Apa Istimewanya Marah?

Menjelang UAN tahun ini, saya beberapa kali diundang sekolah mulai dari SD sampai SMA, untuk memberikan motivasi pada murid-murid dalam menghadapi UAN. Agar mereka lebih percaya diri dan optimis, serta memiliki keyakinan bahwa hasil yang diperoleh dengan jalan kejujuran adalah yang paling baik. Saya tidak tahu mengapa tahun ini semakin banyak sekolah yang meminta pada saya dan tim untuk memberikan motivasi pada siswa yang menghadapi UAN. Awalnya saya dan tim mencoba merancang presentasi untuk memberi motivasi siswa dalam belajar. Ternyata dari hanya sesekali tersebut, mungkin terdapat beberapa sekolah yang merasa cocok dengan ”ramuan” presentasi kami. Rupanya ini ”menular” ke sekolah lainnya. Karena hobi dan keinginan untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada murid dan guru, saya dan tim merasa senang jika ada yang meminta pada kami untuk presentasi untuk guru dan murid.

Saat kami presentasi, kami minta pada sekolah mengundang juga orang tua. Kami memang tidak menjadikan satu ruangan untuk orang tua dan murid. Kami membuat sesi paralel untuk dua kelompok, murid dan orang tua. Terdapat hal menarik ketika kami bertanya pada murid-murid:”Apa reaksi orang tua ketika kalian tidak mau belajar?”. Serentak mereka berteriak:”Maraaaaaah”. Sambil tertawa saya ”ledek” mereka:”Ah…masa iya?”. Kembali suara gemuruh di ruangan:”Iyaaaaaaaaa…”. ”Oke….oke…. mulai sekarang jangan buat orang tua kalian marah ya!”, pinta saya. Lalu di mana sisi menariknya? Yaitu ketika saya bertanya pada orang tua untuk pertanyaan yang sama. Saya bertanya pada kelompok orang tua:”Apa reaksi Bapak dan Ibu pada anak-anak, kalau mereka tidak mau belajar?”. Mereka kompak berteriak:”Maraaaaaah”. ”Hah….mengapa jawabannya sama dengan jawaban anak-anak saat saya bertanya tadi di ruang sebelah?”, tanya saya pada orang tua. ”Berarti jawaban anak-anak tadi betul ya… Bapak dan Ibu?”. Umumnya mereka tersenyum sambil memberi isyarat membenarkan.

Saya lanjutkan gurauan saya pada kelompok orang tua:”Bapak dan Ibu, mengapa jawaban ini sama dengan saat saya presentasi di kelompok orang tua yang lainnya. Apa ini memang reaksi yang dilakukan hampir oleh semua orang tua?  Kalau memang benar, saya bertanya pada Bapak dan Ibu, tolong dijawab. Apa marah merupakan satu-satunya reaksi terhadap anak kita kalau mereka tidak mau belajar? atau marah adalah satu-satunya tindakan terhadap apa yang tidak dan dilakukan anak-anak kita?”.  Saya tutup pertanyaan saya dengan meminta jawaban:”Apa istimewanya marah?”. Umumnya mereka melihat satu sama lainnya sambil bergumam:”Habis…..mau gimana lagi”. Ya…, karena menjadi kebiasaan dan reaksi umum, banyak orang tua menganggap hanya marah satu-satunya reaksi. Mereka tertutup atau menutup diri dari alternatif lainnya. Bisa jadi ini karena mereka mengganggap alternatif lain kalah ampuh dengan marah, atau memang tahunya hanya ada satu reaksi dan aksi, yaitu marah.

Karena reaksi tersebut sudah saya antisipasi sebelumnya, berdasarkan pengalaman saat memberi presentasi dan mengamati di lingkungan sekitar, saya menyiapkan materi berupa alat atau trik ampuh dari Jack Canfield, si penulis Chiken Soup for The Soul. Di dalam bukunya yang lain, The Success, dia memberi alternatif reaksi untuk perubahan, yaitu cara menghadapi aksi dari pihak lain dan ingin mengubah ke yang diinginkan. Masing-masing reaksi akan memunculkan perasaan dan kalimat yang berbeda dalam menanggapi kejadian. Ambil contoh berlalu lintas, apa  perasaan dan kalimat yang anda gunakan ketika anda bereaksi marah terhadap pengemudi yang ngebut sedang menyalip dan mengambil ”jatah” jalan Anda? Bandingkan untuk kasus yang sama, namun anda berusaha untuk mengerti, kemungkinan pengemudi tersebut mempunyai keperluan yang sangat penting dan waktunya sangat mendesak. Saya jamin, perasaan anda dan kalimat yang anda gunakan dalam bereaksi akan sangat berbeda.

Nah untuk reaksi dan perubahan, terdapat empat alternatif yang ditawarkan Jack Canfield, yang dapat anda pilih. Pertama, marah. Ini rupanya telah menjadi reaksi umum, termasuk terhadap anak-anak. Kalau ini yang kita pilih, kemungkinan kalimat yang akan mucul:”Saya marah padamu, karena……..” , ”Saya jengkel…..”, ”Saya sudah tidak tahan…”, dan kalimat kemarahan lainnya. Kedua, ketakutan. Reaksi kedua ini menggambarkan kekhawatiran akan hasil dari sikap orang lain yang tidak sesuai dengan harapan kita. Jika, anak-anak tidak belajar, dalam alternatif ini, orang tua bukan marah namun khawatir kalau anaknya tidak naik kelas atau tidak lulus. Kalimat yang akan mucul, bisa jadi:”Saya khawatir kamu tidak lulus, ……..” , ”Saya takut…..”, dan ekspresi ketakutan lainnya. Ketiga, permintaan. Reaksi ketiga ini memunculkan harapan pada orang lain agar bersikap sesuai dengan harapan kita. Pada contoh yang sama, jika  anak-anak tidak belajar, orang tua bukan marah atau khawatir, namun lebih memohon atau meminta serta berharap anaknya belajar dengan baik supaya naik kelas atau lulus. Kalimat yang akan digunakan, misalnya:”Saya ingin kamu belajar dengan serius, agar ……..” , ”Saya berharap…..”, dan ungkapan permintaan lainnya. Keempat, rasa sayang. Reaksi keempat ini mengekspresikan rasa sayang atau cinta pada orang lain. Tetap dengan contoh yang sama, respons terhadap  anak-anak yang tidak belajar, orang tua tidak lagi marah, juga bukan khawatir, bahkan tidak hanya harapan namun mengungkapkan rasa sayang atau cinta pada anaknya. Bisa jadi orang tua sambil memeluk anaknya, dengan lembut mengatakan:”Ibu sangat sayang sama kamu, kamu punya hak untuk bahagia dan sukses, belajar dengan baik adalah salah satu cara untuk meraih cita-cita kamu, bukankah kamu mengerti?”. ”Kamu sangat berarti bagi Ibu……..”, ”Kamu sangat berharga bagi kami…..”, serta ungkapan rasa sayang dan cinta lainnya.

Ternyata marah bukan satu-satunya reaksi terhadap kejadian dan keinginan perubahan. Ada alternatif yang lebih canggih dan elegan yang dapat kita pilih. Kalau selama ini, kita seperti kebanyakan orang selalu berada di antara marah dan ketakutan, bukankah akan lebih bijak untuk beranjak ke permintaan bahkan ke rasa sayang, dan itu adalah pilihan kita. Kita bisa lakukan mulai sekarang kan?

One thought on “Apa Istimewanya Marah?”

Comments are closed.