  modal  mencerminkan  tingkat  resiko perusahaan.  EVA  merupakan  indikator  adanya  penciptaan  nilai dari  suatu  investasi.  Kinerja  perusahaan  baik  jika  EVA  bernilai  positif.  Sebaliknya, kinerja  perusahaan  tidak  baik  akan  tampak    dengan  EVA  bernilai  negatif.  Seperti yang  diungkapkan  Singgih (2008),  Kondisi  EVA  yang  positif  mencerminkan tingkat  pengembalian  yang  lebih  tinggi  daripada  tingkat  biaya  modal.  EVA  yang positif  menunjukkan  kemampuan  manajemen  dalam  menciptakan  peningkatan  nilai kekayaan  perusahaan  /pemilik  modal,  dan  sebaliknya,  EVA  negatif  menyiratkan adanya penurunan nilai kekayaan.

Secara  teoritis  dikatakan  bahwa  EVA  berhubungan  secara  langsung  pada nilai pasar intrinsik perusahaan. Nilai EVA mempengaruhi nilai MVA. Seperti yang diungkapkan   JH  de  Wet  dan  JH  Hall (2004),  EVA  is  an  internal  measure  of  performance that  drives  MVA.  Ruky (1997) mengungkapkan,  EVA  secara  teoritis dan   empiris   terbukti   memiliki   korelasi   yang  erat   dengan   setiap   perubahan   dan penciptaan nilai MVA pada pasar modal (di AS dan beberapa negara lain yang telah diteliti oleh Stern Stewart). Jika nilai EVA diproyeksikan dan di discount ke dalam   present   value  maka  hasilnya  adalah   MVA,   karena   MVA   adalah  ukuran kumulatif kinerja perusahaan yang memperlihatkan penilaian pasar modal pada suatu waktu  tertentu  dari  nilai  EVA  di  masa  mendatang  atau  absolut  antara  nilai  pasar saham perusahaan dengan modal yang diinvestasikan. Jadi, total proyeksi EVA suatu perusahaan akan mengindikasikan nilai MVA.

MVA   merupakan   perbedaan   antara   nilai   modal   yang   ditanamkan   di perusahaan  sepanjang waktu  dari  investasi modal, pinjaman,  laba ditahan,  dan  uang yang  bisa diambil sekarang atau  sama dengan  selisih  antara  nilai  buku dengan  nilai pasar perusahaan. Seperti yang diungkapkan oleh Ruky (1997), “Selisih  antara  nilai  perusahaan  (nilai  pasar  kapital)  dengan  nilai  buku kapital disebut dengan Market Value Added (MVA). Karena dalam nilai perusahaan dan  milik  kapital  terdapat  komponen  hutang  yang  sama  maka  MVA  juga  adalah selisih antara nilai pasar ekuitas (market value of equity) atau total kapitalisasi saham di pasar modal dan nilai buku ekuitas”. MVA saat kini dianggap menjadi panduan terbaik untuk menilai manajemen perusahaan publik apakah bagus atau tidak karena MVA menjawab persoalan penting yang  dibutuhkan  investor  atau  kemampuan  manajemen  perusahaan  publik  untuk menambah  kekayaan  mereka.  Peningkatan  nilai  MVA  akan  terjadi  apabila  modal perusahaan  adalah  faktor  yang paling relevan  dalam  pembentukan  nilai  perusahaan.

Dengan  mengetahui  EVA  dan  MVA  yang  merupakan  pengukuran  kinerja perusahaan yang berfokus pada nilai perusahaan, dapat membantu manajemen untuk mengetahui   berapa-the   true   cost   of   capital   dari   bisnisnya   sehingga   tingkat pengembalian  bersih dari modal, hal  yang sesungguhnya  menjadi perhatian investor bisa  diperlihatkan   secara  jelas   dan   berapa   jumlah   sebenarnya  dari   modal   yang diinvestasikan    ke    dalam   bisnis.    Dengan   demikian   tujuan   manajemen   untuk memaksimumkan kemakmuran    pemegang saham    melalui    maksimisasi    nilai perusahaan yang dapat dicapai.

Konsep  EVA  dan  MVA  belum  banyak  diterapkan  di  Indonesia.  Konsep EVA  dan  MVA  merupakan  pendekatan  yang  relatif  baru  untuk  menilai  kinerja perusahaan. Tidak seperti ukuran kinerja perusahaan konvensional yang memerlukan analisis pembanding dengan perusahaan pada industri yang sejenis, sedangkan EVA dan  MVA  dapat  berdiri  sendiri. Metode  EVA  dan  MVA  yang  berhasil  diciptakan perusahaan  adalah  faktor  yang paling relevan  dalam  pembentukan  nilai  perusahaan.

Sumber:

Pradhono  dan  Yulius  Jogi Christiawan; Pengaruh Economic Value  Added, Residual Income, Earnings  Dan Arus Kas Operasi Terhadap Return Yang Diterima Oleh   Pemegang   Saham  (Studi   pada Perusahaan   manufaktur   yang terdaftar  di  Bursa  Efek  Jakarta);  Jurnal  Akuntansi  &  Keuangan  Vol.  6, No. 2, Nopember 2004

Young, David S. dan O’Byrne, F. Stephen, 2001, EVA dan Manajemen Berdasarkan Nilai: Panduan praktis untuk implementasi, Jakarta: Salemba Empat.

Singgih, M.L., 2008, Pengukuran Kinerja Perusahaan Dengan Metode Economic Value Added, Fakultas Teknologi Industri, ITS Surabaya

De  Wet,  J.H.  And  Hall,  J.H.,  The  relationship  between  EVA,  MVA  and  leverage, 2004, Department of Financial Management, University of Pretori

Ruky, S.M., 1997.  EVA   dan   Penciptaan   Nilai   Perusahaan, Usahawan   No.   09 September 1997.

EVA dan MVA

2 thoughts on “EVA dan MVA

  • November 13, 2013 at 9:10 pm
    Permalink

    Howdy! Someone in my Facebook group shared this site with us
    so I came to give it a look. I’m definitely enjoying the information.

    I’m bookmarking and will be tweeting this to my followers!

    Wonderful blog and fantastic style and design.

  • April 17, 2015 at 7:16 pm
    Permalink

    bu,saya mau tanya donk bu,,kalo judul buku yang isi nya itu pembahasan tentang economic value added dan market value added itu ada di buku apa ya bu.? mohon info nya ya bu.

Comments are closed.