” Membangun Kepercayaan Baru”

“Masalah akan berlalu ….seiring berjalannya waktu”…” Everything so must go on….”

Ini kalimat yang sering terdengar ditelinga kita sebagai nasehat atau kita perdengarkan kebanyak orang, untuk sekedar mengalihkan “rasa tak nyaman…rasa tertekan…rasa galau dan rasa-rasa lain yang senada.

Tapi apakah kalimat itu memang benar adanya???

 

Anda meyakini kebenaran kalimat itu???

Uuulalaaaa…… ( ngutip bahasanya Sahrini nie… )

Tapi hati dan pikiran ku tidak mempercayainya.

Kadang ada beberapa masalah yang memang tidak bisa diselesaikan seketika, kelar dan tuntas dengan sekejap waktu, tapi ada juga yang butuh waktu lebih lama penyelesaian nya. Dan itu bukan berarti pada rentang waktu itu kita terus berdiam diri, merenung,  bersemedi hati dan menyerahkan pada  alam semesta ini untuk membereskan nya.

Masalah harus dihadapi dan diselesaikan dan butuh  keberanian untuk menghadapi  MASALAH itu. Menurutku ini semacam hukum alam yang berlaku di manapun di seantero bumi ini.

Masalah yang selalu kita simpan dan timbun atau bahkan kita siapkan “lemari” untuk menyimpan nya, akan semakin membuat kita tidak merasakan ketidak tentraman  dan tak ada kedamaian dalam menjalani hidup ini. Karena cepat atau lambat, semua itu ibarat BOM waktu yang siap meledak karena kita tidak tahan lagi pegangi pelatuknya dekat kuat dan semua isi lemari akan berhamburan.

Hati dan pikiran kita bukan seperti “ lemari” dan atau seperti kantong Doraemon yang amazing bisa menampung apa saja yang kita simpan dan dalam jangka waktku yang sangat sangat panjang dan atau bahkan until we die . Hmmm….aku yakin dan bisa rasakan bahwa kecenderungan untuk mendiamkan dan menumpuk masalah dalam “lemari” justru bisa menjadi biang kericuhan dalam relationship kita. Entah itu hubungan pertemanan, hubungan keluarga, hubungan suami – istri dan atau hubungan dengan kekasih.

Sebagai individu sering aku cenderung bersikap seperti itu, yaitu membiarkan masalah yang terjadi tanpa penyelesaian secara tuntas dan mengalah untuk meredam dan berfikir….pelahan- lahan  akan terbuka dengan sendirinya dan dari sana akan didapat solusinya.  Tapi semua itu SALAH besar… Yang ada hanya ada rasa sakit, tertekan, terdesak dan berontak dan…..Duuuuaaarrrr!!!….menjadi tak terkendali. (ini hasil belajar dari pengalaman yang aku lewati dan jalani)

Mungkin Anda  berbeda …dan masing-masing kita memang miliki perbedaaan pada “tingkat kecenderungan yang kita miliki”. Beberapa diantara memiliki tingkat kecenderungan yang lebih rendah dan banyak berusaha untuk secepatnya menghadapi masalah-masalah yang tertunda.

Tetapi beberapa yang lain mungkin berada pada zona penyangkalan terus-menerus dan merasa tidak ada yang perlu untuk dihadapi dan berusaha menghibur dan mengalihkan masalah nya.

Seperti juga diriku…. jujur bahwa aku tidak bisa meletakkan orang lain dalam posisi salah, bila mereka berada pada zona penyangkalan dan berusaha mengalihkan masalahnya. Karena dari awal telah ditanamkan pada diri kita tentang nilai-nilai bertoleransi, mau berkorban untuk orang lain, memposisikan untuk bisa saling melengkapi dan bahkan juga ditanamkan bahwa kita saling membutuhkan dalam hidup ini.

Hal itu bisa aku benarkan, dan itu memang mejadi bagian dari peran kita sebagai makluk sosial. Ada 2 kecenderung yang biasa kita lakukan untuk menyikapi datang nya masalah;

Mungkin yang pertama ini agak konyol , bila kemudian hal itu menjadikan kita merasa sangat tergantung dan takut kehilangan seseorang dan atau takut ditinggalkan seseorang sehingga kita merasa menjadi sosok yang tidak sempurna. Dan ujung-ujung nya,setiap jengkal nafasnya dia akan berusaha untuk menyenangkan orang lain agar keberadaan nya bisa dirasa sempurna, meskipun apa yang dilakukan sebenarnya menyakiti diri sendiri. Mereka takut untuk menghadapi masalah,karena mereka yakin dengan menghadapi masalah tersebut justru akan membuat hubungan yang terjalin menjadi hancur berantakan. (“Bener aja … aku memang tolol. Biarkan aja wess….ga perlu untuk dibahas lagi, toh nanti akan mereda sendiri”)….tapi dalam hatinya  masih dipenuhi dengan prasangka….

Yang kedua, kita terus menjadi penyangkal kelas wahid bahwa kita tidak butuh orang lain karena rasa atakut akan ketidaksempurnaan. Mereka akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa  mereka SANGAT sempurna tanpa orang lain dalam hidupnya. Mereka selalu berhasil menggali sisi buruk dari orang lain dan selalu juara juga dalam menyalahkan orang lain ketika ada masalah yang terjadi. Setiap ada masalah, itu pasti karena orang lain dan bukan karena dirinya. (“Hmmm… semua masalah bersumber dari dia….dasar makluk sial, sumber masalah …. Udah EGP (emang Gue pikirin) aja! Aku bahagia hidup dalam dunia ku sendiri. Aku ga butuh orang lain karena aku terlalu sempurna untuk mereka. Aku bisa mewarnai dunia”)

Kedua sikap yang aku ilustrasikan, sebenarnya bisa menjadi gambaran kecenderungan emosi yang ada dalam diri kita , dan kedua nya mencerminkan balutan RASA KETAKUTAN kita. Terlepas Anda setuju or not dengan ungkapan ku ini. Bagiku ini stimuli, untuk aku bisa sharing bahwa tak ada yang tak bisa dirubah menjadi lebih baik, menjadi lebih bijak dan menjadi mendekati yang sempurna.

Kerasnya hati bukan cermin kuatnya kepribadian, kemandirian , keteguhan, ketabahan dan atau menjadikan kita as the Winner….justru akan menjadi sumber awal dari kehancuran hubungan yang kita jalin. Ironis memang……but it’s a real fact that we must live and be able to faced.Tinggal apa pilihan kita dan bagaimana kita memilih sikap terhadap setiap masalah yang lewat dalam perjalanan hidup ini.  Apakah masih ingin dengan kekerasan hati, ketakutan, kesempurnaan atau kita mau belajar berubah menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah dengan CINTA….????   Akupun mulai belajar mengatasi segala sesuatu yang hadir dengan CINTA, belajar IKHLAS, belajar Mencintai Ketidaksempurnaan.

NO BODY’S PERFECT ……akupun tak ingin meraih kesempuranaan cukup “kesemprulan“…(hehehhehehe …ngutip kata” hostnya INBOX),  karena hanya DIA yang miliki kesempurnaan. Aku hanya berusaha menjadi sempurna dari segala ketidaksempurnaan yang ada dalam diriku dan aku akan selalu belajar dari ketidaksempurnaan ku.

Deep Appologozed …… if you do not agree with the opinions that I write.

Just to share my experiences and learning about building confidence with LOVE, PEACE and trying to perfect in imperfection ….

“I was perfect with all the imperfections”