“KISAH DUA HATI”

 

 

 

 

 

 

 

 

Ternyata tak selamanya, apa yang tampak indah dalam pandangan kita dirasakan sebagai keindahan pula oleh obyek yang kita pandang. Dan sebaliknya sering kita merasa bahwa diri kita tak berarti karna tak miliki keindahan seperti yang lain. Dan menginginkan menjadi seperti yang lain, sehingga melalikan segala apa yang kita miliki sebagai kekuatan.Ungkapan ini ingin aku ilustrasikan dalam satu kisah antara bunga mawar dan rumpun bambu.

Semua kita tentu sangat menyukai keindahan bentuk dan warna dari bunga mawar, sehingga sering dipakai sebagai simbol kecantikan seorang wanita…”bibirmu merekah seperti bunga mawar merah” . Bila kita sedang berada di taman dan disana tumbuh bunga mawar yang berwarna warni serta menyebarkan semerbak wanginya, tak henti kita mengagumi dan memuji keindahan nya. Bahkan segera kita ingin berpose dan berfoto di sekitar mawar-mawar itu. Dan segala moment bahagia yang akan kita lewati , seperti birthday, wedding, to say Love You, Valentine day  yang kita cari adalah mawar….sebagai simbol “LOVE”  untuk kita persembahkan.

Sementara, bila kita sedang berjalan di sepanjang rumpun bambu. Pernahkan kita sibuk untuk mengagumi dan memuji keberadaan nya? Lalu sibuk untuk berpose dan berfoto diantara mereka? Kita pun melewatinya dengan “cuek” dan tak berikan perhatian apapun, apalagi berikan pujian dan mengungkapkan kekaguman akan keberadaan nya.

Dalam hati si Bambu…dia sangatlah cemburu dan iri terhadap keberadaan si Mawar . Mengapa tak ada orang yang berikan pujian padanya bahkan hanya sekedar untuk mendekati nya.

Dengan wajah dan suara sedih, dia menyapa si Mawar……

“Hai..Mawar, tahukah kamu?  Setiap kali aku melihatmu, aku selalu bertanya pada diriku, mengapa aku tak bisa sepertimu?. Bentuk dan warnamu sangat indah dan kamu bisa sebarkan semerbak wangi tubuhmu sehingga mampu mengundang banyak orang datang mendekati dan memujamu. Sementara tak satu pun dari antara mereka yang menengok padaku apalagi memujaku.

Mendengar sapaan seperti itu, si Mawar hanya membalas dengan senyumnya, dan dia berucap: “Terima kasih atas pujian yang tulus dan jujur itu.”  “Tapi perlu kamu tahu, bahwa sebenarnya justru aku merasa iri terhadapmu.

Kening si Bambu berkerut dan matanya berputar-putar, dia terkejut dan keheranan. Mengapa si Mawar mengatakan bahwa dia merasa iri padanya? Tak ada satupun dari dirinya yang menarik apalagi sarat dengan keindahan seperti si Mawar. ‘Anehh..apa yang kamu iri dari diriku?’,  dia bertanya pada si Mawar

“Aku memang merasa iri denganmu. Aku tak miliki batang sekuat dan sekokoh dirimu, sehingga bila hujan dan badai datang menerjang, kamu tetap mampu bertahan dan berdiri tegak, tak tergoyahkan. Sedangkan aku… sangatlah rapuh, sedikit saja angin menerpaku, kelopakku akan lepas, hidupkupun sangat singkat,orang menyukaiku pun hanya sesaat kala kelopak ku baru mekar, setelah itu mereka tak akan melihat ku lagi” ucapnya dengan nada sedih.

Si Bambu dalam hatinya mengiyakan, apa yang di ucapkan si Mawar bahwa memang dia lebih kuat dan itu yang membuat si Mawar mengaguminya. Dan dia pun berkata lagi, seakan tetap belum yakin akan apa yang telah dimilikinya. “ Tapi kamu yang lebih hebat…kamu selalu dicari orang, kamu selalu dipakai untuk mewarnai keindahan, kamu selalu disematkan pada tempat yang istimewa dan selalu menjadi hiasan.

Si Mawar pun tersenyum, “Benar semua yang kamu katakan , tapi itu hanya sesaat dan sedikit saja waktu ku, setelah itu aku akan layu dan akupun akan dibuang tanpa pernah ditengok lagi. Dan itu tak terjadi pada dirimu, kamu tetap kokoh.

“Aku makin bingung dan tak mengerti,” katanya dengan wajah bingung penuh tanya.

“Kamu itu yang luar biasa”, kata Mawar sembari acungkan jempolnya. Banyal orang sering memakai dirimu untuk berteduh dari terik panasnya mentari, mengalir kan air untuk sediakan air bersih sebagai sumber kehidupan orang-orang dan tanaman lain, termassuk diriku. Kamu lebih berguna dan lebih bisa berikan manfaat sedahsyat itu. Seharusnya kamu lebih miliki kebanggaan daripada aku dan harusnya kamu lebih bahagia, dan bukan seharusnya merasa iri padaku,”

Si  Bambu barulah sadar bahwa selama ini, dia telah banyak berikan manfaat untuk makluk yang lain. Walaupun pujian itu nyaris tak pernah di perolehnya,  bahwa sesungguhnya dia tidak kalah dengan si Mawar cantik yang selalu dipuji, disanjung dan dikagumi banyak orang. Sejak saat itu si Bambu tidak lagi merenungi kelemahannya, tapi dia terus membangun kelemahannya itu sebagai kekuatan agar dia bisa berikan manfaat yang untuk  makhluk yang lain.

Syukuri apa yang ada sebagai dirimu dan kekuatan mu agar kamu bisa berikan manfaat untuk orang lain dari pada kamu sibuk memupuk rasa iri dan dengki yang pelahan akan membunuh hatimu sendiri…..(Sherly …)