Nilai atau Mengerti?

Papan pengingat di ruang kerja saya, betul-betul menolong saya untuk memberitahu kalau ada aktivitas yang harus saya ikuti. Menulis untuk mengingat aktivitas telah membuat manajemen  waktu sangat terbantu. Walau sudah menggunakan perangkat teknologi informasi untuk mengelola kegiatan, papan pengingat ”konvensional” masih saya gunakan sebagai back up. Saya tidak memandang ini mubazir, namun saya anggap sebagai cara yang dapat menyelamatkan saya dari kehilangan aktivitas yang penting. Betul juga, ketika saya melihat papan pengingat, mata saya tertuju pada kuliah tamu di lembaga saya. Kuliah tamu tentang perencanaan keuangan oleh pakar dari Banyu Financial.

Tulisan ini tidak membahas tentang isi materi kuliah tamu tersebut. Yang jelas kuliah tamu kali ini memberi tambahan pengetahuan yang sangat bernilai bagi saya berkaitan dengan perencanaan keuangan. Terkait dengan dunia pendidikan, atau lebih sempit lagi bidang belajar mengajar, saya tertarik pada ungkapan penceramah saat menjawab pertanyaan salah satu peserta. Di uraian jawabannya, dia mengatakan: ”Saya tidak menekankan pada nilai untuk anak saya, namun lebih pada mengerti tentang mata pelajaran yang dia peroleh di sekolah”. Rasanya pernyataan ini tidak baru-baru benar dan bisa jadi tidak asing bagi kita, namun menjadi perhatian saya karena pernyataan ini muncul pada masa para siswa menunggu nilai UAN. Bukankah nilai UAN menjadi ukuran kelulusan dan prestasi siswa dan sekolah. Disamping itu, nilai tertinggi telah menjadi incaran dan keinginan semua peserta UAN dan sekolah, apalagi orang tua.

Saat keluar dari gedung setelah selesai kuliah tamu, seorang teman bertanya pada saya berkaitan dengan pernyataan penceramah tersebut. ”Pak, selama ini saya menekankan pada anak saya untuk memeroleh nilai yang tinggi di setiap mata pelajaran, termasuk nilai UAN. Apa ini salah Pak?”, tanyanya. Rupanya teman saya ini ”kepikiran” dengan pernyataan penceramah yang tidak sejalan dengan prinsipnya. Sebelum saya menemukan jawaban, saya balik bertanya:”Selama ini anak anda reaksinya bagaimana? Apa merasa tertekan? Atau dia nyaman-nyaman saja terhadap harapan anda tentang nilai mata pelajaran?”. ”Sepanjang yang saya amati dan saya rasakan, dia sepertinya tidak ada masalah”,  jawabnya. ”Ya sudah, berarti tidak jadi soal”, saya menimpali. ”Tetapi, itu kan persepsi saya. Saya tidak mengetahui persis, apa dia selama ini betul-betul tidak ada masalah”, lanjut dia, dengan sedikit keraguan terhadap apa yang ditangkap dari sikap anaknya.

Dialog saya dengan teman tersebut berlangsung seru. Akhirnya kami sampai pada simpulan berikut ini. Pertama, baik-baik saja mengharap anak memeroleh nilai tinggi atau menjadi juara kelas. Yang perlu juga ditekankan adalah memberikan alasan yang tepat dan sang anak dapat memahami serta dapat menerima alasan keinginan kita, termasuk tentang nilai tinggi dan menjadi juara kelas. Sekaligus memberi pengertian padanya, ketika dia tidak menjadi juara. Kedua, juara kelas memang baik, namun karena tidak semua orang menjadi juara kelas, maka ada yang juga lebih baik dan penting yaitu mengerti. Ketiga, pilihan yang menekankan pada juara setelah itu mengerti atau mengerti dulu baru juara, tergantung pada tipe sang anak. Mana yang lebih cocok, orang tualah yang harus mengetahui dan memahami. Keempat, anaklah yang menjadi fokus dan subjek dalam pembelajaran, bukan orang tua. Jangan sampai anak dijadikan objek ambisi orang tua yang tidak memerhatikan kondisi sang anak.

Setelah menyimpulkan dialog, Kami berdua saling berpamitan dengan membawa ”kesepakatan” tentang ”nilai atau mengerti?”.  Adalah baik jika anak kita juara atau memeroleh nilai tinggi, dan akan lebih baik jika mengerti, serta sangat baik jika mengerti sekaligus juara atau memeroleh nilai tinggi. Yang tidak kita inginkan, tentu saja ”tidak juara dan tidak mengerti”. Dimana pun, posisi anak kita, diperlukan respons yang bijak, ya kan?