Inspirasi Bob dan Saya Tak Bisa Menatap Matamu

Judul tulisan ini memang terkesan agak panjang. Terus terang saja, ada beberapa pilihan sebelum saya memutuskan judul mana yang akan saya gunakan sebagai penanda tulisan ini. ”Inspirasi Bob” dan ”Saya Tak Bisa Menatap Matamu”, sama-sama memiliki kesan yang kuat untuk menandai pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Dalam kebingungan, terbersit pemikiran mengapa tidak menggunakan cara yang simpel yaitu Continue reading “Inspirasi Bob dan Saya Tak Bisa Menatap Matamu”

Say What You Want

”There can be miracle when you believe..”, syair nada dering telpon genggam saya yang dinyanyikan oleh Mariah Carey melalui suara emasnya telah mengagetkan istirahat saya. Sengaja memang, saya menggunakan lagunya Carey persis di kalimat tersebut saat saya menerima telepon. Syair ini sangat menginspirasi. Tidak saya sangka, saya ditelepon oleh teman yang sudah lama tidak berkomunisasi. Setelah menjawab salam, saya bertanya :”Tumben telepon, ada angin apa ini?”. Tanpa ada pendahuluan, langsung saja dia Continue reading “Say What You Want”

Membangun Komunikasi yang Lebih Konstruktif

Konon ada orang yang “iseng” meneliti jumlah jenis kata dalam kamus Bahasa Inggris. Jumlah kata-kata dalam Bahasa Inggris diperkirakan sekitar 750.000 kata. Dari jumlah tersebut, peneliti ingin mengetahui jumlah kata yang berkaitan dengan emosi negatif dan positif. Saya agak tercengang setelah mengatahui bahwa dari dua kelompok emosi tersebut jumlah yang berkenaan dengan emosi negatif  dan kesedihan lebih banyak daripada tentang yang positif dan kegembiraan. Kalau ada waktu bisa juga kita meniliti kamus bahasa Indonesia. Saya belum menemukan buku atau laporan penelitian tentang jumlah kata dalam kamus Bahasa Indonesia berkaitan dengan emosi manusia ini. Saya hanya menduga, komposisinya bisa jadi sama. Rupanya, manusia lebih tertarik bicara hal negatif daripada positif. Manusia juga lebih mudah menyoroti hal yang menyedihkan daripada yang menggembirakan, dan manusia juga tak terasa ternyata lebih mudah mengeluh daripada bersyukur.

Continue reading “Membangun Komunikasi yang Lebih Konstruktif”