OpenOffice.org dikenal sebagai salah satu pesaing utama produk Miscrosoft Office sejak dikembangkan oleh Sun Microsystem. OpenOffice.org ditujukan sebagai sebuah proyek FOSS (Free and Open Source) yang pertama kalinya dirilis pada tanggal 30 April 2002.

Pengguna OpenOffice.org mungkin banyak yang tidak mengetahui bahwa terjadi “perpecahan” pada proyek aplikasi OpenOffice.org. Di tahun 2009, Oracle , sebuah perusahaan utama pengembang Database Management System dan perangkat lunak, membeli saham Sun senilai $7.4 miliar , hal ini menimbulkan kekhawatiran akan “nasib” dari aplikasi FOSS yang dimiliki oleh Sun terutama OpenOffice.org.

Dan pada tahun 2010, beberapa anggota penting yang tergabung dalam proyek OpenOffice.org membentuk sebuah groupThe Document Fondation”  yang kemudian melahirkan LibreOffice . Hal ini mereka lakukan didasari atas kekhawatiran terhadap sikap Oracle atas keberlangsungan proyek OpenOffice.org, seperti apa yang terjadi ada proyek OpenSolaris yang sempat terombang-ambing dibawah naungan Oracle.

The Document Foundation berusaha untuk memastikan dan menjaga keberlangsungan proyek aplikasi Open Source paket perkantoran ini. Mereka sempat mengundang pihak Oracle untuk ikut bergabung dalam Document Foundation, akan tetapi ditolak dan justru memerintahkan mereka yang tergabung dalam OpenOffice.org yang ikut terkait dengan pengembang LibreOffice untuk mengundurkan diri.

Hal tersebut tidak mematahkan semangat para pendiri The Document Foundation, justru akhirnya mendapat dukungan dari perusahaan pengembang besar seperti Novell, Redhat, Canonical dan Google. Tujuannya jelas, ingin menghasilkan aplikasi perkantoran yang independen, mendukung format ODF dan bebas dari kepentingan komersial.

We do not have and will not have a commercial product which receives preferential treatment. We only have one focus – delivering the best free office suite for our users – LibreOffice

Sejak membeli Sun, Oracle melihat desakan dan keinginan yang begitu besar dari komunitas (publik) akan aplikasi perkantoran yang free, maka akhirnya pada tahun ini Oracle memutuskan untuk menyerahkan proyek OpenOffice.org kembali pada komunitas sebagai aplikasi Free and Open Source

“Kami berniat untuk segera bekerjasama dengan komunitas untuk melanjutkan sukses Open Office. Oracle masih akan terus mendukung format dokumen terbuka yang berbasis standar, seperti Open Document Format (ODF),” sebut Edward Screven, Chief Corporate Architect dari Oracle – detikinet.com

Walaupun begitu, proyek LibreOffice masih tetap berjalan, mereka justru menawarkan beberapa kelebihan dibandingkan OpenOffice.org seperti dalam hal performa yang diklaim lebih cepat ketimbang OpenOffice.org dan lebih ringan sehingga dapat dijalankan pada komputer yang memiliki RAM terbatas/kurang.

Jadi? pilih yang mana donk? ya terserah aja sih, bagi yang idealis ya boleh coba LibreOffice 🙂

OpenOffice atau LibreOffice ?
Tagged on: