Ternyata Mendengar Juga Perlu Kesabaran

”Sebentar Bapak, jangan memotong pembicaraan saya, saya belum selesai. Kalau saya sudah selesai, silahkan Bapak mengomentari pendapat saya”. Komentar ini sempat saya dengar dengan memerhatikan ekspresi orang yang mengatakan ketika saya ikut dalam suatu rapat. Kalimat tersebut disampaikan dengan nada tinggi, pertanda kalau yang bersangkutan tidak terima ketika enak-enaknya menyampaikan pendapat dipotong begitu saja. Tidak mau kalah, lawan bicara membalas dengan lebih seru lagi:”Ya, tapi langsung ke intinya saja, waktu kita terbatas nih, dan yang lain juga mau menyampaikan pendapatnya”. Walau tidak sama persis, saya yakin dialog seperti yang tergambar tersebut sering terjadi dalam rapat atau pembicaraan lainnya. Asyik memang memerhatikan gaya orang berbicara di suatu forum formal atau pun di pembicaraan santai. Ini bisa menjadi pelajaran komunikasi tersendiri di dunia nyata. Sebetulnya kalau mau mengamati,  kalau ada orang yang menyela pembicaraan kita atau merasa tidak nyaman dengan menunjukkan gerakan anggota tubuh yang bisa diamati, berarti ada yang kurang pas pada cara kita menyampaikan pendapat. Namun sayang ini jarang disadari, sehingga masing-masing komunikan ”kekeh” dengan cara dan pendapatnya sendiri.

Mengapa bisa terjadi kejadian seperti yang saya gambarkan di atas. Menurut amatan saya, karena ada ”pertarungan” dua tipe berkomunikasi. yang satu bertipe to the point, atau langsung, sedang yang lainnya bertipe ”mendayu-dayu” atau sebut saja tipe tidak langsung. Tipe kedua ini, merasa nyaman dan mantap jika ada bumbu-bumbu dulu sebelum menyampaikan idenya. Belum lagi ditambah dengan pengucapan kata dan  kalimat yang lambat, yang tidak sesuai dengan rata-rata kecepatan telinga menangkap kata-kata pada posisi yang nyaman. Sehingga orang yang mendengar menunggu apa ide sesungguhnya yang akan disampaikan. Umumnnya dengan perasaan ada yang mengganjal di pikirannya. Pada kejadian di atas kalau faktornya saya idendifikasi, setidaknya terdiri atas; tipe tidak langsung, tipe langsung, menyampaikan kata-kata secara lambat, tidak sabar dan tidak menyadari tipe yang berbeda. Ya, ada lima hal yang dapat dijadikan faktor mengkaji kejadian di atas dari sisi komunikasi.

Dalam komunikasi kita pasti bertemu dengan tipe-tipe yang berbeda, sehingga kalau tidak disadari, satu hal ini saja sudah cukup menjadi pemicu ketidaknyamanan dalam berkomunikasi. Bukan itu saja, ini akan mengakibatkan inti komunikasi menjadi hilang, yang muncul justru perasaan tidak nyaman dengan menonjolkan ego masing-masing. Lalu apakah seperti ini dibiarkan saja. Tentu saja tidak. Apa yang ada di dunia ini bisa diamati dan dipelajari, termasuk berkomunikasi. Kejadian dalam rapat di atas dapat dihindari jika tiga hal berikut ini diperhatikan oleh komunikan. Pertama adalah penyadaran bahwa tidak ada orang yang sempurna seratus persen dan juga tidak ada yang memiliki kelemahan seratus persen. Nah dua hal tersebut tidak hanya ada di diri orang lain, namun juga ada di diri kita. Kalau begitu kita memiliki peluang untuk salah dan benar seperti orang lain. Kedua adalah kemauan belajar. Ini yang harus terus dikobarkan di diri kita. Selagi hidup, selalu ada kesempatan untuk belajar. Ketiga adalah kesabaran. Sabar dalam belajar dan sabar dalam menghadapi orang lain. Nah, sekali lagi kalau tiga hal ini dilakukan, kejadian seperti yang saya ceritakan di atas tidak akan terjadi dan komunikasi akan menjadi lebih nyaman dengan pemahaman yang lebih baik.

Dengan tiga langkah tersebut, orang pertama yang menyampaikan pendapatnya yang dianggap lambat tadi bisa belajar mengucapkan kata dengan artikulasi yang jelas dan lebih cepat. Kalau dia memahami bahwa orang yang dihadapannya bersifat tidak suka basa-basi yang panjang, dia bisa belajar untuk langsung pada tujuan ide. Sedangkan orang kedua, bisa belajar menahan diri untuk sabar dan berkomentar saat orang selesai menyampaikan pendapatnya. Ternyata mendengar juga perlu kesabaran. Kalau seperti ini dan ada kesepakatan-kesepakatan yang di sampaikan sebelum rapat yang harus ditaati peserta, saya jamin rapat akan lebih nyaman dengan waktu yang lebih efisien. Tentu saja diberi bumbu-bumbu joke segar agar rapat tidak kering. Bagaimana?