MENGAPA HARUS BEGITU…….

Muncul tanda tanya dalam benak ku, yang itu berasal dari potongan-potongan peristiwa yang sempat dan pernah terdengar, terlihat, terbaca dan terasakan. Mengapa dalam dunia kerja harus muncul perilaku-perilaku yang tidak sehat seperti saling menjatuhkan, saling jilat, saling sikut atau bahkan tak segan menusuk dari depan atau belakang. Sementara dari antara mereka tak lain adalah rekanan, teman atau bahkan sahabat. Kadang aku merenung dan ingin memikirkannya ‘Mengapa Harus Begitu’ jalan pikiran mereka, tapi aku tak pernah mendapatkan jawabannya …..
Apa sebenarnya yang mereka mau dan inginkan atau yang lebih komplit lagi tujuan mereka…Hmmmmmssssss….sungguh amat susah dimengerti.
Apa yang mereka cari?? Kedudukan… kesempatankah atau apa??  Kalau hanya ingin meraih kedudukan, kesempatan atau apapun yang mereka mau dan inginkan, mengapa harus menyingkirkan rekan,teman atau sahabat sendiri……. gimana tohh rasanya?? Akupun nggak habis pikir, sampai ‘dhower’  belum kutemukan alasan yang tepat tentang semua itu.

Apa tujuan orang bermuka dua? Di depan tampak bersikap perilaku baik, bersahaja tapi dibelakang bisa menikam, menjerumuskan, bahkan menyingkirkan, minimal pembunuhan karakter………Wooowww…….amazing…..   Sekarang perlu di pertanyakan lagi, definisi team work itu apa sih?  Menurut referensi yang pernah aku baca bahwa yang namanya “team work” itu adalah segala bentuk beban kerja apapun diperjuangkan bersama, susah bersama senang juga bersama. Tapi tampaknya itu harus bergeser bahwa istilah “team work” itu hanya di saat senang aja, kalau ada acara makan-makan baru istilah “team work” itu dipakai. Giliran susah, ya…tanggung sendiri bukan urusan team….Emang Gue Pikirin!!!!!     Jujur aku sama sekali nggak simpati pada perilaku-perilaku aneh itu. Sadar juga sihhh…..bahwa semua yang kita lakukan harus bisa mencapai ‘goal’ dan setiap orang mesti punya ‘goal’ juga, tapi yaaaa …jangan pakai sikut, atau pakai lidah tak bertulang…. ( kan udah di presto….jadi makin empuk…..:) )
Menjadi orang yang tersisih itu sangatlah nelangsa. Seperti orang yang punya penyakit menular, menjijikkan, menakutkan dan harus disingkirkan, dan itu bisa jadi trauma yang menyakitkan dan bisa membunuh semangat atau motivasi kerja, mau disadari atau tidak oleh pihak yang sudah mengkondisikan nya.  Menurutku sihhhh…. dimanapun kita kerja nggak hanya butuh salary yang amboy aja, tapi juga lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan. Kalau lingkungan kerja sudah nggak sehat, teman-teman kerja tidak mendukung, meskipun salary yang diterima besar semua itu tetap dirasakan tidak nyaman.  Memang kadang kita perlu belajar cuwek…., yang penting kita tidak menyakiti orang lain dan kita juga tidak disakiti..…(EGP aja lagi…)  Mungkin untuk sebagian orang bisa bersikap dan menyikapi seperti itu, tapi sebagian yang lain …????  Kalau suasana kerja seperti itu, kita merasa tidak tenang, kita akan merasa was was dan bertanya-tanya kira-kira giliran kita di depak kapan yaaaaa………???
Satu lagi nih….’Cari Muka’ di depan atasan, uuuuuffffhhhhh….…benar-benar sudah sangat membudaya di dunia kerja. Kalau sudah nempel dan lengket kayak perangko sama si bos sepertinya kita menjadi aman sentosa. Sepertinya bukan kemampuan lagi yang dilihat oleh si bos untuk menilai prestasi kita, tapi kedekatan pribadilah yang akan menaburkan semua bentuk kenyamanan.  Hmmmm……Kalau sudah begitu …….????????
Fenomena budaya seperti ini mungkin nggak hanya berlaku di Indonesia, bisa juga terjadi di belahan dunia manapun karena pada dasarnya manusia itu tidak pernah puas, selalu ingin mencari sesuatu yang lebih bahkan apapun caranya dan rela.. rela.. rela.. mengorbankan pertemanan, persahabatan, keluarga atau apalah yang penting tujuan tercapai.
Miris banget yaa…… Kejujuran, loyalitas, kerja keras udah pasti lewat dari pandangan para atasan bila ada orang “terdekat”-nya yang memberikan sumbangsih lebih. And than bila kondisinya seperti itu orang-orang yang tertindas itu gimana ya.. perlakuannya? Apa ada sangsi tertulis bagi para “penyikut” atau “penjilat”?  Jadi kayak berlaku  hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Tapi yang lebih merasa pastilah kaum yang lemah, mereka akan tersingkir dari komunitasnya dan akhirnya harus menjalani hidup ini apa adanya.
Mengapa Harus Begitu???? Hidup cuma sekali aja kok di skenario berbelit-belit? Kenapa sih harus membuat orang lain susah dan nelangsa? Mungkin kalau semua orang berfikir untuk menjalani hidup ini lurus-lurus saja dunia sepertinya nggak ada warnanya juga ya…nggak nyeni/artistic atau juga jadi nggak ada tantangannya.
Apa yang aku share dalam tulisan ini….hanya bagian dari sudut otak ku aja, biar ngak beku aku cairkan disini….. Jadi please……diterjemahkan dengan persepsi dan pandangan pembaca masing-masing. Katanya mengemukakan pendapat boleh aja kan dan bebas dan bahkan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945, pasal 28……, bila dirasa nggak sepaham atau sependapat yaaaa   silahkan anda menggali opini yang lain……. sepanjang itu positif, maka akan sah-sah saja kok….  Aku juga nggak bermaksud menyinggung atau bahkan menjatuhkan orang lain, karena berdasarkan pencermatan inderaku, ini adalah fenomena dan bisa dikatakan sebagai  psikologi kerja yang memang marak terjadi …..dan itu adalah satu bentuk aplikasi dari perilaku dalam organisasi.  Maka semuanya aku kembalikan pada pribadi masing-masing bila ingin menanggapi atau mengapresiasi opiniku ini…
Titip pesan saja….sebagai individu, ayooolah kita berperilaku sehat untuk menciptakan suasana yang sehat di lingkungan kerja….. Berlakulah yang terbaik, nggak perlu dengan menyakiti atau bahkan sampai mengorbankan orang lain.
CAAAAAAAAAAAAAAAAYYYOOOOOOOOOOOOO……………………..

5 thoughts on “MENGAPA HARUS BEGITU…….”

  1. Wah, sepertinya itu wajar di kehidupan. Kan ada good-guy dan bad-guy, ada malekat dan setan, ada yang rajin dan males, ada yang pinter dan tidak, dan semua itu harus ada supaya kehidupan ini seimbang.

    Coba kalau gag ada bad-guy, gag ada polisi ntar…
    orang pinter semua ya repot, ntar guru kalah sama muridnya…,
    orang kaya semua, ntar susah cari servant
    orang rajin semua, gag ada yang di-omelin,…
    🙁

  2. hehehhehhe….iya juga sih….emang begitu kayaknya seperti yg dirimu pikirkan….stuju juga sih aq nya..
    tq ya dah berikan apresiasi tulisan ku bossss….
    semoga ini nambah semangatku untuk terus isi blog ini lbh bagus bagus n bagus..

  3. Rasanya sedih bila dimutasi ke tempat lain masalahnya pimpinan menggapku kerjaku lamban dan tidak enerjik. di sisi lain rekan kerja menggapku paling baik diantara mereka. Bagaimana seorang pimpinan harus di hormati dan harus di gugu dan di tiru, setelah masalah tertuah ternyata setelah diriku tersingkir ada karyawan baru sebagai penggantiku saudara dari pimpinanku. apa ini yang namanya dunia kerja !

  4. maybe yes, maybe no jawabku tentang dunia kerja n masalah yg menimpamu. Aq prihatin juga sihhh…
    Makanya semua emang tergantung pada gaya kepemimpian yg ada di dalam organisasi (manapun) termasuk
    di perusahaan/instansi/institusi kamu. Jabaranku kan udah sedikit memberikan gambaran juga tentang peran pimpinan
    itu kuat banget….mengintervensi seluruh sistem..karir, reward, promosi, mutasi mpe demosi selakipun..
    Sabar aja…tp klo kmu emang merasa miliki potensi yg lebih dr yg seperti dituduhkan pimpinan kmu…ya mulialah kamu tunjukan
    kapabilitas kamu…bisa tetap di tempat yg sama or pindah tempat….hahahhahhaha….sugesti yg terlalu berani yaaa..
    tapi emang harus berani kmu nya…semangat!!!!!!

Comments are closed.