Sisi Baik yang Tersembunyi

Dua hari tanggal 23 dan 24 Februari 2012 angin di lingkungan perumahan saya, atau daerah lainnya, sedang kencang-kencangnya. Maklum sehari menjelang dan setelah  tahun baru Cina, angin memang sangat deras tidak seperti biasanya. Tulisan ini tidak membahas tahun baru ini dan mengapa angin begitu santernya, yang menarik bagi saya adalah dua kejadian berbeda terkait dengan kencangnya angin ini. Satu hal yang menjadi perhatian saya, ketika saya mendengar obrolan Ibu-Ibu saat berbelanja ke seorang ”bakul” (penjual sayur dan ikan) di depan rumah. Dari pembicaraan mereka, saya bisa merasakan kalau hampir semua mengeluhkan kencangnya angin; yang dinginlah, malaslah dan jemuran beterbangan serta lainnya yang menandakan kesumpekan mereka. Ada juga yang mengeluh cuacanya membuat tidak enak badan dan mengakibatkan malas untuk beraktivitas.

Walau angin kencang, saya berusaha untuk tetap bersepeda, agar tubuh terasa agak hangat dan berkeringat. Tentu saja agak susah tubuh ini mengeluarkan peluh saat angin deras. Ketika saya melintas di depan sekolah dasar, saya memerhatikan banyak anak yang memanfaatkan angin deras ini dengan bermain ”kitiran” atau baling-baling. Mereka membuatnya dari kertas dengan lubang tepat di tengah untuk tempat batang bambu kecil sebagai poros berputarnya. Dia hadapkan ”kitiran” tersebut berlawanan dengan arah angin. Anak-anak ini menikmati betul hasil karyanya karena baling-balingnya berhasil berputar kencang. Mereka saling beradu, baling-baling siapa yang terkencang. Mereka sangat senang, terlihat dari tingkah dan raut wajahnya serta suara gelak tawanya. Mereka memanfaatkan angin kencang ini untuk bersuka ria. Suasana yang kontras dengan Ibu-Ibu yang sedang berbelanja tadi. Inilah hal kedua yang menyedot perhatian saya.

Pikir saya, ternyata hal yang sama dapat memeroleh respons yang berbeda. Saya jadi teringat saat kecil di desa. Ketika banjir datang, saya dan teman-teman waktu itu bukan menghindari banjir, malah bermain dengan banjir dan adu keberanian di sungai yang sedang banjir tersebut. Banyak orang tua khawatir, namun kita waktu itu tidak ada pikiran lain selain merasa senang dengan air tersebut. Tepat atau tidak sikap saya dan teman-teman saat itu, memang tidak jelas. Namun, menyikapi sesuatu yang terjadi ala anak kecil terkadang patut untuk dipertimbangkan. Tidak ada perasaan lain bagi anak-anak selain bergembira. Nah, mengapa keterampilan bersenang-senang ini hilang setelah kita beranjak besar. Mengapa sifat ini berangsur-angsur bersembunyi. Bagi anak kecil, mereka memang tidak bisa megendalikan yang terjadi, namun dia bisa gembira dengan apa yang terjadi tersebut. Angin bagi orang dewasa bisa membuat keluhan, namun bagi anak kecil bisa menjadi hal yang menyenangkan. Air, bagi orang dewasa bisa mengkhawatirkan, tetapi bisa menjadi bahan unjuk kebolehan bagi anak-anak.

Pada saat seperti ini saya teringat ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Waktu itu dimarahi habis-habisan oleh orang tua, karena pulang sekolah baju kotor dan basah. Kebetulan jalan di desa saya saat itu belum beraspal seperti sekarang. Kalau musim hujan selalu ada kubangan air di tengah jalan. Saat pulang lewat jalan berkubangan air, saya dan teman-teman bukan menghindar, malah bermain-main dengan air sisa hujan yang ada di tengah jalan tersebut. Saya ingat ketika itu banyak orang dewasa menghindar dari air kubangan ini sambil lewat di pinggir jalan. Umumnya sambil ngomel-ngomel. Namun bagi saya dan teman-teman, justru ini sebagai bahan bermain yang menyenangkan.

Terlepas dari ketidakmengertian anak kecil terhadap akibat sesuatu dan ”bahaya” dari kejadian, ada yang perlu dipelajari dari anak kecil. Yaitu; rasa bersenang-senang dan gembira dengan menggunakan sudut pandang berbeda dari suatu kejadian untuk kesenangan mereka. Mereka mengajarkan pada kita, dengan sudut pandang negatif, apapun bisa ”menyesakkan” dada, sebaliknya dari sudut pandang positif kita bisa mengambil  sisi baik dari suatu kejadian. Suatu yang dianggap menyebalkan, tidaklah selalu demikian, bisa jadi ada sisi baik lainnya yang tersembunyi. Bukankah begitu?