IMPLEMENTASI ETIKA DALAM BISNIS

May 9th, 2012 by sriati

Etika adalah cabang filosofi yang menginvestigasi penilaian normatif tentang tingkah laku benar atau salah, mana yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Kebutuhan akan etika timbul dari keinginan untuk menghindari masalah-masalah dikehidupan nyata. Etika tidak membahas isu apa tentang kepercayaan yang seharusnya atau tidak seharusnya dianut, karena sudah menyangkut masalah keagamaan. Etika berhubungan dengan prinsip yang membimbing perilaku manusia. Etika adalah study tentang norma dan nilai-nilai tentang salah dan benar, baik dan buruk, apa yang seharusnya kita lakukan dan dihindari.

 

Etika dan Moral

Ensiklopedi Filosofi mendefinisikan etika dalam tiga cara:

  1. Suatu pola umum atau cara hidup.
  2. Suatu rangkaian peraturan tentang tingkah laku atau moral.
  3. Penyelidikan tentang cara hidup dan peraturan tingkah laku.

 

Menurut Ensiklopedi Filosofi, moralitas dan moral memiliki empat karakteristik yaitu:

  1. Keyakinan tentang sifat manusia.
  2. Keyakinan tentang apa yang bagus atau berguna untuk diri sendiri.
  3. Peraturan yang menentukan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan.
  4. Motif yang mendorong kita untuk memilih hal yang benar atau salah.

 

Setiap aspek di atas akan dieksplorasi menggunakan teori etika yang diaplikasikan dalam membuat keputusan etis dalam sebuah lingkungan bisnis yaitu utilitarianism, deontologi, keadilan dan kejujuran, dan virtue ethics.

Setiap teori memberikan penekanan yang berbeda pada empat karakteristik.

1. Utilitarianism

Menekankan pentingnya peraturan dalam melakukan apa yang baik, di mana deontologi menerangkan motivasi pembuat keputusan etis.

2. Virtue ethics

Cenderung menerangkan manusia dalam kebiasaan yang holistic.

 

Walaupun setiap teori menekankan aspek yang berbeda tentang moral, akan tetapi teori-teori tersebut memiliki beberapa persamaan, khususnya yang berfokus tentang apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan. Teori-teori tersebut bertujuan untuk membantu dalam membuat keputusan yang etis.

Semua orang mengetahui apa yang baik dan buruk. Dilema etika timbul ketika harus memilih antara dua alternatif. Dilema etika meningkat karena tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar. Namun, ada alasan yang memaksakan setiap alternatif bagi individu untuk memutuskan alternatif mana yang dipilih. Seorang pembuat keputusan yang etis seharusnya tidak memilih hanya karena pilihan tersbut sudah dipilih oleh banyak orang supaya konsisten. Namun, sebagai orang yang etis, seseorang dapat memiliki pendirian tentang masalah kehidupan manusia yang sulit dan penting dan dapat menerangkan serta menjustifikasi pendiriannya. Seseorang harus dapat mengatakan dengan jelas dan mempertahankan alasan mengapa ia memilih suatu tindakan atau keputusan menggunakan teori dan alasan etika.

Di dalam bisnis, ada banyak faktor yang mempengaruhi seorang pembuat keputusan dalam membuat keputusan yang benar. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi kendala organisasional dan karakter personal. Kendala organisasional meliputi sistem reward, budaya organisasi, dan sifat manajemen puncak dalam perusahaan tersebut. Orang akan melakukan pekerjaan sesuai dengan upah yang diiterimanya, jika sistem reward meningkatkan keraguan atau menurunkan semangat untuk melakukan diskusi etis tentang tindakan yang dianjurkan, maka karyawan tidak akan mempertimbangkan faktor etika dalam pembuatan keputusan. Nilai organisasi mempengaruhi perilaku karyawan dan manajer senior. Jika karyawan mengetahui bahwa perusahaan memilih atau mendukung konsumen yang melakukan tindakan tidak etis namun dewan direktur menunjukkan tingkah laku yang “bossy”, maka karyawan junior akan berpikir bahwa etika dan melakukan tindakan yang benar adalah tidak penting dalam bisnis.

Karakteristik personal mempengaruhi apa yang sebenarnya dianggap benar misalnya terkait dengan pemahaman bisnis yang menyesatkan, komitmen yang berlebihan terhadap perusahaan, dan ketidakdewasaan etika. Beberapa karyawan memiliki pemikiran yang keliru, yaitu tujuan bisnis adalah hanya mendapatkan laba.

 

Etika dan Bisnis

Terdapat tiga faktor yang dapat menjelaskan mengapa seseorang harus berlaku etis, yaitu agama, hubungan dengan orang lain, dan persepsi tentang diri sendiri.

  1. Faktor agama menyebutkan bagaimana seseorang seharusnya hidup berdasarkan prinsip agama.
  2. Faktor hubungan dengan orang lain menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat dengan orang lain. Secara alamiah, seseorang mengembangkan emosional yang kuat dengan orang lain, seseorang sering menunjukkan melului tindakan yang penuh kasih sayang dan pengorbanan. Melalui interaksi, seseorang menjadi simpatik terhadap emosi dan perasaan mereka.
  3. Faktor persepsi tentang diri sendiri menyebutkan bahwa seseorang berperilaku etis karena self-interest. Aspek fundamental sifat manusia adalah bahwa mereka adalah self-interest. Walaupun seseorang hidup dalam masyarakat, setiap orang hidup memiliki kehiduan sendiri yang unik. Contohnya, faktor yang mempengaruhi saya adalah penting bagi saya. Oleh karena it, ada perbedaan antara self-interest dan selfishness. Selfishness hanya fokus pada diri sendiri dan mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan orang lain. Sedangkan, self-interest adalah ketertarikan yang fokus pada diri sendiri bukan ketertarikan dalam diri sendiri. Self-interest tidak didefinisikan hanya ketertarikan yang fokus pada individu tetapi juga tentang semua hal yang berhubungan dengan individu tersebut, yaitu keluarga, temanm dan masyarakat di mana ia hidup. Self-interest mempunyai hubungan dekat dengan perilaku ekonomi.

 

Self-interest dan Ekonomi

Konsep self-interest menjelaskan social harmony dan kerjasama ekonomi. Thomas Hobbes (1588-1679) membuktikan bahwa self-interest memotivasi orang untuk memciptakan kedamaian dalam masyarakat. Dari perspektif ini, masyarakat dapat dianggap sebagai kontrak voluntary antarindividu dimana kebebasan individu ditukar dengan kedamaian dan self-preservation. Keinginan terhadap perlindungan personal menunjukkan bahwa setiap individu membatasi kebebasannya dengan sukarela untuk melindungi social harmony.

Menurut Smith, bisnis adalah aktivitas sosial dan masyarakat memiliki perilaku sesuai dengan prinsip etika dan pasar adalah suatu bentuk kompetisi. Perdagangan bergantung pada honoring contract dan kerjasama satu sama lain. Oleh karena itu, setiap orang harus bertindak sesuai dengan pedoman etika dalam berbisnis. Bisnis adalah self-interest. Self-interest mempunyai konsekuensi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial setiap orang. Bisnis bukan suatu bentuk ketamakan.

 

Etika, Bisnis dan Hukum

Etika, bisnis dan hukum saling berhubungan tetapi ada bagian-bagian yang saling tumpang tindih misalnya masalah aturan dan peraturan yang harus dipatuhi oleh perusahaan dimana hukum dibuat oleh pemerintah, badan-badan regulator, asosiasi profesional dan lainya. Ada juga tumpang tindih antara hukum dengan etika terkait dengan larangan membunuh, dan juga terdapat area lain yang saling bersinggungan antara aktivitas bisnis dengan norma-norma etika. Intinya adalah etika seharusnya menjadi panduan tingkah laku diatas hukum. Hukum biasanya adalah standar minimum tentang tingkah laku yang bisa diterima, akan tetapi terkadang seringkali terjadi konflik hukum diberbagai negara yang berlarut-larut, atau mungkin tidak berlaku disuatu tempat. Sehingga dalam kasus seperti itu, etika ditempatkan diatas hukum standar minimal.

Teori-teori Utama tentang Etika yang dapat membantu memecahkan masalah dilema etika

1. Teleology: Utilarism dan Consequentialism – Analisis Dampak

Mengevaluasi keputusan sebagai hal baik atau buruk, diterima dan tidak bisa diterima terkait dengan konsekuensi suatu keputusan

2. Etika Deotologi – Motivasi yang mendasari tingkah laku

Mengevaluasi keetisan perilaku berdasarkan motibvasi pembuat keputusan dan berdasarkan tindakan deontologi yang dapat dianggap benar secara etis meskipun keputusan tersebut berdampak buruk terhadap si pembuat keputusan maupun masyarakat pada umumnya

3. Keadilan dan Kelayakan – Penilaian Keseimbangan

Kebutuhan akan keadilan timbul karena dua hal yaitu ketika masyarakat dirugikan dan ketika terjadi kelangkaan sumber daya.

Referensi:

Brooks, L.J. and Paul Dunn. 2010. Business and Professional Ethics: for Directors, Executives and Accountants. South-Western Cengeage LEarning. USA

STRATEGI MENUJU INDONESIA 5 BESAR PEREKONOMIAN DUNIA

May 9th, 2012 by sriati

Strategi yang digunakan untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara dengan posisi ekonomi lima besar dunia adalah:

1. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan

Pendekatan komperehensif yang perlu dirioritaskan kedepan untuk menurunkan kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan infrastruktur pendukung dan memperkuat sektor pertanian. Perhatian khusus perlu diberikan pada

  • Perluasan fasilitas kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)
  • Pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses dan penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya
  • Peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan sosial
  • Perbaikan penyediaan proteksi sosial bagi kelompok termiskin di antara yang miskin.
  • Mengubah bentuk insentif institusional bagi birokrat ditingkat local dengan jalan memberikan pelayanan perijinan usaha secara gratis sehingga usaha kecil akan terdorong untuk mendaftarkan usahanya dan pemerintah daerahpun akan memperoleh peningkatan pajak
  • Menghapuskan berbagai pungutan bagi usaha kecil
  • Meghapuskan kredit bersubsidi pada bunga dan membiarkan penyediaan kredit berjalan dengan mekanisme pasar, sehingga terbiasa untuk berkompetisi
  • Mengalihkan subsidi dalam bentuk bantuan biaya operasional untuk institusi yang mempunyai kinerja yang baik
  • Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas
  • Mendorong pembiayaan oleh lembaga perbankan terhadap usaha kecil
  • Memacu penyediaan lapangan pekerjaan penuh dan produktif serta memperkuat imtegrasi social
  • Mencabut distorsi kebijakan terhadap produsen pertanian
  • Melonggarkan peraturan yang membatasi permintaan tenaga kerja
  • Mendorong investasi pada infrastruktur fisik

2. Pengembangan sumber daya manusian khususnya pendidikan dasar

Tantangan utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dibidang pendidikan adalah meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. Kebijakan dan program pemerintah untuk menjawab tantangan tersebut adalah:

  • Perluasan akses yang merata pada pendidikan dasar khususnya bagi masyarakat miskin
  • Peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan
  • Penguatan tatakelola dan akuntabilitas pelayanan pendidikan yaitu dengan menetapkan kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen dari jumlah anggaran nasional akan diteruskan untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal pada tahun 2015.

3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

Mengapa hal ini penting karena di bidang ketenagakerjaan, terlihat adanya peningkatan kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian. Di samping itu, proporsi kursi yang diduduki oleh perempuan di DPR   pada Pemilu terakhir juga mengalami peningkatan, menjadi 17,9 persen. Prioritas ke depan dalam mewujudkan kesetaraan gender meliputi:

  • Peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan
  • Perlindungan perempuan terhadap berbagai  tindak kekerasan
  • Peningkatan kapasitas kelembagaan dan pemberdayaan perempuan

4. Menghapus kesenjangan antar daerah

Langkah yang perlu dilakukan dalam menghapus kesenjangan antar daerah adalah menjadikan otonomi daerah dan desentralisasi tidak bersifat saling bertentangan dengan cara:

  • Mengelola ekpektasi daerah agar tidak hanya bersifat respons masa lalu
  • Mengelola kesiapan hubungan Pemda, DPRD dan masyarakat
  • Mengelola hubungan keuangan APBN dengan APBD dengan meminimalkan deficit anggaran
  • Mendefinisikan kebutuhan pengeluaran dengan kapasitas penerimaan
  • Melakukan pengelolaan keuangan, penggunaan sistem monitoring berdasarkan prisnsip transparansi dan akuntabilitas
  • Memberikan prioritas jasa layanan public, pendidikan dan kesehatan
  • Mengoptimalkan penanganan masalah social, pengungsi, fakir dan anak terlantar

5. Pemerataan akses informasi ekonomi

Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:

  • Mendorong pengorganisasian diri sehingga kelompok ekonomi kecil tersebut dapat bersama-sama melakukan upaya mencari informasi dengan cost yang rendah
  • Menyediakan media bagi kalangan usaha kecil untuk dapat menginformasikan kebutuhan mereka, sekaligus mampu memberikan informasi teknis tentang cara-cara meningkatkan produktivitas kelompok ekonomi kecil
  • Memberikan pelatihan atau pendidikan keterampilan gratisbagi UKM
  • Mengembangkan sumber daya manusia khususnya pendidikan dasar

6. Pengelolaan utang

Langkah-langkah yang dapat digunakan oleh penyelenggara negara dalam rangka mengurangi beban utang meliputi:

  • Melakukan kebijaksanaan merubah subsidi harag menjadi target subsidi
  • Meningkatkan efisiensi pajak dan mendukung kebijakan pajak kepada semua pihak
  • Pemerintah perlu menyusun strategi yang terkoordinasi dalam masalah penjualan aset negara dan program privatisasi
  • Mengelola recovery rate yang realistis
  • Menyusun prosedur penjualan aset yang jelas
  • Menentukan bahwa tujuan privatisasi dan penjulalan aset negara bukan hanya untuk mendapatkan revenue tetapi juga untuk mengurangi beban pemerintah, karena banyak BUMN yang lebih merupakan beban daripada aset karena korupsi dan pengelolaan yang buruk.
  • Pemberantasan korupsi secara menyeluruh
  • Menolak langkah pemerintah melakukan bail out terhadap kewajiban pihak swasta
  • Menolak keinginan politis untuk menguasai aset-aset negara yang bertentangan dengan perlunya penjualan aset-aset tertentu
  • Pemerintah harus jujur dan berani, transparan dalam memberikan keterangan tentang kerugian yang dialami dalam proses restrukturisasi utang

7. Menghapus kecurangan berusaha

Kecurangan dalam berbisnis dapat dilakukan dengan:

  • Perlu secara transparan dan jujur menyatakan terjadinya kecurangan-kecurangan dalam dunia usaha di Indonesia
  • Peningkatan kualitas SDM aparat penegak hukum di kalangan kepolisian dan kejaksaan
  • Peningkatan kualitas SDM aparat pengawas keuangan
  • Penegakan hukum yang seadil-adilnya dalam kasus kecurangan usaha
  1. Menjinakkan kenaikan harga barang pokok

Pemerintah hendaknya mampu mengambil keputusan yang bijak terkait dengan perekonomian sehingga tidak membebani rakyat miskin dengan kebijakan-kebijakan yang tidak popular.

8. Memastikan kelestarian lingkungan hidup

Tingkat emisi gas rumah kaca di Indonesia cukup tinggi, sehingga perlu upaya peningkatan luas hutan, pemberantasan pembalakan hutan, dan komitmen untuk melaksanakan kerangka kebijakan penurunan emisi karbon dioksida harus dilakukan dengan serius. Sehingga bukan menjadi alasan bagi negara lain untuk melakukan boikot produk-produk Indonesia hanya karena tidak ramah lingkungan.

 

9. Membangun kemitraan global untuk pembangunan

Untuk meningkatkan akses komunikasi dan informasi, sektor swasta telah membuat investasi besar ke dalam teknologi informasi dan komunikasi, dan akses pada telepon genggam, jaringan PSTN, dan komunikasi internet telah meningkat sangat pesat selama lima tahun terakhir.

 

REFERENSI

 Badan Pusat Statistik. 2010. Data Statistik Indonesia

Bappenas 2010. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia 2010. Jakarta

Basri, F. 2002. Perekonomian Indonesia: Tantangan dan Harapan Kebangkitan Indonesia. Penerbit Erlangga. Jakarta

Mulyadi, S. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Pembangunan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Vivanews. 2010. Chairul: Ekonomi RI Bisa Kalahkan Jepang 2030 Salah satu keunggulan Indonesia dibanding Jepang adalah faktor demografi yang lebih baik. http://www.kaskus.us/showthread.php?s=cdaf709ee3d3dfa613774ee56a685f10&p=321519255#post321519255. Diakses 29 Desember 2010

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA: POTENSI VS PENGHAMBAT

May 9th, 2012 by sriati

POTENSI-POTENSI YANG DIMILIKI OLEH INDONESIA

Indonesia bisa mengalahkan kekuatan ekonomi Jepang pada 2030 dan diyakini dapat  menjadi negara maju di urutan kelima dalam dua dekade lagi. Pada 2030 urutan kekuatan ekonomi terbesar di dunia adalah China, Amerika Serikat, Uni Eropa, India dan Indonesia. Indonesia diprediksikan bisa menggeser kekuatan ekonomi Jepang karena salah satu keunggulan Indonesia dibanding Jepang adalah faktor demografi yang lebih baik. Pada 2030, negara Matahari Terbit itu akan lebih banyak diisi oleh orang tua, sedangkan Indonesia justru didominasi oleh penduduk usia produktif. Komposisi yang lebih banyak orang tua makin maka negara akan lebih banyak membiayai seperti pensiun dan masalah kesehatan, sedangkan uang untuk pertumbuhan ekonomi lebih sedikit. Sedangkan, pada 2020, diperkirakan Indonesia akan menjadi negara maju di urutan ke-9. Berada di posisi kelima, Indonesia akan tampil mendampingi China, Amerika Serikat, India dan Brazil (Vivanews, 2010).

A. POTENSI SUMBER DAYA ALAM

Data potensi sumber daya alam yang tersedia di Indonesia menurut data BPS tahun 2010 terlampir termasuk di sumber alam laut, perkebunan, bahan tambang  dan lain-lain merupakan potensi yang luar biasa bagi Indonesia. Banyak yang mengatakan Indonesia adalah atlantis yang hilang.

B. POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA

Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2010 adalah  206.264.595 jiwa yang merupakan potensi besar bagi sumber daya manusia untuk mengolah kekayaan alam yang tersedia di Indonesia untuk membangun perekonomian Indonesia.

FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA

A. FAKTOR INTERNAL

1)      Stabilitas Politik dan keamanan

Carut marut pemilihan kepala daerah mulai dari tingkat walikota, bupati, gubernur sampai dengan pemilihan anggota legislative menyebabkan ketidakstabilann situasi keamanan dan politik. Investor akan mengalami kesusahan untuk berinvestasi jika birokrasi yang terjadi tidak efisien dan bahkan apabila pemerintah maupun DPR lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan diatas kepentingan rakyat. Pergantingan presiden yang berulang kali dengan aksi perpolitikan yang meresahkan masyarakat.

2)      Kemiskinan

Rendahnya upah buruh di Indonesia menjadi masalah sendiri. Berbagai survei tentang masalah tenaga kerja yang bias kita lihat dari televise dan kit abaca dari majalah disebutkan bahwa upah buruh yang ada di Indonesia paling murah, dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Upah yang sangat kecil ini jelas sekali sangat tidak mencukupi kebutuhan keluarga, di mana semua harga barang-barang yang ada selalu naik setiap tahunnya. Masalah upah ini jelas berbanding terbalik dengan pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehingga belum bisa berkonsentrasi terhadap pengembangan diri atau perbaikan pendidikan.

3)      Tingginya angka pengangguran

Sektor industri yang ada kurang/belum mampu menyerap tenaga kerja yang ada. Di samping itu banyak sekali perusahaan yang tutup. Serta harga-harga yang terus melambung tinggi hampir tiap tahun, yang biasanya seiring dengan naiknya harga-harga minyak dan gas (migas).

4)      Tingkat pendidikan yang rendah

Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja dilapangan-lapangan pekerjaan karena tidak mempunyai pengetahuan maupun keterampilan sesuai dengan yang diharapkan oleh pemberi kerja, dan tidak mampu mengolah sumber daya alam yang ada meskipun sumber daya alam di Indonesia melimpah ruah.

5)      Kesenjangan antar daerah

Realita yang menggambarkan jarak ekonomis dan sumber daya manusia antar daerah di Indonesia akibat pembangunan yang terjadi puluhan terakhir ini, sehingga banyak masalah yang timbul yaitu:

  • Tingkat KKN di daerah bertambah
  • Penyelenggaraan pelayanan pemerintah bertambah parah
  • Defisit anggaran yang membengkak
  • Ketidakstabilan politik dan ancaman disintegrasi

6)      Akses informasi ekonomi yang tidak merata

Hambatan terbesar yang dihadapi oleh pengusaha kecil adalah dalam mengakses informasi kredit formal, sehingga perlu kehadiran lembaga dan jaringan kredit informasi untuk meningkatkan akses UKM kepada kredit perbankan.

7)      Beban utang negara

Besarnya beban utang negara saat ini yaitu mencapai 50% dari anggaran, sehingga akan memberatkan anggaran negara. Pemerintah harusnya mampu melakukan negosiasi terkait dengan pengurangan beban utang misalnya dengan meminta waktu untuk melakukan restrukturisasi. Pemerintah dan DPR hendaknya bekerja sama termasuk dalam meningkatkan kapabilitasnya dalam pengambilan keputusan yang tepat sesuai dengan informasi yang tepat pula. Tidak jarang keputusan penjualan aset negara, restrukturisasi utang swasta atau penunjukkan posisi strategis didasarkan pada kepentingan politis semata

8)      Kecurangan berusaha

Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia tidak jarang disebabkan oleh kecurangan dalam berbisnis, misal pola meminta utang jauh melebihi kemampuan modal sendiri sehingga tingkat debt equity rationya sangat tinggi. Banyak terjadi pelanggaran batas maksimum pemberian kredit, tindakan hedging banyak dilakukan dan perjanjian utang terus dilakukan.

9)      Kenaikan harga barang pokok

Masyarakat selalu diresahkan dengan kenaikan harga barang pokok. Bahkan Indonesia sekarang menjadi negara pengimpor beras bukan pengekspor beras, maka lengkaplah sudah derita rakyat. Harga barang pokok tidak pernah cenderung tinggi tetapi malah cenderung meningkat terutama terkait dengan kondisi keamanan dan kestabilan di Indonesia.

10)  Korupsi dan kepastian hukum

Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah terkait dengan pemberantasan korupsi dan pelemahan terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. Banyak kasus yang tidak terselesaikan karena mengandung muatan politis dan mementingkan kepentingan golongan sehingga menimbulkan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat maupun investor.

 

B. FAKTOR EKTERNAL

1)      Globalisasi

Globalisasi mengarah pada meningkatnya arus pergerakan barang jasa dan modal melewati batas Negara. Globalisasi adalah  suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal  batas Negara. Globalisasi disamping keuntungannya juga membawa kerugian yaitu pengangguran, memperlemah standar lingkungan dan ketenagakerjaan, mencegah masing-masing negara mengadopsi kebijakan lingkungan dan sosial negara lain jika akan mendiskriminasi produk dan jasa yang dihasilkan oleh negara lain, merusak budaya nasional dan regional, keberagamam budaya, bahasa dan keagamaan, mengurangi monopoli dari pihak regulator

2)      Isu lingkungan hidup

Isu lingkungan hidup seringkali digunanakan oleh negara lain untuk memboikot produk-produk dari negara-negara tertentu sehingga akan menyulitkan bagi Indonesia untuk memasuki pasar global apabila tidak mengikuti aturan main yang telah disepakati

Referensi:

Badan Pusat Statistik. 2010. Data Statistik Indonesia

Bappenas 2010. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia 2010. Jakarta

Basri, F. 2002. Perekonomian Indonesia: Tantangan dan Harapan Kebangkitan Indonesia. Penerbit Erlangga. Jakarta

Mulyadi, S. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Pembangunan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Vivanews. 2010. Chairul: Ekonomi RI Bisa Kalahkan Jepang 2030 Salah satu keunggulan Indonesia dibanding Jepang adalah faktor demografi yang lebih baik. http://www.kaskus.us/showthread.php?s=cdaf709ee3d3dfa613774ee56a685f10&p=321519255#post321519255. Diakses 29 Desember 2010

GLOBALISASI DAN PERKEMBANGAN BISNIS

May 9th, 2012 by sriati

PROSES GLOBALISASI

Globalisasi mengarah pada meningkatnya arus pergerakan barang jasa dan modal melewati batas Negara. Globalisasi adalah  suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal  batas Negara. Perusahaan bisa masuk dan bersaing di pasar global dengan tiga cara, yaitu:

  1. Mengekspor produknya (membangun pasar global)
  2. Membangun pabrik atau memberikan pelayanan diluar negeri
  3. Membeli bahan baku, komponen, maupun persediaan lain dari Negara lain

Ketiga strategi globalisasi jika disimpulkan menjadi 3 kata yaitu: sell (menjual), make (membuat), dan buy (membeli). Namun demikian, banyak perusahaan yang sudah memiliki ketiga elemen bisnis global yaitu jalur pemasaran, operasi pabrik, dan rantai supply

Perusahaan Transnational

PBB memperkirakan sekitar 70.000 perusahaan transnational yang beroperasi di ekonomi pasar global. PBB sendiri mendefinisikan perusahaan transnational sebagai perusahaan yang memiliki kontrol atas aset diluar negeri. Perusahaan ini memiliki hampir 700.000 afiliasi, termasuk didalamnya para suplliers, subcontractors, retailers, dan badan usaha yang memiliki hubungan bisnis. Dari sekian banyak penjualan yang dilakukan perusahaan transnational, 14% hanya dikuasai oleh top 100 perusahaan transnational. Masalah utama yanng muncul terutama bagi perusahaan multinational apabila ingin  melakukan bisnis dinegara lain terutama yang memiliki kondisi politik, sosial dan sistem ekonomi yang fluktuatif tanpa mengalami kerugian?

Percepatan Globalisasi

Globalisasi telah berlangsung lebih dari ratusan tahun mulai dari abad ke-15. Berdasarkan data Bank dunia, sekitar ¼ barang dan jasa yang dihasilkan secara global dijual ke luar negeri daripada dijual di dalam negeri, dan persentasenya meningkat dua kali lipat di tahun 1960. Percepatan globalisasi ini dipicu oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Inovasi teknologi

Munculnya software-software baru, internet, fiber optics, wireless, teknologi satelit mempermudah dan mempercepat komunikasi dengan karyawab, rekanan, dan supplier secara mendunia dengan waktu yang tepat.

  • Sistem transportasi

Perkembangan dibidang transportasi mulai dari pengangkutan udara sampai dengan kereta cepat yang memungkinkan barang dan jasa semakin jasa dan dengan biaya murah

  • Meningkatnya perusahaan-perusahaan transnational

Meningkatnya perusahaan-perusahaan transnational besar dan canggih yang melakukan bisnis antar negara bila dibandingkan dengan perusahaan lokal maupun domestik.

  • Reformasi dibidang sosial dan politik

Perubahan kritis misalnya meningkatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara pasifik, runtuhnya negara-negara komunis di eropa timur telah membuka daerah baru untuk perdagangan dunia

 

Lembaga-lembaga keuangan internasional dan perdagangan

Lembaga international yang berperan adalah World Bank yang berperan sebagai penyedia dana moneter international dan World Trade Organization. Peran lembaga-lembaga ini meningkat dengan pesat untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dalam perekonomian global.

MANFAAT DAN KERUGIAN DARI ORGANISASI BISNIS YANG MENGLOBAL

Bebarapa manfaat dan kerugian yang bisa terjadi dengan adanya globalisasi disebutkan berikut.

Manfaat yang bisa diperoleh dengan adanya globalisasi:

  • Meningkatkan produktivitas ekonomi
  • Harga yang dibayar konsumen lebih murah
  • Negara memiliki akses ke lembaga-lembaga keuangan internasional untuk membantu pembangunan ekonomi
  • Transfer teknologi
  • Mengurangi konflik militer, memperluas demokrasi dan kebebasan

Sedangkan kerugian yang mungkin timbul dengan adanya globalisasi yaitu

  • Pengangguran
  • Memperlemah standar lingkungan dan ketenagakerjaan
  • Mencegah masing-masing negara mengadopsi kebijakan lingkungan dan sosial negara lain jika akan mendiskriminasi produk dan jasa yang dihasilkan oleh negara lain
  • Merusak budaya nasional dan regional, keberagamam budaya, bahasa dan keagamaan
  • Mengurangi monopoli dari pihak regulator

PERATURAN DALAM ORGANISASI BISNIS DALAM LINGKUNGAN GLOBAL

Beberapa aturan dunia telah dibuat untuk menghasilkan standar-standar bagi perusahaan yang akan melaksanakan bisnis lewat batas negara. Contohnya UN global compact, The OECD Guideliness bagi perusahaan-perusahaan multinational, dll

KERJASAMA DALAM ORGANISASI BISNIS

Kerjasama dengan pemerintah dan organisasi-organisasi kemasyarakatan diseluruh dunia bisa dijalin dalam rangka untuk mengatasi masalah-masalah khusus disuatu negara.

Sumber:

Lawrence, A.T and James Weber. 2008. Business and Society: Stakeholders, Ethics and Public Policy. McGraw Hill International. America

Indeks Harga Saham

December 27th, 2011 by sriati

Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks berfungsi sebagai indikator trend pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah pasar sedang aktif atau lesu.

Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui trend pergerakan harga saham saat ini; apakah sedang naik, stabil atau turun. Misal, jika di awal bulan nilai indeks 300 dan saat ini di akhir bulan menjadi 360, maka kita dapat mengatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 20%.

Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham. Karena harga-harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit, maka nilai indeks pun bergerak turun naik dalam hitungan waktu yang cepat pula.

Di Bursa Efek Indonesia terdapat 6 (enam) jenis indeks, antara lain:

  1. Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang tercatat di BEI.
  2. Indeks Harga Saham Sektoral, menggunakan semua saham yang termasuk dalam masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan, pertambangan, dan lain-lain. Di BEI indeks sektoral terbagi atas sembilan sektor yaitu: pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan jasa, dan manufaktur.
  3. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (Composite Stock Price Index), menggunakan semua saham yang tercatat sebagai komponen penghitungan indeks.
  4. Indeks LQ 45, yaitu indeks yang terdiri 45 saham pilihan dengan mengacu kepada 2 variabel yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang masuk kedalam LQ 45 tersebut.
  5. Indeks Syariah atau JII (Jakarta Islamic Index). JII merupakan indeks yang terdiri 30 saham mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau Indeks yang berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam Indeks ini dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam syariat Islam. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti:
  1. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
  2. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
  3. Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram.
  4. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
  5. Telah tercatat di BEJ minimal 3 bulan.
  6. Saham tersebut masuk dalam perhitungan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).
  7. Berdasarkan pertimbangan faktor fundamental perusahaan dan pola perdagangan di bursa, BEI dapat menetapkan untuk mengeluarkan saham tersebut dalam proses perhitungan indeks harga 100 saham.
  8. Masuk dalam 150 saham dengan nilai transaksi dan frekwensi transaksi serta kapitalisasi pasar terbesar di Pasar Reguler, selama 12 bulan terakhir.
  9. Dari sebanyak 150 saham tersebut, kemudian diperkecil jumlahnya menjadi 60 saham dengan mempertimbangkan nilai transaksi terbesar.
  10. Dari sebanyak 90 saham yang tersisa, kemudian dipilih sebnyak 40 saham dengan mempertimbangkan kinerja: hari transaksi dan frekwensi transaksi serta nilai kapitalisasi pasar di pasar reguler, dengan proses sebagai berikut:

6. Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan. Yaitu indeks harga saham yang secara khusus didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.

7. Indeks KOMPAS 100. merupakan Indeks Harga Saham hasil kerjasama Bursa Efek Indonesia dengan harian KOMPAS. Indeks ini meliputi 100 saham dengan proses penentuan sebagai berikut :

1)    Dari 90 sisanya, akan dipilih 75 saham berdasarkan hari transaksi di pasar reguler.

2)    Dari 75 saham tersebut akan dipilih 60 saham berdasarkan frekuensi transaksi di pasar reguler.

3)    Dari 60 saham tersebut akan dipilih 40 saham berdasarkan Kapitalisasi Pasar.

  1. Daftar 100 saham diperoleh dengan menambahkan daftar saham dari hasil perhitungan butir (e) ditambah dengan daftar saham hasil perhitungan butir.
  2. Daftar saham yang masuk dalam KOMPAS 100 akan diperbaharui sekali dalam 6 bulan, atau tepatnya pada bulan Februari dan pada bulan Agustus.

Referensi:

Bagaimana sistem perdagangan atau transaksi saham di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) dilakukan? http://databaseartikel.com/ekonomi/20114021-bursa-efek-indonesia.html

Ahmad Munadi, 2011. Mengenal Short Selling dari Sisi Syariah. http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/06/07/mengenal-short-selling-dari-sisi-syariah/

Scriptless Trading. 2010. http://pasarmodal.blog.gunadarma.ac.id/2010/05/12/scripless-trading-2/

www.idx.co.id

Segmen Pasar Bursa Efek

December 27th, 2011 by sriati

Segmen pasar di bursa efek ada tiga, yakni pasar reguler, pasar negosiasi, dan pasar tunai. Penjelasan masing-masing pasar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pasar reguler

Yakni segmen pasar di bursa efek yang pembentukan harganya dilakukan dengan cara tawar menawar secara lelang dan terus menerus (continue auction market) berdasarkan kekuatan pasar. Perdagangan efek atau transaksi di pasar reguler harus menggunakan satuan perdagangan (round lot) efek atau kelipatannya atau ada batas minimal saham yang diperdagangkan, yakni 500 efek atau saham.

2. Pasar negosiasi

Yakni segmen pasar di bursa efek yang pembentukan harganya dilakukan dengan cara negosiasi langsung (negotiated market) antara perusahaan pialang atau AB jual dan perusahaan pialang atau AB bell. Perdagangan saham di pasar ini tidak menggunakan satuan perdagangan (non-round lot).

3. Pasar tunai

Yakni segmen pasar di bursa efek yang pembentukan harganya sama dengan pasar reguler, demikian juga proses transaksinya menggunakan satuan perdagangan. Pasar tunai biasanya digunakan oleh perusahaan pialang yang tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam penyelesaian transaksi di pasar reguler dan negosiasi pada hari bursa yang ditetapkan. Pada pasar tunai digunakan sistem pembayaran uang dan penyerahan uang seketika (cash and carry). Bagi investor pemula, pada prinsipnya bisa bertransaksi di semua segmen pasar. Namun, disarankan bagi investor pemula untuk masuk ke pasar reguler.

Satuan Perdagangan

Perdagangan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai harus dalam satuan perdagangan (round lot) Efek atau kelipatannya, yaitu 500 (lima ratus) Efek. Perdagangan di Pasar Negosiasi tidak menggunakan satuan perdagangan (tidak round lot).

Satuan perubahan harga (fraksi)

Catatan
* Jenjang maksimum perubahan harga adalah 10x fraksi harga, masih berada di bawah batas auto rejection dan tidak berlaku pada pre-opening.

Fraksi dan jenjang maksimum perubahan harga di atas berlaku untuk satu Hari Bursa penuh dan disesuaikan pada Hari Bursa berikutnya jika Harga Penutupan berada pada rentang harga yang berbeda. Jenjang maksimum perubahan harga dapat dilakukan sepanjang tidak melampaui batasan persentase Auto Rejection.

Auto Rejection

Harga penawaran jual dan atau permintaan beli yang dimasukkan ke dalam JATS adalah harga penawaran yang masih berada di dalam rentang harga tertentu. Bila Anggota Bursa memasukkan harga diluar rentang harga tersebut maka secara otomatis akan ditolak oleh JATS (auto rejection).

Batasan auto rejction yang berlaku saat ini:

Kelompok Harga Batasan Auto Rejection
< Rp 100 50%
Rp 100 > s/d < Rp 500 35%
Rp 500 > s/d < Rp 2.500 30%
Rp 2.500 > s/d Rp 5.000 25%
> Rp 5.000 20%

Tawar menawar patokan harga Auto Rejection berpedoman pada:

  • Harga Previous untuk saham yang sudah diperdagangkan di Bursa;
  • Harga Pra-Pembukaan bila terbentuk harga pembukaan di Pra-Pembukaan.
  • Harga Teoritis untuk saham yang sudah diperdagangkan di Bursa yang  melakukan tindakan korporasi (Corporate Action);
  • Harga perdana untuk saham Emiten yang pertama kali diperdagangkan di Bursa;
  • Harga wajar yang ditetapkan oleh pihak independen untuk saham yang berasal dari Perusahaan Publik atau saham dari Bursa lain.
  • Auto rejection saham yang baru tercatat di bursa (hari pertama) adalah 2x parameter di atas.

Referensi:

Bagaimana sistem perdagangan atau transaksi saham di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) dilakukan? http://databaseartikel.com/ekonomi/20114021-bursa-efek-indonesia.html

Ahmad Munadi, 2011. Mengenal Short Selling dari Sisi Syariah. http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/06/07/mengenal-short-selling-dari-sisi-syariah/

Scriptless Trading. 2010. http://pasarmodal.blog.gunadarma.ac.id/2010/05/12/scripless-trading-2/

www.idx.co.id


Mengenal Pasar Saham

December 18th, 2011 by sriati

Penggunaan dari Ukuran Pasar

Ukuran pasar menginformasikan investor bagaimana kinerja saham secara umum pada waktu tertentu atau informasi tertentu akan reaksi pasar. Catatan historis dari ukuran pasar berguna untuk menaksir dimana pasar berada dalam siklus tertentu dan mungkin untuk menjelaskan apa yang akan terjadi.

Ukuran pasar berguna bagi investor dalam menilai dengan cepat performa portofolio keseluruhan mereka. Karena saham cenderung untuk bergerak keatas dan kebawah secara bersamaan, kenaikan atau penurunan dari pasar secara umum akan mengindikasikan bagi investor apa yang kemungkinan akan dilakukannya. Analis teknis harus mengetahui catatan historis dari pasar saat mereka mencari pola dari masa lalu yang mungkin berulang di masa depan.

P0 = P0/E1 x E1

dimana :

E1          = perkiraan pendapatan pada indeks S&P 500.

P0/E1 = Rasio harga-pendapatan atau pengganda.

Aliran Pendapatan

Memperkirakan pendapatan untuk tujuan menilai pasar tidaklah mudah. Bagian dari tingkat suku bunga adalah pendapatan per saham untuk sebuah indeks pasar, atau, secara umum, keuntungan perusahaan setelah pajak. Keuntungan perusahaan diturunkan dari penjualan perusahaan, yang pada akhirnya terkait dengan GDP.

Pengganda atau Rasio P/E

Pengganda yang akan diaplikasikan pada perkiraan pendapatan adalah sama pentingnya seperti perkiraan pendapatan dan seringnya lebih dari itu. Investor kadang secara ceroboh mengacuhkan pengganda dan mengkonsentrasikan hanya pada perkiraan pendapatan. Tetapi pertumbuhan pendapatan tidak selalu merupakan faktor pengacu dalam perubahan harga signifikan dalam pasar. Sebaliknya, tingkat suku bunga yang rendah dapat mengarah pada rasio P/E yang tinggi, yang pada akhirnya dapat mencakup mayoritas dari perubahan harga.

Fokus pada Variabel Penting

Dua  variabel ekonomi yang penting yaitu:

  1. Tingkat suku bunga
  2. Keuntungan perusahaan yang diharapkan.

Investor harus memperhatikan pendapatan dan tingkat suku bunga saat mereka mempertimbangkan pandangan akan saham. Investor harus memperhitungkan peran dari perubahan dalam tingkat suku bunga dalam mempengaruhi ekspektasi investor.

Analisis Teknik – Pendekatan Alternatif

Secara tradisional, saham telah dipilih menggunakan dua pendekatan:

  • § Analisis fundamental.
  • § Analisis teknis.

Analisis teknis bisa didefinisikan sebagai penggunakan dari data yang dihasilkan dari pasar spesifik untuk analisis dari baik harga saham agregat (indeks pasar atau rata-rata industri) dan saham individual. Analisis teknis kadang disebut analisis pasar atau internal, karena analisis itu menggunakan catatan dari pasar itu sendiri untuk mencoba mempertimbangkan permintaan, dan persediaan untuk, bagian dari saham atau keseluruhan pasar. Analisis teknis didasarkan pada data pasar yang dipublikasikan yang berlawanan dnegan data fundamental, seperti pendapatan, penjualan, tingkat pertumbuhan, atau regulasi pemerintahan. Data pasar utamanya mencakup harga dari saham atau sebauh indeks pasar dan data volume (jumlah dari saham yang diperdagangkan). Jika disimpulkan maka analisis teknis:

  1. Analisis teknis didasarkan pada data pasar yang dipublikasikan dan memfokuskan pada faktor internal dengan menganalisis pergerakan dalam pasar agregat, rata-rataan industri, atau saham. Sebaliknya, analisis fundamental memfokuskan pada faktor ekonomi dan politik, yang eksternal pada pasarnya itu sendiri.
  2. Fokus dari analisis teknis adalah mengidentifikasi perubahan dalam arah dari harga saham yang cenderung untuk bergerak dalam trend seiring harga saham menyesuaikan pada tingkatan ekuilibrium baru. Trend ini bisa dianalisis, dan perubahan dalam trend dideteksi, dengan mempelajari aksi dari pergerakan harga dan volume perdagangan sepanjang waktu. Penekanannya adalah pada kemungkinan perubahan harga.
  3. Teknisi mencoba untuk mempertimbangkan situasi keseluruhan mengenai saham dengan menganalisis indikator teknis, seperti data luas pasar, sentimen pasar, momentum dan indikator lainnya.

Harga Saham dan Teknik Volume

Teori Dow

Teori yang tertua dan yang terkenal dengan baik dari analisis teknis adalah teori Dow. Teori itu didasarkan pada keberadaan dari tiga tipe pergerakan harga:

  • Pergerakan primer, sebuah pergerakan pasar luas yang bertahan selama beberapa tahun.
  • Pergerakan sekunder (perantara), terjadi didalam pergerakan primer, yang mewakili interupsi yang bertahan beberapa minggu atau bulan.
  • Pergerakan hari ke hari, muncul secara acak disekitar pergerakan primer dan sekunder.

Teori Dow ditujukan untuk meramalkan permulaan dari pergerakan primer, tetapi teori itu tidak memberitahukan kita berapa lama pergerakan itu akan bertahan. Pertimbangan penting lainnya adalah bahwa konfirmasi yang diacu diatas tergantung pada tiap pengguna dari teori Dow. Teori Dow merupakan subjek bagi sejumlah kritisisme, dan investor terus hingga saat ini memperdebatkan kepantasannya.

Indikator Teknis

Indikator Keluasan

Garis Kemajuan- Penurunan (luas dari pasar)

Garis kemajuan-penurunan mengukur, pada basis harian kumulatif, perbedaan bersih antara jumlah saham yang naik dalam harga dan saham yang menurun dalam harga untuk sekelompok saham seperti yang berada pada NYSE (bursa saham New York).

Tinggi Rendahnya Harga Saham Baru

Bagian dari informasi yang dilaporkan untuk NYSE dan saham lainnya adalah harga tinggi dan rendah 52 minggu untuk tiap saham. Teknisi menganggap pasar sebagai bullish (sapi/naik) saat sejumlah signifikan dari saham tiap harinya menyentuh ketinggian 52 minggi.

Volume

Volume adalah sebuah bagian yang diterima dari analisis teknis. Volume perdagangan yang tinggi, dengan yang lainnya tetap, secara umum dianggap sebagai tanda bullish (kenaikan). Volume yang berat disertai dengan kenaikan harga adalah bahkan lebih bullish (naik).

Indikator Sentimen

Rasio Tingkat Suku Bunga Pendek à adalah tingkat suku bunga pendek untuk sebuah sekuritas adalah jumah dari saham yang telah dijual tetapi tidak dibeli kembali.

Rasio tingkat suku bunga pendek = saham total yang dijual / volume perdagangan harian rata-rata.

Likuiditas Dana Bersama

Beberapa indikator didasarkan pada teori dari investasi berlawanan. Likuiditas dana bersama bisa digunakan sebagai sebuah teknik pendapat berlawanan. Dalam skenario ini, dana bersama dipandang dalam sebuah cara yang serupa dengan odd-lotter (investor yang membeli saham atau sekuritas dalam kuantitas yang kecil dan tidak biasa): yaitu, mereka diasumsikan untuk bertindak tidak benar sebelum titik balik pasar.

Rasio put/call CBOE

Spekulator membeli call saat mereka mengharapkan harga saham untuk naik, dan mereka membeli put saat mereka mengharapkan harga untuk jatuh. Rasio put dan call berada jauh dibawah 1.0. Rasio put/call (rasio P/C) dikembangkan sebagai indikator sentimen antara jumlah dari pelepasan dengan penarikan pada Chicago Board Options Exchange.

Referensi:

Ross, Westerfield, Jaffe, and Jordan. 2008. Modern Financial Management, 8th Edition. McGraw-Hill

Jones, C. P. 2007. Investments: Analysis and Manahgement, 10th Edition, John Wiley and Sons

Memahami Struktur Modal

December 18th, 2011 by sriati

Komponen struktur modal dapat dilihat di sisi kanan laporan neraca perusahaan, dimana yang merupakan pembiayaan pembelanjaan permanen bagi perusahaan adalah hutang jangka panjang, saham preferen dan modal biasa. Berbagai teori struktur modal telah dikembangkan para pakar untuk menentukan struktur modal yang optimal dengan menganalisis komposisi dari hutang dan modal.

Tujuan manajemen struktur modal adalah memadukan sumber-sumber dana permanen yang digunakan perusahaan untuk operasionalnya yang akan memaksimumkan nilai perusahaan itu sendiri. Pencarian struktur modal yang optimal merupakan pekerjaan yang sangat sulit, karena adanya konflik yang mengarah kepada biaya agensi. Konflik lama terjadi antara pemegang saham dan pemegang obligasi dalam penetapan struktur modal optimal suatu perusahaan. Maka untuk mengurangi kemungkinan manajemen menanggung resiko berlebihan atas nama pemegang saham, perlu memasukkan beberapa batasan protektif.

PENGARUH UTANG TERHADAP RETURN DAN RISIKO

Utang yang lebih besar menimbulkan resiko yang lebih besar bagi pemberi hutang, sehingga biaya hutang menjadi lebih besar juga. Biaya utang yang besar tersebut merupakan monitoring cost bagi manajemen. Karena biaya bunga sifatnya tetap, biaya yang tinggi tersebut memuat para manager akan berusaha untuk menggunakan dana tersebut untuk investasi yang benar. Teori Asymmetric Information menerangkan bahwa di dalam pasar selalu ditemukan informasi yang tidak sama bagi pihak-pihak yang berbeda, sehingga dikatakan informasi yang didapat tidak sempurna. Penambahan

utang baru misalnya, memberikan informasi bahwa perusahaan dapat dipercaya oleh pihak peminjam, sedangkan penerbitan saham baru dapat dianggap bahwa perusahaan sedang dalam kesulitan dalam pandanaannya.

STATIC TRADE OFF

Teori struktur modal modern dikenal semenjak Modigliani dan Miller memperkenalkan

teori yang dikenal dengan teori MM. Asumsi yang digunakan dalam model ini adalah:

  1. Bunga pinjaman dan simpanan sama bagi perorangan maupun perusahaan.
  2. Tidak ada biaya kebangkrutan.
  3. Tidak ada biaya transaksi, karena diasumsikan pasar modal sempurna dan investor bertindak rasional.

Pada awalnya model ini didasarkan pada tidak adanya pajak perusahaan, kemudian dikembangkan pula pada kondisi adanya pajak perusahaan. Banyak sanggahan atau kritik yang ditujukan pada teori MM ini, sehingga muncullah pendekatan-pendekatan baru dengan pelonggaran asumsi terhadap model MM ini.

Beberapa teori berikutnya dikenal dengan teori Trade off Model, Brealey and Myer (1991). Struktur modal optimal dapat diperoleh dengan adanya keseimbangan antara keuntungan tax shield dengan financial distress dan agency cost, karena penggunaan leverage, atau terjadi trade-off antara benefit dengan biaya. Financial distress terjadi jika perusahaan mengalami kesulitan dalam melunasi kewajiban hutangnya sehingga perusahaan terancam kebangkrutan. Oleh karena itu financial distress perlu diperhitungkan karena mengurangi nilai perusahaan. Model ini juga menarik, karena adanya pendapat bahwa perusahaan yang tidak menggunakan leverage dengan perusahaan yang menggunakan leverage 100% (extrim) adalah buruk, sedangkan keputusan yang terbaik adalah diantaranya.

Seiring dengan perkembangan waktu, para ahli membuktikan bahwa trade off model bukanlah semata-mata teori struktur modal yang paling sempurna, karena dalam keputusan struktur modal perlu juga dipertimbangkan perilaku pembelanjaan perusahaan.

Agency Cost Theory

Agency theory menyatakan bahwa dalam menentukan struktur modal perlu pula dipertimbangkan biaya yang ditimbulkan dengan adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dengan pihak manajemen perusahaan. Berdasarkan teori ini struktur modal berpengaruh positif terhadap kemungkinan kebangkrutan, nilai lebih arus kas, nilai likuidasi, target take over, dan reputasi manager. Struktur modal berpengaruh yang lebih besar bagi pemberi hutang, sehingga biaya hutang menjadi lebih besar juga. Biaya hutang yang besar tersebut merupakan monitoring cost bagi manajemen. Karena biaya bunga sifatnya tetap, biaya yang tinggi tersebut memuat para manager akan berusaha untuk menggunakan dana tersebut untuk investasi yang benar.

Teori tersebut menegaskan bahwa struktur keuangan dipengaruhi oleh insentif dan perilaku dari pembuat keputusan (pihak manajemen). Jensen dan Meckling mengemukakan adanya dua potensi konflik, yaitu konflik antara pemegang saham dengan kreditur, dan konflik antara pemegang saham dengan pihak manajemen.

  1. Konflik antara Pemegang Saham dengan Kreditur Kreditur menerima uang dalam jumlah tetap dari perusahaan (bunga hutang), sedangkan pendapatan pemegang saham bergantung pada besaran laba perusahaan. Dalam situasi ini, kreditur lebih memperhatikan kemampuan perusahaan untuk membayar kembali hutangnya, dan pemegang saham lebih memperhatikan kemampuan perusahaan dalam meraih laba yang banyak. Cara perusahaan untuk memperoleh kembalian yang besar adalah melakukan investasi pada proyek-proyek yang berisiko. Apabila pelaksanaan proyek yang berisiko itu berhasil, kreditur tidak dapat menikmati keberhasilan tersebut, tetapi bila proyek mengalami kegagalan, kreditur mungkin akan menderita kerugian akibat dari ketidak-mampuan pemegang saham memenuhi kewajibannya. Untuk mengantisipasi kemungkinan rugi, kreditur mengenakan biaya keagenan hutang (debt agency cost), dalam bentuk pembatasan penggunaan hutang oleh manajer. Salah satu pembatasan adalah membatasi jumlah penggunaan hutang untuk investasi dalam proyek baru (seperti capital rationing).
  2. Konflik antara Pemegang Saham dengan Pihak Manajemen Pihak manajemen tidak selalu bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemegang saham, tetapi agak mengarah kepada kepentingan dirinya sendiri. Akibatnya, pemegang saham menanggung biaya keagenan ekuitas (equity agency cost) untuk memantau kegiatan pihak manajemen. Salah satu biaya keagenan adalah kompensasi bagi akuntan publik untuk mengaudit perusahaan.

TEORI PECKING ORDER

Perusahaan itu lebih cenderung menggunakan preferensi dana (pecking order) dalam keputusan investasinya dengan urutan prioritas yaitu  penambahan modal internal (laba ditahan), penambahan hutang dan terakhir penambhan modal dengan menerbitkan saham baru. Beberapa pengujian membuktikan bahwa harga saham berpengaruh positif terhadap penambahan hutang dan berpengaruh negatif terhadap penerbitan saham baru.

PENERBITAN SEKURITAS EKUITAS

  1. Initial Public Offering (IPO)

Adalah pasar penawaran perdana dimana harga saham tetap tidak dikenakan komisi, hanya untuk pembelian saham, pemesanan dilakukan melalui Agen Penjual dan jangka waktu terbatas

2. Secondary Public Offering (SPO)

Adalah pasar sekunder dimana harga berfluktuasi sesuai kekuatan pasar, dibebankan komisi untuk pembelian maupun penjualan, pemesanan dilakukan melalui Anggota Burs,  dan jangka waktu tidak terbatas

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

Salah satu sumber modal jangka panjang adalah obligasi merupakan salah satu sumber modal jangka panjang. Obligasi diterbitkan oleh perusahaan, disebarluaskan, ditawarkan kepada publik dan dibeli oleh beragam investor. Dengan membeli obligasi artinya antara perusahaan dan investor yang membeli obligasi terdapat perjanjian bahwa perusahaan akan melakukan pembayaran atas pokok pinjaman beserta bunganya (bisa berbentuk fixed rate atau floated rate), pada tanggal tertentu kepada pemegang obligasi. Perjanjian inilah yang disebut indenture, yang didalamnya memuat hak dan kewajiban baik pemegang saham atau perusahaan. Tebal indenture bisa beratus halaman, memuat berbagai hal seperti mengatur kemungkinan pelunasan obligasi sebelum jatuh tempo, tingkat rasio kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dalam tiap tahunnya (Times Interest Earned/TIE ratio) yang harus dipertahankan jika perusahaan menjual obligasi tambahan, dan pembatasan pembayaran deviden jika laba tidak mencapai jumlah tertentu.

  1. Sinking Fund

Pasar Modal kita umumnya menawarkan obligasi dengan tingkat bunga tertentu yang nilainya sedikit lebih besar dari tingkat bunga yang ditetapkan Bank Indonesia atau yang berlaku umum tergantung perjanjian perwaliamanatan. Adanya kecenderungan gagal bayar pada saat jatuh tempo oleh Emiten penerbit obligasi kepada Pemegang Obligasi, umumnya terjadi karena belum adanya ketentuan yang mewajibkan pembentukan dana cadangan dalam rangka memenuhi kewajiban pokok pinjaman dan pembayaran bunga yang dikelola tersendiri dalam akun khusus pada sisi aktiva. Pembentukan dana cadangan dalam upaya menanggulangi kesulitan likuiditas Perusahaan saat jatuh tempo obligasi kita kenal sebagai sinking fund. Pencadangan dana tersebut dapat digunakan pada saat pelunasan pokok pinjaman dan bunga pada saat jatuh tempo obligasi maupun pada saat penarikan kembali obligasi yang beredar dengan cara membeli kembali obligasi yang beredar di Bursa. Sinking fund umumnya diawasi pengelolaannya oleh Wali Amanat.

2. Call Provision

Salah satu hal yang termuat dalam perjanjian obligasi tersebut adalah ada tidaknya ketentuan penarikan (call provision/call feature), yaitu hak perusahaan sebagai penerbit untuk menebus obligasinya sebelum waktu jatuh temponya. Ketentuan penarikan tersebut biasanya menetapkan bahwa penerbit harus membayar kepada investor/pemegang obligasi suatu jumlah yang lebi besar dari pada nilai pari (nominal) obligasi jika obligasi tersebut ditarik. Jumlah tambahan tersebut disebut sebagai premi penarikan/call premium.

3.  Bond Refunding

Jika manajemen memprediksi bahwa tingkat suku bunga di pasar modal (market rate) obligasi sejenis di masa mendatang akan turun, maka perusahaan akan mempertimbangkan untuk membeli kembali obligasi (buy back) yang tingkat bunganya tinggi, dan menerbitkan obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Dalam hal ini disebut bahwa obligasi didanai ulang (refunded). Jadi, kapan perusahaan perlu melakukan pendanaan ulang obligasinya tergantung dari ekspektasi tingkat suku bunga di masa mendatang.

Keputusan pendanaan ulang menyangkut dua pertanyaan yang berbeda, yaitu (1) apakah menguntungkan untuk menarik obligasi yang sedang beredar pada periode berjalan dan menggantinya dengan obligasi baru? dan (2) jika bond refunding saat ini menguntungkan, apakah tidak lebih baik/menguntungkan lagi jika pendanaan ulang ditangguhkan dulu untuk sementara? Pada prinsipnya perusahaan menganalisis sama halnya pada saat mengkaji tentang penganggaran barang modal (capital budgeting). Dengan melakukan bond refunding artinya terdapat arus kas keluar. Biaya atas pendanaan ulang (sama halnya dengan pengeluaran investasi, karena perusahaan mengeluarkan dana untuk membeli kembali obligasi) terdiri atas:

  1. Premi penarikan (call premium) yang dibayarkan pada pemegang obligasi yang ditarik
  2. Biaya penjualan obligasi baru
  3. Bunga (coupon rate) yang harus dibayar ketika kedua obligasi sedang sama-sama beredar (disebut sebagai overlap interest). Ada kalanya obligasi baru dijual lebih dahulu sebelum dilakukan penarikan obligasi lama, ini untuk memastikan ada/tersedia dana bagi membayar pokok pinjaman dari obligasi lama

Referensi:

Ross, Westerfield, Jaffe, and Jordan. 2008. Modern Financial Management, 8th Edition. McGraw-Hill

The Capital Asset Pricing Model (CAPM)

December 18th, 2011 by sriati

TEORI PASAR MODAL DAN MODEL PENETAPAN HARGA AKTIVA MODAL

  • Investor bergantung pada dua faktor dalam pembuatan keputusannya pengembalian dan varians,
  • Investor berpikiran rasional, cenderung menghindari risiko dan memilih metode diversifikasi portofolio,
  • Investor melakukan investasi pada periode yang sama,
  • Investor memiliki pengharapan yang sama terhadap aktiva,
  • Ada investasi bebas risiko dan investor dapat meminjam dan memberikan pinjaman pada tingkat suku bungan bebas risiko, dan
  • Pasar modal memiliki persaingan sempurna dan tidak ada biaya transaksi maupun pungutan lain (frictionless).

Asumsi Teori Pasar Modal

Teori pasar modal melibatkan satu set dari prediksi yang terkait dengan ekuilibrium laba yang diharapkan pada aset beresiko. Teori itu secara khas diturunkan dengan membuat beberapa asumsi penyederhanaan untuk memfasilitasi analisis dan membantu kita untuk memahami argumen tanpa merubah secara mendasar prediksi dari teori penetapan harga aset. Teori pasar modal dibangun berdasarkan teori portofolio Markowitz. Tiap investor diasumsikan untuk mendiversifikasi portofolionya menurut model Markowitz, memilih sebuah lokasi pada batasan yang efisien yang cocok dengan referensi laba-resikonya.

Pengenalan dari Aset Bebas Resiko

Asumsi pertama dari teori pasar modal yang disebutkan sebelumnya adalahbahwa investor bisa meminjam dan meminjamkan pada tingkat bebas resiko. Meskipun pengenalan dari aset bebas resiko tampak menjadi sebuah langkah sederhana untuk diambil dalam evolusi dari portofolio dan teori pasar modal, langkah itu adalah sebuah langkah yang sangat signifikan. Kenyataannya, adalah pengenalan dari aset bebas resiko yang memungkinkan kita untuk mengembangkan teori pasar modal dari teori portofolio.

Dengan pengenalan dari aset bebas resiko, investor sekarang bisa menghitung sbegain dari kekayaan mereka dalam aset ini dan sisanya dalam portofolio beresiko apapun dalam set efisien Markowitz. Hal ini memungkinkan teori portofolio markowitz untuk diperluas dalam cara yang sedemikian rupa sehingga batasan yang efisien sepenuhnya berubah, yang pada akhirnya mengarah pada sebuah teori umum untuk penetapan harga aset dalam ketidakpastian.

Menentukan Aset Bebas Resiko

Aset bebas resiko bisa didefinisikan sebagai aset dengan perkiraan laba yang akan didapatkan tertentu dan varian laba sebesar nol. (perhatikan, bahwa hal ini adalah sebuah laba nominal dan bukan laba riil, yang tidak pasti karena inflasi tidaklah pasti). Karena varian = 0, maka tingkat bebas resiko nominal dalam tiap periode akan sebanding dengan nilai yang diharapkannya. Selain itu, kovarian antara aset bebas resiko dan aset beresiko apapun i akan menjadi nol. Aset bebas resilo yang nyata secara terbaik dianggap sebagai sebuah Treasury Security, yang tidak memiliki resiko default, dengan maturitas yang sesuai dengan periode penahanan dari investor.

Ekuilibrium Trade- Off (pilihan) Laba- Resiko

Dengan analisis sebelumnya, kita sekarang bisa menurunkan beberapa prediksi mengenai ekuilibrium laba dan resiko yang diharapkan. CAPM adalah sebuah model ekuilibrium yang mencakup dua hubungan yang penting.

  • Garis pasar modal menentukan hubungan ekuilibrium antara laba yang diharapkan dan resiko bagi portofolio efisien.
  • Garis pasar sekuritas menentukan hubungan ekuilibrium antara laba yang diharapkan dan resiko sistematis. Hal itu berlaku bagi sekuritas individual dan juga portofolio.

Menentukan Garis Pasar Modal

Garis lurus ini, biasanya mengacu pada capital market line (CML), menggambarkan kondisi ekuilibrium yang berlaku dalam pasar untuk portofolio efisien yang mengandung portofolio optimal dari aset beresiko dan aset bebas resiko. Semua kombinasi dari aset bebas resiko dan portofolio beresiko M berada pada CML., dan, dalam ekuilibrium, semua investor akan berakhir dengan portofolio pada satu tempat pada CML berdasarkan pada toleransi resiko mereka.

Poin Penting Mengenai CML

Poin berikut harus dicatat mengenai CML:

  1. Hanya portofolio yang efisien yang menganding aset bebas resiko dan portofolio M yang berada pada CML. Portofolio M, portofolio pasar dari sekuritas yang beresiko, mengandung semua sekuritas dibobotkan oleh nilai pasar mereka masing-masing – hal itu adalah kombinasi optimum dari sekuritas beresiko, dan dengan definisi, sebuah portofolio efisien. Aset bebas resiko tidak memiliki resiko.
  2. Sebagai pernyataan dari ekuilibrium, CML harus selalu miring kearah atas karena harga dari resiko harus selalu positif. CML diformulasi dalam dunia dari laba yang diharapkan, dan investor penghindar resiko tidak akan berinvestasi kecuali mereka berharap untuk dikompensasi atas resiko itu. Semakin besar resiko, maka semakin besar laba yang diharapkan.
  3. Pada basis historis, bagi beberapa periode waktu tertentu seperti satu atau dua tahun, atau empat kuartal berurutan, CML bisa menjadi slope yang berarah kebawah; yaitu, laba pada RF melebihi laba pada portofolio pasar. Hal ini tidak mengurangi validitas dari CML; hal itu hanya mengindikasikan bahwa laba sebenarnya direalisasikan berbeda dari laba yang diharapkan. Jelasnya, ekspektasi investor tidak selalu direalisasikan.
  4. CML bisa digunakan untuk menentukan laba optimal yang diharapkan yang berasosiasi dengan tingkatan resiko portofolio yang berbeda. Dengan demikian, CML mengindikasikan laba yang dibutuhkan untuk tiap tingkatan resiko portofolio.

Garis Pasar Sekuritas

Garis pasar modal menggambarkan trade-off resik laba dalam pasar finansial dalam ekuilibrium. Namun, hal itu hanya berlaku bagi portofolio efisien dan tidak bisa digunakan untuk mempertimbangkan ekuilibrium laba yang diharapkan untuk satu negara. Dalam CAPM semua investor akan memegang portofolio pasar, yang merupakan portofolio pembanding terhadap portofolio lainnya yang diukur. Investor akan mengharapkan premium resiko untuk membeli sebuah aset beresiko seperti saham. Semakin besar resiko dari saham itu, maka seharusnya semakin tinggi premium resiko. Jika investor memegang portofolio yang didiversifikasi dengan baik, mereka harus tertarik dalam resiko portofolio daripada resiko sekuritas individual. Saham yang berbeda akan mempengaruhi sebuah portofolio yang didiversifikasi dengan baik secara berbeda. Resiko relevan bagi sebuah saham individual adalah kontribusinya pada resiko dari sebuah portofolio yang didiversifikasi dengan baik.

BETA

Beta menghubungkan kovarian dari sebuah aset dengan portofolio pasar dengan varian dari portofolio pasar, dan didefinisikasi sebagai Laba yang diharapkan CAPM – hubungan BETA. Garis pasar sekuritas (SML) adalah sebuah spesifikasi CAPM akan bagaimana resiko dan tingkat laba yang dibutuhkan untuk aset, sekuritas atau portofolio apapun adalah terkait. Teori ini mengajukan sebuah hubungan linier antara resiko aset dan tingkat laba yang dibutuhkannya.

Capital  Asset Pricing Model (CAPM)

  1. Investor bergantung pada dua faktor dalam pembuatan keputusannya pengembalian dan varians,
  2. Investor berpikiran rasional, cenderung menghindari risiko dan memilih metode diversifikasi portofolio,
  3. Investor melakukan investasi pada periode yang sama,
  4. Investor memiliki pengharapan yang sama terhadap aktiva,
  5. Ada investasi bebas risiko dan investor dapat meminjam dan memberikan pinjaman pada tingkat suku bungan bebas risiko, dan
  6. Pasar modal memiliki persaingan sempurna dan tidak ada biaya transaksi maupun pungutan lain (frictionless).

Hasil umum dari pengujian empiris CAPM adalah sebagai berikut:

  • Hubungan antara beta dan pengembalian bersifat linier
  • Perkiraan persimpangan, b0, jauh berbeda dari nol, berarti berbeda dari hipotesa nilai ini
  • Perkiraan koofisien beta, b1, lebih kecil dari premi risiko.
  • Beta bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang memperoleh penetapan harga dari pasar.
  • Dalam jangka panjang (biasanya 20 hingga 30 tahun), pengembalian portofolio pasar lebih besar daripada pengembalian aktiva bebas risiko.

Beta Saham dan Beta Portfolio

Dapat dilihat bahwa tidak berisikonya suatu portfolio tidak memiliki hubungan sederhana dengan risiko asset dalam portfolio tersebut. namun, portfolio beta dapat dihitung seperti juga taksirasn pengembalian portfolio. Beta merupakan pengukur risiko yang relevan daned terdapat hubungan linier dan positif antara tingkat keuntungan yang diharapkan dengan beta

Secara umum, jika kita memiliki beberapa asset dalam portfolio, kita akan mengalikan beta setiap asset dengan bobotnya dalan portfolio, lalu menjumlahkan hasilnya untuk memperoleh beta portfolio.

Risiko sistematis dan Nonsistematis

Bagian yang tidak diantisipasi dari return adalah kenyataan risiko dari setiap investasi. Setelah itu, jika kita mendapat apa yang diekspektasikan, tidak ada risiko dan tidak ada ketidakjelasan. Terdapat perbedaan penting, antara berbagai macam sumber risiko. Akan dibagi ke dalam 2 tipe yaitu systematic portion yang disebut systematic risk dan specific atau unsystematic risk.

Systematic risk adalah risiko yang mempengaruhi sejumlah besar asset. Keragaman total return sekuritas secara langsung bergabung dengan keseluruhan pergerakan pada pasar umum dan pasar ekonomi yang disebut systematic risk atau risiko pasar (market risk) atau nondifersiable risk. Pada dasarnya, semua sekuritas memiliki beberapa systematic risk baik obligasi ataupun saham karena systematic risk langsung mencakup interest rate risk., recession, inflasi dan lain-lain. Kebanyakan saham memiliki negative impact oleh beberapa factor, sehingga diversifikasi tidak dapat mengeliminasi risiko pasar (market risk).

Dan unsiystematic risk adalah risiko yang mempengaruhi hanya satu asset atau sebagian kecil asset. Risiko portofolio pada umumnya menurunkan banyak saham karena eliminasi nonsystematic risiko. Risiko ini unik, berhubungan dengan particular company.  Bagaimanapun, jumlah reduksi risiko bergantung pada derajat korelasi saham-saham. Setidaknya saham domestic dan khususnya banyak saham domestic positif meskipun kurang dari1. Penambahan lebih banyak lagi saham akan mengurangi risiko tetapi tidak peduli berapa banyak bagian saham yang terkorelasi ditambahkan ke dalam portofolio, tidak dapat mengeliminasi semua risiko.

Investor dapat menciptakan diversifikasi portofolio dan mengeliminasi bagian dari total risiko, diversifiable atau nonmarket. Seiring dengan bertambahnya sekuritas, nonsystematic risk menjadi kecil dan semakin kecil dan total risiko untuk portofolio risk dapat dikurangi tidak lebih kecil dari total risiko dari pasar portofolio.

Factor Tunggal dan Banyak Faktor

Factor tunggal  memberikan alternative bagi variance portofolio , yang lebih mudah untuk menghitung. Alternative ini dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah portofolio. faltor tunggal adalah model yang berkaitan dengan return pada setiap sekuritas atas return pada indeks pasar. Factor tunggal membagi dua return sekuritas ke dalam komponen yaitu unik part dan market related part.

Unik part sebagai mikro event, mempengaruhi perusahaan secara khusus tetapi tidak secara umum. Di lain sisi, market related part adalah macro event, yang mempengaruhi keseluruhan perusahaan. Sebagai contoh: BI mengumumkan discount rate, perubahan pada prime rate atau mengenai supply money. Jadi factor tunggal diasumsikan bahwa harga saham hanya karena perubahan umum denganssatu index khususnya pasar. Beberapa peneliti mencoba untuk mengambil beberapa pengaruh nonmarket dengan menciptakan banyak factor.

Terlihat logis bahwa banyak factor harus mencerminkan sesuatu yang lebih baik dari satu factor karena menggunakan lebih banyak informasi mengenai interrelationship anatar return saham. Pengaruhnya, banyak factor menjadi turun antara metode varian-covarian dan satu factor. Banyak factor telah dicoba, sebenarnya menghasilkan historical korelasi yang lebih baik dari pada satu factor. Meskipun hal ini tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena portofolio dibuat untuk periode masa mendatang.

Referensi:

Ross, Westerfield, Jaffe, and Jordan. 2008. Modern Financial Management, 8th Edition. McGraw-Hill

Jones, C. P. 2007. Investments: Analysis and Manahgement, 10th Edition, John Wiley and Sons

Manajemen Risiko – Part I

December 15th, 2011 by sriati

Risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:

  1. Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).

Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.

  1. Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).

Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.

  1. Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).

Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.

  1. Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan).

Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

  1. Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan). Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilita dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilita dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan.

Dari berbagai definisi diatas, risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian.

Risiko dapat terjadi pada pelayanan, kinerja, dan reputasi dari institusi yang bersangkutan. Risiko yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kejadian alam, operasional, manusia, politik, teknologi, pegawai, keuangan, hukum, dan manajemen dari organisasi.

Suatu risiko yang terjadi dapat berasal dari risiko lainnya, dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Risiko rendahnya kinerja suatu instansi berasal dari risiko rendahnya mutu pelayanan kepada publik. Risiko terakhir disebabkan oleh faktor-faktor sumber daya manusia yang dimiliki organisasi dan operasional seperti keterbatan fasilitas kantor. Risiko yang terjadi akan berdampak pada tidak tercapainya misi dan tujuan dari instansi tersebut, dan timbulnya ketidakpercayaan dari publik.

Risiko diyakini tidak dapat dihindari. Berkenaan dengan sektor publik yang menuntut transparansi dan peningkatan kinerja dengan dana yang terbatas, risiko yang dihadapi instansi Pemerintah akan semakin bertambah dan meningkat. Oleh karenanya, pemahaman terhadap risiko menjadi keniscayaan untuk dapat menentukan prioritas strategi dan program dalam pencapaian tujuan organisasi.

Risiko dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan melalui manajemen risiko. Peran dari manajemen risiko diharapkan dapat mengantisipasi lingkungan cepat berubah, mengembangkan corporate governance, mengoptimalkan penyusunan strategic management, mengamankan sumber daya dan asset yang dimiliki organisasi, dan mengurangi reactive decision making dari manajemen puncak.

Menurut COSO, risk management (manajemen resiko) dapat diartikan sebagai ‘a process, effected by an entity’s board of directors, management and other personnel, applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that may affect the entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide reasonable assurance regarding the achievement of entity objectives.’ [4] Definisi risk management di atas dapat dijabarkan lebih lanjut berdasarkan kata-kata kunci sebagai berikut:

- On going process

Risk management dilaksanakan secara terus menerus dan dimonitor secara berkala. Risk management bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sesekali (one time event).

- Effected by people

Risk management ditentukan oleh pihak-pihak yang berada di lingkungan organisasi. Untuk lingkungan institusi Pemerintah, risk management dirumuskan oleh pimpinan dan pegawai institusi/departemen yang bersangkutan.

- Applied in strategy setting

Risk management telah disusun sejak dari perumusan strategi organisasi oleh manajemen puncak organisasi. Dengan penggunaan risk management, strategi yang disiapkan disesuaikan dengan risiko yang dihadapi oleh masing-masing bagian/unit dari organisasi.

- Applied across the enterprise

Strategi yang telah dipilih berdasarkan risk management diaplikasikan dalam kegiatan operasional, dan mencakup seluruh bagian/unit pada organisasi. Mengingat risiko masing-masing bagian berbeda, maka penerapan risk management berdasarkan penentuan risiko oleh masing-masing bagian.

- Designed to identify potential events

Risk management dirancang untuk mengidentifikasi kejadian atau keadaan yang secara potensial menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan organisasi.

- Provide reasonable assurance

Risiko yang dikelola dengan tepat dan wajar akan menyediakan jaminan bahwa kegiatan dan pelayanan oleh organisasi dapat berlangsung secara optimal.

- Geared to achieve objectives

Risk management diharapkan dapat menjadi pedoman bagi organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Referensi:

Chance, D.M. 2004. An Introduction to Derivatives and Risk Management. Sixth Edition. Thomson South-Western.USA.

Junarsin, J.E. 2011. Manajemen Risiko dan Nilai Perusahaan.

http://cwma.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=66