Kesalahan Administrasi Ganjal Dana

MALANG- Kegagalan dosen perguruan tinggi dalam kompetisi hibah penelitian tidak hanya karena urusan mutu. Tapi, juga karena aturan administrasi yang banyak tak dipahami. Tentu saja, jika tak lolos seleksi administrasi, maka tak ada harapan untuk masuk meja pengoreksi. Padahal, berdasarkan analisis, banyak sekali dosen yang belum memahami betul mekanisme pengajuan dana penelitian. Hal itu kemarin diungkapkan Dr Aida Ainul Mardiyah SE Msi, salah satu tim pengoreksi dikti di sela-sela acara refreshing penyusunan proposal penelitian di STIE Malang Kucecwara.

Menurutnya, selama menjadi tim pengoreki, banyak sekali kasus salah prosedur administrasi yang dilakukan dosen. “Pengajuan dana penelitian ke dikti sebenarnya tak sulit. Tapi, sangat prosedural dan ini yang belum banyak dipahami,” kata dia.

Salah satu contoh, untuk mengikuti proses seleksi pendanaan Penelitian Hibah Bersaing (PHB), minimal seorang dosen harus lulus S2. Dalam penyusunan proposal penelitian, minimal juga harus disertakan tiga penelitian terdahulu dalam daftar pustaka.

Tentu saja, tiga penelitian itu relevan dengan proposal yang diangkat. Hal lain yang harus diperhatikan, rancangan fee untuk ketua tim dan anggotanya tak boleh lebih dari 30 persen dan sampulnya harus sesuai. “Salah sedikit saja atau menyimpang dari prosedur yang ditetapkan, maka fatal akibatnya. Artinya, tak akan lolos,” tandas dosen dan peneliti di STIE Malang Kucecwara itu.

Selain itu, output yang dijabarkan dalam pengajuan itu juga harus jelas. Meski tema apapun dari konsentrasi keilmuan apapun boleh, tapi, kata Aida, akan lebih bagus jika penelitian yang dilakukan bersifat aplikatif. “Jika lolos, maka tiap tahun dikti akan mengucurkan dana Rp 50 juta berturut-turut selama tiga tahun. Tapi, jika lalai, maka sanksinya dua tahun tak boleh mengajukan lagi,” beber dia.

Aturan dalam prosedur BHP itu, lanjut Aida, tentu saja sangat berbeda dengan aturan penelitian lain yang didanai dikti. Sebab, untuk meningkatkan kualitas dosen, dikti memiliki enam penelitian. Selain PHB, ada lagi penelitian kajian wanita, penelitian dosen muda, penelitian fundamental, dan penelitian kerja sama perguruan tinggi, serta penelitian kerja sama UKM (usaha kecil menengah).

Sementara itu, Kepala LPPM (lembaga pengabdian dan pemberdayaan masyarakat) STIE Malang Kucecwara Siti Munfaqiroh mengatakan, refreshing ini menjadi sebuah upaya membekali dosen. Tepatnya, dalam penyusunan proposal penelitian yang sesuai prosedur dan sesuai pos penelitian. “Kami berharap semua dosen mengajukan, apalagi biasanya dikti menggulirkan dana penelitian pada akhir Maret,” kata dia.