Apa yang Salah dengan Makan Batu dan Pakai Helm?

”Memakan apa yang membuat gigi rusak?”. Pertanyaan ini tidak bermaksud menguji kecerdasan Anda, tetapi sebagai awal dari cerita ringan yang ingin saya bagikan. Setelah membaca pembuka tulisan ini, Anda mungkin sudah bisa menebak apa maksud judul di atas.  Untuk lengkapnya baca dulu sampai selesai. Tiga hari yang lalu, saya kedatangan tamu saudara saya. Dia bercerita kalau baru saja marah-marah ke anaknya yang masih kelas 2 SD. Arif, nama anak tersebut, hasil latihan kelasnya salah dua dari sepuluh soal yang ada. Sang Ibu marah karena Arif salah menjawab untuk pertanyaan yang sangat mudah. Sambil marah-marah dia mengomentari jawaban anaknya:”Gini saja kok salah sih Rif”. ”Ya gak tahu…”, jawab sang anak santai.
Continue reading “Apa yang Salah dengan Makan Batu dan Pakai Helm?”

Itu Baru Sembilan Orang, Bagaimana Kalau Satu Kota?

”Saya belajar bahwa orang akan melupakan apa yang kita katakan, orang akan melupakan apa yang kita lakukan, tapi orang tidak melupakan bagaimana kita membuat mereka merasa”. Saya percaya tehadap pernyataan Maya Angelou tersebut. Karenanya saya senang menggunakan game komunikasi dari Thiagi pada presentasi saya untuk membuat efek ”merasa” terhadap penerimaan dan penyampaian informasi ke orang lain.  Anda kemungkinan besar tahu bahwa Continue reading “Itu Baru Sembilan Orang, Bagaimana Kalau Satu Kota?”

Beritahulah Mereka, Supaya Tahu

Setelah membaca tulisan ini, saya yakin Anda akan memutuskan untuk berhati-hati dalam menggunakan kata atau berkalimat. Mengapa? Ya…Baca dulu sampai selesai. Sebagai pembelajar, saya selalu mengamati dan berusaha mencari cara-cara yang membuat belajar menghasilkan hasil yang lebih dari yang saya harapkan. Seperti pengajar pada umumnya, saya  sering memberi tugas. Nah, pada waktu tugas dirasa menumpuk, ada reaksi awal dari mahasiswa saat menerima tugas. Kebanyakan,  reaksi spontannya  adalah mengeluh dengan mengatakan:”Waduh Pak, tugaaaaas lagi, banyak tugas loh Pak”, sambil memelas. Reaksi ini sepertinya menjadi reaksi umum peserta didik.
Continue reading “Beritahulah Mereka, Supaya Tahu”

Nasihatkan dengan Bertanya

”Tolong beri saya nasihat”. Demikian pesan di sms yang saya terima beberapa hari yang lalu. Saya tidak tahu sms tersebut dari mana, karena pengirim tidak menyebut nama, dan sebelumnya  saya tidak memiliki nomor si pengirim. Permintaan ini menurut saya tidak lazim, sebab jarang orang meminta nasihat. Justru kebanyakan orang suka memberi nasihat, walau tidak diminta. Pada kenyataannya pula, orang tidak mudah menerima nasihat orang lain, walau dia salah. Saya tidak tahu, pesan di sms tersebut apakah dari orang yang mudah menerima nasihat atau yang Continue reading “Nasihatkan dengan Bertanya”

Pertolongan Indah yang tidak Kita Duga

Sambil terengah-engah bernafas melalui mulut, dua boca berlari karena takut terlambat sampai di kelas. Mereka memacu langkah kakinya sekuat yang mereka bisa agar tiba di ruang kelas sebelum guru masuk. Keduanya membayangkan wajah guru dan hukuman yang akan diterimanya jika “keduluan” guru berdiri di pintu kelas. Saat sedang semangatnya berlari, salah satu bocah memegang tangan temannya sambil menarik:”Stop….Kita berhenti dulu untuk berdoa”, pintanya. Continue reading “Pertolongan Indah yang tidak Kita Duga”

Cara Memberi Contoh dalam Presentasi Tanpa Menimbulkan Rasa Kesal

Setelah membaca tulisan pendek ini Anda akan merasa telah menemukan cara ampuh untuk memberi contoh saat memberikan presentasi. Lebih-Lebih bagi Anda yang biasa memberikan presentasi. Tips sederhana ini saya temukan saat anak saya pulang dari mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi pemuda di kampung.  Saya tidak tahu apa sebabnya, dia masuk rumah sambil ngomel-ngomel yang tidak jelas maksudnya. Saya tanya:”Ada apa?”. Continue reading “Cara Memberi Contoh dalam Presentasi Tanpa Menimbulkan Rasa Kesal”

Jalan Buntu, Apa Sebaiknya Reaksi Awal Kita

Saya ingin mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah reaksi awal dari cerita saya berikut ini. Pada siang yang cerah di ruang keluarga sebuah rumah mewah, seorang perempuan dengan orang tua, mertua dan anak-anaknya sedang bercanda ria. Semua menampakkan senyum dan tertawa lepas mendengar cerita masing-masing yang saling bersaut-sautan. Suasana ini tak seheboh hari-hari sebelumnya. Di depan mereka tertata rapi kue  dan hidangan, mulai dari makanan pembuka sampai dengan penutup. Tidak seorang pun berani menyentuh makanan tersebut sebelum orang yang ditunggu-tunggu datang menyampaikan gambar gembira untuk keluarga tersebut. Yang jelas ini bukan acara ulang tahun.

Continue reading “Jalan Buntu, Apa Sebaiknya Reaksi Awal Kita”

Membangun Komunikasi yang Lebih Konstruktif

Konon ada orang yang “iseng” meneliti jumlah jenis kata dalam kamus Bahasa Inggris. Jumlah kata-kata dalam Bahasa Inggris diperkirakan sekitar 750.000 kata. Dari jumlah tersebut, peneliti ingin mengetahui jumlah kata yang berkaitan dengan emosi negatif dan positif. Saya agak tercengang setelah mengatahui bahwa dari dua kelompok emosi tersebut jumlah yang berkenaan dengan emosi negatif  dan kesedihan lebih banyak daripada tentang yang positif dan kegembiraan. Kalau ada waktu bisa juga kita meniliti kamus bahasa Indonesia. Saya belum menemukan buku atau laporan penelitian tentang jumlah kata dalam kamus Bahasa Indonesia berkaitan dengan emosi manusia ini. Saya hanya menduga, komposisinya bisa jadi sama. Rupanya, manusia lebih tertarik bicara hal negatif daripada positif. Manusia juga lebih mudah menyoroti hal yang menyedihkan daripada yang menggembirakan, dan manusia juga tak terasa ternyata lebih mudah mengeluh daripada bersyukur.

Continue reading “Membangun Komunikasi yang Lebih Konstruktif”

Menangkap Kebaikan Dari Manapun

Tulisan ini masih terkait dengan tulisan saya terdahulu yang berjudul ”Mengatasi Kebuntuhan Pikiran”. Banyak hal menarik dalam perjalanan membina mata kuliah Mega Creativity di kampus saya STIE Malangkuçeçwara Malang.  Salah satunya dari sesi yang membahas pemunculan kreativitas telah menyadarkan saya akan pentingnya mengajukan pertanyaan ampuh. Kesadaran ini berasal dari pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa peserta mata kuliah ini. Pertanyaan, yang saya atau orang lain lupa untuk mengajukan pada diri sendiri. Memang,  kreativitas tidak selalu harus berkaitan produk fisik atau berupa barang. Kreativitas bisa mencakup sistem dan cara agar sesuatu menjadi lebih baik atau kehidupan manusia dipenuhi dengan kebaikan.

Continue reading “Menangkap Kebaikan Dari Manapun”

Mengatasi Kebuntuhan Pikiran

Ada hal menarik saat saya bertemu dengan teman saya yang anggota AMA (Asosiasi Manajemen Indonesia) cabang Malang. Obrolan santai yang tidak terlalu serius tersebut telah membawa saya pada pemikiran atau ide untuk memunculan mata kuliah di kurikulum tempat saya mengajar. Salah satu pembicaraan menyangkut anak buahnya yang menurut dia, pintar dan IP-nya tinggi namun sayang tidak kreatif. Ada keluhan, bahwa memiliki karyawan yang tidak kreatif sering ”makan hati”. Terkadang bukan masalah pimpinan yang dibantu untuk dipecahkan, malah mengirim masalah ke pimpinan.

Continue reading “Mengatasi Kebuntuhan Pikiran”