SEBUAH INSPIRASI…………… BUDAYA ORGANISASI YANG FUN….
Setelah membaca…… sejenak aku merenung dan kemudian bertanya….
Mengapa yang miliki inspirasi pertama, kebanyakan berasal dari Negara Barat…
Tapi tak apalah, itu artinya kita memang harus terus mencari dan belajar dari yang pertama dan yang telah berpengalaman. Terkait dengan upaya membangun budaya organisasi, ternyata sudah banyak perusahaan di negara barat sana yang menerapkan Budaya Organisasi yang Fun. Mereka membangun lingkungan kerja menyenangkan dengan cara kerja yang bisa kita pandang tidak biasa. Meskipun pada kenyataannya belum juga banyak perusahaan yang bisa menerapkan, karena tidak semuanya mau, mampu dan bisa melakukannya dengan baik. Aku coba berikan gambaran, 2 perusahaan yang terkatagori sukses membangun Budaya Organisasi Fun ini…yaitu Southwest dan ritel Best Buy. (Management file – Leadership & Corp. Culture)
Manajemen Southwest
Southwest ini adalah perusahaan yang didirikan oleh Herb Kelleher pada tahun 1971, manajemen puncaknya membangun budaya organisasi yang fun dan ternyata itu yang menjadi salah satu kunci sukses mencapai performa organisasinya secara maksimal.
Apa yang bisa di gambarkan tentang Budaya organisasi yang Fun itu? Bahwa mereka menerapkan gaya manajemen yang berfokus pada bagaimana menciptakan SDM di perusahaannya merasa bahagia dan dari kondisi ini diharapkan mereka akan menghasilkan prestasi kerja dan produktivitas yang maksimal.
Dari pandangan Kelleher, terjadi hubungan positif antara rasa bahagia yang dirasakan/ pada saat melakukan pekerjaan dengan senang terdadap produktivitas. Karena, bila karyawan memahami bersenang –senang dalam melakukan pekerjaan adalah hal yang dibolehkan, maka itu akan dapat meningkatkan produktivitas kerjanya.
Jumlah karyawan Southwest cenderung ramping, hanya saja mereka menganut konsep `work hard` dan `play hard`, tetapi karyawan paham dan tahu benar apa saja yang dibutuhkan untuk membawa Southwest sukses. Kuncinya adalah dengan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan karena itu akan memunculkan energi yang positif , sehingga karyawan menjadi lebih kreatif dan produktif.
Ritel Best Buy
Sedikit berbeda dengan Ritel Best Buy, manajemennya miliki cara kerja yang cukup unik dengan mendasarkan pada konsep `Result-Only Work Environment` (ROWE) . Konsep ini mereka terapkan dengan mengorientasikan kerjanya hanya pada hasil, hasil dan hasil. Dari kebanyakan manajemen perusahaan lebih fokus pada proses tata cara kerja, bukan hanya pada hasil. Artinya bahwa dalam konsep ini karyawan diberikan kebebasan dalam proses melaksanakan pekerjaannya seperti yang mereka sukai dan inginkan asalkan pekerjaan bisa di selesaikan dan hasilnya bagus, tentang bagaimana cara mereka menyelesaikannya tidak dipedulikan yang penting hasilnya bagus.
Umumnya dalam perusahaan, karyawan terikat dengan banyak peraturan dan tata cara kerja, sehingga mereka sering merasa tidak leluasa. ROWE berseberangan dengan konsep ini, karena menurutnya peraturan ini dan itu, dan adanya kontrol yang ketat justru akan mengakibatkan karyawan merasa tertekan, sehingga akan merangsang timbulnya demotivasi dan produktivitasnya rendah.
Dalam ROWE, karyawan diberi keleluasaan menentukan apa yang dipandangnya baik untuk mendorong hasil kerjanya sendiri. Disamping itu diberikan keleluasaan mengatur cara kerja sendiri yang menurutnya paling nyaman dan paling baik untuk posisi dan jenis pekerjaannya, sepanjang hasilnya maksimal.
Sebagai ilustrasi, bila pada umumnya manajemen perusahaan memberikan penilaian baik atau buruknya prestasi kerja karyawan dari ketepatan waktu mereka datang dan pulangnya paling akhir sampai larut malam, meskipun hasilnya belum tentu ada. Sementara karyawan yang datang terlambat dinilai buruk, meskipun hasil pekerjaannya bagus. Penerapan ROWE sangatlah berbeda, karena yang dipentingkan adalah pekerjaan selesai, titik. Tidak peduli dia akan datang terlambat, atau pulang lebih cepat ataupun dia akan mengerjakan pekerjaannya di tempat lain.
Implikasinya adalah lingkungan kerja yang menyenangkan, karena karyawan diberikan kebebasan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan cara yang dianggapnya terbaik. Dengan memberikan kebebasan, maka ini memberikan kondisi lingkungan kerja yang positif, sehingga ROWE percaya bahwa produktivitas karyawan akan lebih tinggi.
Mungkin ini bisa menjadi inspirasi manajemen , sekalipun manajemen tidak mau, mampu atau bisa menerapkan secara penuh. Memang banyak pertimbangan yang perlu dikaji ulang sebelum mengambil keputusan menerapkan konsep budaya organisasi yang fun ini, mengingat kualitas, karakteristik dan latarbelakang dari SDM yang dikelola praktis berbeda. Namun ini bisa dipakai sebagai cerminan tentang pentingnya membangun lingkungan kerja yang menyenangkan dan sehat tentunya, karena ini bisa menjadi salah satu faktor yang bisa mendongkrak kinerja individu, kelompok maupun manajemen organisasi.
Semoga bisa sumbang manfaat tulisan ini….

Penjelasan yang sangat berguna..
sebagai tambahan, memang dalam dunia organisasi dan sumber daya manusia, merupakan hal yang sangat rumit. Karena mereka saling terkait dan mereka dipengaruhi oleh budaya setempat. Yang jadi masalah juga, banyak organisasi/perusahaan yang berdiri dengan landasan yang kurang kuat. Misalnya dari segi aturan dan hukum.
Jadi ketika berada di atmosfir terdesak, mereka merasa mengalami sebuah atmosfir yang tidak FUN.
Saya mengalami waktu bekerja di perusahaan besar di Jakarta. Ketika musim krisis tahun 1998, dampaknya masuk ke jantung para karyawan. Ketika saat perusahaan terdesak, tidak banyak karyawan yang mudah beradaptasi (gaji dipotong dan pekerjaan tambah banyak). Cuma karena aturan dan hukum yang ada sangat jelas, maka perusahaan tidak berlama-lama menghabiskan keringat di masalah sumberdaya manusia. Yang tidak bisa beradaptasi, silahkan mengundurkan diri
Nah yang paling rumit adalah bagaimana membuat atmosfir FUN di musim krisis dengan hasil yang optimal di organisasi yang aturan-aturannya tidak dilandasi oleh hukum yang kuat.
mama, artikelnya bagus lo… bisa kasih saran gak?? supaya lebih cantik tampilannya dan gak kepanjangan, bissa dipotong di alenia pertama. nanti kalo pembaca mau mengunjungi artikel tsb, tinggal klik read more.. tks..
apresiasi n saran nya…hari ini aq dah dapaet ilmu dari mu…tq tq tq
Tq bos apresiasi n koment nya….bener juga memang selalu ada tarik menarik antara sdm dg organisasi. Dalam situasi krisis terlepas kuat atau tidaknya aturan dan hukum yg dimiliki organisasi, tapi klo budaya toleransi dan kebersamaan yg telah ada di pake sbg landasan membangun suasana “fun” mungkin cantik juga yaa….
Dear Ibu Sherly yang Cantik
Ikut Nimbrung aja Bu….. kalo saya baca diatas mengenai kasus Soutwest disitu ada tulisan yang cukup mengelitik buat saya kalo boleh saya Crop tulisan itu adalah sbb :
“Jumlah karyawan Southwest cenderung ramping, hanya saja mereka menganut konsep `work hard` dan `play hard`, tetapi karyawan paham dan tahu benar apa saja yang dibutuhkan untuk membawa Southwest sukses”
Sementara itu untuk saat ini sering kali perusahaan maju lebih menginginkan memiliki Karyawan yang menganut Konsep ” Work Smart”….
Mohon pencerahannya dari Ibu mengenai konsep ini Bu
Yudha..tq apresiasinya.. maap sebelumnya, sy terlambat me replay, krn cukup lama sy tinggal landasan dr kota malang..
)
Kalau menurut fenomena sekarang ini banyak perusahaan menggunakan konsep “work smart”, sebenarnya itu bagian dari budaya kerja yang fun
karena di sana karyawan di berikan kesempatan mengembangkan inspirasi dan inovasinya secara kreatif, tanpa banyak dituntut oleh prosedur
proses, birokrasi dan aturan” yang mengikat. Kebanyakan budaya perusahaan yang ada sangat dibatasi oleh aturan” tentang cara-cara tehnis, jam kerja
beban kerja, kepangkatan , senioritas-yunioritas, task orintation…bla bla bla…
Nah, sementara budaya yg fun yg sy contohkan itu bahwa manajemen ga banyak buat aturan”, prosedur dll tadi…yg penting kerja selesai sesuai dg standar
perusahaan ..beres dah. Tapi hal ini memang susah” gampang bila akan diterapkan, perlu di telaah dulu tentang kualitas mental dan motif pekerjanya dulu, khususnya
di indo….hehehhehe…di awasi ketat, di arahkan, proses disosialisasikan..tp karyawan masih nyeleneh….
dan juga ga bisa di generalisasi untuk semua bentuk organisasi….
gtu dah kayaknya…semoga bisa diterima secara rasional…
klo kurang puas…monggo to be continued diskusinya…
Saya sangat setuju dan suka dengan tulisan bu Sherly. memang sebenarnya organisasi harus menciptakan kondisi aman nyaman dan lingkungan yang sehat bagi karyawannya.
sehingga kesadaran karyawan akan tanggung jawab akan pekerjaannya juga sangat penting.
hanya saja jika suatu organisasi di indonesia memberlakukan peraturan yang penting hasil hasil dan hasil. Tidak peduli dia akan datang terlambat, atau pulang lebih cepat ataupun dia akan mengerjakan pekerjaannya di tempat lain.
Implikasinya adalah lingkungan kerja yang menyenangkan, karena karyawan diberikan kebebasan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan cara yang dianggapnya terbaik. jika di indonesia karena berbeda budaya, sehingga terkesan meremehkan pekerjaan.
tetapi setiap organisasi berhak mengatur dan menciptakan budaya yg berbeda di lingkungan kerja agar karyawan merasa fun. dengan rasa fun karyawan akan mudah beradaptasi dgn lingkungan dan pekerjaannya.
maaf bu jadi sotoy.. hehehe
wah, artikel yang menarik sekali bu…
memang sangat benar budaya yang diterapkan oleh southwest. budaya fun.. kadang kebanyakan orang yang kerja dalam organisasi seakan melupakan hal itu. kerja hanya dipenuhi oleh rasa tegang dan penuh tekanan sehingga menimbulkan yang namanya stress berkepanjangan. namun dengan konsep budaya organisasi ‘fun’ ini tentunya akan membuat karyawan merasa bahagia sehingga hasil kerjanya akan lebih maksimal dan produktif. karena bila orang kerja dengan keadaan bersedih maupun stress hasilnya tidak akan semaksimal bila kondisi hatinya sedang bahagia.
kalau menurut saya, untuk budaya manajemen di ritel best buy, memang sangatlah menarik. tapi hal ini tentunya harus dikembalikan pada budaya suatu negara di mana budaya organisasi tersebut hendak diterapkan. untuk Indonesia saya rasa akan sangat sulit. di Indonesia sangat perlu yang namanya disiplin kerja dalam hal waktu. jika diberikan flexibilitas tinggi seperti itu, kebanyakan karyawan akan memanfaatkannya bukan untuk pekerjaan. waktunya banyak terbuang dan pekerjaan tidak beres. disini budayanya cenderung meremehkan dan mengulur-ulur. serta sangat suka sekali yang namanya korupsi, baik itu waktu dan sebagainya. tapi tentu saja semua itu kembali pada setiap individunya masing-masing. tidak dapat dikatakan bahwa semua orang indonesia seperti itu. tentu tidak!
dari semua budaya organisasi yang diterapkan di atas saya dapat mengambil kesimpulan bahwa salah satu cara untuk membuat produktivitas karyawan tinggi adalah dengan menimbulkan suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan. entah dengan menggunakan 2 budaya diatas ataupun dapat menggunakan cara lain..
Fun is so important! eventough u’re a worker! hehehee… thanks bu ^^
(David 30713)
Hmmm…thanks, comment yang menarik juga nih….
thanks ya sharing nya…
bener juga sih opini yang kamu kemukakan bahwa budaya kerja di indonesia umumnya belum bisa
dilepas atas dasar inisiatif individu karena jiwa “pekerja nya lebih gede drpd jadi bos untuk diri sendiri” ,
maka intervensi organisasi masih dibutuhkan untuk mengarahkan perilaku disiplin nya mengealokasikan
waktu kerja. Tapi perlu di ingat juga jiwa berontak individu itu tinggi bila mereka merasakan ada hal yg
dirasa kurang nyaman dan mengancam. Ujung” nya mereka balas “rasa tidak nyaman nya” tadi dengan
kinerja yang buruk, mangkir, undisipliner….gtu gtu dah….