Lupakan “Jamu Pintar”

Saya ingin mengajak pembaca untuk membayangkan suatu keadaan seperti ini. Bayangkan ada toko yang menjual jamu untuk pintar. Lalu terpampang di ruang toko itu daftar menu jamu pintar dengan harga sebagai berikut. Jamu nilai UAN rata-rata 7 seharga Rp 100.000,- satu botol. Untuk nila rata-rata 8 seharga Rp 150.000,- satu botol sampai berturut-turut nilai rata-rata 9 dan 10 dengan harga Rp 200.000,- dan Rp 250.000,-. Mungkin reaksi spontan Anda adalah: ”tidak mungkin ada”. Sebentar, jangan dikomentari dulu, saya ingin Anda meneruskan skenario yang mungkin untuk keadaan tersebut. Reaksi bisa beragam. Bisa jadi Anda yang berpendapat, ”enak”, orang tua dan guru serta anak-anak tidak setres saat menghadapi UAN, tinggal ingin nilai berapa dan membeli jamu yang sesuai, beres. Guru atau sekolah tidak perlu repot-repot mengadakan trayout UAN, dan tidak perlu menambah jam tambahan untuk latihan dan pemantapan.

Sepintas memang ini mengasyikkan dan mengenakkan, namun coba dipikirkan lebih jauh, bukankah banyak pemberi  ”les” yang kehilangan pekerjaannya, banyak tempat pelatihan UAN yang gulung tikar. Yang mungkin menyedihkan, guru tidak lagi mendapat perhatian dan hormat dari murid, karena mereka akan lebih hormat pada pabrik atau penjual jamu UAN. Nah yang mungkin paling parah, tidak lagi ada pemuda usia sekolah yang menghormati sebuah upaya untuk meraih sesuatu. Sudah yang dasarnya malas berupaya akan bertambah malas. Karena ada ”jamu ajaib” yang membuat mereka mencapai nilai bagus tanpa belajar. Sederetan ”kekacauan” yang lain bisa kita daftar. Namun sedikit yang saya paparkan di atas sudah bikin kita miris.

Mungkin Anda bertanya, mengapa Anda diminta berpikir sesuatu yang tidak ada dan tidak mungkin ada? Sebentar dulu, ini adalah salah satu cara yang diusulkan oleh Edward De Bono, bapak berpikir kreatif, untuk merangsang berpikir kreatif, yaitu dengan pernyataan atau pertanyaan provokatif. Tapi ingat, ini provokasi yang baik loh, bukan provokasinya provokator. Nah walaupun mustahil namun kita jangan kehilangan sisi menarik dari cara pemikiran tersebut.

Jamu UAN memang tidak ada, namun yang mirip dengan itu pernah ada dan pernah dilakukan oleh murid-murid yang akan menghadapi ujian. Menjelang UAN tahun ini, saya teringat tayangan TV tahun lalu, kalau di salah satu kota di Indonesia ini, terdapat murid salah satu sekolah beramai-ramai pergi ke ”orang pintar” untuk menyerahkan pensilnya agar diberi ”treatment” tertentu, karena pensil tersebut akan digunakan untuk menjawab soal ujian. Sayang tidak ada tayangan berikutnya untuk mengetahui hasil ujian mereka. Yang jelas dan pasti, murid yang lulus dengan nilai terbaik adalah murid yang telah mengasah cara belajarnya dengan baik serta disertai dengan cita-cita yang tinggi dan dibarengi dengan upaya yang luar biasa. Mereka yang lulus, juga tidak lupa berdo’a dan meminta restu pada orang tua dan guru.

Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini? Ada gejala, walau tidak sampai berupa kesenangan,  di masyarakat kita untuk memilih ”jalan pintas” atau cara ”instan” dalam meraih yang diinginkan. Rupanya bukan hanya makanan instan yang sedang marak, segi-segi kehidupan lainnya pun kena landa budaya ”instan”. Mulai dari ingin lulus sekolah sampai ingin cepat kaya dan memiliki jabatan. Ingat saja beberapa berita yang sempat ditayangkan di TV atau dilansir di media cetak, terdapat orang yang tertipu oleh investasi ”bohong” yang menjanjikan kembalian sangat besar dalam waktu singkat. Walau tidak masuk akal, namun investasi tersebut laris manis dan diminati banyak orang. Padahal sudah berkali-kali ada berita kalau investasi seperti itu hanya isapan jempol belaka. Makanya pelatihan yang menggunakan kata-kata cepat, jalan tol dan sejenisnya akan laris manis.

Apa yang “instan” tidak baik atau jelek? Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan, apa pisau tidak baik dan jelek? Kalau digunakan untuk memotong sayur saat memasak, pisau tentu saja baik. Namun jika digunakan untuk melukai orang untuk tujuan menyakiti, tentunya sangat jelek. Tetapi, pisau adalah pisau, tidak bertujuan baik atau jelek, penggunaannyalah yang mengakibatkan jelek atau baik. Analog dengan ini, “instan” juga demikian. Kalau cara ini untuk mempercepat proses yang bisa menghemat waktu dan membuat kerja lebih efisien, tanpa menimbulkan dampak yang lebih buruk, “instan” bermanfaat. Tetapi jika cara “instan” yang tidak alami serta menimbulkan dampak yang merusak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, tentu saja menjadi tidak baik dan tidak bermanfaat. Dengan demikian, jelas tergambar dari analogi di atas, seperti pisau, “instan” sangat tergantung penggunannya. Pada sesuatu yang tepat dan memberi dampak baik, cara “instan” bermanfaat, jika sebaliknya cara “instan” menjadi tidak baik dan bersifat merusak. Lalu pertanyaan lanjutannya, untuk hal-hal apa “instan” sebaiknya digunakan atau tidak?  Kembali pada apa dampak yang ditimbulkan.

Dari segi belajar, jika ditemukan metode tertentu yang dapat menghemat waktu dalam memahami pengetahuan, ini bisa jadi cara yang baik, tetapi jika membawa pensil untuk dimasukkan ke “air khusus” supaya lulus ujian, perlu dipikir ulang. Lupakan “Jamu Pintar”. Pada anak didik kita perlu diajarkan; nilai dan manfaat baik dari memiliki hasrat besar, membuat rencana tindakan,  melaksanakan tindakan dengan senang, menghargai kerja keras dan mengapresiasi hasil  dalam meraih sesuatu, termasuk pengetahuan dan nilai ujian. Bukankah begitu seharusnya?

4 thoughts on “Lupakan “Jamu Pintar””

  1. Dear Pak Son..

    Menarik sekali cerita ini, seandainya saja pemimpin bangsa kita bisa berpikir seperti ini maka akan beda…..
    Yang perlu kita lihat juga adalah kenapa banyak pelajar dan generasi muda kita saat ini yang lebih mementingkan hasil dari UAN bukan hasil dari pelajaran yang diperolehnya ???
    hasilnya ya seperti saat ini banyak pelajar bisa mendapatkan nilai 10 pada mata pelajaran matematika, IPA, IPS dll akan tetapi mereka saat ini kurang sekali mendapatkan pelajaran budi pekerti, Moral dan akhlak dll??????……

    Saat ini banyak sekali pembagian dari sekolah itu sendiri ada Sekolah biasa, ada Sekolah Standart Nasional (SSN) ada Sekolah Rintisan sekolah Bertaraf International (RSBI) ada Sekolah Bertaraf International (SBI). Kenapa Pemerintah Saat ini membuat sedemikian banyak strata sekolah ini ??? kenapa gak dibuat aja semua sekolah di Indonesia Bertaraf International saja sehingga seluruh rakyat dan generasi muda sekolah di SBI dan lulusannya bisa diterima disekolah manapun di dunia ini ???

    saat ini banyak generasi muda yang kelihatannya hebat akan tetapi masih percaya 100% pada mistis sehingga yang seperti bapak sampaikan bahwa untuk bisa mereka lulus ujian UAN mereka ramai ramai ke “Orang Pintar” (Dukun)…… kalau ke orang pintar seh gak masalah Pak misalkan Ada Orang Pintar Sastra dan Bahasa maka sebelum UAN kita perlu kesana untuk belajar Bahasa kepada orang tersebut sehingga nilai UAN Bahasa Indonesianya lebih baik…… tapi kalo dah mistis ke dukun pake treatmen pinsil segala waduuhhhh kasihan sekali saya Pak karena lulus UAN belum tentu akan tetapi DOSA BESAR sudah pasti karena dianggap menyekutukan ALLAH….

    Nah yang jadi pertanyaan besar saya adalah sampai kapan ya Pak hal ini akan terus berlangsung ???/

    Demikian Pak mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan

    Salam
    Yudha

  2. @Yudha, komen yang baik, kapan hal ini akan berlangsung? sepertinya tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Namun khabar baiknya, kita bisa mulai hal-hal baik untuk bangsa ini dari diri kita sendiri….Salam sukses…

    Wassalam,
    Sonhaji

  3. @ Pak Son… Minal Aidin wal faizin ya Pak Mohon maaf lahir dan batin…

    Berkaitan dengan jawaban Bapak diatas.. setuju sekali Pak bahwa kita harus memulainya minimal untuk diri kita sendiri Pak, dan sesuai yang diajarkan Bapak beberapa waktu lalu Rencana yang baik tidak akan bisa tercapai tanpa ada tindakan yang nyata…. so mulai sekarang kita harus bisa melakukan perbuatan baik itu Segera… gitu khan Pak…..

Comments are closed.