Sudah Tahu ”Wedus” disumpahi ”Babi”

Sebagai pemuda dari keluarga terkaya di desanya, pemuda yang satu ini memang kelihatan perlente. Penampilannya selalu rapi dengan pakaian merk berkelas. Sayang, keadaan ini membuat dia agak angkuh dalam behubungan dengan orang-orang di lingkungan sekitar. Untung saja tetangga dan teman-temannya tidak terlalu memedulikan sikapnya. Di desanya, pemuda ini termasuk dari kalangan keluarga petani kaya. Tak heran, saat panen raya berhasil, orang tuanya membelikan motor Ninja model sport seri terbaru. Beberapa hari setelah memiliki motor idamannya, dia sering keluar rumah dan keliling di jalanan desa dengan menggunakan motor barunya lengkap dengan jaket dan sepatu ala Paolo Rossi. Karena bermotor di daerah pedesaan, dia merasa tidak perlu menggunakan helm walau kondisi jalan di desa tempat pemuda ini dibesarkan  naik-turun, yang terkadang terjal, maklum daerah pegunungan. Seperti biasa dia menyapa siapa saja yang dia temui di pinggir jalan dengan angkuh.

Tepat di jalan menanjak yang di depannya ada turunan cukup terjal, ada seorang berdiri di pinggir jalan melihat sang pemuda sedang mengendarai motor barunya dengan sambil menoleh ke dia. Tatapan  matanya fokus ke orang di pinggir jalan tersebut, sehingga pandangannya tidak lagi lurus ke depan. Betapa kaget pemuda ini, orang tersebut menempelkan kedua telapak tangannya membentuk seperti corong tepat di depan bibirnya, sambil berteriak ke dia:”Wedus…”. Merasa diejek, pemuda ini membalas lebih keras:”Wedus….dewe (Kamu yang wedus)”. Eh…malah diulang oleh orang tersebut lebih keras: ”Weduuss”. Kontan, pemuda ini membalas lebih keras lagi:”Wedus..dewe”. Ketika sampai di turunan, ”Bruukkkkk…..embeeeeek”. Rupanya pemuda yang tidak tahu diri ini menabrak sekawanan kambing yang ada di turunan jalan, yang dia tidak kelihatan saat melintas di tanjakan. Dia meringis memegang kepalanya yang benjol, sambil menyumpai kambing yang ditabrak:”Dasar babi”.

Saya tidak memaksa Anda untuk tersenyum. Walau saya sarankan biasakanlah tersenyum untuk menghiasi wajah Anda.  Cerita tersebut saya adopsi dari Ajhan Brham di bukunya ”Cacing dan Kotoran Kesukaannya”. Walau joke, cerita tersebut membawa pesan yang bermakna. Bukankah sering terjadi dalam komunikasi terjadi salah paham hanya karena persepsi yang berbeda. Apalagi persepsi yang selalu dibungkus rasa curiga dan tidak suka. Persepsi yang membuat kita marah pada orang yang sungguh-sungguh ihlas memberitahu kita, yang membuat kita menolak pendapatnya hanya karena seseorang pernah salah pada kita, yang membuat kita gerah hanya karena kita menganggap yangbersangkutan tidak setuju dengan pendapat kita, dan banyak lagi persepsi-persepsi lainnya.

Bisa jadi dalam komunikasi, kita sering seperti tergambar dalam cerita di atas. Yang satu dengan membawa perasaannya sendiri (pengendara Ninja) dan yang lainnya (seseorang yang berdiri di pinggir jalan) memiliki maksud baik yang sayang tidak disampaikan secara tepat. Bukankah sering terjadi kekacauan di manapun, rumah tangga, kantor, organisasi bahkan negara,  terjadi salah satunya karena disebabkan faktor komunikasi. Dengan demikian, komunikasi menjadi salah satu kunci penting dalam kehidupan apapun. Saya teringat pada pesan seorang bijak yang mengatakan:”kebaikan yang disampaikan dengan tidak santun, akan kehilangan hormatnya orang pada kebaikan tersebut”.

Dalam komunikasi ada tiga unsur penting, yaitu penyampai, pesan dan penerima. Agar pesan dapat diterima sama, harus ada kesepakatan memaknai sesuatu pesan. Karenanya timbul kode atau cara yang disepakati bersama. Namun ternyata tidak ini saja. Perasaan dan persepsi penyampai dan penerima pesan memiliki peran sangat penting dalam komunikasi yang efektif. Cara orang di pinggir jalan memberitahu pengendara motor, seperti cerita di atas, mengundang kejengkelan pengendara yang menganggap mengolok dia, sehingga terjadi akibat yang vatal. Hal tersebut dapat dihindari jika saja tidak ada persepsi negatif dan tidak ada cara yang tidak tepat. Kabar baiknya, kedua faktor penting dalam komunikasi tersebut dapat dipelajari dan dilatihkan serta dapat digunakan untuk mengukur keefektifan komunikasi kita, agar tidak terjadi Sudah Tahu ”Wedus” disumpahi ”Babi”. Bagaimana?