Inspirasi Bob dan Saya Tak Bisa Menatap Matamu

Judul tulisan ini memang terkesan agak panjang. Terus terang saja, ada beberapa pilihan sebelum saya memutuskan judul mana yang akan saya gunakan sebagai penanda tulisan ini. ”Inspirasi Bob” dan ”Saya Tak Bisa Menatap Matamu”, sama-sama memiliki kesan yang kuat untuk menandai pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Dalam kebingungan, terbersit pemikiran mengapa tidak menggunakan cara yang simpel yaitu gabungkan saja. Ya…, mengapa tidak? Akhirnya pilihan jatuh pada penggabungan dua frase di atas. ”Inspirasi Bob”, yaitu kata-kata Bob Wieland yang sarat dengan makna. Sedangkan ”Saya Tak Bisa Menatap Matamu”, ini yang akan saya ceritakan lebih dulu pada Anda.

Seperti biasa untuk menjaga stamina dan kesehatan, saya berusaha untuk tetap berolah raga. Bersepeda sudah menjadi kesenangan  saya. Banyak hal yang bisa dilihat saat mengayuh sepeda. Beberapa sudah saya ceritakan pada tulisan saya terdahulu. Namun yang saya lihat kali ini menurut saya sangat istimewa. Dalam perjalanan bersepeda, pikiran memang tidak selalu terhubung dengan apa saya lihat, bisa saja melayang kemana-mana. Namun kali ini pandangan saya terpaku sesaat pada seorang yang duduk di atas ”ambén” (baca ambén)*. Saya lihat sepintas, dia juga melihat ke saya. Saya kaget, setelah saya tepat di depannya, saya tidak bisa memadangnya. Saya menunduk, dan terus mengayuh sepeda meninggalkan tatapannya yang saya tidak mengerti maknanya apa. Dalam hati:”Saya Tak Bisa Menatap Matamu”. Mengapa saya tidak menatap pandangannya lebih kanjut?  Karena saya bingung, apa sebaiknya reaksi saya; mengangguk, tersenyum atau apa?  Saya khawatir sikap saya salah, yang dapat membuat orang yang di atas ambén tersebut menjadi tidak nyaman, walau ini mungkin perasaan saya saja. Lalu, apa yang membuat saya ”kikuk” dan serba salah seperti ini?  Karena orang yang duduk di atas ambén tersebut tidak memiliki kedua kaki dan kedua tangan. Dia duduk praktis hanya menggunakan pantatnya.

Saat itu saya bersyukur kepada Tuhan atas keadaan pisik saya. Saya bisa kemana saja tanpa kesulitan dan bahkan saya bisa mengayuh sepeda di jalan menanjak.  Sedangkan orang di atas ambén tersebut hanya bisa menatap ke saya. Terjadi dialog internal di pikiran saya. ”Dia yang kurang” saja tidak nampak raut sedih di mukanya, masa saya yang diberi pisik yang utuh dan baik ini harus memikirkan kelemahan dan kekurangan.  Sejurus setelah itu, saya kayuh sepeda lebih semangat sambil memikirkan hikmah dari penglihatan saya tersebut. Selagi hidup orang memang memiliki masalah. Seperti orang yang di atas ambén tersebut, dia memiliki masalah. Bisa dikatakan, menurut pandangan orang lain, masalah dia begitu berat. Namun dalam wajahnya tidak kelihatan dia memiliki masalah tersebut. Mungkin dia berpikir, karena keadaan pisiknya seperti itu, ya sudah tidak masalah. Tinggal yang dipikirkan, apa yang bisa dilakukan. Lalu pikiran ini menyimpulkan, kalau memang orang selalu memiliki masalah, ya sudah….. tidak masalah. Hanya, apa yang dapat dilakukan dengan baik. Orang di atas ambén tersebut memberi pelajaran bahwa untuk apa memasalahkan masalah, bukankah lebih baik melakukan apa yang bisa dengan lebih baik. Dan setelah memikirkan orang di atas ambén tersebut, rasanya pikiran saya menjadi sangat ringan, seperti tidak ada beban.

Lalu apa maksud Inspirasi Bob? Pertemuan saya sejenak dengan orang di atas ambén telah mengingatkan pada sosok yang hebat. Untuk sosok ini saya telah membuat tayangan presentasi, yang biasanya saya gunakan sebagai penutupan ceramah. Tayangan tersebut tentang Bob Wieland dan telah menjadi tayangan favorit saya. Si Bob ini pernah mengikuti New York Marathon. Dia sebagai peserta yang tiba di garis finish yang paling terakhir, tetapi dielu-elukan sebagai Super Star. Orang menanti kedatangan Bob, ingin menyaksikan Bob masuk finish line. Jutaan mata juga melotot pada siaran TV ketika dia melewati garis finish. Anehnya, di garis finish tersebut sudah tidak ada peserta seorangpun. Tentu saja tidak tersisa peserta yang lain sebab Bob lari dalam marathon tersebut selama 4 hari , 2 jam, 47 menit, 17 detik. Bob masuk finish tiga hari setalah marathon usai. Dengan demikian Bob adalah  peserta marathon di dunia yang paling pelan dan lama. Mengapa Bob membuat New York Marathon menjadi spesial dan mengapa juga ia jadi bintang dan dielu-elukan? Padahal dia masuk finish yang terakhir,  dan apa yang menjadikan Bob sebagai super star yang mendapat sambutan begitu meriah dan mengharukan? Karena Bob tidak memiliki kedua kaki. Ya benar, Bob tidak mempunyai kedua kaki. Bob praktis ”berlari” di atas pantatnya dengan bantuan kedua tangannya. Bob adalah veteran perang Vietnam, kakinya kena granat saat menolong temannya.

Sepanjang perjalanan di Marathon tersebut, Bob selalu disemangati oleh Ayahnya. Teriakan Ayahnya memompa kekuatan Bob, sembari dia melempar tubuh dengan tangannya.  Semua penonton di finish line dan pemirsa di TV bersorak haru, bertepuk tangan dan berdecak takjub, menyaksikan semangat dan daya tahan Bob. Rahasia apa yang menyebabkan Si Bob begitu kuat ”berlari” hanya dengan tangannya yang memegang bantalan? Saat diwawancarai:”Bob, apa yang menyebabkan anda memiliki daya tahan seperti ini dan mampu menahan sakit?”. Bob mengatakan:“Saya merasa sakit jika saya memalingkan pandangan saya dari arah finish line tersebut”. Lalu dia menambahkan:“Saya merasa sakit kalau saya berpaling dari dream saya”. Dan, ini yang mengharukan: “Saya memang kehilangan kaki saya, namun tidak kehilangan hati saya”. Bob melanjutkan: ”Kalau Anda memiliki dream, dream itu harus sangat kuat dan raihlah walau anda harus melakukan apa saja…aaaapa saja yang positif, dan jangan lupa anda harus memiliki support yang mendukung, dialah yang mendukung saya”, sambil Bob memberi isyarat wajahnya ke Ayahnya. “Jika anda diam, anda tidak akan berubah. Sedangkan lingkungan anda akan terus berubah. Anda tidak dapat mengubah pasangan anda, anda tidak dapat mengubah bos anda, dan anda tidak dapat mengubah Tuhan”. Dia tutup dengan kata-kata inspirasional: “Anda hanya dapat mengubah diri Anda sendiri”. Nah inilah yang saya maksud dengan “Inspirasi Bob”.

Saya memang hanya sekedar bertatap muka sebentar dengan orang di atas ambén dan saya tidak pernah bertemu langsung dengan Bob, kecuali hanya melalui tulisan tentangnya di internet. Namun, keduanya telah memberi pelajaran sangat berarti kepada saya. Semoga Anda juga memeroleh walau hanya melalui tulisan ini. Bukankah harapan yang baik, harus disambut dengan baik?

* Ambén adalah bahasa Jawa, yaitu tempat tidur yang biasanya dibuat dari bambu atau kayu yang hanya beralas tikar. Tidak selalu diletakkan di kamar tidur, tetapi biasanya di tempatkan di teras atau di mana saja di sudut-sudut rumah, bahkan terkadang di tempatkan di pinggir jalan.

6 thoughts on “Inspirasi Bob dan Saya Tak Bisa Menatap Matamu”

  1. semangat bob: GILAAAA BENEEERR… Memberi inspirasi baru bagi saya pak untuk tidak putus asa dalam menjalankan pekerjaan apapun dengan kondisi apapun… Insya Allah..

  2. @Rina, Ya syukurlah ada manfaatnya. Wow..tulisannya Bu Rina banyak perkembangan loh….saya juga mengikuti loh Bu, Tulisan Ibu…terus nulis Bu….

  3. Sedap Pak…… jadi malu ya Pak kalo kita yang diberikan phisik yang sehat dan Akal pikiran akan tetapi kadang kala dalam menghadapi masalah kita merasa orang yang susah dan menderita,

    Atas hal tersebut sudah seharusnya kita banyak mengucapkan “SYUKUR” dan memiliki banyak semangat dalam menjalani sisa hidaup kita agar minimal bisa memberikan manfaat kepada sesama dan semuanya…

    Salam Hormat Saya Pak

Comments are closed.