Spiritual Trip Haji 2019 (2) : Madinah

Begitu sampai di bandara Juanda, kita langsung menuju lapangan terbang Saudi Airlines. Setelah menunggu beberapa saat disana, kami diangkut menggunakan shuttlebus dan masuk ke pesawat berjenis Airbus dan bertingkat. Bismillah, berangkatlah kami jam 8 WIB menuju Madinah dengan jarak kurleb 7000 mil selama 10 jam tanpa transit. Cukup boring juga di pesawat karena gak bisa hapean. Mati gaya.. Hanya bisa berdoa, tidur, melek, makan, sholat, pipis, ngobrol bentar. Liat awan.. merem lagi, melek lagi, makan lagi, pipis lagi, merem lagi… Gitu terus sampe landing..

LANDING MADINAH
Setelah 10 jam di langit, maka jam 6 sore waktu Indonesia atau 2 siang waktu Saudi Arabia (selisih 4 jam) tibalah kami di bandara Internasional King Abdul Aziz di Madinah. Alhamdulillah lega.. Nangis lagi nih.. Berasa gak percaya bisa menjejakkan kaki di sini. Tiada lain semua karena izin dan ridho Allah. Setelah pemeriksaan paspor oleh petugas imigrasi yang untungnya enggak lama-lama banget, maka rombongan jamaah diangkut dengan bis bandara menuju ke hotel yang telah ditentukan. Kloter kami adalah kloter 15 dengan jamaah sebanyak 350 orang, terbagi menjadi 2 lokasi hotel. Sebagian di Hotel Grand Elaf, sebagian di hotel Madinah Concorde. Kelompok KBIH kami bertempat di Concorde, lurus dengan pintu 17 Masjid Nabawi.

Di hotel kami sekamar berempat. Karena ada 1 wanita lansia yang berangkat sendiri, maka nambah 1 extra bed, jadilah kami sekamar berlima. Kami di Madinah dijadwalkan selama 10 hari. Sehingga ada kesempatan melakukan ibadah Arbain, yaitu sholat 5 waktu tanpa putus selama 8 hari. Alhamdulillah.

Setelah unboxing koper, selepas sholat Isya kami siap-siap tidur. Capek lelah tapi senang. Ada kejadian seru di malam pertama kami menginjak Masjid Nabawi. Salah seorang lansia pria hilang selepas sholat Isya. Mana beliau pikun pula. Muter-muterlah suami sebagai kepala regu bersama tim kami. Bikin deg-deg an pengen nangis apalagi kami baru mendarat dan buta Masjid Nabawi, apalagi Madinah. Ya Allah, cobaan kesabaran di malam pertama. Jam 2 malam baru ketemu itu Bapak dengan bantuan petugas haji di Madinah. Alhamdulillah..

Bagi saya, Madinah adalah kota yang sangat cantik, indah, harum, welcome. Depot makanan Indonesia ada dimana-mana. Masyarakat dan penjual disana mahir berbahasa Indonesia. Jadi jangan khawatir kita ga ngerti bahasanya. Mereka fasih sekali. Dan sangat familiar. Tips dari saya, mumpung di Madinah, belanja lah oleh-oleh. Harga lebih murah, dengan model dan kualitas yang lebih bagus daripada di Mekkah.

ROUDHOH
Salah satu magnet terbesar di Madinah adalah Masjid Nabawi, dimana dikatakan dalam hadis shohih. Satu rokaat sholat di masjid Nabawi pahalanya sama dengan sholat 1000 rokaat sholat biasa. Selain itu terdapat makam Nabi Muhammad SAW beserta 4 sahabatnya di dalam masjid tersebut. Jalan masuk ke roudhoh terletak di pintu 24-25 untuk jamaah wanita, atau pintu 17-18 untuk jamaah laki-laki. Nabi bersabda, “Antara  rumahku dan mimbarku adalah salah satu dari taman surga.”

Dengan kesempatan selama 10 hari di Madinah, tentu saja kami tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Memang dibutuhkan effort yang luar biasa terutama untuk jamaah perempuan. Karena pintu roudhoh hanya dibuka setelah sholat dhuha dan setelah sholat isya. Kebanyakan jamaah perempuan memilih kesana setelah dhuha. Tidak heran antrian mengular sangat. Butuh kesabaran, ketelatenan, keikhlasan. Dan jangan lupa sangu roti biar tidak kelaparan saat menunggu bukaan pintu. Rombongan biasanya dibagi menjadi 2 kategori, satu kelompok Turki, India dan sebangsanya. Kedua adalah kelompok Asia dan Indonesia. Tujuannya agar tidak saling berdesakan jadi satu, mengingat struktur tubuh kami sangat berbeda. Dan demi keselamatan semuanya.

Salah satu berkah buat saya adalah dapat melihat secara langsung langit-langit masjid Nabawi bergeser menutup masjid. Dua kali kalo tidak salah. Langit-langit ini terletak persis di atas makam nabi. Biasanya langit-langit akan tertutup jam 9 pagi karena mulai terik sinar mataharinya. Berarti jika kita bisa melihat langit-langit bergeser, dan kita berada di bawahnya, itu pertanda kita duduk berada di dekat makam Nabi. Merinding sangat.. Mimpi apa saya bisa berada sedekat ini dengan jasad Nabi Besar umat Islam kalau bukan karena ridho Allah.. Nangiiiiiss lagi… Doa dan sholawat tak putus-putus saya dengungkan di bibir saya saat melihat kejadian itu.

Setelah pintu roudhoh terbuka, maka jamaah masuk ke dalam makam dengan berjubel-jubel. Doa mohon diberi kelancaran dan kekuatan menerobos lautan manusia tak henti-henti saya ucapkan, sembari berpegangan kencang dengan teman-teman 1 tim. Karpet hijau menandakan bahwa itu adalah area roudhoh. Sholat 2 rokaat sambil nangis hebat dan meminta hajat apa yang kita kehendaki. Geser sedikit. Sholat 2 rokaat lagi dan berdoa. Geser lagi, sholat 2 rokaat lagi. Begitu terus sampai menuju pintu exit. Karena masih tetap berada di area karpet hijau, saya tetap sholat 2 rokaat lagi tetapi bisa lama, karena space mulai melonggar. Bahkan sampai bisa membaca quran, alhamdulillah. Jika sudah geser sampai ke karpet merah, berarti habis sudah wilayah roudhoh.
Alhamdulillah selama di Madinah saya berkesempatan mengunjungi roudhoh beberapa kali, bahkan di hari terakhir kami di Madinah. Sekalian pamit kepada Kanjeng Nabi untuk melanjutkan ibadah umroh dan haji di Mekkah Al Mukaromah. Nangis lagiiiii… berat banget meninggalkan kota ini ya Allah..

ZIARAH SEPUTAR MADINAH
Berhubung tidak ada ritual wajib di Madinah selain mengusahakan ibadah Arbain sholat 5 waktu di masjid Nabawi, maka kegiatan hari-hari kita diisi dengan beberapa kali piknik ziarah keliling kota Madinah. Kegiatan ini biasanya dijalankan setelah sholat Dhuha jam 8 pagi sampai sebelum Dhuhur jam 11 siang. Beberapa tempat yang kami kunjungi antara lain:

Masjid Quba’
Hadis shohih meriwayatkan : “Jika datang ke Masjidil Quba dengan keadaan berwudhu dan sholat 2 rokaat, pahalanya sama dengan melakukan umroh”. Luar biasa fadhilahnya. Jelas donk kami melakukan sunnah tersebut. Di sini banyak penjual menjajakan dagangannya. Konon di daerah ini permen coklatnya murah-murah.

Kebun Kurma
Sesuai dengan namanya, tempat ini spesialis menjual aneka jenis kurma dengan varian produk dan harga yang berbeda-beda. Tempatnya seperti hall besar dengan sejumlah pedagang di dalamnya. Kalau di Indonesia mirip seperti toko oleh-oleh. Disini banyak tumbuh pohon kurma. Serta ada spot ruang tunggu di area terbuka dengan air terjun mini buatan. Lumayan rindang dan sejuk.

Jabbal Uhud
Disini konon merupakan gunung dimana 313 kaum muslimin berperang melawan musuh, dan menang. Betapa saya membayangkan bagaimana perjuangan Rasulullah dan para syuhada untuk menegakkan agama Islam melawan kemungkaran. Disini tempatnya luar biasa panaass, silau, dengan udara panas menyengat hidung. Allahu akbar. Merinding saya membayangkannya. Tak lupa kami panjatkan doa bagi Rosulullah dan para pejuang syuhada yang gugur di sini. Surga firdaus lah tempat mereka, insya Allah.

Masjid Qiblatain
Merupakan masjid yang dulu pernah dilakukan sholat dengan 2 kiblat di saat yang bersamaan. Dulu, tempat ibadah yang terletak di Al Qiblatain, Madinah, ini bernama Masjid Bani Salamah. Pada bulan Rajab tahun ke dua Hijriyah, Nabi Muhammad mendapat wahyu untuk memindahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Ketika itu, Nabi Muhammad sedang salat menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem. Tetapi, Allah menurunkan wahyu yang menjawab doanya selama ini. Wahyu yang terekam dalam surat Al Baqarah ayat 144 itu memerintahkan Nabi Muhammad berpaling ke Masjidil Haram, Makkah.

Ketika wahyu itu turun, Rasulullah sedang melaksanakan salat dua rakaat. Mengenai salat yang dikerjakan Rasulullah, ada dua versi penyebutan. Satu versi menyebut Rasulullah sedang menjalankan salat Zuhur, versi lainnya menyebut salat Ashar. Setelah perintah itu turun, Rasulullah mengubah posisi kiblatnya dengan memutar 180 derajat ke arah kiblat baru. Para jemaah segera mengikuti perpindahan arah kiblat itu.

Makam Baqi’

 

 

 

 

Terletak di bagian timur Masjid Nabawi, pemakaman yang memiliki areal 174.962 meter persegi itu selalu disesaki pengunjung. Mereka biasanya berjalan kaki usai melaksanakan salat subuh. Para jemaah lelaki berjubel saat memasuki areal pemakaman tersebut. Sementara jemaah perempuan hanya dibolehkan di luar saja. Ada tempat khusus untuk berziarah.
Sebelum masuk ke lokasi, terpampang pelang yang berisi larangan tentang ziarah kubur. Seperti larangan untuk berbuat musyrik, menyemen, menginjak dan duduk di atas kuburan.

Tepat di sebelah kanan pintu gerbang utama, terdapat beberapa makam cukup besar. Entah makam siapa itu lantaran tak ada nisan maupu tulisan di atasnya. Hanya ada bongkahan batu ukuran sedang yang dijadikan sebagai alat penanda. Meski begitu, makam berukuran sekitar 3×4 meter persegi itu ditengarai sebagai makam para sahabat Rasulullah dan keluarganya. Ini mengingat di depan makam tersebut, ada beberapa personel tentara Arab Saudi yang berdiri siap menghalau peziarah agar tidak berhenti di tempat. Mereka meminta peziarah masuk untuk tidak mengambat pejalan kaki lainnya.

Di makam Baqi ini tersimpan jasad-jasad sahabat dan sejumlah keluarga Rasulullah. Mereka di antaranya As’ad bin Zararah, Utsman bin Mazoun, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Sedangkan dari keluarga Rasulullah di antaranya Aisyah, Fatimah az-Zahra, Ruqayyah, Zainab, dan Ummi Kultsum.

Museum Qur’an

 

 

 

 

Museum Alquran atau yang dikenal pula dengan nama The Holy Quran Exhibition Madinah, didirikan pada 35 tahun silam, tepatnya pada 1984. Dan sejak saat itu sampai sekarang, sudah banyak koleksi yang dimiliki museum kebanggaan umat Islam itu, lebih khusus lagi bagi warga Madinah.
Museum Al-Quran keberadaannya tidak jauh dari Masjid Nabawi, tepatnya berada depan masjid. Museum yang menempati gedung berwarna cokelat ini, dibuka pada jam 06.00 WAS hingga 12.00 WAS kemusian pukul 16.00 WAS hingga 22.00 WAS atau tepatnya pada jam-jam setelah shalat fardu.

 

 

 

 

 

Bagi jamaah haji atau umrah yang akan bertandang ke Museum Al-Quran ini tidak perlu ragu, karena gratis dan mudah dijangkau serta guidenya beragam disesuaikan dengan asal negara pengunjung. Museum Al-Quran yang konon setiap hari dikunjungi lebih 10 ribu orang. Museum yang disain khusus ini, mengambarkan bagaimana Al-Quran dibuat pada jaman dahulu kala termasuk Al-Quran buah karya warga Afganistan yang dikabarkan berusia ratusan tahun dan beratnya lebih 150 Kg.

PERSIAPAN UMROH WAJIB
Tak terasa sudah 10 hari kami berada di Madinah. Saatnya melanjutkan ritual ibadah haji kami yang lain dan bergeser menuju kota Makkah. Kegiatan pertama di Mekkah adalah melakukan umroh wajib. Maka pada tanggal 20 Juli 2019 kami menggunakan baju ihrom lengkap bergerak mengambil miqot di Masjid Bir Ali di sebelah kota Madinah. Saat sudah berihrom, berlakulah larangan ihrom antara lain : menutup aurat bagi jamaah perempuan, menggunakan baju 2 helai tanpa jahitan untuk jamaah laki-laki, tidak berkata kotor, menghindari nafsu sahwat, tidak mencukur rambut, tidak memotong pohon, tidak membunuh binatang apapun, dan selalu dalam keadaan bersuci. Cukup berat memang terutama bagi jamaah perempuan. Secara kami berhaji di saat cuaca ekstrim puncaknya musim panas di Saudi Arabia.

Setelah sholat 2 rokaat di Masjid Bir Ali, pipis dan berwudhu lagi, maka kami mengucapkan niat umroh : “Labbaik allahumma umrotan”. Kemudian bis membawa kami menuju ke kota Mekkah dengan lama perjalanan 6-7 jam. 3 jam pertama bis berjalan nonstop karena memang melewati padang pasir tandus dan panas. Kemudian transit di pom bensin sepertinya, dan ada toilet besar. Sayangnya kurang terawat dan kotor, banyak lalat beterbangan. Kemudian 3 jam perjalanan lagi non stop, dengan terik suhu udara sebesar 47 derajat celcius. Masya Allah… perjuangan.

* to be continued ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *