Spiritual Trip Haji 2019 (1) : Preparation

Labbaiik allahumma labbaiik.. Labbaik alaa syarikalaka labbaik..
Innal hamda, walnikmata laka wal mulk.. Laa syarikalah

Bercucuran airmata setiap kali melafalkan kalimat Talbiyah di atas. Antara senang, gembira, gak percaya, mukjizat.. Setelah menunggu 8 tahun, akhirnya pada Juli 2019 lalu saya dan suami berkesempatan menunaikan ibadah Haji dan menyempurnakan Rukun Islam ke lima bersama teman-teman di KBIH Arofah pimpinan Ust. Mazhuda. Secara nomor antrian yang tertera di Depag online, saya harusnya berangkat tahun 2020 besok. Tetapi qodarullah, ternyata maju bulan Juli 2019. Dan serunya, saya baru tahu saat bulan Maret pertengahan 2019. Kaget, senang, haru, persiapan ngebut kesana kemari. Ngurus paspor, daftar ke KBIH, tes kesehatan, suntik meningitis, bikin kartu kuning, dll.. Termasuk ngurus pelunasan biaya haji yang hanya dikasih kesempatan cuma 2 minggu. Huaaa… hebooohh…

Sesuai dengan janji Allah. Pada hamba yang dikehendakiNya lah yang dipanggil ke Baitullah. Dan Allah berjanji untuk mencukupi hamba tersebut apapun kebutuhannya untuk menjadi tamu Allah. Merinding saya jika membayangkan hal itu. Karena memang terjadi real kepada kami sekeluarga. Pintu rejeki terbuka dari arah manapun. Pelan-pelan.. Sedikit demi sedikit semua kebutuhan saya mempersiapkan ibadah haji terpenuhi semua, baik kebutuhan materi maupun non materi.

Di penghujung 2019 ini, yang saya rasa merupakan puncak fase hidup saya dan betul-betul bisa membuat saya hijrah pelan-pelan. Maka saya menulis cerita ini. Bukan untuk riya, tetapi untuk memberi wawasan bagi para pembaca yang belum pernah berkunjung ke tanah suci, dan juga untuk kenangan hidup saya yang tak terlupakan. Yang sepertinya peristiwa haji ini hanya terjadi 1x saja seumur hidup (walau saya tetap berdoa untuk selalu bisa dipanggil lagi ke Baitullah).. Andai suatu saat bisa terulang kembali, dengan Haji Plus, maka merupakan suatu berkah dan mukjizat bagi saya.. aamiin..

PERSIAPAN HAJI

Manasik Haji
Langkah pertama saat mendengar kabar gembira tsb adalah langsung mencari KBIH untuk bimbingan manasik haji. Walau sudah telat beberapa pertemuan, alhamdulillah kami bisa menemukan KBIH Arofah di jl Buring (sebelah PMI Malang), dimana jumlah anggotanya terbatas hanya 45 orang saja alias pas untuk 1 kelompok haji. Mengikuti bimbingan manasik haji ini penting sekali, terutama bagi kami yang belum pernah ke tanah suci, buta ritual umroh dan haji.

Pada pelajaran manasik ini kita diajarkan bab mengenai Rukun Haji, Wajib Haji, syarat haji, hal-hal yang dilarang dan diperbolehkan selama beribadah disana. Juga disampaikan tempat-tempat mana saja yang akan kita ziarahi. Bawa peralatan apa saja, serta membentuk kelompok regu untuk memudahkan koordinasi. Dan kebetulan suami saya menjadi kepala regu untuk 10 anggota, dimana mayoritas anggota regu kami berusia lanjut. Subhanallah.. Semoga kita semua diberi kelancaran dan kerukunan selama beribadah. Pertemuan manasik di KBIH Arofah berlangsung selama 12x pertemuan dilakukan setiap minggu. Pada bulan Mei 2019, kami melakukan praktik manasik di Islamic Centre – Kepanjen dengan langsung menggunakan baju ihrom.

Menjelang bulan Ramadhan, diadakan pertemuan manasik se Malang Raya bertempat di UIN (Universitas Islam Negeri) Malang dan dihadiri oleh Bapak Walikota H. Sutiaji beserta istri untuk diberikan pengarahan oleh bapak walikota dan Depag Malang. Akhir Juni 2019, sekali lagi diadakan praktek manasik haji oleh Kemenag Malang bertempat di UIN juga. Setelah itu, diadakan pemantapan manasik haji selama seminggu oleh Kemenag bertempat di Hotel Olino Garden Malang.

Kelengkapan Administrasi
Selain manasik, kita juga harus melengkapi syarat-syarat administrasi lain yang juga lumayan banyak dan menyita energi dan waktu. Pertama adalah melunasi biaya haji sebesar kurleb USD 9000 atau setara 36 juta rupiah. Pembayaran hanya bisa dilakukan di bank pemerintah syariah. Kebetulan saya menggunakan BNI Syariah. Langkah kedua, ke Depag untuk meminta surat pengantar ke puskesmas dan imigrasi. Untuk imigrasi, pendaftaran dilakukan secara online. Semua berkas selain fotocopy juga membawa berkas asli. Masa tunggu kurleb 1 minggu paling cepat, kemudian proses foto. Langkah ketiga, ke puskesmas untuk cek kesehatan. Setelah itu diberi surat pengantar untuk General Check Up ke RS yang telah ditunjuk. Masa tunggu sampai hasil keluar paling cepat 3 hari an.

Ke empat, melakukan suntik meningitis sebagai syarat wajib masuk ke tanah Arab. Kami melakukan suntik di RS Unisma Malang sekalian tes kehamilan. Karena orang hamil dilarang melakukan ibadah haji. Harus ditunda keberangkatannya. Kelima, melakukan tes biometrik setelah suntik meningitis. Sambil membawa paspornya untuk dicatatkan disitu. Saya melakukan tes itu di Kantor Pos Pusat Malang halaman belakang. Setelah prosedur itu terlewati, kita tinggal menunggu kabar visa turun dari Kedubes Arab.

WALIMATUS SYAFAR
Sebagai tanda syukur atas ridho dan ijin Allah kami berangkat haji ke Baitullah, serta pamit kepada warga sekitar dan famili sekaligus menitipkan anak-anak kami, serta meminta doa juga pada khususnya, maka 2 minggu menjelang keberangkatan kami mengadakan walimatus safar. Hal ini sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW yaitu …
Alhamdulillah acara berjalan dengan tertib, lancar dan barokah.

PACKING
Berhubung semakin dekat dengan hari keberangkatan, maka kami harus melakukan finishing packing dengan membawa barang-barang yang dibutuhkan selama 40 hari di tanah suci sesuai dengan list yang telah diberikan oleh Kemenag. Setiap jamaah hanya diberi dan hanya boleh membawa 3 tas saja, yaitu koper besar (bagasi), koper tenteng (kabin) dan tas paspor. Semuanya warna hijau. Saat keberangkatan, tidak perlu membawa barang banyak. Karena jelas, pas pulang nanti, kopernya akan beranak pinak, hihi… Padahal maksimal hanya boleh membawa barang sebesar 30 kg saja di koper besar.

 

 

 

 

 

Barang bawaan kita ada pakaian, peralatan mandi, peralatan makan minum, beras, konsumsi terutama makanan kering, alat cuci mencuci, obat-obatan, uang saku secukupnya, masker, spray, dll. Bawalah sepatu kets yang ringan dan berkualitas bagus untuk pergi kesana kesini. Ingat, disana kita akan sering jalan kaki kemana mana. Sandal cukup 2 pasang, satu untuk di kamar mandi, dua untuk perjalanan ke mesjid. Jangan lupa bagi jamaah perempuan, bawalah kaos kaki anti selip. Khusus dipakai saat kita umroh. Perjalanan thawaf dan sa’i cukup berat dan lama. Jika hanya menggunakan kaos kaki saja, maka kaki akan berat karena licin. Lantai di masjidil Haram luar biasa cling..

KEBERANGKATAN
Tak terasa, tibalah keberangkatan kami pada tanggal 10 Juli 2019. Berkumpul di lapangan Rampal Malang jam 5 pagi kami sudah berangkat. Dengan ditemani anak-anak dan kakak kami, kami pamit. Jelas berurai air mata lah kita.. Ya sedih karena berpisah lama dan jauh.. Ya haru karena ini puncak ibadah dalam hidup kami.. Campur aduk.. Dengan dilepas oleh Walikota Malang Bapak H Sutiaji, maka rombongan bis haji mulai jalan menuju Asrama Haji Sukolilo di Surabaya. Perjalanan kurleb 2.5 jam nonstop akhirnya sampailah kami menjelang Dhuhur dan disambut cukup ramah dan hangat oleh petugas haji di Sukolilo. Setelah kata sambutan, maka mulailah ada serangkaian tes untuk jamaah perempuan yaitu tes kehamilan lagi untuk memastikan apakah kita aman berangkat atau tidak. Setor paspor untuk diperiksa, baru kemudian kami masuk kamar.

 

 

 

 

kamar di asrama haji Sukolilo

 

 

 

 

 

Kamar di sini cukup bersih dan rapi. Ada 4 kamar tidur susun, jadi harusnya sekamar ada 8 orang. Tapi kali ini kita hanya berempat saja sekamar. Jadi lumayan longgar. Malam hari setelah makan malam dan sholat Isya, kami ada briefing sebentar dari Kepala KBIH Arofah. Kami bermalam hanya 1 hari saja. Besok pagi jam 3 pagi sudah harus rapi manis dan siap menuju aula asrama haji untuk acara pelepasan serta membagikan paspor. Tak lupa diberikan gelang identitas haji berbahan titanium, serta pemberian living cost sebesar 1500 SA real atau setara 6 juta rupiah. Setelah sholat subuh berjamaah, dan pipis-pipis sepuasnya (saya tukang pipis banget, hehe..) sekitar jam 6 pagi rombongan bis berangkat menuju Bandara Internasional Juanda Surabaya. Aaahhhh deg deg seerrr dan nangis ga berenti-berenti. Merinding sungguh.. Sepanjang perjalanan kita melantunkan kalimat talbiyah.

* to be continued….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *