Guru Kok Ditakuti

”Apa yang kita duga, belum tentu tepat dan apa yang kita inginkan belum tentu sesuai”. Ungkapan ini cocok untuk yang saya alami dengan murid-murid SMP  ketika saya memberi presentasi pada mereka. Beberapa hari sebelum presentasi, seorang teman menelpon dan bertanya apa ada waktu untuk memberikan presentasi ke murid-murid SMP tahun awal. Kebetulan saya ada waktu, dan tidak ada kegiatan yang bertepatan dengan permintaan teman saya tersebut. Saya menyanggupi dan menyetujui ajakannya. Walau saya berpikir apa kira-kira yang akan saya sampaikan, karena biasanya saya memberikan presentasi ke mahasiswa, pemuda dan orang dewasa. Tidak pernah saya memberikan ke murid-murid SMP. Bukan ”grogi”. Namun karakteristik mereka harus bertemu dengan cara yang tepat jika ingin memeroleh perhatian penuh dari mereka.

Yang menjadi perhatian saya saat persiapan bukan konten materi namun lebih pada bagaimana cara yang dapat membuat mereka betah untuk mendengarkan saya dan memerhatikan apa yang saya sampaikan. Sehari sebelumnya saya membuat persiapan dengan menyiapkan game dan potongan film. Menurut saya, mereka akan senang dengan penyampaian yang seperti ini. Tidak gampang memang membuat sebanyak 170 siswa SMP, di aula yang sesak dan panas, tetap ”terjaga”.

Saya awali presentasi dengan musik dan saya susul dengan game. Setelah perhatian mereka mulai tertuju pada materi yang akan mereka terima, saya buka dengan pertanyaan:”Apa yang membuat kalian takut?”. Saya mengharapkan jawaban mata pelajaran matematika. Saya ingin membuktikan apakah mereka juga ”takut” matematika, seperti kebanyakan lainnya. Ternyata dugaan saya meleset. Padahal pertanyaan saya dimulai dengan ”apa”. Tetapi jawabannya mengejutkan saya. Mereka serentak, seperti group ”koor”, menjawab: ”Guruuuuuuu…”. Kontan saya kaget bercampur mau tertawa. Kaget, karena menerima jawaban yang takterduga. Mau tertawa, kenapa jawabannya guru. Saya bereaksi cepat memberi komentar agar mereka tidak harus takut kepada guru. Mereka justru harus cinta dan hormat. Guru bukan untuk ditakuti, namun dipatuhi. Setelah itu mereka saya ajak berjanji bersama untuk lebih cinta, hormat dan  memerhatikan apa yang dituturkan guru. Dalam pikiran saya ”Guru kok ditakuti”

Saya sempat berpikir, apa cara saya  bertanya yang kurang tepat, sehingga memeroleh jawaban seperti tersebut. Bahkan saya pernah mengatakan pada tulisan saya terdahulu:”Bertanyalah yang tepat agar memeroleh jawaban yang tepat”. Terlepas dari itu semua, yang menarik perhatian saya justru pada jawaban serentak murid-murid SMP tersebut. Mengapa guru ditakuti? Apa yang ada di pikiran mereka tentang seorang guru? Apa mereka memiliki konsep sendiri tentang seorang guru? Dan  yang berkecamuk di pikiran saya adalah pertanyaan-pertanyaan penyebab murid takut ke guru, apa yang dilakukan guru? Bagaimana penampilan mereka? Bagaimana mereka menyampaikan yang diharapakan ke murid? Bagaimana nada suaranya? Bagaimana mimik wajahnya? dan adakah tindakan-tindakan yang membuat murid trauma? Dan masih banyak pertanyaan susulannya.

Tulisan ini tidak ingin menghakimi siapapun, apalagi guru. Saya percaya ”pahlawan tanpa tanda jasa” tersebut  sudah berupaya dan mengeluarkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki untuk mengasuh murid-murid dengan baik dan ihlas. Saya juga percaya, mereka sudah menggunakan ”jurus” apapun yang dianggap ampuh. Ibarat pesilat mereka justru sudah mengeluarkan jurus pamungkas. Lalu pertanyaannya, mengapa saya memeroleh jawaban seperti di atas. Sayamenyadari, ini bukan sekedar jawaban. Suara mereka menyiratkan ada suatu yang kurang tepat di murid, keluarga dan di guru. Untuk sementara saya ingin melihatnya dari dua faktor terlebih dahulu sebagai bahan pemikiran, yaitu cara komunikasi dan persepsi.

Cara komunikasi dan persepsi memang bisa jadi saling memengaruhi. Cara komunikasi yang tidak tepat akan menimbulkan persepsi yang berbeda pada orang lain. Begitu juga sebaliknya, persepsi yang terpasang lebih dulu akan memengarui cara orang berkomunikasi. Seorang guru yang ingin menertibkan murid adalah maksud baik. Hanya ini bisa dipersepsi menakutkan jika cara penyampaiannya dengan membentak dan selalu menakut-nakuti. Begitu juga, persepsi bahwa seorang anak akan menurut kalau ditakut-takuti membuat seorang guru akan menampilkan cara yang supaya murid takut dan menurut apa yang diinginkan guru. Saya jadi teringat pepatah yang cocok untuk hal ini, yaitu:”Tukang kayu yang alatnya hanya palu, akan memandang segala sesuatu seperti paku”.

Bagaimana membuat murid lebih cinta dan hormat pada guru, setidaknya dua faktor tersebut harus dibuat tepat, baik di guru maupun di murid, termasuk juga di keluarga. Bagaimana caranya?  Perbaiki keduanya. Lalu dimulai dari mana? Niat. Ya, niat, karena hasrat yang kuat untuk memperbaiki, akan menemukan sendiri cara-cara yang lebih baik dalam penyampaian pesan kepada murid, yang pada gilirannya murid akan lebih cinta dan hormat pada guru. Apa dua faktor tersebut hanya untuk guru dan murid? Tidak juga. Kita semua perlu memperbaiki persepsi dan cara berkomunikasi kita, agar bisa andil menyebarkan saling rasa hormat kepada sesama. Tulisan ini bisa dikatakan sebagai ”seri kedua” tentang persepsi dan cara komunikasi setelah tulisan saya terdahulu yang berjudul, Sudah Tahu ”Wedus” disumpahi ”Babi”, agar lebih mantap. Bukankah begitu?

6 thoughts on “Guru Kok Ditakuti”

  1. Setuju, guru adalah sahabat siswa, di samping sebagai orang tua dan sumber kebijakan bagi siswa

  2. bagaimana dengan siswa yang sudah mentok alias sudah tidak bisa diatasi lagi, narkoba-maling-anggota gank dll….. guru juga manusia, dan bagaimana dengan siswa yang sudah dikuasai oleh wilayah premanisme…. akhirnya guru juga yang sengsara…..(banyak terjadi di Lampung…provinsi penipu pertama di Indonesia)

  3. yang betul menurut saya guru itu harusnya mengayomi siswanya, dan harus memberikan contoh yang baik, ketika guru sudah di takuti oleh muridnya, maka yang terjadi murid akan takut untuk bertanya dan ketika itu sudah terjadi, tidak akan terjadi interaksi antara murid dan guru, itu akan berakibat sangat fatal pada peserta didik

  4. tapi tetep aja ada guru yang sok galak dengan tampang serem pas waktu saya sekolah, jadi pas di ajar ma dia rasanya gimna gtu, tapi sekarang mungkin sudah tidak ada guru yang seperti demikian

Comments are closed.