WOOOWWW…….!!!!!

WOOWW….!!!!

Mataku sempat terbeliak….mulutku  ternganga, bibirkupun ikutan dhower…… 🙂
Ada kalimat disuarakan dengan menarik dan menggelitik gendang telingaku, yang itu kemudian tercerna dalam otakku sehingga menggerakkan facial gestur ku seperti itu…..

Ini terjadi pada saat aku sedang tugas mengajar di kelas…..sedang asyiknya aku sharing dengan mahasiswaku, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu sehingga memaksa aku untuk menghentikan keasyikanku sejenak untuk menengok, membuka pintu dan mempersilahkan 2 orang mahasiswa yang datang memasuki ruangan kelas. Ternyata mereka minta kesempatan untuk menyampaikan pesan dari salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang akan menyelengagarakan seminar beberapa hari ke depan…. Akupun langsung mempersilahkan dan ikut mendengarkan dengan seksama….
Dari penyampaiannya, seminar diselenggarakan dengan tema yang cukup menarik…”Kiat-Kiat bernegosiasi di dalam dunia bisnis” dan disebutkan pula 2 nama orang narasumbernya yang cukup kompeten, karena reputasinya cukup terkenal dan memiliki posisi jabatan yang wooww…

Tapi yang lebih menarik bagiku …saat mereka menjelaskan bahwa peserta seminar akan dibekali cara-cara dan trik-trik khusus bernegosiasi ala Gayus Tambunan (si Manipulator pajak yang handal) dan Mellinda Dee ( si cantik seksi pembobol rekening masabah City Bank)…..
Spontan akupun bereaksi untuk berkomentar……”Woowwww…….artinya peserta akan dibekali cara bernegosiasi  bagaimana membodohi dan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dan memperkaya diri sendiri….begitukah?????    dan mereka menjawab….”ya bu, karena itu yang lagi up to date dan penting untuk di sharing kan….”
Lagi-lagi aku berucap….”Woooowwww…..” sambil aku mengangguk-angguk seakan aku mengiyakan ucapannya, padahal akupun sedang bengong dan bermain dengan persepsiku…
Sehingga sempat terlintas dalam benak ku…bila itu yang terjadi, MAU DIBAWA KEMANA (seperti salah satu lagunya Armada Band…:)  ) generasi  muda ini….kok dibekali cara dan trik melakukan kecurangan….tapi akupun segera menghentak persepsiku untuk tidak berprasangka buruk terhadap apa yang aku dengar….dan berharap semoga tidak sepert
Yang aku pikirkan…wait n see ajalah….di saat seminar itu nanti digelar…
WOOOWWWWW……CAYOOOOOOOOOOO…….SUKSESSSSSS…………….!!!!!!!
Sekali lagi semoga banyak sisi positif yang dihasilkan dari seminar itu nanti…..

DAHSYATNYA…..!!!!!

Gelegar alunan lagu artis Bollywood ….Sahrukhan,
Cale ya Caiya ..Caiya..Caiya…
Calee yaa ..Caiya..Caiya..Caiya  …,
Beberapa hari terakhir, mampu menggemparkan jagat raya ini dilengkapi oleh kehadiran sesosok figur sederhana….seorang polisi asal Gorontalo ..Briptu Norman..
Kehadirannya lewat lipsyns lagu Bollywoodnya di Youtube ternyata mampu menyedot perhatian semua khalayak…mulai dari mereka yang ada kampung, perkotaan, sampai metropolis… dari kalangan anak-anak, remaja, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga sampai kalangan selebriti…semua pada ikutan bicara, komentar, memberikan opini dan bahkan berdecak  kagum dan gandrung pada sosok Briptu Norman atau bahkan menjadi terobsesi pada apa yang telah Norman dapatkan saat ini, sehingga terinspirasi untuk ikutan melakukan hal yang sama….  (hahahahaahhaaha…..)
Media cetak dan elektronikpun tak ketinggalan memanfaatkan moment cantik dan fenomenal dari Briptu Norman…….semua stasiun dan program acara TV berebut untuk menayangkan sensasi ini seperti acara selamatan…..agar terkesan selalu up to date….dan nomer satu…, sehingga hapir tiap waktu wajah Norman menghiasi layar kaca…..woooww…

Dari pengakuannya…….Briptu Norman pada awalnya tak pernah punya angan atau harapan dari apa yang dia lakukan, bisa seperti yang dirasakan saat ini….
Perilaku isengnya mengisi kejenuhan saat berpiket, menghibur teman yang sedang sedih, justru berbuah manis baginya….bukan saja terbukanya lebar kesempatan menjadi selebriti, karir, ekspresi diri dan reputasi barunya. Keluarganyapun ikut merasakan kebahagiaan dan kebanggaan dari apa yang telah Norman raih, terutama ayah bundanya. Bahkan buah manis itu juga dirasakan oleh korps kepolisian sebagai tempat dia bernaung….. bisa sedikit menggeser image keras, kaku dan menyeramkan dari sosok seorang polisi ataupun kinerja kepolisian yang selama ini disorot miring oleh masyarakat kebanyakan. Untungnya lagi pimpinan Kepolisian cepat tanggap akan situasi ini dan bersikap ‘Apreciative/ mengapresiasi’ bakat Norman.  Semula, Briptu Norman akan di tindak dengan di kenakan sangsi tegas sebagai bentuk pelanggaran karena merekam aksi seksinya disaat sedang bertugas…. tapi karena animo dan dukungan masyarakat luar biasa terhadap Norman, membuat pimpinan korpsnya berfikir dua kali untuk memberinya sangsi. Mungkin disini arti penting dan makna Apreciative dari pimpinan atau institusi pada prestasi atau pada apa yang telah atau pernah dilakukan anak buahnya… bukan hanya sekedar mendengarkan orang lain yang sedang berbicara dengan seksama…… 

Fenomena ini sempat juga menyentuh perhatianku dan singgah dibenakku untuk sejenak merenungkannya. Bukan merenungkan tentang kapan atau bagaimana aku bisa beraksi yang sama dengan Briptu Norman dan kemudian menjadi selebriti, tetapi makna yang lebih dalam dari apa yang telah Norman dapatkan hari ini….

BEGITU DAHSYATNYA……!!!!!
Itu kata yang muncul dalam benak ku….
Bila Allah telah berkehendak, maka sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin…
Bila Allah telah berkehendak, maka apa yang dipandang orang rendah, ditinggikan derajatnya…
Bila Allah telah berkehendak, maka apa yang dipandang orang nista akan dimuliakannya…
Bila Allah telah berkehendak, maka yang apa dipandang orang itu mulia akan dinistakannya….
Apa yang dipandang orang sebagai kehebatan tehnologi, harta, tahta atau kekuasaan manusia, bila Allah telah berkehendak semua itu tak ada arti apa-apa…dan hancur tak bersisa….
Seorang Fir’aun pun yang miliki kekuasaan hebat, yang merasa dirinya paling pandai, tahu segalanya dan bahkan memposisikan dirinya sebagai orang paling suci….paling benar…gilanya lagi memposisikan sejajar dengan Allah dan sanggup menentukan surga neraka buat orang lain (audzubillahmindhalik….bila ada manusia mewarisi sifat Fir’aun ini….) itupun dihabisi oleh Allah dengan DahsyatNya…….subbehannallahhhhhh…..

Dengan cara dan rencana NYA…..dan itu kita tak kan pernah tahu seperti apa caranya, bentuk nya, modusnya…..atau apapun itu, semua adalah rahasiaNYA…
Dari sanalah .. aku menghentak diriku sendiri untuk selalu berbenah, karena semuanya tak pernah terduga dan datangnyapun tak pernah aku tahu….kadang yang aku harapkan itu datang tapi tak pernah datang,  kadang yang tak pernah aku pinta dan harapkan hadir didepan mata…. Akupun tak pernah tahu apakah kalian para sahabat yang sempat membaca kalimatku ini juga merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan …tentang ….
DAHSYATNYA……BILA ALLAH TELAH BERKEHENDAK….

UNIK DAN TAJAMNYA SEBUAH “PERSEPSI” ………….

“PERSEPSI”……….sebuah kata yang biasa terdengar dan sangat mudah terucap, bahkan sering digunakan sebagai kata  himbauan pada seseorang untuk membangun sikap bijak dengan istilah  “Positif Thinking…. Jangan Berprasangka Buruk….Jangan Shuudzon.…Mesti Berpikir Positif ”  dan masih banyak istilah lain apapun sebutannya. J  Tetapi bila kita kenali apa dan bagaimana tentang ‘Persepsi’ ini…..memang bisa dibenarkan bila kata ini merupakan hal yang cukup ‘unik dan tajam’….sehingga sangat beralasan perlu dikelola dengan cantik baik oleh individu dan atau dalam organisasi, terutama oleh para ‘Decision Maker’ atau Pengambil Keputusan.

Mengapa demikian????

Dimana letak keunikan dan ketajaman nya  ?????

Ikuti uneg-uneg 2011 ini  ……  🙂

Keunikan dan ketajaman persepsi….karena sangat”  Subjektive….

Kata Pak Steven Robin bahwa Persepsi adalah proses kognitif yang terjadi secara internal dalam diri seseorang setelah menerima rangsangan dari pancaindera atas lingkungan sekitarnya. Dan dikatakan juga bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi seseorang  ‘apa Target nya, siapa Pemersepsi nya  dan bagaimana Situasi nya
Pak Charon, menyebut bahwa persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu, sangat diarahkan oleh perspektif mereka, apa menurutnya, apa yang menjadi kebiasaannya ……yang didasarkan pada konsep berfikir, asumsi, nilai, gagasan, sikap kepribadian yang mereka miliki. Didukung juga oleh pandangan Pak Bigge, menyebut bahwa persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu selalu dikaitkan dengan pengalaman serta pandangan seseorang pada waktu terjadinya persepsi. Sementara Charles Osgood, mengaitkan persepsi dengan proses pemaknaan dan interpretasi.

Berangkat dari pendapat para pakar tersebut, jelas menunjukkan bahwa persepsi yang akhirnya melahirkan penilaian orang terhadap sesuatu (termasuk menilai seseorang atas suatu kejadian) menjadi sangat tergantung pada keingingan atau kemampuan memberikan pemaknaan, interpretasi, serta perangkat asumsi yang mereka pakai.

Karena itu sangat wajar bila dalam satu organisasi terjadi suatu permasalahan, yang sebenarnya sangat”lah pribadi  dari seorang anggotanya, tapi terpaksa menjadi ‘terpublish’ di lingkungan kerja………..sehingga menarik reaksi dari pimpinanan nya yang menjadi ‘sok atau kebakaran jenggot’ karna merasa bertanggung jawab dalam menjaga moralitas lingkungan kerja, memprotes perilaku karyawannya sampai bahkan memberikan teguran, peringatan, punishment atau bahkan judgment (…..ini masih lebih baik bila dilakukan secara terbuka dan prosedural, tapi alangkah “naifnya” bila kemudian justru pimpinan melakukan pembunuhan karakter tanpa pernah konfirmasi pada yang bersangkutan……..)   :’)…..

Dan mungkin juga banyak pihak yang menjadi tertarik untuk ikut mendengar, nimbrung sekedar berkomentar, ikutan beropini atau ikutan membuat judgment untuk meyakinkan agar pembunuhan karakter menjadi lebih sempurna………. Tapi ada juga dari antaranya justru berpersepsi sebaliknya ………tertarik untuk ikut memberikan penilaian, berkomentar dan memberikan opini bahwa permasalahan rekan nya itu bukan hal yang istimewa untuk di bahas atau dievaluasi karena tidak ada relevansinya bagi kemajuan, perkembangan atau strategi organisasi…..hanya sekedar ‘gosip’ picisan dan tidak potensial dianalisis oleh pengambil keputusan…:)

Memang prinsip kebebasan itu akan berjalan tanpa masalah, selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Karena itu, bagaimana pun  permasalahan yang terjadi pada diri seseorang tidak cukup hanya dipandang dari sebelah mata, didengar sebelah telinga…..karna akan menghasilkan pemaknaan dan intepretasi yang salah dan menjadi tidak bijak.  Untuk mengeleminir kesalahan tsb perlu lebih awal dilakukan pendekatan secara faktual, personal, psikologi dan humanis…..sebelum opini disebarkan menjadi sebuah ‘image atau citra diri seseorang’……

Persepsi/Prasangka secara psikologis merupakan predisposisi untuk memberikan penilaian yang diskriminatif terhadap pribadi atau kelompok tertentu. Menurut analisis transaksional, hal ini terjadi karena cara hidup yang kita peroleh dari pengalaman sejak kecil atau masa lalu menjadikan kita tidak dapat melihat keadaan sebenarnya dengan jelas. Kita mempunyai harapan-harapan tertentu tentang orang lain –seringkali harapan yang bersifat negatif–,  karena perbedaan jenis kelamin, suku bangsa, agama atau perbedaan kelompok. Harapan-harapan demikian seringkali tidak diajarkan terus terang pada kita, tetapi diangkat dari pengamatan kita terhadap prasangka mereka yang pengaruhnya mulai dari masa kecil kita.

Adakalanya prasangka mampu membuat seseorang yang kurang percaya diri merasa lebih baik. Prasangka dapat membuat orang memandang rendah orang lain.Sesungguhnya hal demikian justru mempersulit upaya mengenali dan menghilangkan prasangka.Orang yang sangat dikuasai prasangka biasanya selalu merasa tidak aman dan bersifat kaku.Mereka selalu mencoba mengatasi keraguan dan ketakutan mereka dengan merendahkan orang lain, melemparkan kesalahan pada orang lain, dan menganut faham yang dogmatis. Menyadari sifatnya tersebut, membuat kita tidak mudah marah terhadapnya. Orang yang demikian tidak akan menjadi baik bila dihadapi dengan sikap yang keras dan menuntut ; sebaliknya, mereka membutuhkan rasa aman dan tenang, sebelum mampu menghilangkan sikapnya yang kurang baik.

Diperlukan  Pembelajaran dan Pengendalian………..

Gaya interpersonal……… ini terkait dengan bagaimana cara kita memperlakukan orang lain dan perlakuan orang lain terhadap diri kita sesuai dengan yang kita harapkan. Orang dewasa seperti halnya anak”, berbeda caranya berkomunikasi dengan orang lain. Ada orang yang hanya sedikit memberikan andil bagi orang lain, tetapi banyak sekali yang mengharapkan dari andil orang lain. Ada orang yang memanfaatkan kemarahan yang meluap-luap untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau membisu atau menarik diri bila keadaan dirasakannya tidak menyenangkan. Ada pula yang mencoba mempermainkan atau “memanfaatkan” orang lain dan adapula yang sangat menghargai orang lain dan memperlakukannya sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Seperti halnya gaya moral, kita mengikuti suatu cara tertentu dalam menuju kematangan hubungan pergaulan.

Kadang seseorang hanya mempertimbangkan masalah moral hanya di saat dia menemui kesulitan. Tampaknya dia tidak mengerti bahwa orang membutuhkan peraturan tentang perilaku dalam kehidupan  bersama. Baginya, perbuatan tercela hanyalah perbuatan yang dapat dihukum, dan seseorang tadi hidup menurut impulsnya.Bila mengalami frustasi atau marah, dia suka mengamuk.Dia akan memandang orang lain sebagai sumber masalah, dan menilai diri mereka dari seberapa banyak bantuan orang tersebut kepadanya.

Dalam pandangannya yang terpusat pada diri sendiri itu, ia mengabaikan perasaan dan keinginan orang lain.  Bila masalah interpersonal menjadi terlalu sulit, maka dia akan dengan serta merta melarikan diri dari keadaan, tidak berusaha memperbaiki dan mencarikan solusi dari permasalahan yang muncul tapi bahkan mengakhiri suatu hubungan interpersonal.

Karena itu, ke depan kita perlu bersama-sama mengelola persepsi kita dengan lebih arif, serta menggunakan kemampuan empati secara maksimal. Dengan cara itu dalam menilai sesuatu kita tidak hanya akan terdominasi oleh kepentingan, cara pandang, serta keyakinan kita saja, namun secara seimbang juga menggunakan pertimbangan perasaan serta kepentingan organisasi yang lebih luas. Dalam bahasa komunikasi, demokrasi itu sebenarnya adalah dialog.Ketidaksamaan pandangan, terhadap sesuatu, termasuk keinginan menyampaikan sesuatu melalui gagasan, sikap perilaku dan bahkan protes ( lisan,tertulis atau demo………) perlu kita dialogkan, sehingga hasilnya akan lebih banyak manfaatnya dibanding mudharatnya.

Para pengelola manajemen harus pula lebih menggunakan kemampuan emphatic nya, karena mereka tentu sadar bahwa perilaku dan kebijakan nya tidak selalu memuaskan semua pihak, bahkan mesti akan ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Karena itulah sikap, perilaku dan gaya kepemimpinan yang empatik, menarik, serta bermanfaat harus dijadikan tujuan utama yana akan dicapai.

Kita sadar bahwa dalam setiap organisasi dalam kondisi yang pluralistik, mengandung banyak potensi, selain tentu pula banyak kepentingan. Karena itu, mengelola persepsi agar relevan dengan actual needs organisasi dan orang” di dalamnya, merupakan kewajiban pengelola, sebaliknya mengelola persepsi atas kesetujuan atau ketidaksetujuan secara empatik, . Itulah sebenarnya inti hasil dialog/sharing yang akan bermanfaat bagi kita.

“VISIONARY LEADERSHIP” SALAH SATU IMPLEMENTASI GAYA KEPEMIMPINAN

“VISIONARY LEADERSHIP”
SALAH SATU IMPLEMENTASI GAYA KEPEMIMPINAN

Artikel ini aku tulis bukan dengan maksud untuk menggurui temen” pembaca, tapi sekedar ingin keluarkan “uneg-uneg 2011” dan sharing. Jadi bila ada yang tidak sependapat, boleh komen atau memberikan pembenaran…….OKAYYYY…..!!!!?

Bicara tentang lingkungan bisnis (apapun jenis dan bentuknya) di masa mendatang, bisa dikatakan sebagai lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian. Ini pula yang jadikan rencana strategis manajemen  kurang atau tidak efektif. Dalam pelaksanaan rencana strategis, sering pimpinan puncak di buat puyeng sekaligus kecewa oleh parameter yang tidak jelas dan itu jadi pemicu lingkungan yang selalu berubah dalam tempo yang relatif pendek. Sehingga target dan upaya pengembangan manajemen susah dicapai dan di realisasi, karna misi yang dijalankan sudah tidak cocok lagi dan Visi manajemen pun jadi kadaluarsa….Dari sinilah dibutuhkan “Visionary Leadership” untuk mengendalikan gejolak ketidakpastian itu.

Ngutip dari kesimpulan Nanus dan Jakson dari nalar para futurist bahwa karakteristik organisasi  umumnya di masa depan, antara lain seperti ini:
•    Karyawan/pegawai  dalam kelompok kerja punya berketrampilan tinggi
•    Produk yang ditawarkan sarat dengan inovasi
•    Manajemen terstimulasi oleh tehnologi informasi
•    Manajemen memiliki tujuan ganda yang melayani kepentingan stakeholder yang beragam. Batas formal pelimpahan wewenang dan tanggung jawab menjadi kabur dengan berkembangnya bentuk dan macam  kerjasama.

Umumnya di tingkat manajemen puncak, gaya kepemimpinan yang bisa di terapkan antara lain: charismatic, strategic dan visionary leadership. Model kepemimpinan Charismatic dapat kita liat dari para negarawan seperti Bung Karno, Pak Harto, JF Kennedy, Mahatma Gandhi….dll, mereka memiliki visi  jauh ke depan dan rencana tindakannya di sampaikan secara oratorik, mengetahui kemampuan dirinya dan memanfaatkannya dalam pola memimpin keseharian….
Model Kepemimpinan Strategic, merupakan gaya yang lebih rasional dengan menggunakan acuan prediksi SWOT nya. Ini cocok untuk manajemen yang melakukan  perencanaan formal dan dana yang terbudget (strategic allocative planning). Sedangkan Visionary Leadership memiliki cakupan yang sedikit beda. Yaitu kemampuan untuk menyatakan visi kepemimpinannya secara realistis, dapat meyakinkan dan menuntun tujuan masa depan lebih baik dari hari ini. Selalu konsisten dan fokus pada pencapaian visi, tidak kaku untuk masalah anggaran terutama untuk menumbuhkan sistem yang inovatif.
Salah satu contoh pada skala nasional, Ciputra (property Indonesia) sukses mengantar imperium perusahaannya menjadi perusahaan kelas atas untuk katagori property development, karna memiliki visi realistis dan terfokus.

Seorang Visionary Leader mesti punya kemampuan merumuskan dan menjual visi serta mengelola organisasinya secara professional. Tapi hal ini belum bisa dikatakan cukup, pemimpin harus mengupayakan mendapat respek (Credibility) dan kepercayaan (trust) dari karyawan untuk merealisasi visi yang telah ditetapkan. Dan yang perlu di garis bawahi lagi bahwa pemimpin mesti memiliki integritas, kompeten, konsistensi, loyal dan terbuka.
Pemimpin Visioner mesti mampu menstimuli motivasi karyawan professionalnya untuk menghasilkan karya nyata secara inovatif. Mampu mengakomodir ego dan kepentingan individu dan kelompok untuk merealisasi visi organisasi. Pemimpin visioner harus sensitive juga terhadap hubungan perseorangan         (individual consideration) dengan memberikan perhatian, membimbing memberi nasehat bukan menghujat, bila ingin merangsang budaya kerja inovatif, penilaian kerja dan tidak lagi hanya menekankan pada tanggung jawab dan deviasi dari target atau standart performance. Yang jelas seorang Visionary Leader perlu memiliki Human skill ( keahlian pendekatan manusiawi ) yang tinggi, mampu memecahkan konflik yang timbul antar anggota, mendengarkan segala keluhan, memberikan umpan balik yang seimbang dan mampu oral persuation.

Disamping itu perlu juga memiliki ketrampilan khusus  yang sifatnya sangat kritis, ini aku kutip dari White, Hodgson dan Crainer, :
•    Difficult Learning : proses belajar yang rumit dan sulit bisa merangsang kreativitas. Untuk mendorong kemampuan mengidentifikasi apa yang belum diketahui dan yang belum di dapat cara pemecahannya.
•    Maximizing Energy:  upaya memaksimalkan energy bukan diartikan ‘begadang’ untuk kerja keras, tetapi dapat mengambil keputusan yang berkualitas. Harus bisa keluar dari mindset ‘statusquo’ yang sifatnya kompromistis.
•    Resonant Simplicity:  berlogika secara sederhana menjadi keunggulan dalam bersaing, yang tidak muluk” tapi susah direalisasi.
•    Multiple Focus: artinya tidak hanya focus pada kegiatan yang sesuai dengan rencana strategis saja, tapi juga yang non strategis.
•    Mastering Inner Sense: bahwa berprediksi itu tidak hanya mengandalkan logika dan rasio dari data” saja tapi kadang juga perlu ilmu dari dalam diri ( inner sense) terutama untuk membuat keputusan cepat dalam kondisi yang tidak menentu.

Itulah teman” pembaca …..sekilas yang bisa aku berikan tentang gambaran karakter dan ciri pemimpin yang visioner. Sedikit yang bisa aku share dan titipkan kepada para pemimpin ……bahwa jadi seorang pimpinan yang Visionary diharapkan tidak hanya siap menghadapi permasalahan” manajerial dalam organisasinya dengan mengandalkan profesionalisme saja, atau sekedar menampakkan karismatiknya ataupun kemampuan ‘to exercise power’ tetapi harus lebih luas lagi dari 2 aspek yang sudah aku coba kemukakan. Dia harus punya visi yang jelas, realistis ( tidak ndakik”/muluk”/lebayyyyy…….) dan mampu memberi pengaruh perilaku yang bisa diteladani serta mengelola organisasi secara “behavioral”, “manusiawi” dan “competence”.

Thanks berat buat temen” yang sudah mau baca sampai selesai…..
Salammmmm…….. 

Sepenggal Perjalanan

SEPENGGAL PERJALANAN
Tak selamanya dalam perjalanan hidup ini seperti yang kita inginkan, seperti yang kita mau atau pun seperti yang kita harapkan. Padahal dalam setiap doa yang kita nafaskan dan mohonkan pada yang berkehendak atas hidup ini selalu yang terbaik. Kita ingin selalu diberikan bahagia, sejahtera, dilimpahkan rizki , dijadikan dalam keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan masih banyak lagi yang sering kita minta dariNYA….
Dan dalam perjalanan ini tak jarang kita ditemukan dalam cerita yang bahagia tapi sering pula kita dihadapkan dalam peran cerita sedih…. (tapi semoga sedih yang kita perankan ga’ berkepanjangan lhoooooo…..cccuuuaapek dahhh…..) 
Ini artinya bahwa kita lebih suka memilih cerita bahagia dalam hidup kita, meski kemudian yang selalu dihadapkan pada kita adalah cerita –cerita sedih…. 😛
Tapi kita perlu tetap yakin bahwa di dalam cerita sedih itu pasti akan memunculkan sinar yang bisa menerangi, makna yang tersirat dan hikmah yang menyejukkan…..
Tak perlu  dipungkiri atau kita malu mengakui bahwa banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, mulai dari cerita sedih, memalukan, bahagia sampai dengan cerita-cerita yang mampu  menggetarkan hati …..hmmmmmm………………..amazing…

Continue reading “Sepenggal Perjalanan”

PERFORMANCE APPRAISAL…..EFEKTIFKAH????

Performance Appraisal…….EFEKTIFKAH ???

Banyak organisasi yang secara rutin melakukan performance appraisal. Ada yang setiap tahun, semester, ada juga yang per kwartal. Banyak cara yang dilakukan dan tujuannya secara umum sama yaitu : peningkatan kinerja. Dengan Performance appraisal, diharapkan karyawan akan terdorong untuk meningkatkan kinerjanya dari waktu ke waktu, yang akhirnya tentu saja peningkatan kinerja organisasi secara keseluruhan. Benarkah? Continue reading “PERFORMANCE APPRAISAL…..EFEKTIFKAH????”

Apa Sih… “Kesetaraan Gender”

PERSPEKTIF kebanyakan masyarakat terhadap makluk Tuhan yang bernama “laki-laki” kadang dirasakan berlebihan. Dan laki-laki pun sering merasa bahwa menjadi laki-laki itu tidak gampang, dia harus terlihat sebagai sosok yang kuat, perkasa (maco….), dan tidak cengeng, Ketika seorang anak laki-laki diejek, dipukul, dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar, biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. Sebaliknya, ia ingin tampak percaya diri, gagah,dan tenang dan ketidakberdayaannya.Cukup berat beban anak laki-laki yang harus selalu bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya.

Continue reading “Apa Sih… “Kesetaraan Gender””

Antara Harapan dan Realita

Sering nya tersirat dalam persepsi kebanyakan teman-teman mahasiswa bahwa menguasai materi itu tidak penting apalagi mendalaminya, yang penting adalah bagimana caranya mendapat nilai bagus dan lulus. Segala cara dilakoni, meskipun sering dengan cara yang kurang “cantik” seperti sistim belajar SKS alias” Sistim Kebut Semalam”, membuat contekan atau tebar pesona pada dosen nya .

Waktu kuliah seakan tidak punya tujuan apa-apa, yang penting bisa kumpul dengan teman dan bermain sepuasnya dan itu menjadi sesuatu yang istimewa.
Bagaimana setelah mereka dinyatakan lulus dan di wisuda sebagai Sarjana??????

Continue reading “Antara Harapan dan Realita”