Ada Apa dengan James Bond 007?

Sudah sepekan ini salah satu TV swasta nasional menayangkan ulang film-film seri James Bond 007 . Film yang diangkat dari karakter fiksi ciptaan penulis Inggris bernama Ian Fleming tersebut dianggap sebagai film tersukses dan terlaris di dunia. Sejak dirilis, mulai tahun 1962 dengan judul film Dr. No yang dibintangi  oleh Sean Connery,  sampai Quantum of Solace yang dibintangi oleh Pierce Brosnan, film-film James Bond selalu mendapat perhatian penikmat film di dunia.  Di antara banyak hal menarik, salah satu yang menyedot perhatian saya adalah cara tokoh ini mengenalkan diri dan menyebut namanya. Jabat tangan hangat, menatap mata ”lawan” dan mengulang nama dengan mantab: ”James…….James Bond”.

Lalu ”angin” apa yang membawa 007 ini menjadi pembuka tulisan ini. Ada apa dengan James Bond 007? Ya, bertepatan saja antara masa penayangan film tersebut dengan hal yang saya alami. Suatu hari dalam sepekan saat film-film James Bond ditayangkan, saya bertemu dengan seorang teman. Seperti biasa pertemuan diawali dengan jabat tangan. Karena sudah mengenal baik, kami tidak menyebut nama atau mengenalkan diri. Di sebelah teman saya tersebut, berdiri juga teman yang lain sambil memegang hand phone (HP). Kami bertiga saling berjabat tangan. Saya berusaha dan membiasakan diri untuk berjabat tangan secara hangat sambil senyum dan menatap wajah ”lawan” jabat tangan saya. Bahkan kalau berkenalan, saya suka meniru cara James Bond menyebut namanya. Saya tatap wajah atau mata teman saya satu persatu, sembari tanya khabar masing-masing. Namun sayang teman yang sedang memegang HP tersebut lebih berperhatian pada Hp-nya saat berjabat tangan dengan saya daripada membalas tatapan tulus mata saya. Saat saya berbasa-basi tanya khabar, teman berHP ini menjawab dengan masih asyik melihat layar telepon genggamnya. Tak adanya perhatian dan lemasnya jabat tangan dia, mengingatkan saya pada cara James Bond berjabat tangan. Mungkin Anda berpikir, jauh sekali membedakan jabat tangan teman saya tersebut dengan tokoh 007. Sebetulnya tidak. Jabat tangan telah menjadi tradisi di dunia bagi seseorang yang berkenalan atau bertemu dengan yang lainnya. Hal yang universal ini telah menjadi cara yang lajim, bahkan dapat digunakan sebagai penilai bagaimana sikap seseorang sebetulnya. Ada sebuah buku yang menjelaskan bahwa jabat tangan lemas dan tanpa tatapan menandakan seseorang yang tidak memiliki perhatian, atau justru ada rasa keengganan. Saya tidak sesadis itu berintepretasi tentang teman saya tersebut. Saya lebih memilih pada ketidaktahuan cara-cara yang elegan dalam behubungan dengan orang lain.

Sayang, jabat tangan ala teman yang berHP tersebut menjadi kebiasaan banyak orang di sekitar kita. Coba saja Anda amati, saudara, teman atau siapa pun yang sempat Anda temui, atau maaf jangan-jangan kita sendiri seperti itu. Ini bisa jadi karena ketidaktahuan cara baik yang sudah lajim, atau sekarang banyak orang menjadi kurban teknologi tinggi. Sebetulnya, tidak ada masalah dengan teknologi atau alat canggihnya, namun jika tidak hati-hati, alat ini bisa mengubah cara orang berhubungan dengan lainnya. Salah satu sisi menguntungkan, kita bisa menggunakan alat komunikasi untuk berhubungan dengan siapapun saat diperlukan dalam waktu yang fleksibel. Rasa kangen karena jarak bisa diatasi oleh alat komunikasi. Namun sayang, kalau tidak hati-hati, alat canggih ini bisa juga menjadi sebab pengabaian terhadap orang-orang di dekat kita. Bahkan orang bisa besikap seolah-olah orang di dekatnya tidak sepenting alat komunikasi dan berita di dalamnya. Orang yang di hadapan kita  bisa kalah pamor dengan si kecil alat komunikasi yang ”pintar” ini.

Ya, memang teknologi komunikasi dapat membuat orang yang jauh menjadi dekat, namun ternyata ada sisi sebaliknya orang di dekat kita bisa seperti tidak berarti.  Teknologi adalah alat yang semestinya harus dapat memudahkan kita dan hubungan kemanusiaan menjadi lebih baik. Bagaimanapun juga, orang, apalagi yang di dekat kita masih lebih penting dan memiliki arti daripada alat komunikasi, betapapun canggihnya.

Kalau tidak mengingat pentingnya memberikan pendidikan sikap terhadap diri sendiri, saya lebih suka tidak berjabat tangan dengan orang yang lebih berperhatian kepada HP-nya daripada ke saya. Tetapi memilih pandangan bahwa banyak orang yang belum mengetahui cara berhubungan secara baik, lebih menyamankan perasaan ketika bertemu dan berjabat tangan dengan orang seperti yang saya ceritakan tersebut. Bahkan lebih menyejukkan hati memilih pendapat, mungkin memang ada berita yang sangat penting ketimbang berpendapat ”saya tidak lebih penting dari pada HP”. Dan, bahkan bisa jadi cara yang masuk akal adalah memberitahu dan memberi contoh yang baik. Bukankah begitu?

2 thoughts on “Ada Apa dengan James Bond 007?”

  1. Orang kayak gitu berarti attitudenya kurang baik pak.. saya salah satu orang yang gak suka dengan adanya HP bla*****y.. Karena dengan HP merek itu membuat orang jadi autis.. gak peduli dengan lingkungan sekitarnya.. asik melototin hp itu kapan saja dan dimana saja.. untuk teknologi dan fitur yang tersedia sih memang keren.tapi membuat mereka menjadi kurang peduli lingkungan..

Comments are closed.